Hidden Crown Prince

Hidden Crown Prince
bab 6


__ADS_3

Mata Wang Ye melihat dengan jelas bagaimana para gerombolan itu berprilaku tak pantas kepada Ibunya.


Air mata Wang kecil mengalir deras sambil sebisa mungkin membungkam mulutnya, berusaha agar isakannya tak terdengar.


Ibunya sudah berjuang untuk keselamatan ya, dan dia tak mau merusak semua rencana yang sudah di tata rapi.


Ibunya hanya mampu pasrah dan sesekali memberontak, akan tetapi usahanya selalu gagal. 10 orang pria dan melawan 1 wanita, itu hanyalah sia-sia.


Saat ini Sang Ibu terkulai lemas, tak sedikit memar yang di buat oleh para perampok itu. Matanya terlihat sembab menandakan air mata telah habis terkuras bersamaan dengan tenaganya.


Semua perampok memakai pakaian mereka masing-masing, dengan mata jeli Wang mengamati satu persatu wajah orang tersebut.


Suatu saat nanti mereka harus membayar tuntas atas perlakuannya kepada Ibunya, Dan hal yang paling diingat Wang adalah bekas goresan pedang yang terlihat jelas di bahu kiri seorang pemimpin tersebut.


Pemimpin itu sudah berpakaian lengkap dan melangkahkan kakinya mendekati wanita yang tak berdaya itu.


"Katakan dimana putramu!" Bentak pemimpin itu.


"Putraku sudah mati." wanita itu berucap lirih.


"Baik, kalau kau ingin bermain-main denganku. Anggap saja ini adalah hadiah karena kau sudah sangat pandai memuaskanku." mata pemimpin memandang merendahkan ke arah wanita tersebut.


"Lebih baik Aku mati dari pada menerima hadiahmu!" wanita itu bersih keras.


"Cuiihh ... dasar arogan!, harusnya kau sadar siapa kau sekarang!"


"Sekarang ... Ayo keluar anak baik. Kalau kau tidak keluar ... Ibumu yang cantik ini akan terbang ke kahyangan sekarang juga!" teriak pemimpin itu.

__ADS_1


Semua mata menyapu sekitar, mencari apakah ada petunjuk di sekitar mereka. Akan tetapi hasilnya nihil. Bocah itu ternyata sangat pintar bersembunyi.


Tawa wanita malang itu terdengar begitu renyah, seakan dirinya telah memenangkan pertarungan di medan pertempuran saat ini.


Sang pemimpin amat kesal dan segera menghunuskan pedangnya ke arah wanita tersebut.


"Diam kau dasar ..."


"Dasar apa?, Bahkan kau sangat menikmatiku padahal Aku hanya seorang Gisaeng"


"Bahkan Aku lebih baik mati dari pada menerima kenyataan kalau tubuhku pernah di sentuh dengan tangan pembunuh sepertimu!" teriak wanita itu dengan lantang.


Pemimpin mengayunkan pedangnya ke udara, wanita itu sudah cukup panik dan takut. Akan tetapi dirinya telah pasrah menerima semua kenyataan.


Wanita itu menatap lekat ke arah dimana Sang Putra bersembunyi, dengan wajah tenang wanita itu mengukir senyum indah di wajahnya yang penuh memar.


Ternyata benar, Sang Putra juga melihat senyum damai Ibunya, jemarinya menggenggam erat semak yang berada di sekitar ya.


Bagaimanapun dia harus bisa selamat untuk Ibunya, Mungkin saat ini memang Wang masih sangat kecil dan tak mampu berbuat apa-apa.


Tapi di beberapa tahun kemudian!, Wang pasti akan membalas semua. Itulah janji yang dia pegang teguh saat ini.


Jlebb ...


Argh ...


Suara pedang di yang kibaskan membuat cipratan-cipratan caira merah kental terciprat di bagian jubahnya.

__ADS_1


"cukup, dia membuang waktuku demgan percuma." ucap lelaki itu melangkahkan kakinya menuju sungai.


Dia membersihkan pedangnya di sungai dan tersenyum tipis menatap pepohonan rindang di sekitarnya.


"harusnya dia tau, siapa yang dia lawan saat ini!"


Sungai yang tadinya bersih kini menjadi berwarna merah. Melihat peristiwa itu membuat Wang kevil tak mampu menahan isaknya.


Isakan Wang terdengar sampai ketelinga pemimpin dan akhirnya mereka mulai mencari dari mana datangnya suara itu.


langkah demi langkah membuat posisi Wang tak aman saat ini, hingga akhirnya mereka sampai tepat di depan semak-semak yang menutupi tubuh Wang.


hingga ...


"Jiaa ...!!!"


seorang datang mencari Jia dan Wang, seketika gerombolan itu berlarian dan menaiki kuda mereka untuk kabur.


"Mama ....!!!"


Wang kecil berlari memluk tubuh Mamanya yang penuh dengan cipratan merah. Jia membuka matanya perlahan dengan sisa-sisa tenaganya dia mebelai rambut dan pipi putranya.


"Kau hebat Nak!"


"Teruslah menjadi Wang kecilku, jangan pernah ..."


"Mama pasti sembuh, paman segera kemari!"

__ADS_1


"PAMAN ...!!!"


"KAMI DISINI PAMAN ...!!!" teriak Wang kecil.


__ADS_2