Hidden Crown Prince

Hidden Crown Prince
Bab 29


__ADS_3

Yu Hwa masih tertunduk di gundukan tanah, matanya masih menatap nanar. Dia tak menyangka akan kehilangan orang yang paling dia sayang.


Hidupnya saat ini seakan hancur berkeping-keping, tak ada lagi semangat yang seperti dulu.


Alasannya untuk tetap berdiri tegak telah hilang, Dunianya kini seakan runtuh tak berbentuk. Berulang kali dia mengelus batu yang bertuliskan nama Ayahnya.


Matanya masih terus meneteskan air tanpa mampu di bendung, terdengar isakan pilu keluar dari bibir tipisnya.


Jae Sung mengantarkan Ibu Yu Hwa untuk pulang, saat ini bukan hanya Yu Hwa yang terguncang. Akan tetapi, ibunya lebih tersiksa.


Tak mudah untuk mengikhlaskan seseorang untuk pergi, apalagi dia telah mengisi hidup kita dengan berbagai warna.


Menemani di setiap langkah kita, selalu ada di sisi kita saat kita berada di dasar. Dan selalu merangkul kita saat kita terpuruk.


Semua tak akan bisa mengerti bagaimana sakitnya, sakitnya luka yang tak berdarah.


"Ibu istirahat, Saya mau menyusul Yu Hwa dulu." ucap Jae Sung setelah memastikan Ibu Yu Hwa aman.


"Berapa lama kau berhubungan dengan Yu Hwa?" tanya Ibu serius.


Bila sebelumnya Jae Sung berucap tegas, kini mulutnya masih sangat kelu untuk berucap. Dirinya tak mampu bila harus berbohong lagi.


Ibu Yu Hwa masih menatap lekat Jae Sung yang terdiam seribu bahasa, telinganya menantikan jawaban yang telah lama dia tungu.


"Sudah aku duga, kalian hanya pura-pura kan?" tanya Ibu Yu Hwa. Dengan memalingkan pandangan.


Jae Sung menatap lekat Ibu Yu Hwa, tampak kilatan kecewa terpancar di wajah senjanya. Akan tetapi, jae Sung tak dapat berbuat lebih.


Jae Sung lebih memilih pergi, dari pada dirinya harus menutupi kebohongan dengan kebohongan yang lain.


Jae Sung beranjak dan melangkah menuju pintu, langkahnya terhenti saat Ibu Yu Hwa mengucapkan sepenggal kata.


"Tolong jaga putriku, meskipun kalian tidak ada hubungan spesial" ucap Ibu Yu Hwa lirih.


Jae Sung mengangguk lirih, tanpa memutar tubuhnya. Kemudian melangkahkan kakinya keluar rumah.


Tak lama sampailah Jae Sung di tempat Ayah Yu Hwa di kebumikan, tampak Yu Hwa masih bersimpuh di samping gundukan tanah.


Jae Sung melangkah mendekati Yu Hwa, dan berjongkok di sampingnya.


"Ayo kita pulang," ajak Jae Sung.


Yu Hwa tetap tak bergeming, dirinya tetap duduk bersimpuh. Jae Sung menarik nafas dalam dan mencoba untuk bersabar.


Dia juga pernah ada di posisinya, memang tidaklah mudah. Akan tetapi, dirinya juga harus bangkit dan tidak stuck seperti ini.

__ADS_1


Detik berganti menit berlalu, Jae Sung mulai bosan melihat air mata yang terus berlinang.


"Apa menurutmu, dengan menangis Ayahmu akan bangun kembali?" tanya Jae Sung dengan nada angkuhnya.


Yu Hwa hanya melirik sekilas, kemudian melempar pandangan ke batu yabg terukir nama Ayahnya.


"Kalau kau terus begini, kau akan menyiksa Ayahmu." ucap Jae Sung mulai beranjak pergi.


"Kau hanya bisa menghakimi, kau tak pernah merasakan pahitnya kehidupan seperti aku," ucap Yu Hwa.


Mendengar Yu Hwa berkata demikian, Jae Sung menghentikan langkahnya. Dia berbalik badan dan menatap Yu Hwa dengan amarah yang tertahan.


"Ya, memang aku tidak pernah merasakan apa yang kau rasakan saat ini." ucap Jae Sung lirih.


"Tapi, bila aku jadi dirimu. Aku tak akan pernah mengecewakannya, dan berusaha mewujudkan apa permintaan terakhirnya." ucap Jae Sung melangkah menjauh.


Amarah Jae Sung sudah berada di ubun-ubun, dia sudah tak mau berdebat lagi saat ini. Lebih baik menghindar dari pada nantinya akan ada keributan tiada akhir.


Langkah kaki Jae Sung terhenti ketika rintikan air hujan mulai turun, hatinya bimbang harus lanjut melangkah atau putar balik.


