Hidden Crown Prince

Hidden Crown Prince
bab 20


__ADS_3

Nona Miyong duduk di samping Yu Hwa, matanya lekat menatap pelayannya dengan tatapan sedih.


"Yu Hwa maafkan aku, aku tidak tau kalau kau sakit," ucap Miyong lirih.


"Nona tak usah mencemaskan ku, aku pasti segera sembuh," ucap Yu Hwa lirih.


Dia baru saja bangun, kepalanya masih pusing saat ini. Dengan lembut dia menggenggam jemari lembut Miyong


"Badanmu masih panas," ucap Miyong menggenggam jemari Yu Hwa dengan kedua tangannya.


"Sebentar lagi obatnya bereaksi, aku mau istirahat Nona," ucap Yu Hwa lirih.


"Ya sudah istirahat saja," ucap Miyong memanyunkan bibirnya.


Miyong tau maksud Yu Hwa, akan tetapi dirinya masih enggan meninggalkan temannya yang sedang berbaring lemah.


Perasaannya di penuhi rasa bersalah saat mendengar kalau Yu Hwa sakit, sedangkan dirinya sedang bersama Pangeran saat itu.


Sebelumnya dia sudah melihat Ayahnya sakit, dan saat ini tak mau hal yang serupa terjadi dengan teman yang amat dia sayangi.


Hingga Jae Sung masuk ke kamar Yu Hwa, dia memberi hormat kepada Miyong.


"Pangeran memanggil Anda Nona," ucap Jae Sung penuh hormat.


Miyong masih enggan beranjak, matanya masih menatap lekat temannya yang terbaring lemas di ranjang.


Melihat Miyong tidak segera beranjak, Jae Sung mulai memikirkan cara lain.


"Hamba akan menjaga Nona Yu Hwa untuk Anda Nona" ucap Jae Sung menundukkan pandangan.


Yu Hwa sedikit terkejut dengan ucapan Jae Sung, Kenapa dirinya mendadak baik seperti ini? biasanya dia akan acuh dengan segala hal.


Beda halnya dengan Miyong, mendengar ini dia sangat bersemangat. Dia yakin kalau orang andalan Pangeran tidak akan mengecewakan.


"Baik, tolong jaga temanku yaa. Jangan tinggalkan dia walaupun sebentar." ucap Miyong kemudian beranjak.


"Baik Nona," jawab Jae hormat.


"Tidak boleh nakal, kau mengerti." ucap Miyong menatap Yu Hwa dan memainkan jari telunjuknya.


Yu Hwa tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya, setelahnya Miyong melangkah kakinya keluar kamar Yu Hwa.


Tanpa mereka sengaja, tatapan mata mereka bertemu di garis lurus. Secara bersamaan pula keduanya memalingkan wajah


Sungguh ini adalah perasaan canggung yang jarang di rasakan Jae Sung, dia meraih sebuah botol kecil dari balik bajunya.


"Apa ini?" tanya Yu Hwa.

__ADS_1


"Racun ..." jawab Jae Sung singkat.


"Aku sedang sakit, bisakah kau sedikit lembut. dasar wajah datar." gerutu Yu Hwa.


"Apa kau bilang!" ucap Jae Sung melayangkan tangannya, tangan itu melayang dan mendarat tepat di kening Yu Hwa.


Melihat tangan Jae yang melambung seketika meta Yu Hwa tertutup rapat, dirinya takut tangan itu akan mendarat keras.


"Demamnya sudah turun," ucap Jae Sung, saat punggung tangannya mendarat lembut di kening Yu Hwa.


Yu Hwa tak menyangka di balik lidahnya yang pedas, ternyata masih menyimpan seikit hati yang lembut.


"Bagaimana lukamu?" Tanya Yu Hwa.


"Lihat, kondisimu seperti ini masih saja mempedulikaan orag lain." ucap Jae Sung melempar pandangan.


"Bagaimanapun kau adalah prajurit, kalau terjadi apa-apa denganmu Nonaku bisa celaka." ucap Yu Hwa sewot.


Perlahan Yu Hwa bangun dari tidurnya, punggungnya sangat panas karena seharian tertidur.


Melihat hal tersebut, tangan Jae sung reflek membantu Yu Hwa untuk bangun. Tatapan mata pun tak dapat dihindari.


Mereka saling memebuang pandangan, tiba-tiba situasi jadi sangat canggung. Perlahan Yu Hwa menggeser tubuhnya, dan Jae Sung melepaskan tangannya.


