
Yu Hwa berlarian menuju kamar Miyong, wajahnya sangat khawatir mendengar Nonanya tiba-tiba tak sadarkan diri.
"Nona,kau baik-baik saja" ucap Yu Hwa berhamburan menuju Miyong yang sedang tertidur.
"Kita berangkat sekarang, hamba takut kalau musuh memang menyita waktu kita." ucap Jae Sung menatap Pangeran.
"Kita periksa Miyong dulu, setelah itu berangkat menuju istana." ucap Pangeran menatap lekat Miyong yang masih terpejam.
Sebenarnya Jae Sung sangat khawatir, karena kejadian ini sangat mendadak. Dia hanya khawatir kalau ini adalah salah satu cara untuk mengulur waktunya untuk pergi.
Prajurit yang dia punya saat ini sangat sedikit, meskipun mereka sangat kompeten, Akan tetapi mereka pasti akan kualahan bila ada penyerangan seperti kemarin.
Jae Sung tak mau mengambil resiko besar, banyak orangnya yang gugur sebelum rencana besarnya tercapai.
"Kita harus berangkat sekarang Pangeran, akan sangat bahaya bila harus menunggu kembali. Mohon ampun Pangeran, Kita bisa mencari tabib di kota yang tak jauh dari sini." ucap Jae Sung menekuk kakinya dan menundukkan kepala.
Pangeran terdiam, otaknya tak mampu berpikir lebih jauh. Dia sangat lemah di bidang politik dan peperangan, akan tetapi dia tak diam saja ketika maut akan mendekat.
"Kita bersiap sekarang ..." ucap Pangeran menatap Jae Sung.
"Yu Hwa, siapkan keperluan Miyong! Aku tak mau keadaanya semakin memburuk." ucap Pangeran.
Pangeran melangkah keluar kamar Miyong di ikuti para pengawal dan Jae Sung, para prajurit segera menyiapkan kereta dan kuda.
Yu Hwa ikut dengan Pangeran menaiki kereta, karena memang kondisi Miyong tidak memungkinkan.
"Aku percaya padamu, nyawaku ada di tanganmu," ucap Pangeran sebelum menaiki kereta.
Ada perasaan yang mengganjal di hati Jae Sung, mendengar ucapan Pangeran yang begitu pasrah padanya. Padahal Jae Sung hanya menganggapnya tidak lebih dari sebuah boneka.
Setelah semua siap, mereka segera melakukan perjalanan. Perjalanan kali ini sangatlah berbeda, mereka mempercepat tempo demi keselamatan Pangeran.
Meskipun Jae Sung hanya bermain-main, akan tetapi tujuan utamanya bukan nyawa Pangeran. Dia tak mau harus melibatkan orang yang tak bersalah.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Pangeran menatap Yu Hwa yang sedari tadi mengganti kain yang di basahi air.
"Masih sama Pangeran," jawab Yu Hwa, wajahnya sangat khawatir.
"Bertahanlah Miyong, kau wanita kuat." ucap Pangeran mendekap jemari Miyong dalam genggamannya.
__ADS_1
Rasa cinta Pangeran Joon sudah mulai tumbuh sejak pertama kali melihat Miyong kala itu, akan tetapi melihat Miyong yang tidak terlalu merespon membuatnya jaga jarak.
Baginya yang terpenting dari suatu hubungan adalah kenyamanan, dia tidak tau bisa memberikan semua itu kepada Miyong atau tidak.
Di istana banyak sekali orang bertopeng, semua nyawa bisa saja melayang tiba-tiba. Sedangkan dia sedikitpun tak bisa memainkan busur ataupun pedang.
Oleh karena itu dia menyimpan rasanya sampai detik ini, ternyata takdir mengharapkan hal yang sama.
Miyong memang di takdirkan untuknya, mendengar Raja menjodohkannya dengan Miyong membuat Pangeran Joon semangat untuk berlatih pedang dan busur.
Dia akan berjanji akan melindungi gadis pujaan hatinya sampai titik darah penghabisan, meskipun kelak akan ada selir mendampinginya, posisi Miyong tak akan pernah tergantikan.
Tidak terasa perjalanan mereka sudah hampir sampai di istana, Jae Sung dapat bernafas dengan lega setelah beberapa jam berlalu hatinya diliputi rasa was-was.
Prediksinya benar saat ini, pasti musuh mengira kalau rombongannya akan melewati jalur lain. Terlihat senyum kemenangan terukir di wajah Jae Sung.