Hingga akhirnya, Jae Sung lebih memilih melanjutkan langkahnya.


Di sisi lain, Yu Hwa masih tetap duduk tersimpuh. Dirinya masih tak merelakan kepergian Ayahnya, Dia tak mempedulikan hujan turun yang semakin deras.


Kenangan manis bersama Ayahnya terlintas di pikirannya, terukir senyum manis di wajah Yu Hwa.


"Ayah tau, saat itu aku sangat marah. Aku selalu ingin pergi dari rumah untuk menghindari omelan Ayah dan Ibu."


"Ayah, aku setiap hari selalu berdo'a agar aku bisa hidup bebas." terdengar isakan dari bibir Yu Hwa.


"Aku ingin hidup tanpa ada yang mengatur, berkerja dan menghasilkan uang sendiri. Membeli semua keinginanku sendiri, tanpa pernah berfikir tentang Ayah dan Ibu." ucap Yu Hwa sesenggukan.


"Sebenarnya aku sangat tidak ikhlas saat masuk ke dalam istana. Aku pikir Ayah dan Ibu sangat membenciku dan mengambil keuntungan dariku." air mata Yu Hwa semakin deras.


"Tapi, setelah aku tau kabar Ayah dan Ibu. Aku mulai mengerti semua."


"Ayah, maafkan aku ..."


"Bangun Yah, aku sangat merindukan amarahmu, omelanmu, serta nasehat-nasehatmu."


"Kau adalah alasan kenapa aku bisa bertahan di istana sampai detik ini Yah ..."


"Pukul aku Yah, jewer aku sesukamu. Aku mohon bangunlah Yah ..." ucap Yu Hwa membentur kan kepalanya ke batu yang terukir nama Ayahnya.


Yu Hwa terus membenturkan kepalanya di batu, hingga ada seseorang yang menariknya mundur.

__ADS_1


"Kau gila hah ..." ucap Jae Sung kesal.


"Aku mau ikut Ayah, apa urusanmu!" ucap Yu Hwa meninggikan suara.


"Urusanku menepati janjiku padanya, untuk menjagamu!" Jawab Jae Sung tak kalah keras.


"Apa? bahkan kau berbohong pada ayahku di sisa hidupnya." ucap Yu Hwa.


"Lalu aku harus apa? membiarkanmu mati konyol disini?" ucap Jae Sung.


"Apa, Aku harus melihat arwah ayahmu menangis di langit?" lanjut Jae Sung.


"Dengan mudahnya kau mengakhiri hidupmu gara-gara cobaan seperti ini, apa kau tidak pernah lihat. Masih banyak anak yang lebih tragis darimu hah!" ucap Jae Sung tak mampu menahan emosinya.


"Kau mau mati sekarang? baik. Akan aku kabulkan!" ucap Jae Sung menarik pedangnya dari pinggang.


Yu Hwa terdiam sesaat, ketika melihat pedang Jae Sung sudah berada tepat di hadapannya. Matanya terbuka lebar, berulang kali dia meneguk liurnya.


Sebelumnya dia sudah melihat bagaimana luwesnya Jae Sung bermain pedang, dengan mudahnya dia menghempaskan nyawa musuh.


Bukan hal sulit baginya untuk menghempaskan nyawa Yu Hwa saat ini. Hanya dengan hitungan detik Yu Hwa bisa langsung berpindah dunia.


"Aku akan membantumu, ini semua tidak akan sakit. Percayalah." ucap Jae Sung menyeringai, wajahnya sangat menyeramkan saat ini.


"Ba-baik, aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi." ucap Yu Hwa terbata.


"Kenapa? kau takut mati?" Tanya Jae Sung, mata tajamnya lekat menatap Yu Hwa.


"A-aku ..." ucap Yu Hwa terbata.


Jae Sung segera menarik pedangnya dan menaruhnya kembali ke pinggang. Jae Sung menarik nafas dalam.


"Kita harus kembali ke istana, kalau ada seseorang yang menyadari kepergianmu. Maka, nyawamu benar-benar akan melayang." ucap Jae Sung menekan kalimat.


"A-aku mau bertemu Ibu dulu" ucap Yu Hwa menahan isak.


"Cepat, kita tak punya banyak waktu." ucap Jae Sung melangkah pergi.


Yu Hwa melangkah perlahan, melihatnya membuat Jae Sung tak sabar. Dia segera melangkah melewati Yu Hwa dan berjongkok di hadapannya.


"Naik!" perintah Jae Sung


"Ta-tapi ..." ucap Yu Hwa ragu.


"NAIK," bentak Jae Sung.

__ADS_1


Perlahan Yu Hwa naik ke punggung Jae Sung, kedua tangannya menggelayut erat di pundak Jae sung. Mereka melangkah pergi meninggalkan tempat.


__ADS_2