Hidden Crown Prince

Hidden Crown Prince
Bab 26


__ADS_3

Jae Sung duduk tepian kolam, terlihat ikan berenang bermain-main di sekitar daun teratai. Mungkin hanya merekalah yang dapat hidup tenang dan nyaman di istana.


Hidup bebas tanpa beban dan ancaman, tenang dan damai tanpa mengkhawatirkan hal buruk yang akan terjadi.


Pandangan Jae Sung beralih pada seorang pelayan yang berlarian, karena rasa penasaran Jae Sung. Dia memilih untuk mengikuti pelayan tersebut.


Langkahnya terhenti, ketika melihat pelayan tersebut celingukan dan menghilang di balik pintu yang berada di tembok pembatas istana.


Gerak-geriknya sangat mencurigakan, Jae Sung mengambil pedang yang tergantung di pinggangnya.


Dengan hati-hati Jae Sung mengikuti langkah pelayan tersebut, perlahan dia membuka pintu. Akan tetapi, tidak ada seorangpun di sekitarnya.


Jae Sung melangkah dengan hati-hati mencari sosok pelayan, dia tak mau akan ada bencana lagi yang membuat dirinya pusing.


Langkah Jae Sung terhenti saat melihat sosok yang dia cari berada di balik pohon, Jae Sung melambungkan pedangnya ke atas dan sudah bersiap untuk menebas seseorang di hadapannya.


"Ayah, kenapa ayah Bu?" tanya Yu Hwa terisak.


Seketika Jae Sung menurunkan pedangnya, ternyata perkiraannya keliru saat ini. Dengan hati-hati Jae Sung bersembunyi di balik pohon.

__ADS_1


"Kondisi Ayahmu sangat buruk Nak, Ibu hanya ingin mengucapkan ..." mata Ibu Yu Hwa menatap putrinya sendu.


"Kini saatnya kau memikirkan dirimu, Ayah dan Ibu sudah tua. Tidak ada hal penting untuk kami. Sedangkan kau harus melanjutkan hidupmu bukan?" ucap Ibu Yu Hwa dengan mata berkaca.


"Ibu, jangan bilang begitu. Aku adalah putrimu, aku akan cari jalan untuk bisa menemui Ayah." ucap Yu Hwa menggenggam erat jemari Ibunya.


Jae Sung tetap diam tanpa suara di balik semak, matanya lekat memandang kedua orang yang saling menguatkan.


"Sudahlah Nak, Ibu kesini hanya ingin memberimu kabar. Jadi kau ..." tangisan Ibu Yu Hwa pecah sudah sebelum menyelesaikan kalimatnya.


"Tak akan terjadi apa-apa dengan Ayah Bu, kumohon jangan begini." ucap Yu Hwa memeluk Ibunya dengan deraian air mata.


"Ayahmu berpesan, agar kau selalu menjaga kesehatanmu dan selalu menabung. Kita bukanlah bangsawan yang memiliki segalanya." ucap Ibu Yu Hwa membelai lembut rambut Yu Hwa yang di sanggul.


Perlahan jemari lembut Ibu Yu Hwa, menghapus air mata yang menetes di pipi Yu Hwa. Terpancar senyuman tulus di wajah Ibu Yu Hwa.


"Jaga dirimu, Ibu mau pulang. Ayahmu pasti sudah menunggu Ibu," ucap Ibu Yu Hwa melangkah menjauhi Yu Hwa.


Yu Hwa menggenggam erat jemari Ibunya, dirinya masih berat melepas kepergian Ibunya. Telah lama dia tidak berjumpa dengan nya, sesekali berjumpa dia harus mendengar kabar buruk

__ADS_1


Dengan berat hati Ibu Yu Hwa melepas genggaman putrinya dan melangkah menjauh. Tak sekalipun Ibu Yu Hwa memalingkan pandangan ke belakang.


Dirinya tak mau putrinya melihat kesedihan yang mendalam, dia sudah sangat berjuang keras belakangan ini. Sudah cukup penderitaannya.


Bagaimanapun, seorang Ibu tak mau melihat anaknya sengsara. Dan, saat ini adalah waktu yang tepat untuk melepas kesengsaraan nya.


Yu Hwa menekuk lututnya dan merosot ke tanah, kakaknya sudah tak kuat menopang tubuhnya yang lemah.


Kedatangan Sang Ibu membuatnya ingin segera berlari mengikuti untuk pulang. Akan tetapi, apalah daya? dirinya hanyalah seorang pelayan yang tak mampu bersikap seenaknya.


Mungkin dulunya Nonanya lah yang membantu. Tapi, saat ini Nonanya sedang tidak sehat. Dia cukup tau diri untuk melihat situasi saat ini.


Ibunya telah menjauh dan hilang di balik semak belukar, dengan sisa kekuatan nya Yu Hwa bangkit dari berlutut. Kemudian pergi dengan menahan rasa sesak di dada.


Jae Sung mengendap-endap, dan berganti posisi di balik pohon. Dia tak mampu kalau kehadirannya di ketahui Yu Hwa.


Masih terdengar isakan Yu Hwa yang melangkah menjauh. Entah mengapa hati Jae Sung terasa pilu melihat semua ini.


Yu Hwa melangkah masuk melewati pintu dinding istana, dan melangkah memasuki kamar.

__ADS_1


Saat ini Nonanya sedang bersama pangeran, sehingga tugas Yu Hwa sedikit berkurang. Yu Hwa duduk di teras kamar dengan menatap nanar langit biru yang indah.


"Ayo !!!"


__ADS_2