Hidden Crown Prince

Hidden Crown Prince
Bab 42


__ADS_3

Ratu tersenyum simpul melihat kepanikan Jae Sung, saat ini para prajurit istana sudah pasti menantikan kehadirannya.


Dia segera melangkah mendekati Yu Hwa yang terbaring lemah. Namun sebilah pedang menghadang langkahnya.


"Pergi!" ucap Prajurit Ratu.


Ratu melangkah mendekati Jae Sung.


"Dia adalah anakku," bisik Ratu.


Mata Jae Sung terbelalak, dia tak menyangka akan kebenaran yang dia ketahui malam ini.


"Tidak mungkin," ucap Jae Sung masih tak percaya.


Ratu terbahak mendengar ucapan Jae Sung, ternyata dia benar-benar mencintai gadis ini.


"Pemberontak itu tau rahasia besar ini, tujuan utama mereka adalah Yu Hwa," ucap Ratu kemudian melempar pandangan ke arah salah satu prajurit.


Salah satu prajurit menggendong Yu Hwa dan keluar kamar, mata Jae Sung masih lekat menatap kepergian Yu Hwa.


"Aku memang dalang di balik pembunuhan Ibumu, dan dia adalah anakku. Jadi aku tidak akan membiarkanmu untuk dapat meraihnya dengan mudah," ucap Ratu.

__ADS_1


"Aku bisa menyajikan masakan yang lezat dan sedikit bumbu penyedap di atasnya," kekeh Ratu.


"Dasar penjilat," umpat Jae Sung.


"Demi tahta ini, bahkan aku rela bertaruh nyawa, jadi hanya seorang anak tidak cukup penting bagiku!" ucap Ratu menatap lekat mata Jae Sung.


Suara bergemuruh dan teriakan prajurit sudah semakin riuh di luar istana, begitu pula otak Jae Sung yang tak bisa berpikir jernih.


"Aku tidak melepaskan mu begitu saja," ucap Jae Sung segera berlari keluar untuk membantu para prajurit membasmi pemberontak.


Jae Sung segera memberi amanah kepada orang kepercayaan nya untuk mengejar prajurit yang membawa Yu Hwa pergi.


Dia tidak mudah termakan ucapan Ratu, sebelum dia mendapatkan bukti yang akurat kalau Yu Hwa benar-benar putrinya.


Melihat suasana sudah terkendali, dia segera berlari mengejar orang yang membawa Yu Hwa.


Jae Sung naik ke seekor kuda dan melaju dengan kecepatan kilat, dinginnya malam, bahkan minimnya penerangan tak menjadi alasan Jae Sung untuk berhenti.


Dia menerobos kegelapan dengan berani, hingga matanya menemukan sebuah kobaran api di tepi jalan.


Dirinya melihat seorang kakek tua yang duduk dan membakar beberapa ikan,

__ADS_1


"Apakah kau melihat beberapa orang yang lewat sini Kek?" tanya Jae Sung.


Kakek tersebut mendongakkan pandangannya dan menatap Jae Sung, bibirnya tersenyum teduh.


"Makan dulu, hari sudah larut. Kau mau kemana?" tanya sang Kakek.


Jae Sung membuang muka, sungguh ini bukan waktu yang tepat untuk berkenalan kepada orang asing.


Tampak wajah masam Jae Sung, dia segera menarik pelana kuda dan bersiap melanjutkan perjalanan.


"Dia bukan jodohmu, berhentilah mengejarnya." ucap Sanga kakek.


Jae Sung seketika berhenti mendengar ucapan Kakek tersebut, dia segera turun dari kuda dan mengayunkan pedang ke leher sang kakek.


Kakek tersebut kembali tersenyum teduh, dia tak takut sedikitpun dengan ancaman pedang Jae Sung.


"Hubungan kalian terlalu berat," lanjut kakek tersebut.


"Aku tidak peduli!" Jawab Jae Sung dengan suara lantang.


"Lurus, belok kanan. Ikuti jalan sampai kau menemukan sebuah gubuk," ucap kakek tersebut.

__ADS_1


Jae Sung segera menarik pedangnya dan naik ke kuda, dia melakukan kudanya secepat kilat. Agar tidak terjadi suatu yang buruk kepada Yu Hwa.


Dia sudah kehilangan Ibu dan Pamannya, dia tak mau harus kehilangan orang yang berarti di hidupnya.


__ADS_2