
Kedua pasang mata saling berpandangan begitu lama, keduanya saling menikmati mata indah yang ada di hadapan mereka.
Hingga suara salah satu jeritan prajurit memecahkan lamunan mereka, keduanya salah tingkah dan saling membuang pandangan.
"Untuk kali ini jangan egois, aku tidak mau kau terluka lebih parah." ucap Yu melepaskan jemarinya dari baju Jae.
Jae tak merespon ucapan Yu, perlahan dirinya membuka bajunya hingga nampak beberapa bekas luka yang terpajang di punggung putih Jae.
Melihat luka-luka ini membuat Yu teringat akan sesuatu, akan tetapi dia masih lupa. Dirinya sangat yakin kalau luka-luka ini sangatlah familiar baginya.
"Apa aku terlalu sexy?" ucap Jae yang mulai kedinginan.
Lamunan Yu terpecah ketika mendengar celotehan Jae yang begitu membanggakan tubuh atletisnya, meskipun itu memang seratus persen benar.
"Masih banyak yang lebih sexy darimu," ucap Yu ketus.
"Oke, lalu tunggu apa lagi?" ucap Jae tersenyum kecut.
Dengan penuh rasa kesal Yu mengobati luka di punggung Jae dengan kasar,
"Aww ..." reflek Jae menjerit.
Jeritan Jae membuat semua pasang mata menatap ke arah mereka, tak sedikit dari para prajurit tersenyum kecil melihat tingkah panglimanya yang sangat langka.
Sebelumya dia tak pernah menjerit sekeras ini hanya gara-gara luka sekecil itu, sudah banyak luka dalam yang pernah di terima tapi tak pernah dia merespon berlebihan seperti ini.
Sang Pangeran dan Miyong saling pandang dan tersenyum penuh arti melihat kedua orang yang sangat mereka banggakan.
"Sangat manis sekali," Ucap Miyong menatap Yu dan Jae dari kejauhan.
"Jadi, apa aku harus terluka agar terlihat manis?" ucap Pangeran tersenyum simpul.
"Kau tidak perlu melakukan apapun, karena senyummu sudah sangat manis untukku," ucap Miyong tersenyum teduh.
"Terimakasih," ucap pangeran tulus.
"Untuk?" tanya Miyong bingung.
"Aku tidak begitu bodoh untuk merasakan cinta tulusmu," jawab Pangeran menatap teduh Miyong.
Miyong hanya tersenyum kecil dan menundukkan pandangannya, wajahnya saat ini sudah sangat merah bagaikan udang rebus.
Ternyata tanpa dia utarakan Tuannya sudah merasakan segalanya, segala rasa tulus yang Miyong berikan.
"Mari aku temani istirahat, biarkan teman kita membangun kerajaannya sendiri," ucap pangeran sambil menatap kedua orang yang sedang duduk bersama di tepi sungai.
"Ya benar juga, mereka juga sama-sama cocok," kekeh Miyong.
__ADS_1
Keduanya melangkah memasuki kereta, masih tampak atap kereta yang tergores dengan pedang yang tertancap.
Mendadak Miyong menghentikan langkahnya untuk memasuki kereta, dirinya masih sangat trauma dengan kejadian di menit sebelumya.
"Ada aku disini, jangan khawatir" ucap pangeran menuntun Miyong untuk masuk ke kereta.
Pangeran memeluk erat tubuh dan menutup mata Miyong dengan telapak tangannya hingga Miyong terlelap.
Disisi lain, tepat di tepi sungai masih duduk kedua orang yang sedang sibuk dengan obat-obatan di dekat mereka.
"Sudah, berbalik!" ucap Yu kasar.
Jae membalik tubuhnya, luka di lengannya cukup dalam. Cairan merah segar masih keluar lewat sela-sela kain yang membalutnya.
Yu sangat ngeri dan tak tega melihat luka dalam yang di alami oleh pria di hadapannya saat ini, reflek dia merobek bagian roknya.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Jae terkejut melihat Yu merobek roknya.
"Menolongmu, menurutmu aku mau apa!" ucap Yu ketus.
"Kau tidak perlu repot-repot karena aku tidak mau berhutang nyawa," Ucap Jae dingin.
Yu tak mempedulikan semua ucapan yang keluar dari mulut tipis Jae, Tanpa pikir panjang Yun membuka kain yang melilit di lengan Jae.
