
Jae Sung segera memanjat atap dan mencoba mencari cela di kediaman tersebut, matanya menyapu setiap sudut rumah yang minim cahaya.
Hingga akhirnya dia melihat ada sebuah pohon besar yang berada di samping ruangan, tepat di mana Yu Hwa di sembunyikan.
Dengan langkah hati-hati Jae Sung menuruni atap dan berlari menuju pohon tersebut, di saat yang bersamaan ada beberapa prajurit datang.
Untuk Jae Sung berhasil bersembunyi dari gerombolan prajurit tersebut. Dia segera menempelkan telinganya ke tembok.
"Amankan dia," ucap Ratu.
"Baik Mama," jawab salah satu prajurit.
Terdengar hentakan langkah kaki yang akan keluar membuka pintu, Jae Sung sudah tak tahan dan segera membuka jendela di hadapannya.
Melihat Jae Sung yang datang, 2 orang yang memakai jubah hitam segera memasang kuda-kuda.
"Jangan buat keramaian, di luar banyak penjaga," ucap Ratu melangkah mendekati Jae Sung.
Matanya menatap Jae Sung penuh arti, seberkas senyum simpul terpancar di wajah cantik sang Ratu.
"Turunkan senjata, dia tidak akan menyakitiku. Taruh pelayan itu di kasur lagi." ucap Ratu santai.
Melihat reaksi sang Ratu yang di luar dugaan, mata tajam Jae Sung menyusuri setiap sudut ruangan.
Pasti ada yang tidak beres padanya, atau mungkin? Sudah ada sesuatu rencana yang sudah di tata rapi.
__ADS_1
Ratu melangkah mendekati Jae Sung,
"Sudah lama tak bertemu putraku," ucap Ratu tersenyum teduh.
'Putra!' batin Jae Sung semakin tak mengerti.
"Bukankah kau juga putraku, meskipun kau beda Ibu?" ucap Ratu melihat wajah kebingungan Jae Sung.
"Jadi benar kau yang membunuh Ibuku?" ucap Jae Sung yang segera mengayunkan pedangnya.
Pedang Jae Sung sudah bertengger di bahu Ratu, hanya beberapa centi lagi akan menyentuh kulit lembut lehernya.
Prajurit sudah waspada. Namun, Ratu masih menampakkan wajah santainya.
"Bahkan aku tak peduli bila harus di hukum mati," jawab Jae Sung penuh amarah.
Ujung pedang sudah mengalir darah segar, walau hanya sedikit. Ratu mencoba menahan rasa perih di lehernya.
Tawa renyah keluar dari bibir tipis Ratu,
"Jangan seperti itu, ini terlalu cepat Jae Sung," ucap Ratu di tengah tawanya.
"Kau harus bersujud di kaki Ibuku!" ucap Jae Sung dengan suara lantang.
"Kalau kau terus seperti ini maka kau tidak akan mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Prajurit di depan akan menarik mu ke penjara dan akan berakhir dengan eksekusi mati. Padahal ada banyak yang harus aku katakan," ucap Ratu dengan suara lirih.
__ADS_1
Jae Sung semakin mendekatkan ujung pedang ke leher Ratu. Darah mengalir semakin deras.
Dia orang prajurit tersebut melangkah semakin mendekat, mereka khawatir akan keadaan Ratu nya.
"Mundur!" perintah Ratu.
"Sudah aku bilang, dia tak akan mencelakai ku." lanjut Ratu.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Jae Sung mulai penasaran.
"Membuat mu sadar, mana musuh dan mana teman!" ucap Ratu menatap lekat mata Jae Sung.
"Aku tidak suka basa-basi, langsung keintinya." ucap Jae Sung mengeraskan rahangnya.
"Ambil teh!" perintah Ratu
Salah seorang segera keluar kamar, Jae Sung segera menurunkan pedangnya. Sesekali matanya mencuri pandang ke arah Yu Hwa.
Matanya masih terpejam, keningnya mengeluarkan keringat yang bercucuran. Sepertinya obatnya mulai bereaksi.
"Kau mencintainya?" tanya Ratu serius.
"Semua tak ada hubungannya dengan mu, aku mau dengar apa yang akan kau sampaikan. Kalau sampai ini tidak penting, aku akan memenggal mu saat ini juga." jawab Jae Sung semakin penuh amarah.
"Dia adalah ..."
__ADS_1