
Langit mulai gelap, rombongan pangeran sudah siap untuk melakukan perjalanan menuju pegunungan.
Terdapat beberapa prajurit berkuda dan di antaranya adalah Jae Sung, dia akan menjadi pemimpin dalam perjalanan ini.
Pangeran sudah ada di dalam kereta kencana, mereka hanya tinggal menunggu kedatangan Nona Miyong.
Beberapa menit kemudian Nona Miyong dan Yu Hwa datang, mereka berdua sama-sama mengenakan pakaian dayang.
Mereka melangkah mendekat, langkah kaki Miyong terhenti di hadapan Jae Sung.
"Jae Sung tolong jaga teman terbaikku," pinta Nona Miyong dengan senyum yang ramah.
"Baik Nona, tidak perlu khawatir." ucap Jae Sung.
Mendengar permintaan Nonanya Yu Hwa menatap Jae Sung dan Miyong secara bergantian.
Melihat kalau semua prajurit menaiki kuda perasaan Yu Hwa sudah tidak enak, semoga saja apa yang ada di kepalanya saat ini tidak benar-benar terjadi.
Miyong menatap Yu Hwa yang memberi isyarat untuk mendekat, Yu Hwa melangkahkan kakinya mendekat dengan mata masih menyapu keadaan sekitar.
"Jae Sung akan menjagamu," Miyong menatap Yu Hwa sambil tersenyum tipis.
"Ma-maksud Nona?" mata Yu Hwa terbelalak menatap Miyong yang tersenyum teduh.
"Kau tidak mungkin berjalan kan, jadi ..." ucap Miyong sembari melempar pandangan ke arah Jae Sung.
"Kau akan naik kuda bersamaku, sesuai permintaan Nona Miyong." ucap Jae Sung menatap Yu Hwa dengan tatapan sinis.
"Tapi Nona, Saya ..." Yu Hwa mencoba mencari jalan lain. Luka hatinya masih belum sembuh akibat lidah pedas Jae Sung.
"Bukankah kau tidak bisa menunggang kuda?, aku tidak mau mengambil resiko," Miyong menatap lekat Yu Hwa dan menggenggam jemarinya.
"Ba-baik Nona," ucap Yu Hwa pasrah.
Miyong memamerkan senyum termanisnya, dia memeluk Yu Hwa dan melangkah menaiki kereta kuda yang telah di siapkan.
"Untuk menit selanjutnya aku tidak ingin ada sandiwara lagi," ucap Jae Sung ketus.
"Aku bisa memahami kalau sikap prajurit itu keras dan tegas, tapi bukan berarti hati mereka jadi sekeras batu yang tak bisa merasakan apa itu kasih sayang," ucap Yu Hwa menatap Jae Sung dengan tatapan jengkel.
__ADS_1
Jae Sung membuang muka dan segera menaiki kudanya, dia mengukurkan tangan kepada Yu Hwa.
"Apa?" ucap Yu Hwa yang masih belum mengerti maksud Jae Sung.
"Apa kau ingin jalan kaki hah, cepat naik!" ucap Jae Sung masih memperlihatkan wajah masamnya.
Dengan terpaksa Yu Hwa meraih tangan Jae Sung, dengan cepat Jae Sung menarik tangan Yu Hwa dan menempatkannya di depan.
"Aku ingin duduk di belakang," perotes Yu Hwa.
"Tenanglah! kau bukan tipeku jadi jangan punya pikiran macam-macam," ucap Jae Sung dingin.
Yu Hwa hanya terdiam mendengar ucapan Jae ingin sekali dia meremas mulut tipis tapi pedas miliknya.
"Aku harap kita bisa berkerja sama dan jangan membuat onar," ucap Jae kemudian menarik pelana kudanya.
Kuda berjalan dengan lirih di ikuti oleh kuda-kuda di belakangnya, suasana malam ini cukup dingin. akan tetapi tidak bagi Yu Hwa.
Dirinya masih sangat panas karena ucapan-ucapan pedas yang selalu terlontar dari bibir tipis Jae.
Malam semakin larut, rombongan prajurit mulai memasuki area hutan yang lebat dan gelap. Angin malam yang bertiup sepoi-sepoi membawa hawa dingin membuat suasana kian mencekam.
"Pasang telinga dan mata kalian." Jae Sung memberi aba-aba.
Situasi malam seperti ini sangat rawan terjadi perampokan, terlebih di tempat yang sunyi dan gelap seperti saat ini.
