Hidden Crown Prince

Hidden Crown Prince
bab 8


__ADS_3

Matahari telah menampakkan sinarnya, cuaca cerah pagi ini menampakkan betapa sibuknya istana saat pagi hari.


Tampak seorang prajurit berlatih memanah, matanya setajam elang dan tak pernah meleset saat membidik.


Panah selalu tertancap tepat di jantung sebuah papan berbentuk orang, matanya selalu menyiratkan amarah yang terpendam.


"Wah, kau semakin hebat!" sapa Ha Joon.


"Terimakasih pangeran" ucap Jae Sung membungkukkan setengah badannya.


"Menurutmu, apakah aku sudah pantas menjadi seorang raja?" Mata Ha Joon menerawang jauh ke langit-langit biru yang berhiaskan awan putih.


"Pangeran sudah cukup membuktikan kalau Anda sudah sangat layak menyandang gelar raja"


"Akan tetapi entah mengapa, perasaanku tak enak tentang tahta ini!, Aku bukanlah seorang yang pandai dalam berperang bahkan ilmu politik"


"Aku hanya di angkat hanya karena tak ada pilihan lain, bukankah Aku sangat menyedihkan?" Ha Joon tersenyum kecut.

__ADS_1


"Anda memilik sikap yang sangat bijaksana dan mendahulukan kepentingan rakyat, Saya yakin Anda mampu menyandang gelar ini"


Jae Sung menatap nanar Sang Pangeran, ada sedikit rasa sakit di dalam hatinya saat mendengarkan ucapan Pangeran.


Dia menyebutkan bahwa tidak ada pangeran lain yang dapat menggantika. tahta Sang Raja. Padahal ada seorang yang memang sengaja di hancurkan hanya demi dirinya.


Mendengar ucapan Jae Sung membuat Ha Joon semakin percaya kepana Jae Sung. Tidak ada sedikitpun Ha Joon berpikiran buruk tentang Jae Sung.


Yang Ha Joon tau hanyalah ... Jae Sung adalah seorang prajurit yang sangat kompeten, suatu saat dia pasti akan mengangkatnya menjadi panglima perang.


Ha Joon teringat saat pertama kali dia menemukan Jae Sung saat perjalanannya di tengah hutan.


Sejak saat itulah kedekatan mereka mulai terjalin sampai detik ini, melihat He Joon yang sangat mempercayainya membuat Jae Sung tersentuh.


Sebenarnya He Joon adalah calon raja yang baik, akan tetapi tujuan Jae Sung kemari hanyalah untuk membasmi semua orang-orang yang telah membunuh Ibunya.


Dan kalau benar Ibu Ratu ikut bersekongkol dalam rencana pembunuhan Ibunya dulu, maka kehidupan He Joon tidak baik-baik saja saat ini.

__ADS_1


Amarah dan dendam tak bisa membuatnya berfikir secara jernih, setiap mengingat peristiwa pembunuhan Ibunya dia selalu ingin sekali menghabisi He Joon saat ini juga.


Takut kalau amarah nya tidak terkontrol Jae Sung segera pamit dan melangkah menjauhi Sang pangeran.


Jae Sung mempercepat langkahnya agar sampai ke tempat latihan yang lebih sepi, jujur dirinya sangat tidak nyaman berada di sini. Dan lebih memilih berlatih.


Jae Sung memilih beberapa pedang yang berjajar di meja latihan, setelah dia menemukan pedang yang tepat. Dengan semangat dia mulai berlatih.


Di ruang latihan terdapat boneka peraga yang terpampang di tengah area latihan, biasa di gunakan saat seorang yang latihan tidak memiliki lawan.


Dengan lincah Jae Sung mengayun kan pedangnya, lebih terlihat Jae menari dari pada berlatih saat ini. Gerakannya yang tenang membuat banyak musuh terkecoh.


Sringg ...


Brukk ...


Jae Sung tak sengaja menabrak seseorang yang masuk tanpa permisi, membuat dirinya kehilangan keseimbangan.

__ADS_1


Melihat gadis itu akan terjatuh membuatnya reflek melempar pedang yang di genggamnya dan menangkap tubuh gadis itu yang hampir saja terjatuh.


Mata mereka saling beradu pandang.


__ADS_2