
Miyong terbelalak saat Pangeran Haa Joon datang ke kediamannya, matanya membulat sempurna.
Yang lebih mengagetkan lagi, Pangeran datang dengan beberapa pengawal. Seketika Yu Hwa di seret paksa menuju ke luar ruangan.
"STOP, APA YANG KALIAN LAKUKAN." teriak Miyong, air matanya mulai tumpah tanpa bisa di bendung.
Dia tak bermaksud seperti ini, semua ini jauh dari ekspetasinya. Dia hanya ingin mendengar alasan Yu Hwa, saat pergi beberapa saat lalu.
Miyong tidak benar-benar menghukum Yu Hwa, dia segera berlarian memeluk Yu Hwa yang terikat tali.
"Bawa Miyong Permaisuri pergi dari ruangan ini," ucap Pangeran Haa Joon.
"Tidak, aku tidak mau." ucap Miyong.
Sayangnya, prajurit tak mendengar ucapan Miyong. Mereka tetap membawa Miyong pergi, meskipun dirinya terus meronta-ronta.
"Maafkan saya Pangeran, Yu Hwa tidak bersalah," ucap Jae Sung.
Mendengar ucapan Jae Sung, seketika ruangan hening. Miyong terdiam dan melempar pandangannya ke Jae Sung.
"Sepertinya pelayan ini sangat pintar mengambil simpati seseorang," ucap Pangeran Haa Joon.
Jae Sung masih menundukkan kepala, otaknya terus berpikir. Apa alasan yang tepat untuk di utarakan, demi mengulur hukuman Yu Hwa.
Jae Sung yakin, pasti ada seorang yang telah mematik api. Sikap demikian bukanlah pribadi Pangeran.
"Jadi kau bisa menjelaskan semua?" tanya pangeran menatap lekat Jae Sung.
__ADS_1
"Maaf pangeran, tetapi saya butuh privasi." ucap Jae Sung.
Pangeran menatap semua prajurit, mengisyaratkan untuk pergi dari ruangan. Miyong bisa bernafas lega, dia segera kembali duduk di samping Yu Hwa dan memeluknya erat.
Pintu tertutup rapat, Jae Sung mulai mendongakan kepalanya dan berdiri.
"Kemarin malam Saya mengajak Yu Hwa untuk penyelidikan yang Anda minta. Akan tetapi, sepertinya Yu Hwa tidak tau segalanya." dusta Jae Sung.
"Saya tidak memberi tau pangeran dan permaisuri sebelumnya, karena saya tidak mau ada mata-mata yang mengikuti. Itu sebabnya Yu Hwa tidak dapat menjalankan kewajibannya." lanjut Jae Sung menjelaskan.
'Apa penyelidikan?'
Miyong dan Yu Hwa seolah memiliki pemikiran yang sama, mereka saling bertatapan.
"Itu bukan menjadi alasan, jadi hukuman tetap harus di jalankan." ucap Haa Joon.
"Prajurit, bawa cambuknya kemari!" ucap pangeran.
Miyong segera bersujud memohon ampunan untuk Yu Hwa, dia tidak tega melihat sahabatnya menanggung hukuman akibat kecerobohannya.
"Yang Mulia, hamba mohon dengan sangat. Ampuni Yu Hwa, dia tidak bersalah. Pasti ada tugas penting yang dia lakukan sehingga dirinya melalaikan tugas," ucap Miyong dengan air mata yang berderai.
Miyong bangun dari sujudnya dan mendekati Yu Hwa, matanya menatap Yu Hwa lekat.
"Ayo katakan! bilang kalau kau sedang bertugas dengan Jae Sung." ucap Miyong, menggoyangkan tubuh Yu Hwa.
"Maaf Nona, saya bersalah." ucap Yu Hwa pasrah.
__ADS_1
"Apa," seketika tamparan Miyong mendarat di pipi Yu Hwa.
Miyong tidak percaya, Yu Hwa lebih memilih pasrah dengan hukumannya. Matanya semakin memanas, jantungnya mulai bergelora menahan amarah.
Perlahan pangeran melangkah mendekati Miyong, dia meraih tubuhnya dan menuntunnya untuk duduk di kasur.
Melihat amarah pangeran yang mulai surut, Miyong segera mengambil kesempatan. Dia segera merangkul kaki pangeran.
"Lepaskan hukuman Yu Hwa, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri bila Yu Hwa sampai celaka. Dia sudah seperti adik bagiku. Aku mohon" ucap Miyong lirih.
Pangeran tak merespon ucapan Yu Hwa, dengan lembut dia meraih tubuh Miyong dan menyuruhnya duduk di ranjang.
Mata teduhnya menatap lekat Miyong yang saat ini masih sesenggukan, ada raut wajah tak tega yang terpancar dari pangeran.
Pandangannya beralih pada Jae Sung yang masih berdiri, sepertinya saat ini dia sedang memikirkan sesuatu. Karena matanya masih fokus ke satu objek tanpa berkedip.
"Aku akan memberi satu kesempatan untuk Yu Hwa menjalaskan semuanya, bila dirinya masih teguh dalam pendirian nya dia. Maka, hukuman masih akan berlanjut." ucap Pangeran tegas.
"Jadi kau bisa menjelaskan semua Yu Hwa?" tanya Pangeran.
Miyong menatap lekat Yu Hwa, mengisyaratkan untuk berbohong jika memang di perlukan. Dia sudah berusaha keras untuk mengubah pendirian pangeran.
Yu Hwa hanya menatap Miyong dengan tersenyum kecil, kemudian menggeleng lirih. Seketika Miyong melempar pandangannya dan meremas selimut yang ada di tangannya.
Jae Sung masih berdiri, hatinya juga resah menantikan jawaban yang akan di utarakan Yu Hwa.
'Untuk kali ini, bersikaplah bodoh' Batin Jae Sung.
__ADS_1
Yu Hwa mulai membuka mulutnya, matanya memanas. Sungguh dia tak punya pilihan untuk jawabannya kali ini.
"Maaf Pangeran, Hamba sebenarnya ..."