Hidden Crown Prince

Hidden Crown Prince
bab 18


__ADS_3

Cahaya matahari pagi menyinari wajah Jae Sung dan membuatnya terbangun, perlahan matanya terbuka.


Pandangannya tertuju pada sosok cantik yang saat ini memeluknya erat, entah mengapa jantung Jae Sung mendadak berdebar.


Jae Sung menatap setiap inci wajah cantik yang semalaman ini menjaganya, baru kali ini ada seorang yang sangat memperhatikan nya selain sang Ibu.


Seketika mata Jae Sung kembali tertutup ketika melihat pergerakan wanita cantik tersebut. Perlahan mata Yu Hwa terbuka lebar.


Matanya di suguhkan pemandangan indah pagi ini, pria tampan yang tertidur pulas dipelukannya, membuat Yu Hwa tersenyum tipis.


"Sebenarnya kau tampan juga, sayangnya ... hanchih ...!!!" Yu Hwa bersin dan membuat Jae Sung membuka mata.


"Astaga, kau ini." ucap Jae Sung mengusap wajahnya yang terkena semburan Yu Hwa.


"Syukurlah kalau kau sudah bangun, dasar merepotkan." ucap Yu Hwa beranjak dan melangkah pergi meninggalkan Jae Sung.


Jae Sung menatap Yu Hwa yang melangkah pergi, terlihat senyum tipis terukir indah di wajah Jae Sung.


Senyum indah yang telah lama tidak menghiasi wajah tampannya, tanpa dia sadari telah ada hadir kembali.


"Lapor ketua, semua prajurit telah siap melanjutkan perjalanan." ucap salah satu prajurit Jae Sung.


"Baik, kita tunggu Pangeran memberi aba-aba. Bagaimana luka kalian?" tanya Jae Sung.


"Tidak ada luka serius, semua personil sudah di obati." jawab prajurit tersebut.


"Baik, kalian istirahat dulu dan tunggu perintah," ucap Jae Sung beranjak dari duduknya.


"Baik ketua," ucap prajurit itu melangkah menjauhi Jae Sung.


Jae Sung melangkah menuju tandu Raja, akan tetapi langkahnya terhenti ketika melihat lengannya yang terbalut kain.


Perlahan Jae Sung membuka lilitan kain, tampak luka yang masih menganga akan tetapi sudah tak ada cairan merah yang keluar.


'wanita itu pintar juga'


"Bagaimana kondisimu?" Tanya Pangeran.


"Hamba baik-baik saja, terimakasih atas perhatian Pangeran," ucap Jae Sung membungkukkan badan.


"Jadi kita putar balik atau melanjutkan perjalanan?" tanya Pangeran.


"Perjalanan kurang sedikit lagi, hamba tidak mau membuat Pangeran dan Nona kecewa." ucap Jae Sung masih membungkuk.

__ADS_1


Pangeran masih menimbang keputusan, memang tempat yang akan di kunjungi hanya kurang sekian meter lagi, akan tetapi Dia tak mau mengambil banyak resiko.


"Prajurit sudah bisa menjaga Pangeran kembali, Anda jangan khawatir." ucap Jae Sung.


"Baik kita lanjutkan sekarang!" ucap Pangeran dan melangkah pergi.


Jae Sung menyiapkan prajurit untuk melanjutkan perjalanan, dan tak lama kemudian rombongan Pangeran berjalan meninggalkan tempat istirahat.


Entah mengapa perhatian Jae Sung beralih pada pelayan yang beberapa waktu menolongnya, jae menghentikan kudanya dan mengangkat Yu Hwa naik ke atas kuda.


"Aku ..." ucapan Yu Hwa terpotong.


"Kita tidak bisa menunggu siput sepertimu," ucap Jae menaiki kuda yang sama.


Yu Hwa tak bergeming, badannya kali ini tidak enak sehingga tak memiliki energi untuk berdebat dengan Jae Sung.


"Terserah kau saja," ucap Yu Hwa pasrah.


Jae Sung menaiki kuda dengan lambat, tak ada obrolan di antara mereka. berulang kali Jae Sung mencuri pandang ke arah Yu Hwa, tanpa Yu Hwa ketahui.


Berulang kali Yu Hwa bersin-bersin, dan mengusap hidungnya yang berair. Kepalanya saat ini sangat berat.


