
Yu Hwa segera berlarian masuk ke dalam rumah, Ayahnya masih tergeletak lemas di atas tempat tidur yang terbuat dari bambu.
Terdapat pecahan sebuah gelas di samping ranjang Ayahnya, Yu Hwa segera berlarian mendekati Ayahnya.
"Ayah, aku disini Yah." ucap Yu Hwa membelai pipi Sang Ayah.
"Yu Hwa, kau datang?" ucap Ayah dengan nada lirih, nyaris tak terdengar.
Kondisi Ayahnya kali ini sangat lemah, wajahnya sangat pucat. Suaranya sangat berat untuk keluar.
Yu Hwa menggenggam erat jemari Ayahnya, berkali-kali dia mencium jemari keriput yang dulunya sering memanjakannya.
"Ayah, harus kuat. Yu Hwa panggilkan tabib ya?" ucap Yu Hwa hendak beranjak. Akan tetapi, jemarinya di cengkram erat oleh Ayah.
Yu Hwa kembali duduk di samping Ayah, melihat Ayahnya yang tersiksa, membuat Yu Hwa tak dapat membendung air matanya.
"Aku mohon Yah, Ayah harus sembuh." ucap Yu Hwa memohon.
Dengan susah payah Ayah Yu Hwa mengangkat tangannya, jemarinya mendarat di pipi basah Yu Hwa.
"Kenapa menangis? Bukankah Ayah pernah bilang, jangan sia-siakan air matamu itu karena hal sepele." ucap Ayah Yu Hwa dengan susah payah.
"Berjanjilah padaku Yah," ucap Yu Hwa menahan isak.
"Kau yang harus berjanji kepada Ayah, kau harus bahagia. Ingat itu!" ucap Ayah menatap Yu Hwa dengan tatapan sayu.
__ADS_1
Ayah Yu Hwa sangat lega dapat melihat wajah putrinya di detik terakhir hidupnya, sebelum ini dia sangat tersiksa karena selalu di hantui rasa bersalah.
Pandangannya beralih pada sosok tampan yang berdiri di dekat pintu, tak sengaja tataoan Jae Sung dan Ayah Yu Hwa saling bertemu.
"Kemarilah," ucap Ayah Yu Hwa lirih.
Yu Hwa memutar kepala dan melihat kebelakang, sudah ada Jae Sung yang melangkah mendekat.
"Tolong jaga putriku, aku tau dia sangat bandel. Tapi, aku yakin kalau dia sangat baik. Jadilah pasangan yang hidup bahagia selamanya." ucap Ayah Yu Hwa tulus.
"Ayah sudah salah ..." ucap Yu Hwa terputus.
"Saya akan menjaga Yu Hwa, Ayah jangan khawatir. Tabib akan segera datang." ucap Jae Sung mantap.
Mata Yu Hwa membulat sempurna, ingin sekali dia menjentus kan kepalanya saat ini juga. Dia berharap kalau saat ini dirinya sedang bermimpi.
Belum selesai Yu Hwa berpikir keras, seorang tabib datang. Dengan sigap tabib tersebut memeriksa keadaan Ayah Yu Hwa.
Tersirat raut wajah yang menandakan bawha kondisi Ayah Yu Hwa sedang tidak baik-baik saja.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Jae Sung.
Tabib hanya terdiam sesaat, matanya menatap Yu dan Jae Sung bergantian. Lidahnya sangat kelu mengucapkan fakta yang harus dia sampaikan.
Di tambah lagi Ibu Yu Hwa yang terus menangis, membuat suasana di rumah semakin pedih.
__ADS_1
"Bagaiman keadaan Ayah?" tanya Jae Sung mengulang kalimatnya.
"Di-dia. Kondisinya sudah tidak memungkinkan. Denyut jantungnya ..." belum selesai tabib menyampaikan kondisi Ayah Yu Hwa.
Tiba-tiba Ayah Yu Hwa mengalami sesak nafas, dengan sekuat tenaga dia melambungkan tangannya. Mencoba untuk meraih jemari putrinya.
Yu Hwa segera mendekati Ayahnya dan menggenggam erat jemarinya, jemarinya sudah terasa sangat dingin.
Yu Hwa sudah mengikhlaskan apapun yang akan terjadi saat ini, dirinya sudah berusaha sekuat tenaga. Akan tetapi, tetap Tuhan-lah yang memberi keputusan.
Ayah Yu Hwa melempar pandangan ke arah Jae Sung, mengisyaratkan untuk duduk di samping Yu Hwa.
"Jadilah suami istri yang saling menjaga dan mencintai," ucap Ayah Yu Hwa.
"Aku berjanji Ayah, jangan khawatir." ucap Jae Sung.
Jae Sung menatap lekat Yu Hwa yang sedang terisak menahan sesenggukan, dirinya pernah di posisi Yu Hwa saat ini. Perlahan Jae Sung memeluk Yu Hwa agar perasaanya lebih tenang.
Ayah Yu Hwa tersenyum teduh, hingga akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhirnya.
Pecah sudah tangis Yu Hwa saat ini, dirinya mengguncangkan tubuh lemas sang Ayah. Mencoba membangunkannya, dia masih tak percaya kalau Ayahnya harus pergi secepat ini.
Jae Sung mendekap erat tubuh Yu Hwa yang terus meronta-ronta, hingga akhirnya dirinya menyerah dan duduk tersungkur di lantai.
Ibu Yu Hwa terisak, tubuh lemasnya saat ini tak mampu menopang berat badannya. Seketika dia merosot dan duduk di lantai.
__ADS_1
Setidaknya dia dapat bernafas lega, karena sebelum suaminya mengembuskan nafas terakhir. Dirinya mampu membawa putrinya ke hadapannya saat ini.