Jae Sung mempercepat langkah kudanya agar mereka segera melewati hutan lebat ini, karena keselamatan kedua orang di dalam kereta kuda sangatlah penting baginya.
Mata Yu Hwa yang sangat mengantuk tidak bisa di kondisikan saat ini, tiba-tiba tubuhnya terhuyung dan hampir saja jatuh.
Untung tangan Jae gesit, reflek dia segera meraih tubuh lemas Yu dan mendekapnya. Dan di saat ini lah jantung Jae Sung sudah mulai tak terkendali.
Ini baru pertama kali dirinya memeluk gadis, entah mengapa jantungnya mendadak terpacu sangat cepat hingga keringat dingin mulai keluar.
Karena sangat kantuk Yu tidak merasakan apapun, dirinya terlalu nyaman di dekapan.
Mungkin saat ini mood Jae masih di mode aman sehingga dia tidak mempermasalahkan tubuh Yu yang bersandar nyaman di dadanya.
Kuda yang terhentak tiba-tiba membuat Jae reflek memeluk Yu lebih erat dan satu tanganya lagi mengendalikan kuda.
__ADS_1
Ada perasaan yang tidak bisa di ungkap oleh Jae saat ini, entah mengapa pipinya saat ini merona begitu pun hatinya yang mulai di tumbuhi bunga yang bermekaran.
Lolongan srigala yang bertalu-talu tak membuat Yu terbangun, dirinya semakin nyaman di dekapan Jae tanpa dia sadari.
Situasi yang sama terjadi pula di dalam kereta kuda tanpa ada seorang pun yang tau. Jalan yang rusak membuat aksi olahraga kedua makhluk di dalamnya tidak begitu di rasakan oleh kusir.
"Kau sangat cantik permaisuriku," puji pangeran.
Miyong hanya tersenyum dan menampakkan pipi meronanya, matanya lekat menatap wajah tampan pangeran yang masih di penuhi keringat.
"Meskipun aku bukanlah wanitamu satu-satunya tapi, diriku adalah milikmu seutuhnya." ucap Miyong mengecup lembut pipi pangeran.
"Terimakasih, Kau adalah wanita terhebatku. Istana sangat membutuhkan orang-orang seperti ..."
Miyong menyela ucapan Pangeran dengan kecupan lembut yang mendarat di bibir tipisnya, dia menatap lekat mata sayu pangeran.
"Kau adalah pangeran terhebat, jangan pernah selalu beranggapan kalau dirimu rendah," ucap Miyong meyakinkan Pangeran.
"Pengangkatan ini adalah pengangkatan tidak resmi, bahkan aku mau dari kata sempurna," Pangeran menundukkan pandangannya.
"Akan tetapi Rakyat sangat mengharapkan kepemimpinanmu bukan?" Ucap Miyong memeluk erat tubuh polos Pangeran.
Miyong tak menutup mata tentang fakta yang ada di sekitarnya, memang pengangkatan putra mahkota tidak berdasarkan dengan aturan-aturan yang berlaku.
Akan tetapi pewaris yang tepat saat ini adalah Pangeran dan tidak ada orang lain, memang pangeran jauh sekali dari kata sempurna. Bahkan, ilmunya di bidang politik masih sangat minim.
Miyong hanya berusaha agar dirinya dapat membantu pangeran dalam memajukan kesejahteraan kerajaannya.
Oleh sebab itu Miyong selalu membaca buku untuk memperluas ilmu pengetahuannya, terlebih lagi kerjasama dengan orang asing yang membuat perasaan Miyong tidak nyaman.
Pelukan Miyong membuat aura panas kembali dirasakan oleh pengeran, kedua tubuh polos yang saling menempel membuat jantung tiba-tiba terpompa begitu cepat.
Jemari pangeran mulai menari-nari di punggung mulus Miyong, yang kian detik jermati tersebut kian menurun.
"Mmhhh ..." ucap Miyong tak mampu menahan gelora.
"Jadilah Ratu yang selamanya menemaniku," pinta Pangeran dengan mata sendu.
"Selalu Tuanku," jawab Miyong lirih.
__ADS_1
Kedua mata saling menatap lekat tanpa melepas pelukan, semakin lama pelukan itu semakin erat di sertai dengan kecupan yang kian lama kian menuntut.
Hingga suara dentingan pedanga yang saling menggesek membuat mereka menghentikan aktifitas yang penuh gelora.