Hidden Crown Prince

Hidden Crown Prince
Bab 33


__ADS_3

Jae Sung melangkah mendekati Yu Hwa yang masih berjongkok di balik semak, kepalanya tertunduk menatap kosong ke arah rerumputan.


"Tidak semua orang mau mengumbar masalahnya, dan meminta belas kasih kepada orang lain!" ucap Jae Sung penuh penekanan.


"Harusnya kau tidak mengecewakan Ayahmu, dengan bersikap seperti ini." ucap Jae Sung melangkah melewati Yu Hwa.


Yu Hwa hanya terdiam, kata-kata Jae Sung telah menusuk hatinya hingga ke paling dasar. Tak ada sedikitpun dia berpikiran untuk mengumbar masalahnya.


Dia memang hanya membutuhkan seorang yang mampu menemaninya untuk berbagi luka, menguatkannya. Sama seperti Ayahnya dulu yang selalu ada untuknya.


"Apa kau mau memberikan belas kasih itu untukku?" ucap Yu Hwa, tatapannya masih kosong menatap rerumputan.


"Aku membutuhkan semangat itu, sebenarnya aku tak ingin mengecewakan Ayah. Tetapi, hatiku tak sekuat itu." ucap Yu Hwa dengan memanas.


"Aku masuk ke istana, dan bersiap menggadaikan nyawaku hanya demi dia." ucap Yu Hwa.


Langkah kaki Jae Sung terhenti, perlahan dia membalik badannya dan menatap Yu Hwa yang masih terpuruk.


Hatinya terasa bergetar, seolah dia merasakan kesedihan Yu Hwa yang mendalam. Perlahan dia mendekati Yu Hwa dan duduk di sampingnya.


"Dulu aku sering marah kepada Ayah, aku mengira Ayah telah membuang ku secara tak langsung kedalam istana." ucap Yu Hwa mulai bercerita.


"Saat itu, aku terpaksa menuruti permintaan Ayah. Toh aku juga bisa hidup bebas disini, asalkan aku bisa menjaga diri. Kau sudah tau kan bagiamana kerasnya hidup di dalam istana," ucap Yu Hwa sekilas melempar pandangan ke arah Jae Sung.


Jae Sung menatap langit yang indah malam ini, telinganya masih mendengarkan sepenggal cerita Yu Hwa. Ini untuk kesekian kalinya, dirinya membuang-buang waktu hanya demi cerita yang tak berfaedah.


Entah mengapa otak dan hatinya saat ini tidak singkron, Otaknya ingin segera pergi. Sedangkan hatinya sangat ingin berada di sini menemani keterpurukan gadis di sampingnya.


"Selama aku bekerja disini, aku tidak pernah memberi kabar ataupun uang sepeserpun kepada orang tuaku." mulai terdengar isakan Yu Hwa.


"Aku selalu berfoya-foya dan membeli apapun yang ku mau, aku tak pernah memikirkan mereka." ucap Yu Hwa dengan menahan isaknya yang hampir terlepas.


Jae Sung memalingkan pandangannya dan menatap lekat gadis yang duduk di sampingnya. Tampak sekali sebuah penyesalan yang mendalam di dirinya.


"La-lalu, aku menerima sebuah surat dari tetanggaku. Dia bilang Ayah dan Ibu sakit keras, awalnya aku tak menghiraukan. Tapi, perasaanku tiba-tiba tidak enak dan aku memilih untuk pulang." ucap Yu Hwa terisak.


Jae Sung menepuk pelan pundak Yu Hwa mencoba memberi semangat, perlahan dia memeluk tubuhnya.

__ADS_1


"Lupakan semua, kau harus melanjutkan hidupmu dan melakukan hal yang lebih baik lagi," ucap Jae Sung lirih.


Isakan Yu Hwa pecah sudah, air matanya mengalir deras. Dirinya tak mampu melanjutkan ceritanya kembali.


Tidak terasa Jae Sung meneteskan air mata, dirinya saat ini benar-benar merasakan betapa hancurnya perasaan Yu Hwa.


Rasa yang pernah dia rasakan dulu, rasa kehilangan yang amat menyiksa batinnya. Rasa yang telah lama dia pendam dan berusaha membuangnya, Akan tetapi semua kembali dengan cepat hanya dalam beberapa detik.


Jae Sung semakin memperkuat pelukannya, hembusan angin malam membawa hawa dingin menusuk tulang. Seolah mendukung mereka untuk saling menguatkan satu sama lain.


