Hidden Crown Prince

Hidden Crown Prince
Bab 32


__ADS_3

Jae Sung terbelalak ketika melihat pangeran duduk di tepi kolam, bukankah kereta pangeran sedang keluar istana?


Melihat Jae Sung tiba, pangeran segera melangkah menghampirinya. Tampak senyum merekah dari wajah pangeran.


Jae Sung bisa bernafas lega, karena pangeran tidak mengetahui kepergiannya bersama Yu Hwa dari istana.


Jae Sung berusaha menampakkan wajah biasa, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dia membungkukkan setengah tubuhnya, untuk memberi salam ke pangeran.


"Maaf, telah membuat pangeran menunggu. Hamba pantas di hukum." ucap Jae Sung menundukkan kepala.


Pangeran hanya tersenyum simpul dan menepuk pundak Jae Sung, kemudian mendekatkan kepalanya ke telinga Jae Sung.


"Kau memang harus di hukum, ayo temani aku minum," bisik pangeran.


"Maaf Pangeran, malam sudah larut. Saya khawatir akan kesehatan pangeran," ucap Jae Sung.


Bagaimanapun Jae Sung hanyalah manusia biasa, dirinya sudah sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh.


Pangeran terdiam sesaat, matanya menatap Jae Sung tajam. Mengamati setiap detail pakaian yang di kenakan Jae Sung.


"Tampaknya kau sangat letih?" ucap Pangeran.


"Maaf Pangeran Haa Joon, saya tidak bermaksud menyinggung. Akan tetapi, acara pernikahan hanya menunggu hitungan jari. Hamba tidak mau kondisi Pangeran Haa Joon memburuk." ucap Jae Sung, kepalanya masih tertunduk.


Pangeran terdiam sesaat, kemudian melangkahkan kakinya melewati Jae Sung. Yang di katakan Jae Sung ada benarnya, akhirnya pangeran memilih pergi ke kamarnya.


Jae Sung segera kembali ke posisi semula dan berjalan menyusul langkah pangeran, tak ada obrolan serius.


Hingga tiba-tiba, Pangeran Haa Joon teringat akan sesuatu hal.


"Kau sudah menyelidiki paviliun?" tanya Pangeran.


"Sudah Pangeran, tapi kami tidak menemukan apa-apa." ucap Jae Sung lirih.


"Periksa kembali, lalu periksa pelayan terdekat Miyong. Aku curiga padanya, ada sebuah botol obat di kamar Miyong. Botol itu sungguh mencurigakan." ucap Pangeran Haa Joon, mengentikan langkahnya sejenak.


"Botol obat?" Jae Sung mengulang kembali kalimat.


"Iya, Aku pernah melihatnya. Tetapi, lupa dimana. Yang jelas, kau harus menemukan siap pemilik botol tersebut dan dari mana asal-usul pelayan Miyong itu." ucap Pangeran membalikan tubuhnya.


"Baik Pangeran," ucap Jae Sung menundukkan kepala.


Pangeran memutar kembali tubuhnya dan memulai langkahnya kembali.


"Istirahatlah," ucap Pangeran sambil melangkah menjauh.


Jae Sung terdiam sesaat, dirinya masih berdiri di tempat yang sama. Teka-teki apa lagi yang harus dia pecahkan.

__ADS_1


Masalahnya sendiri saja belum tuntas, masih harus di tambah masalah lagi. Otak jae Sung berpikir keras, mengingat kejadian yang terjadi di paviliun.


Angannya kembali memutar kejadian saat Miyong tak sadarkan diri, waktu itu selisih sedikit saat Pamannya meregang nyawa.


'Mungkinkah mereka satu orang yang sama?'


'Tapi, tidak ada racun di tubuh Miyong.'


'Argh, sebenarnya siapa yang sedang mempermainkanku?'


Jae Sung meremas tangannya, kali ini dia sangat frustasi. Dia memutuskan untuk segera melangkah ke kamarnya untuk beristirahat.


Hanya beberapa saat, dirinya sudah tiba di ruangannya. Dia segera masuk dan melepaskan semua pakaian motor yang dia kenakan.


Matanya membulat ketika melihat suatu benda terjatuh, sebuah tusuk konde tak sengaja masuk ke dalam bajunya.


Dia meraih tusuk konde tersebut, dan mengamatinya. tusuk konde dengan hiasan bunga dan beberapa mutiara yang menjuntai.


Kelihatanya tusuk konde ini sangat mahal, tidak mungkin keluarga Yu Hwa dapat memilikinya. Akan tetapi, minim kemungkinan juga kalau keluarga Yu Hwa berkhianat kepada kerajaan.