"Minum ini, aku harus pergi. Ada urusan sedikit, nanti aku akan kembali lagi." ucap Jae Sung salah tingkah dan segera melangkah meninggalkan kamar Yu Hwa.


Yu Hwa seperti tak asing melihat botol obat ini, otaknya berusaha keras untuk mengingat botol ini. Akan tetapi tak sedikitpun hal yang dia ingat.


***


Di tempat yang berbeda, Miyong dan Pangeran duduk berhadapan. Tak ada suara dari mereka, hanya keheningan yang mendominasi.


Angin bertiup membawa udara segar membuat keduanya larut akan keheningan ini, mata Miyong masih lekat menatap perbukitan indah yang berada di hadapannya.


Mata Pangeran menyapu keadaan sekitar, tak ada seorang pun disini kecuali merka.


"Aku tau kau masih sagat sulit menerimaku," ucap Pangeran lirih.


Mendengar ucapan Pangeran membuat Miyong tersenyum simpul, Dia tak dapat berbuat apa-apa. Bukankah demikian kehidupan di dalam istana?


"Apakah Pangeran sudah memilih selir kesayangan? Aku tak akan mengganggu hubungan kalian, anggap saja kita sedang menjalankan tugas." ucap Miyong.


Pangeran menghembuskan nafas pelan, sebennarnya Dia juga tidak yakin akan kemampuannya menjalankan pemetrintahan negara.


"Sebenarnya Aku belum siap menjaga amanat ini, bahkan aku tidak mahir memainkan pedang." ucap Pangeran melempar pandangan.


"Pangeran merupakan orang yang arif dan bijaksana, rakyat pasti akan menerima Pangeran dengan senang hati." ucap Miyong sambil menyesap tehnya.

__ADS_1


"Rakyat sangat membutuhkan Ratu sepertimu, Aku harap kau bisa mendampingiku." ucap Pangeran menatap lekat Miyong.


"Hamba akan selalu mendampingi Pangeran," ucap Miyong tersenyum teduh.


"Ayahmu pasti akan baik-baik saja, aku berjanji." ucap Pangeran mantap.


"Hamba telah pasrah dengan segala hal yang akan terjadi Pangeran," ucap Miyong lirih.


Sejak masuknya Miyong di istana Ayahnya selalu berpesan, saat kita memilih untuk masuk istana. Kita harus siap dengan segala kosekuensi yang ada.


Entah itu harus mati dalam keadaan berjaya atau bahkan mati mengenaskan karena hukuman istana.


Karena nyawa kita menjadi taruhan atas semua tindakan yang akn kita pilih, sama halnya seperti saat ini.


Apalah daya Miyong saat ini, dirinya sudah memilih masuk ke dalam istana dan akan berjuang sampai akhir disini.


Bahkan akan sulit baginya untuk berjaya karena kondisi kerajaan yang tidak kondusif, dan yang paling mengerikan adalah ... Nyawanya yang selalu terancam


Pangeran masih tetap menatap paras cantik nan anggun yang duduk di sampingnya, tanpa Miyong sadari Pangeran mulai menyukainya.


Akan tetapi Pangeran tak mau tergesa-gesa, Dia sangat tau bagaimana kondisi hati Miyong saat ini.


Tidak mudah baginya untuk menerima seseorang yang tidak dia cintai, bahkan harus bersandiwara setiap hari.


'Aku pasti akan mendapatkan hatimu,'


Pangeran tersenyum simpul dan menyesap secangkir teh yang ada di hadapannya, matanya beralih pada pemandangan indah di hadapannya.


"Kau tau? Kue ini sangat lezat. Cicipilah," ucap Pangeran menyodorkan kue yang berbentuk bunga.


Miyong mengambil satu kue dan melahapnya, Pangeran tersenyum teduh melihat Miyong yang melahap kue.


***


Di sisi hutan, terdapat beberapa orang berkuda berkumpul.


"Bagaimana tua bangka itu?" tanya seorang yang memakai jubah.


"Dia sudah beres Tuan," ucap salah seorang bertopeng.


"Bagus, habisi semua orang yang menghalangi langkah kita. Aku tak mau membuang waktu lagi. Sebentar lagi Jepang akan segera datang." ucap orang berjubah tersebut.


"Pelayan di paviliun sudah kami bersihkan karena mengganti racun dengan minuman herbal." ucap seorang bertopeng.


Mendengar laporan dari prajuritnya, seketika tawa nyaring terdengar menggema.


"Kau harus membayar dengan tuntas Jae Sung, setelah ini kau akan binasah ... Ha ... Ha ..."

__ADS_1


__ADS_2