Hidden Crown Prince

Hidden Crown Prince
Bab 21


__ADS_3

Tak terasa sudah beberapa hari Miyong dan Pangeran tinggal di pavilliun, mereka semakin dekat dan hangat.


Sangat berbeda dengan Jae Sung dan Yu Hwa, mereka masih enggan menunjukkan perasaan cinta yang mulai tumbuh.


Tampak keduanya duduk di sebuah taman yang banyak di kelilingi bunga warna-warni, apalagi yang dapat mereka buat?


Tuan dan Nona mereka masih bersama, tak mungkin mereka ada di sekitarnya. Sehingga mereka memilih untuk duduk di pinggiran taman.


"Kau belajar meracik obat dimana?" tanya Jae Sung memulai percakapan.


"Ayah dan Ibuku sakit, sedangkan aku adalah rakyat jelata. Sehingga mau tak mau aku harus mempelajari obat yang bisa meredakan sakit yang kedua orang tuaku derita." jawab Yu Hwa, matanya menatap langit biru yang luas.


"Hanya belajar otodidak?" ucap Jae Sung tak percaya.


"Mungkin bagi sebagian orang itu sangatlah sulit, tapi percayalah. Saat kau ada di situasi terjepit, kau pasti seketika bisa melakukan semua hal yang tak mampu kau lakukan sebelumnya." ucap Yu Hwa, mata Yu Hwa memanas seketika.


"Saat itu, Ayah dan Ibuku terkena wabah penyakit. Tak ada yang mau mengobati mereka, bahkan mereka pun tak mau mendekati aku."


"Aku berlari kesana-kemari meminta bantuan. Akan tetapi tak ada yang mau membantuku, saat itu ada seorang yang datang menghampiriku. Dia hanya memberiku sebuah resep obat," isakan Yu Hwa mulai terdengar.


Jae Sung menatap lekat Yu Hwa, dia tak menyangka seorang gadis pelayan ini memiliki cerita yang amat kelam.


"Sejak saat itu aku selalu belajar, aku mencari tumbuhan obat di hutan. Meraciknya dengan teliti, hingga akhirnya keadaan kedua orang tuaku berangsur membaik." ucap Yu Hwa, beberapa tetes air mulai jatuh. Dengan cepat Yu Hwa menghapusnya.


Dia tak mau terlihat begitu menyedihkan di mata orang lain, cukup Nonanya saja yang mengetahui betapa lemahnya dirinya.

__ADS_1


"Dimana orang tuamu sekarang?" tanya Jae Sung.


Yu Hwa melempar pandangannya ke Jae Sung, dia tak menyangka seorang mulut pedas seperti Jae Sung menanyakan hal yang demikian.


"Apa urusanmu?" jawab Yu Hwa acuh.


"Jaga selalu mereka sebelum kau akan menyesal, kau tak akan pernah tau kapan dia akan pergi." ucap Jae Sung, kemudian dia melangkah menjauhi Yu Hwa.


"Aku juga tak tau kapan nyawaku akan melayang?, setidaknya aku sudah berjuang untuk mereka dan mempertaruhkan segalanya." ucap Yu Hwa pedih.


Seketika Jae Sung terhenti sesaat, ucapan Yu Hwa memang ada benarnya. Kita tak tau akan bertahan berapa lama di dalam istana, hanya orang yang kuat di segala hal yang mampu tetap hidup di istana.


Jae Sung kembali melangkah menjauhi Yu Hwa, duduk bersamanya selalu mengingatkannya kepada Ibunya yang telah tenang di surga.


Kini tinggal Yu Hwa duduk di kursi taman, matanya masih tetap menatap langit indah. Cuaca hari ini sangatlah cerah, akan tetapi tidak dengan hatinya.


Yu Hwa tak pernah menyesali apapun yang di lakukan untuk kedua orang tuanya, bisa melihat kedua orang tuanya selamat dari maut sudah membuatnya sangat senang.


Kini tugasnya hanya mempertahankan kebahagiaan kedua orang tuanya, dengan dia bekerja menjadi pelayan istana. Setidaknya uang untuk kedua orang tuanya lebih dari cukup untuk memanjakan mereka.


"Pergunakan dengan baik semua uangku Yah, Bu ... aku hanya ingin kalian bahagia di sisa hidup kalian," ucap Yu Hwa lirih.


"Yu Hwa disini baik-baik saja," ucap Yu Hwa, menahan isaknya.


Ingatannya kembali pada pesan seorang, dia memeriksa keadaan kedua orang tuanya sebelum dia memutuskan untuk pergi ke istana.

__ADS_1


"Mereka sembuh, akan tetapi penyakit itu telah menggerogoti organ dalamnya. Mereka hanya menunggu waktu saja."


Ucapan itu selalu terngiang-ngiang di telinga Yu Hwa dan berkat kata-kata itu pula Yu Hwa bisa berdiri tegar disini.


Disisi lain, tepat di belakang paviliun Jae Sung duduk di tepi danau. Entah mengapa ucapan Yu Hwa berhasil mengusiknya kali ini.


"Lapor ketua, mata-mata mendengar kabar kalau paviliun ini akan di serang nanti malam." ucap salah satu prajurit.


"Kita kembali ke istana sekarang!" ucap Jae Sung melangkah memasuki Paviliun.


Perajurit nya kali ini sangat sedikit, dia juga tidak tau berapa lawan yang akan dia hadapi. Entah mengapa semua musuhnya tak ingin membuat dia istirahat walau hanya sebentar.


Dengan tergesa-gesa, Jae Sung melangkah menuju kamar Pangeran. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar.


"Lapor Pangeran, nanti malam Pavilliun ini akan di serang. Kita harus kembali ke istana sekarang." ucap Jae Sung.


Seketika pangeran keluar dari kamarnya, Jae Sung segera menekuk kedua lututnya untuk memberi hormat


"Pasukan sudah siap?" tanya Pangeran.


"Sudah Pangeran," ucap Jae Sung berdiri.


"Baik, aku akan ke kamar Miyong." ucap Pangeran.


"Baik Pangeran, kami akan menunggu di depan." ucap Jae Sung memberi hormat, setelah itu melangkahkan kakinya menjauh.

__ADS_1


Pangeran membuka kamar Miyong, matanya terbelalak ketika melihat kondisinya saat ini.


"Miyong, kau kenapa?"


__ADS_2