Perlahan kain itu mulai terlepas dan terlihat sudah luka menganga yang cukup dalam, terdengar desah kesakitan Jae.
Jae hanya meringis kesakitan, jemarinya mencengkram erat bebatuan kecil yang ada di sampingnya.
keringatnya mulai bercucuran akibat menahan rasa sakit yang luar biasa di lengannya, melihat kondisi Jae yang mengkhawatikan membuat Jae ketakutan dan segera beranjak.
"Jangan panggil siapapun," ucap Jae meraih tangan Yu.
"Tapi kau ..." ucap Yu terputus, dirinya memutuskan untuk kembali duduk di samping Jae.
"Aku akan baik-baik saja," ucap Jae lirih.
Tubuh Jae mendadak lemas tak berdaya, kepalanya sangat berat dan penglihatannya mulai samar.
Tubuhnya hampir saja terkuyung dan terjatuh di sungai, untung Yu dapat meraih dengan cepat tubuh lemah Jae.
Dengan hati-hati Yu merebahkan kepala Jae di pundaknya, dan perlahan mendekapnya erat. Suhu tubuh Jae saat ini terasa sangat panas.
Tubuhnya juga mengigil, hal ini membuat Yu mendekap lebih erat tubuh Jae, menjaga agar dirinya tetap hangat.
Malam semakin larut, para prajurit mulai beristirahat dan memejamkan matanya. Malam ini adalah malam yang sangat melelahkan.
Tak ada yang menyangka kalau akan ada penyerangan mendadak dengan banyak melibatkan bandit.
__ADS_1
Untung saja Jae membawa prajurit terlatih bersamanya, perajurit yang di bawanya adalah prajurit yang sudah jae latih dengan giat, sehingga ketangkasannya tidak di ragukan lagi.
Hanya saja jumblah bandit amatlah banyak sehingga mereka kualahan dan akhirnya terluka parah.
***
Di tempat pertempuran terdapat beberapa bandit yang sedang membersihkan tubuh-tubuh yang tak bernyawa.
"Siapa prajurit yang melawan kalian?" tanya ketua bandit tersebut.
"Saya tidak tau pasti, yang jelas dia juga memakai pakaian prajurit. Akan tetapi dia bukanlah seorang panglima perang," ucap ketua bandit tersebut.
"Berapa nyawa anak buahmu yang hilang?" tanya seseorang misterius tersebut.
"30 orang," jawab kepala bandit singkat.
"Ini untuk menggantikan mereka," orang itu menyodorkan kantong kecil yang berisi beberapa keping emas
"Terimakasih," ucap kepala bandit dengan mata yang berbinar.
Nampak kilatan pedang yang menyambar ketua bandit dan seketika bandit tersebut tergeletak tak bernyawa.
"Bersihkan semua bukti, aku tak mau rencanaku berantakan!" ucap pria itu melangkah pergi dan meraih kantong emas yang tergeletak di tanah.
"Ada saat nya kau harus membedakan mana teman dan mana yang pura-pura jadi teman," gumam pria tersebut kemudian berlalu.
***
"Maaf tuan mereka dapat lolos,"
"Apa?"
"Prajurit yang mendampingi pangeran sangat kuat,"
"Prajurit?"
"Ya, dia menjadi pemimpin pasukan malam ini,"
"Apakah dia Jae Sung? apa yang sebenarnya dia rencanakan?"
"Selidiki prajurit itu, akan kuhabisi dia bersama tuannya yang lemah itu," terdengar kekehan menyeramkan.
"Baik Tuan!" ucap pria itu menunduk dan mengundurkan diri.
"Aku tak akan membiarkanmu lolos begitu saja, tunggu saja penyerangan berikutnya, dan untukmu Jae. Aku berjanji kedokmu akan segera terbuka!" ucap seorang itu dengan menahan amarah yang tertahan.
"Cobalah berfikir dan memilih cara yang cukup aman, caramu ini sangat mengambil resiko besar," ucap wanita yang datang tiba-tiba.
__ADS_1
"Kita dengan mudah menghabisi ibunya, pasti akan lebih mudah untuk menghabisi putranya, yang perlu kau lakukan hanya mencoba mengajaknya kerjasama," kekeh wanita tersebut.