
Suara detingan pedang yang saling beradu terdengar sangat ngeri, Pangeran melangkahkan untuk turun. Akan tetapi tangannya di genggam erat oleh Miyong.
"Percayalah pada Jae Sung, dia pasti bisa menangani semua ini," ucap Miyong cemas.
Miyong sangat khawatir kalau sampai pangeran ikut dalam pertempuran, kemahirannya dalam memainkan pedang masih sangat di ragukan.
Kekhawatirannya tidak sampai di sini, angannya masih mencemaskan Yu Hwa yang masih berada di luar.
"Tapi aku tidak bisa diam saja," ucap Pangeran melepaskan genggaman Miyong.
"Tuan, bukan niatku merendahkanmu. Mengertilah kemampuanmu bisa menyulitkan semua orang,"
"Kita tidak tau seberapa kuat dan banyaknya mereka, dan sekali lagi yang perlu Anda tau. Mereka sedang bertarung menaruhkan nyawa mereka demi anda. Tolong tetaplah disini!" pinta Miyong tegas.
Tiba-tiba ada pedang yang tertancap di atap kereta kuda mereka, keduanya saling bertatapan dengan mata yang terbelalak.
"Sudah aku bilang, yang mereka incar adalah kau," ucap Miyong lirih.
Beberapa saat detingan pedang terdengar mendekat, terdengar rintihan seseorang di atap kereta. Rintihan itu terdengar sangat mengenaskan di iringi dengan cairan kental berwarna merah yang mengalir dan menetes di pedang tersebut.
Miyong sangat terkejut, ingatannya kembali beberapa tahun yang lalu tepat di mana kedua orang tuanya di tuntas habis oleh orang yang tidak di kenal.
Sejak saat itu hidupnya berakhir di istana ini, dengan bantuan perdana Mentri yang mengangkatnya menjadi anak.
Miyong sangat ketakutan, tiap darah yang menetes membuat dirinya mengingat betapa kejam orang misterius itu menyiksa kedua orang tuanya.
Miyong tak mampu menahan rasa takutnya, tubuhnya tiba-tiba bergetar dan mata mulai berkaca.
Pangeran yang melihat kondisi Miyong yang syok membuatnya sangat khawatir.
"Kau tidak apa? bertahanlah. Semuanya akan segera berakhir." Pangeran memeluk erat Miyong.
Miyong tak memberi tanggapan, Pangeran hanya merasakan jemari Miyong yang bergetar dan tatapannya yang terlihat kosong.
Sementara keadaan di luar kereta juga sangat ricuh, para prajurit melawan bandit satu lawan satu.
Sedangkan Jae melawan empat bandit seorang diri, tangannya dengan lihai memainkan pedang. Hanya membutuhkan beberapa menit saja keempat bandit sudah tergeletak tak bernyawa.
Satu bandit berhasil menaiki kereta dan berusaha melukai pangeran, melihat itu Jae berlari dan segera menyerang bandit tersebut.
Bandit sempat memberi perlawanan, akan tetapi hasil akhir tetap Jae sebagai pemenang. Tubuh bandit tersebut tergeletak di atap kereta dengan cairan kental yang mengalir.
__ADS_1
"JAE ... DI BELAKANGMU!!!" teriak Yu Hwa.
Jae segera berbalik badan dan dan menghunuskan pedangnya, sayangnya pedang itu tak berhasil mengenai bandit tersebut.
Pedang bandit tersebut mampu menggores lengan Jae hingga menimbulkan luka yang cukup dalam serta cairan merah kental yang berkucuran.
Luka tersebut tak membuat Jae lumpuh, dirinya segera turun dari atap kereta dan segera berlari ke tengah hutan.
"Apa kau takut hah!" ucap bandit mengejek.
"Arghh ..." bandit merintih kesakitan karena sebuah pedang sudah tertancap di perutnya.
"Bukan takut, tapi taktik. Selamat jalan kawan," ucap Jae tersenyum tipis.
Jae mencabut pedangnya, seketika cairan merah kental mengenai sebagian wajah dan tubuhnya.
"Aaa ..." Jeritan Yu Hwa terdengar menggelegar.
Jae segera berlarian kembali ke tempat semula, sudah terlihat beberapa bandit hendak menikam Yu Hwa dan beberapa prajurit lain sedang melindungi Pangeran dan Nona Miyong.
"Yu Hwa ..." Jarit Nona Miyong.
