
Jae Sung tak mengerti dengan semua ucapan Pria kekar yang bersama Yu Hwa saat ini, seolah dia lebih tau segalanya di bandingkan dia.
Rasa dendam yang tumbuh di dalam dirinya, seolah menghilang begitu saja setelah mendengar pernyataan pria tersebut.
Hatinya terasa campur aduk saat ini, seorang dalang di balik pembunuhan Ibunya adalah Sang Ratu sendiri. Sama persis seperti dugaannya.
Namun, itu semua sangat sulit karena kenyataannya. Yu Hwa, gadis yang dia cintai, ternyata anak dari sang pembunuh tersebut.
Mampukah dia menghabisi Ibunya, yang berarti bahwa Yu Hwa akan mengalami kepahitan serupa dengannya.
Otak Jae Sung serasa berputar, mengapa dunia begitu kejam padanya. Baru saja dia mendapatkan secuil kebahagiaan.
Nyatanya harus sirna dengan sekejap mata, ataukah dia memang tak pantas menerima kebahagiaan akibat tangan kotor nya?
Semua prajurit sudah bersiap, barang-barang mereka sudah di bersihkan. Sisa-sisa api unggun sudah di bereskan seolah tak pernah ada seorangpun yang singgah.
Alis Jae Sung mengkerut, apakah semua ucapan Ratu benar? Melihat semua pekerjaan di lakukan secara hati-hati.
Prajurit tersebut mulai bergerak dan menjauh, hanya menyisakan Jae Sung yang masih tercengang dengan sebuah informasi yang dia terima.
Semua prajuritnya belum juga datang, namun persetan dengan semua itu. Jae Sung segera berlari menuju kudanya dan naik.
__ADS_1
Dia mencoba menyusul rombongan yang membawa Yu Hwa pergi, dia tak memikirkan nyawanya lagi. Baginya saat ini nyawa Yu Hwa lebih penting.
Mendengar laju kuda yang begitu cepat, membuat rombongan tersebut berhenti dan bersiap menyambut kedatangan Jae Sung.
Terukir senyum kejam di wajah pria kekar,
"Ck ... ck ... nyalimu besar juga," ucap pria itu.
"Sepertinya aku tidak mengenalmu, jadi lepaskan pelayan itu," ucap Jae Sung dingin.
Pria tersebut melempar pandangan ke tandu yang berada tepat di belakangnya, kemudian menatap Jae Sung.
"Maksudnya Adikku?" ucap Pria tersebut.
Pria tersebut terkekeh, dia tak menyangka nyali panglima perang ini cukup berani. Dia sudah mendengar bagaimana kemampuannya, tapi seorang melawan puluhan orang itu sangatlah mustahil.
"Lupakan dia, kau dan dia tidak di takdirkan bersama. Karena dia akan menjadi Ratu selanjutnya, sedangkan kau hanya pemberontak rendahan," ucap pria tersebut.
Mata Jae Sung menatap tajam ke arah pria tersebut. Bahkan sedikitpun dia tak memikirkan pemberontak, yang dia mau hanyalah membunuh pembunuh ibunya.
"Tak ada seorang pencuri yang menyerahkan diri cuma-cuma, lepaskan dia. Maka aku akan membebaskan mu," ucap Jae Sung masih dengan wajah datarnya.
__ADS_1
Mendengar ini pria itu semakin terbahak di susul oleh tawa semua prajurit di belakangnya.
Yu Hwa merasa ada yang aneh ketika merasa bahwa tandu tidak segera berjalan, di tambah dengan tawa semua orang di luar.
Dia membuka kain yang menutup tandu, matanya terbelalak ketika melihat seorang pria menghadang jalan mereka.
"Jae Sung?" ucap Yu Hwa.
Tanpa pikir panjang Yu Hwa segera melangkah turun dari tandu dan hendak pergi mendekati Jae Sung.
Namun, langkahnya terhenti saat sebilah pedang menghadang langkahnya.
Melihat pedang terayun, Jae Sung juga mengayunkan pedangnya.
"Saat kau bergerak sedikitpun, nyawa pelayan itu taruhannya," ucap pria tersebut.
"Dasar pengecut," ucap Jae Sung dengan suara lantang.
"Jae Sung tolong aku!" teriak Yu Hwa.
"Apa? Tolong," ucap pria tersebut memutar pandangannya ke arah Yu Hwa.
__ADS_1
"Dia adalah musuhmu, bukan dewa penolong mu Ae Cha"
"Ae Cha"