"Apa kau tidak bisa tenang sedikit?" ucap Jae Sung ketus.


"Apa matamu buta?" ucap Yu Hwa tak kala sengit.


Jae Sung hanya terdiam mendengar jawaban Yu Hwa. Sejak kematian Ibunya membuatnya menjadi pribadi yang tertutup dan jarang berkomunikasi dengan orang.


Masa lalunya hanya terisi dengan dendam dan peperangan, pedang dan busur adalah temannya selama ini.


Jae Sung memberi Yu Hwa sebuah sapu tangan, tanpa pikir panjang Yu Hwa menyambar secuil kain tersebut dan menutup mulutnya.


"Seorang sepertimu memiliki sapu tangan?" ucap Yu Hwa tak percaya.


"Maksudmu?" Jae Sung membelalakkan matanya mendengar ucapan Jae Sung.


Yu Hwa tak membalas ucapan Jae Sung, kepalanya saat ini sangat berat. Berulang kali Yu Hwa memijit keningnya.


Melihat Yu Hwa yang tak merespon ucapannya membuat Jae Sung terdiam kembali, dia memberanikan diri untuk menyentuh kening Yu Hwa.


Kening Yu Hwa panas, wajahnya sangat pucat. ingin sekali dirinya melajukan kuda secepat mungkin agar cepat sampai, akan tetapi jalanan masih tidak memungkinkan.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jae Sung, wajah Yu Hwa yang pucat membuat dirinya khawatir.

__ADS_1


"Kalau kau sampai pingsan, akan ku buang kau disini. Pasti srigala akan berterimakasih padaku." ucap Jae Sung datar.


"Aku akan mencekikmu saat itu juga," jawab Yu Hwa lirih.


Tak lama kemudian sampailah mereka di paviliun sederhana milik Pangeran, dulunya tempat ini sering di gunakan mediang Ibu kandung pangeran saat ingin menenagkan pikiran.


Pangeran dan Miyong turun dari kereta, wajah mereka tampak ceria saat melihat suasana paviliun yang asri.


"Kau suka?" tanya Pangeran.


"Tentu," jawab Miyong tersenyum bahagia.


Terlihat beberapa orang yang datang berhamburan, mereka menyambut kedatangan pangeran dan Miyong.


Tampak seorang pria dan beberapa wanita yang melangkah di belakangnya, mereka membungkukkan setengah badannya sebagai tanda penghormatan.


"Selamat datang kembali Pangeran Joon," ucap pria setengah tua tersebut.


"Terimakasih Paman, kau sangat merawat tempat ini dengan baik." Pangeran memuji hasil kerjanya yang memuaskan.


"Silahkan masuk Pangeran," ucap pria itu membungkuk.


Pangeran menggandeng tangan Miyong dan masuk ke dalam paviliun, di ikuti oleh beberapa prajurit.


Sebagaian prajurit membereskan kuda dan kereta, Yu Hwa turun dari kuda. Tubuhnya seketika kehilangan keseimbangan.


Dengan sigap Jae Sung menangkap Yu Hwa yang hampir saja terjatuh, matanya tertutup rapat wajahnya sangat pucat.


"Dimana kamar Nona ini?" tanya Jae Sung pada pelayan wanita yang berdiri di depan pintu.


"Sebelah sini Tuan?" jawab salah seorang pelayan yang menunjukkan jalan.


Tanpa pikir panjang Jae Sung menggendong Yu Hwa, dan mengikuti langkah pelayan yang menunjukkan jalan.


Tak lama kemudian sampailah mereka di sebuah kamar, perlahan Jae Sung masuk dan merebahkan tubuh lemas Yu Hwa di tempat tidur.


Jae Sung menutup tubuh Yu Hwa dengan selimut tebal, dengan berat hati Jae Sung melangkah keluar kamar.


Jae Sung melangkah menjauhi kamar Yu Hwa dan menuju ke suatu tempat, di saat bersamaan datang seorang yang masuk kedalam kamar yu Hwa.


***


Pangeran dan Miyong masuk kamar masing-masing, kamar mereka hanya bersebelahan.

__ADS_1


Tiba-tiba Miyong teringat sesuatu, segera dia melangkah keluar kamar dan celingukan mencari seseorang


'Dimana Yu Hwa, tidak biasanya dia menghilang?'


__ADS_2