Belum sempat dia berdamai dengan masa lalunya, saat ini dia harus melihat teman yang sangat dia sayangi harus kembali lagi terancam.
"Malam ini aku kedatangan tamu terhormat," kekeh bandit tersebut.
"Pilihan lainnya adalah, Serahkan dia dan kau selamat atau kau akan menyusul temanmu dengan cara yang sama," ucap Jae Sung menghunuskan pedangnya.
"Wow keberanianmu boleh juga, tapi pelayanmu ini sangat cantik. Bisakah aku main-main dengannya sebentar," bandit itu menatap Yu Hwa dengan tatapan menjijikan.
"Berani kau menyentuhnya akan aku potong tanganmu detik ini juga," Jae Sung geram.
"Wah ... aku sangat takut, ha .. ha ..." tawa bandit tersebut semakin renyah terdengar.
Jae Sung sudah tak tahan dan segera maju dengan membawa pedang di kedua tanganya. Bandit sudah bersiap-siap dengan perlawanan Jae Sung.
"Tidak, selamatkan Pangeran dan Nona Miyong, kalian bisa meninggalkanku disini," ucap Yu Hwa pasrah.
Jae Sung melawan bandit satu persatu, sudah banyak bandit yang tumbang akan tetapi bandit yang lainya muncul kembali.
Peperangan ini sudah berjalan sekian menit akan tetapi para bandit baru tetap saja muncul, Jae Sung mulai lemah tubuhnya tak mampu menerima serangan yang bertubi-tubi.
__ADS_1
Bandit tak mau kehilangan kesempatan baik, dia segera maju dan menghunuskan pedangnya ke arah Jae
Dengan mengumpulkan segala keberanian, Yu meraih pedang yang tergeletak dan menghunuskan ke arah bandit yang hendak menyerang Jae.
"Arghhh ..." jerit bandit tersebut.
Melihat cairan merah yang menyembur dari perut belakang bandit tersebut membuat Yu reflek membuang pedang di tangannya.
sepasang matanya melihat jelas bagaimana bandit tersebut berlumuran cairan merah dan perlahan melepas nyawanya, hal itu membuat kaki Yu lemas dan tersungkur di tanah.
"Haaa ..." Teriak Jae Sung mengumpulkan kekuatannya.
Dengan lengan terluka parah Jae meraih pedang di hadapannya, dia berdiri tegak dengan kedua tangan menggenggam pedang yang di hiasi cairan merah kental.
"Sudah cukup main-mainya," Jae Sung berlari ke arah bandit-bandit yang hendak menyerang prajurit.
"Haaa ..." teriak Jae dan menghunuskan pedangnya secara brutal.
Satu per satu bandit tergeletak tak bernyawa, sisa bandit yang selamat melarikan diri dengan masuk ke hutan yang gelap.
"Hentikan, biarkan mereka. kita harus mengobati lukamu," ucap pangeran yang menghadang Jae yang hendak mengejar sisa bandit yang selamat.
"Tapi mereka mengincar anda Tuan," ucap Jae menundukkan kepala.
"Keselamatanmu lebih penting," ucap pangeran memberikan beberapa obat untuk Jae.
"Kita cari tempat beristirahat," ucap pangeran menyapu keadaan sekitarnya yang di penuhi cairan merah kental yang mulai mengeluarkan bau anyir.
"Baik Tuan," ucap Jae mengatur semua prajurit dan segera meninggalkan tempat.
Untung saja prajurit istana tidak ada yang merenggang nyawa, hanya ada beberapa dari mereka terluka parah dan mampu untuk di obati.
Yu Hwa memandang lekat Jae Sung, jauh di hatinya kagum akan kegigihan prajurit tersebut. Meskipun mulutnya sangat pedas akan tetapi, dirinya sangat bertanggung jawab dengan tugasnya.
Tak lama kemudian sampailah mereka di tepi sungai, sehingga mereka memutuskan untuk beristirahat dan membersihkan luka-luka yang menganga.
"Sshhh, ahh" Jae mendesah kesakitan saat air sungai menyapu luka dalamnya.
Yu Hwa duduk di dekat Jae Sung, matanya lekat menatap pria yang sedang merintih kesakitan di hadapannya.
"Buka bajumu!" ucap Yu.
__ADS_1
"Pergilah, aku bisa sendiri!"
Yu Hwa menarik baju Jae ke arahnya, tatapan mereka kali ini bertemu kembali. Mata Yu menatap lekat manik mata coklat milik Jae.