
Mata Jae Sung mengarah menuju tempat di mana anak panah melesat, akan tetapi dirinya tak mampu melihat dengan jelas di kegelapan malam.
"Sial, siapa kau?" Jae segela berlari ketika mendengar seseorang mulai menjauh darinya.
Begitu banyakah orang yang ingin menggeser posisi pangeran?, banyak sekali musuh yang saat ini mengintainya.
Jae Sung yakin kalau yang baru saja menyelamatkannya tadi bukanla seorang dari kubunya.
Jae berlari begitu cepat mengejar sosok hitam yang baru saja menolongnya, entah apa motif di balik semua ini. Yang pasti dia tidak akan membiarkan seorang itu kabur sebelum dia tau siapa dirinya sebenarnya.
Langkan Jae berhenti seketika saat bayangan hitam itu menghilang sekejap, mata tajam Jae menyapu seluruh pepohonan di sekitarnya.
Akan tetapi hasilnya nihil, mata jae tak mampu melihat dengan jelas saat malam hari di tambah baju yang dia kenakan selaras dengan suasana sekitar.
"shittt ... siapa dia?" umpat Jae Sung.
Dengan menelan rasa kecewa Jae Sung melangkah kembali menuju tempat semula.
Disana tergeletak seorang bandit yang sudah tak bernyawa, Jae segera membuka penutup wajah bandit tersebut.
Mata Jae Sung terbelalak ketika melihat siapa yang tergeletak tak bernyawa di hadapannya, ingatannya kembali di mana saat dirinya melihat dengan jelas saat Ibunya merenggang nyawa di tangan prajurit tak bermoral tersebut.
"Shittt ... siapa orang itu tadi, pasti dia mengenalku!" Jae meremas jemarinya dengan penuh amarah.
Matanya masih tak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya, seseorang yang telah lama dia cari. Dengan mudahnya merenggang nyawa di hadapannya.
Jae menjabut anak panah yang tertancap di dada bandit itu dan mencoba mencari titik terang di sana.
Tak ada tanda-tanda seperti ukiran atau sesuatu yang menonjol dari anak panah ini, akan tetapi Jae sangat yakin kalau anak panah ini memiliki racun.
Aroma racun yang sama dengan racun yang ada di tubuh Perdana Mentri Yang, jadi ...
__ADS_1
Karena tubuhnya sudah terlalu letih dan rasa perih di luka yang menghiasi tubuhnya membuat dirinya lebih memilih pulang ke istana.
Dengan langkah cepat Jae menuju istana, hanya membutuhkan beberapa menit saja Jae sudah dapat masuk ke kawasan istana dengan melompati dinding pembatas istana.
Suasana istana saat ini sangat lah ketat, dengan hati-hati Jae melewati para prajurit satu persatu dan akhirnya dia mampu masuk ke kamarnya.
Dia melepas satu persatu kain yang membungkus tubuh kekarnya, dan melangkah mengambil obat yang dia taruh di lemari.
Angannya teringat dengan gadis yang beberapa hari ini telah mengobati lukanya, terukir senyum manis di wajah dingin Jae. Meskipun hanya sedikit sekali.
Jae terkenal dengan kepribadiannya yang cukup dingin, bahkan pangeran jarang sekali menemui Jae memamerkan senyumnya walau hanya sesaat.
"sshhh ..." rintihan Jae terdengar menyakitkan.
Rasa perih semakin menjadi saat obat yang dia racik di letakkan di luka yang menganga, keringat dingin Jae mulai keluar dari pori-pori kulitnya.
Obat ini adalah obat turun temurun dari keluarganya, meskipun efek yang di timbulkan sangat menyiksa akan tetapi pemulihannya cenderung lebih cepat dari pada ramuan obat yang lain.
"Harusnya kau menampakkan sinarmu tadi, gara-gara kau aku jadi kehilangan jejak musuhku!" gumam Jae.
Jae terus memandangi rembulan tanpa terasa buliran-bukiran bening terjatuh di pipinya, rasa perih di dada selalu timbul saat matanya menatap bulan purnama yang bersinar terang.
"Ibu, apakah kau tidak mau pedangku menghabisi nyawa orang lagi?"
"Kau tau Bu, aku hampir saja menemukan dalang di balik kematianmu!"
"Sampai detik ini aku tidak akan mengikhlaskan orang itu berkeliaran tanpa beban!"
"Nyawa harus di balas nyawa,!"
"Bukankah Aku Jae Sung kecil yang hebat milikmu?"
__ADS_1
"Izinkan Aku membalaskan luka hatimu Bu,"
Jae Sung berdialog sendiri, terdengar suara Isak yang tertahan. Rembulan malam selalu mengingatkannya akan wajah cantik Ibunya, sama cantik dan terang.
Brukkk ...
seseorang datang dan mendarat dari atas genteng kamar Jae Sung.
Sringg ...
"Kau membunuh anggotaku!" hunusan pedang berada di ujung mata Jae.
"Jangan kau coba berkhianat kepadaku, mataku ada dimana-mana!"
"Aku tak pernah berkhianat!"
"Pergilah sebelum kau aku habisi disini!" ucap Jae sinis.
"KAU ...!"
Brukk ...
Seseorang datang lagi dari atas atap dan melerai keduanya,
"Turunkan pedangmu Kak, mari kita cari tau siapa dalang di balik semua ini!"
"Ayolah jangan cari masalah, istana sedang tidak aman!"
kedua orang itu sudah bersiap hendak pergi,
"Aku ingin pelakunya segera tertangkap, aku tidak ingin langkahku terhenti hanya karena anggotamu!"
__ADS_1
Dengan amarah yang memuncak mereka meninggalkan kedua orang dan menghilang di kegelapan.