***


Masih di lingkungan kerajaan, tepatnya di kediaman selir raja yang arogan. Telah berkumpul beberapa orang.


Mereka memakai pakaian serba hitam, dengan ikat kepala merah yang menghiasi kepalanya. Semua wajah tampak serius.


"Pernikahan akan segera terjadi, dan Miyong belum dapat kita singkirkan," ucap permaisuri.


"Miyong sangat di jaga ketat oleh Haa Joon, di tambah Jae Sung saat ini berpihak kepadanya." ucap salah satu orang, yang memakai pakaian prajurit.


"Apa?" ucap salah satu prajurit.


"Aku tau siapa identitasnya, dan apa tujuannya datang kemari." ucap permaisuri beranjak dari duduknya.


"Bukankah dia sangat kuat, bahkan dia dapat menebas habis prajurit kita." lanjut permaisuri.


"Tapi, itu berarti kita bunuh diri. Bagaimana kalau dia mengetahui kalau kita yang menyerangnya saat perjalanan ke Pavilliun?" ucap kepala prajurit khawatir.


Dia sangat takut, karena dia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kekuatan Jae Sung saat menebas habis semua anak buahnya.


"Mudah, kau kunci mulutmu. Atau aku yang akan menguncinya." ucap Permaisuri mengambil sebuah pisau kecil di dekat meja riasnya.


Seketika kepala prajurit ketakutan dan menundukkan pandangannya, dia tak mau harus menjadi korban selanjutnya akibat kegagalan rencana permaisuri.


"Ma-maaf Nona," ucap kepala prajurit menundukkan kepala.


Permaisuri hanya diam dan tersenyum kecil, matanya menerawang jauh. Membayangkan bagaimana dia telah menghabisi Ibu Jae Sung.

__ADS_1


Dia akan melakukan hal apapun demi terwujudnya tujuannya, termasuk itu menghabisi nyawa seseorang.


Bila dia bisa dengan mudah membunuh Ibunya Jae Sung, Maka Jae Sung bukanlah masalah baginya.


Dia hanya butuh menanamkan kesalah pahaman dan membumbuinya dengan racun kebencian. Maka dengan mudah amarah akan meledak dan menghancurkan segalanya.


Tiba-tiba permaisuri tertawa terbahak, kedua prajurit hanya terdiam ngeri melihat Nonanya. Melihat Nonanya seperti ini, pasti akan ada rencana besar lagi.


"Dekati Jae Sung, kita harus merangkulnya bukan untuk menuntaskan dendamnya," ucap permaisuri menatap kedua prajurit bergantian.


Kedua prajurit hanya saling pandang, keduanya masih tak mengerti siasat apa yang akan di jalankan oleh permaisuri.


"Pergilah istirahat, kita akan mulai rencana ini besok," ucap permaisuri.


Kedua prajurit memberi salam dan melangkah pergi meninggalkan kediaman permaisuri. Tak selang beberapa lama datang seorang dengan pakaian yang sama masuk.


Orang tersebut masuk dan melangkah mendekati permaisuri. Mengetahui kehadirannya permaisuri segera berbalik badan.


Tampak seutas senyum manis terukir indah di wajah cantik permaisuri.


"Sudah lama aku menunggumu," ucap Permaisuri mengalungkan tangannya ke pundak pria tersebut.


"Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya pria tersebut.


"Sangat baik, aku tidak sabar menunggu saat kau duduk di kursi besar kekaisaran" ucap Permaisuri manja.


Keduanya saling menatap, perlahan permaisuri membuka satu persatu pakaian pria tersebut. Hingga terlihat jelas otot keras yang berjejer di perutnya.


Permaisuri membalikkan tubuhnya, nampak bekas luka goresan yang cukup dalam di punggung pria tersebut.


Perlahan jemari lembut, permaisuri meraba bekas luka yang cukup panjang tersebut. Pria tersebut memejamkan mata dan merasakan bagaimana dulu punggungnya terluka cukup parah.


"Kita akan merebut sesuatu yang harusnya menjadi milik kita," ucap pria tersebut membalikan badan.


Dengan lembut dia menyentuh wajah cantik permaisuri, perlahan pria tersebut mendekatkan wajahnya ke tengkuk permaisuri.


"Aku mencintaimu,"

__ADS_1


__ADS_2