
Jae Sung sedang berlatih dengan pedangnya, tangannya dengan luwes mengayunkan pedang. Matanya lekat menatap ke ujung pedang, tanda kalau dirinya saat ini sedang konsentrasi.
Sudah beberapa menit dia memainkan pedang, untuk mengasah kemampuan. Hingga konsentrasinya terpecah, ketika ada seorang prajurit yang tiba-tiba menyerangnya.
Sepertinya prajurit tersebut bukanlah prajurit sembarangan, dilihat dari caranya mengayunkan pedang.
Dia sangat terlatih, tapi semua jurus yang di gunakan bukanlah hasil ajaran Jae Sung. Dan dia juga bukan anak buahnya.
Jae Sung mengakhiri permainan dengan mengunci pergerakan prajurit tersebut, Jae Sung berhasil membuang pedang dari prajurit tersebut. Kemudian menyodorkan pedangnya ke leher prajurit.
Prajurit tersebut masih terkekeh, dirinya tak menyangka lawannya memang cukup hebat. Di saat bersamaan Jae Sung menarik pedangnya dan memutar tubuhnya.
Dia segera melangkah menjauh, karena baginya sangat tidak penting bergaul dengan orang asing.
"Apa kau masih tetap pada rencanamu?" tanya prajurit tersebut.
Kaki Jae Sung masih terus melangkah, tak ada niat baginya untuk berhenti dan merespon pertanyaan tersebut.
"Jadi dendam kematian Ibumu sudah selesai sampai disini?" ucap prajurit tersebut.
Langkah kaki Jae Sung terhenti sejenak, sebenarnya dia sangat ingin berbalim dan mengunuskan pedangnya ke prajurit tersebut.
Dengan lancangnya dia mengungkap sebuah rahasia di tempat seperti ini, mendengar pertanyaan tersebut dia sudah menebak kalau dia memang sengaja datang untuk mengacaukan rencana.
"Ternyata kau sangat memperhatikanku, aku sangat terharu. Akan tetapi, aku tidak berminat untuk berteman denganmu," ucap Jae Sung dan melanjutkan langkahnya.
Prajurit tersebut segera melangkah dan berhenti di hadapan Jae Sung, mata tajamnya menatap Jae Sung.
"Kelihatannya kita punya urusan yang sama, jadi akan baik kalau kita bersatu," tawar prajurit tersebut.
__ADS_1
Jae Sung hanya tertawa kecil, dengan acuh dia melewati prajurit tersebut. Ternyata permainannya kurang rapi, sehingga banyak orang yang telah mengetahui rencananya.
Sejak awal masuk ke dalam istana, Jae sung sudah bertekad. Tidak akan ada kerjasama antara dia dan orang dalam.
Itu semua sangat beresiko, mengingat minimnya orang tulus di dalamnya. Semua penghuni istana hanya mementingkan kepentingan masing-masing.
Di tambah dengan banyak orang yang gila akan jabatan, membuat situasi kerajaan bagaikan hutan liar. Saling makan memakan untuk bertahan hidup.
Jae Sung semakin tak tertarik dengan topik ini, dengan langkah enteng dia meninggalkan prajurit.
Melihat Jae Sung yang tak tertarik, bahkan tidak merespon tawarannya. Membuat prajurit tersebut menahan amarah, dan segera pergi meninggalkan tempat latihan.
***
Jae Sung melangkah dan berhenti tepat dia persimpangan jalan, di tepat di sampingnya ada sebuah kolam ikan.
Ingatannya kembali kepada beberapa jam yang lalu, dimana dirinya dengan bodohnya menemani seorang gadis yang sedang mabuk.
Perhatian Jae Sung teralih pada beberapa pelayan yang sedang bergosip, awalnya Jae Sung tidak menanggapi. Akan tetapi, setelah satu nama di singgung membuatnya mendengarkan gosip tersebut.
"Padahal Nona Miyong sudah sangat memanjakannya,"
"Ya seperti itulah kalau kita memelihara anjing, suatu saat anjing itu akan memakan kita sendiri."
"Dasar pelayan tak tau di kasihani,"
"Syukurlah Nona segera sadar dan menghukumnya,"
Beberapa pelayan itu melewati Jae Sung begitu saja, dengan gosip yang semakin panas di dengar telinga.
__ADS_1
'Satu-satunya pelayan kesayangan Miyong adalah ...' batin Jae Sung menerka.
Dia segera melangkah menuju kediaman Nona Miyong, Jae Sung tak mengira kalau Miyong akan melakukan hal ini.
Sejauh ini hubungan mereka baik-baik saja, pasti ada seorang yang memicu kesalah pahaman di antara mereka.
Otak Jae Sung tak berhenti berfikir dan menerka, mencari kesalahan dan hukuman yang akan di berikan ke pada Yu Hwa.
Langkah kaki Jae Sung terheti, ketika melihat sudah banyak prajurit di depan kediaman Miyong.
Yang semakin mengejutkan adalah, ada prajurit khusus pangeran disana. Masalahnya akan semakin runyam mengingat pangeran saat ini mencurigai Yu Hwa.
Jae Sung segera melangkah memasuki kediaman Miyong, wajahnya sudah mencerminkan ke khawatiran.
Langkah Jae Sung terhenti ketika para pengawal raja menyilangkan tombaknya, tanda kalau saat ini kawasan tersebut, tidak dapat di jamah seorang sembarangan.
"Saya membawa kabar penting untuk Pangeran," ucap Jae Sung berusaha tenang.
"Pangeran sedang tidak bisa di ganggu," jawab pengawal singkat.
"Ini sangat penting!" ucap Jae Sung menekan kalimatnya.
"Di dalam sedang ada pelayang yang di eksekusi, kau tidak bisa melewati kawasan ini." pengawal tidak mau kalah dalam berdebat.
"Singkirkan tombak ini, atau aku yang akan menyingkirkannya!" ucap Jae Sung sedikit meninggikan suara.
"Pangeran mengizinkan dia masuk." ucap salah satu pengawal yang baru saja tiba.
Tombak di ayunkan ke atas, tanpa buang waktu Jae Sung segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kediaman Miyong.
__ADS_1
Matanya terbelalak ketika melihat keadaan Yu Hwa saat ini. Jae Sung segera menekuk lututnya dan memberi salam kepada Pangeran.