Di tempat yang berbeda, tak henti-hentinya seseorang mengumpat, melampiaskan semua amarahnya.
Dia tak menyangka prediksinya melenceng begitu jauh, ternyata musuhnya lumayan cerdik dan memiliki nyali besar.
Bagaimana dia bisa mengabaikan keselamatan calon Permaisuri nya? dan memilih jalan yang lebih jauh, sangat di luar perkiraan.
Dengan menelan rasa kecewa pasukan musuh kembali ke markas, dengan berat hati mereka harus menerima semua amukan pemimpinnya setelah ini.
Beberapa saat kemudian sampailah rombongan Pangeran kembali ke istana, semua pelayan tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Miyong.
Saat ini Miyong sudah sadar, akan tetapi kondisinya masih sangat lemas. Dengan sigap Pangeran menggendong Miyong menuju kamarnya.
Semua orang terlihat sangat senang melihat kedekatan Miyong dan Pangeran, terkecuali seseorang yang sedang memantau mereka dari kejauhan.
Tampak amarah yang siap meledak ketika melihat kemesraan Pangeran dan Miyong, seorang tersebut segera melangkah pergi karena tak tahan melihat pemandangan yang amat panas baginya.
"Kau membuat musuhku semakin banyak saja," kekeh Miyong,
"Siapa yang berani memusuhimu? aku pastikan mereka akan mendekam di bawah tanah," ucap Pangeran melempar pandangan.
"Ternyata sosok yang sangat bijaksana juga menyimpan keangkuhan?" mata Miyong menatap lekat rahang tegas di hadapannya.
"Aku tidak angkuh dan bijaksana, aku hanya menjalankan aturan." ucap Pangeran menatap bola mata Miyong.
__ADS_1
Mata mereka saling bertemu, langkah Pangeran tiba-tiba berhenti sejenak. Entah mengapa mereka hanyut akan tatapan masing-masing.
Seakan dunia berhenti berputar saat ini, dan hanya ada mereka di sini. Perlahan Pangeran mendekatkan wajahnya ke wajah Miyong.
Hembusan nafas hangat Pangeran menyentuh tengkuk Miyong, perlahan Miyong memejamkan matanya. Dia menyambut indah perasaan Pangeran yang mulai menyentuhnya.
"Awww," rintih Miyong.
Tiba-tiba Pangeran mengetuk kening Miyong dengan kening pangeran, seketika pipi Miyong merah merona menahan malu.
"Kau sudah membuka pagar pembatas mu Nona?" tanya Pangeran sambil menahan senyum kecilnya.
"Aku tidak punya pagar pembatas," jawab Miyong mengelak.
Dulunya Miyong memang sempat menolak perjodohan ini, akan tetapi, Ayah nya selalu mendesak. dan akhirnya, Miyong menyetujui perjodohan ini.
Tidak di sangka, Hatinya menerima Pangeran Joon secepat ini. Miyong pikir akan membutuhkan waktu yang lama.
Pangeran Joon melanjutkan langkahnya, setiap orang menyapa dengan hormat kepada Pangeran Joon. Hal ini membuat Miyong semakin tak enak hati.
Setibanya di kamar, Pangeran Joon meletakkan tubuh lemas Miyong dengan hati-hati di atas kasur.
"Istirahatlah, aku kan panggil Yu Hwa kemari," ucap Pangeran lirih.
"Terimakasih," ucap Miyong.
Pangeran membalas dengan senyum teduhnya dan melangkah keluar dari kamar Miyong, Yu Hwa sudah menunggunya di depan pintu.
"Terimakasih sudah memberi obat pada Miyong," ucap Pangeran tulus.
"Ini sudah kewajiban hamba Pangeran," jawab Miyong menundukkan kepala.
"Demi keselamatan Miyong, mulai saat ini kau yang bertanggung jawab meracik obat untuknya," ucap Pangeran menatap Yu Hwa.
"Ba-baik Pangeran," ucap Yu Hwa, dia tak menyangka harus di beri tanggung jawab sebesar ini.
Pangeran melangkah menjauhi kediaman Miyong, diikuti oleh para pengawal di belakang nya.
Masih satu tempat di kerajaan, hanya berbeda tempat. Terdapat seorang wanita duduk santai dengan secangkir teh di tangannya.
__ADS_1
"Jalankan rencana berikutnya, semua harus beres saat sekutu datang," ucap wanita itu dengan nada licik.
Setelahnya beberapa orang pelayan melangkah pergi membawa sebuah botol kecil.