Sedangkan orang tua Yu Hwa bukanlah orang berpangkat di istana, bahkan tidak mengenal orang dalam.


'Kenapa Pangeran mencurigai Yu Hwa?' batin Jae Sung heran.


Jae Sung sudah sangat lelah sehingga dia memutuskan untuk segera beristirahat, dirinya merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur dan mencoba memejamkan mata.


Terlebih yang membuat dia semakin sebal adalah, wajah pelayan Miyong yang selalu menghantuinya saat matanya terpejam.


'Argh, kenapa pelayan cengeng itu lagi?' batin Jae Sung mengeluh.


Jae Sung bangkit dari tidurnya, dia memilih untuk berjalan-jalan menikmati suasana malam. Dari lada harus di kamar dan berperang dengan batinya.


Jae Sung melangkah menuju taman istana, cahaya bulan malam ini sangat terang. Tampak bulan yang utuh dan bersih.


Bulan itu mengingatkan akan seorang yang sangat dia rindukan.


'Ibu, apakah kau sudah bertemu dengan paman?'


'Saat ini, aku benar-benar sendiri Bu." Batin Jae Sung perih.


Selama ini hanya pamannya yang memberinya kasih sayang, layaknya seorang Ayah pada putra nya.


Jae Sung sangat hebat di medan perang, banyak musuh yang berpikir dua kali untuk mengajaknya berduel.


Akan tetapi, di mata pamannya. Jae Sung tetaplah lelaki biasa yang sangat butuh kasih sayang. Lelaki yang rapuh, yang masih perlu banyak nasehat untuk dia terapkan.


Jae Sung tersenyum kecil ketika mengingat pamannya selalu memarahinya, saat makannya tidak benar.

__ADS_1


Omelannya masih terdengar jelas, saat Jae Sung selalu pulang malam untuk berlatih pedang.


Saat ini, dirinya sendiri. Tak ada omelan dan kasih sayang yang tulus dari seseorang yang selalu dia harapkan.


Mata Jae Sung kian memanas, buliran-buliran air mata sudah mulai tumpah dari kelopak mata.


'Sekarang paman sudah tenang bersama Ibu, aku harap paman bisa menyampaikan pesanku kepada ibu.' batin Jae Sung perih.


'Aku akan tetap menjadi moster sampai aku menemukan pembunuh kalian.' batin Jae Sung mantap.


Tiba-tiba, dia mendengar ranting yang terinjak. Jae Sung terdiam dan memperhatikan sekitarnya. Mencoba mencari dari mana arah suara tersebut.


Hingga akhirnya Jae Sung berlarian dan melompat di balik semak, dia tak akan membiarkan mata-mata kabur dari tangganya.


Ternyata perkiraannya benar, ada seorang di balik semak. Dia segera membungkam mulutnya dan mengunci tubunya.


Tanpa sengaja Jae Sung menyentuh sesuatu yang mengganjal baginya.


'Wanita'


Jae Sung segera melepas cengkraman nya tersebut, dan mencoba melihat siapa pelakunya.


"Kau?" ucap Jae Sung tak percaya.


"Kau mau membunuhku hah!" ucap Yu Hwa sedikit terengah, hampir saja nyawanya melayang.


"Untuk apa kau disini?" tanya Jae Sung curiga.


Yu Hwa menyodorkan sebuah botol arah ke arah Jae Sung, wajahnya sangat muram malam ini. Tidak seceria biasanya.


Hal itu sangat wajar, Setelah kita kehilangan seseorang yang sangat kita sayang. Pasti dunia kita akan hancur saat itu juga.


"Aku hanya mencoba menguatkan diri," ucap Yu Hwa menundukkan kepala.


Yu Hwa duduk, kepalanya mendongak ke atas. Melhat indahnya langit malam ini.


"Malam yang indah, untuk hati yang sepi," ucap Yu Hwa setengah mabuk.


"Sudah kembali ke kamarmu, atau kau akan bertemu masalah." ucap Jae Sung acuh.


Jae Sung melangkah menjauhi Yu Hwa, menurutnya tidak ada gunanya menemaninya minum disini.


"Apakah kau tak pernah kehilangan orang yang sangat kau sayangi?"


"Apa hatimu terbuat dari batu?"


"Mengapa sedikitpun hatimu tidak terketuk?"

__ADS_1


Langkah Jae Sung terhenti dan membalikkan badan.


__ADS_2