
Lee Won Woo berdiri dengan jubah pasien yang sudah berlumuran darahnya sendiri. Begitu bangun sejam yang lalu, pria yang tidak diawasi dan dijaga ini terbangun dengan rasa takut yang menyelimuti seluruh hatinya sampai membuat sekujur tubuhnya gemetar.
Dia menyeret kakinya yang pincang, selalu tidak sadar kalau dia baru saja mengalami kecelakaan besar. Lee Won bukan dirinya lagi, dia dikuasai rasa takut yang teramat sangat.
Tertatih-tatih kakinya melangkah," Mati! Mati! Mati!" pria itu meracau.
Lee Won Woo mulai kehilangan kendali dia berjalan ke arah teman-temannya sambil tersenyum dengan tangan bersimbah darah.
Pecahan vas bunga itu dia genggam begitu kuat sampai membuat George dan teman-temannya tak bisa berkutik.
Lee Won Woo berdiri dengan badan sedikit membungkuk ke bawah, menatap mereka dengan senyuman menyeringai sambil mengarahkan pecahan beling itu kepada teman temannya.
“ lee Won woo sadar ini kami!!" Kath berteriak panik.
“ Hehahahha... mati... mati... kalian semua harus mati..” ucapnya dengan suara serak seolah berbisik dan menatap mereka dengan tatapan tajam dan menusuk yang menyeramkan.
Kaki pria itu melangkah perlahan, satu persatu kakinya melangkah maju ke depan, masih dengan posisi membungkuk dan tangan seolah sedang menodong mereka.
“ apa yang harus kita lakukan, kenapa dia jadi seperti ini?” ucap Sonia panik. Dia belum mau mati muda di tangan Lee Won Woo.
“ Si... sial,, apa dia kesurupan, kenapa dia bertingkah seperti hewan buas, lihat matanya!! itu bukan dia!!" ucap Ji An dengan bulu kuduknya yang merinding.
Bianca menatap pria itu, jelas dia melihat aura gelap melingkupi tubuh Lee Won Woo. Ada kalung merah yang di letakkan di lehernya.
“ Jelas itu bukan dia, dia kerasukan!” Ucap Bianca sambil mengeluarkan sebuah jimat dari dalam tasnya.
“ ke.. kerasukan, ka..kalau begitu cepat sadarkan dia Bianca!” ucap mereka yang malah langsung bersembunyi di belakang punggung Bianca.
“ bukannya kalian tidak percaya hantu, Ji An kau menjilat ludah mu begitu cepat,” ejek gadis itu seraya melirik mereka dari sudut ekor matanya.
“ a... aku percaya, sekarang usir hantu itu, dia bisa membunuh kita jika di biarkan begini terus,” ucap Ji An gemetar ketakutan.
“ akhirnya kalian mengakui ku, dasar orang bodoh,” ketus Bianca. Dia mengeluarkan jimat berwarna kuning dari dalam tasnya, tampak seperti sebuah kantong yang berisi media pengusiran hantu yang sering dia dan ibunya pakai untuk mengobati orang yang kesurupan.
Bianca mengucapkan doa doa mistis, menatap Lee Won Woo dan mulai memasang segel. Dia menatap pria itu, begitu dia memulai jampi jampinya, Lee Won Woo mulai bertingkah aneh.
“A rkrhhh... telingaku sakit, arrkhh... arkrkhhh ihihihiihi.... huhuhuhuhu... lepaskan aku, tolong aku Bianca.. arkrjhhhh sakit.. SAAKITT... HENTIKAN, HENTIKAN INI!!” Lee Won woo berteriak kencang sambil memukul mukul telinganya saking sakitnya.
Bianca memasukkan tangannya ke dalam kantong jimat itu dan menggenggam serbuk di dalamnya.
“ Segala yang mati dan hidup telah memiliki tempatnya sendiri, kembali lah ke asalmu,” ucap Bianca sambil melemparkan serbuk di dalam kantong itu ke wajah Lee Won Woo..
__ADS_1
“ Sialan....” teriak roh yang ada di dalam tubuh lee won woo, sekilas Bianca melihat roh seorang pembunuh berantai yang mati dengan cara tragis. Menatapnya dengan amarah membludak,” aku akan menangkap mu, aku akan membunuh sialan arkrhrhhh beraninya kau!!" teriak roh itu.
Brukkk...
Lee Won Woo terjatuh ke atas lantai dengan tubuh lemas tak berdaya. Pria itu pingsan dan tak sadarkan diri di dalam kamarnya sendiri. Bianca melihat roh hitam itu pergi dan melarikan diri dari ruangan lee Won woo.
Cepat-cepat Bianca mendekati Lee Won Woo dan mengambil jimat merah di leher pria itu lalu membuka isinya dan meniup serbuk di dalamnya ke luar jendela.
“ ada yang memasang guna guna pada Lee won woo, dia dijadikan media balas dendam,” ucap Bianca .
“ paa Lee Won wo sudah normal?” tanya Kath.
Bianca mengangguk,” sudah, dia sudah kembali, roh jahat itu berusaha menggunakan Lee Won woo yang sedang sakit dan terganggu kejiwaannya untuk menyakiti orang lain demi tujuannya,” jelas Bianca.
George mengangkat tubuh teman mereka ke atas brankar.
“ apa kita perlu memanggil dokter?” tanya Ji An.
“ sebentar lagi, biar ku pasang jimat untuknya, jika dia saja bisa begini, maka ini artinya kalian semua termasuk aku juga jadi sasaran roh itu, dia berasal dari sungai Han,” ucap Bianca.
Deghh...
Sontak mereka semua terdiam membisu mendengar sungai Han. Tempat di mana mereka menghilangkan nyawa seorang gadis tak bersalah. Bahkan Kath lebih takut lagi karena sungai Han berhubungan dengan kecelakaan yang dialami oleh sepupunya.
Bianca memasang jimat gaib di tubuh Lee Won Woo lalu mengalungkan batu giok ke leher pria itu untuk melindunginya dari roh jahat.
“ semoga saja ini bisa menjaganya untuk sementara waktu sampai dia benar benar pulih,” ucap Bianca sambil menghela nafas berat.
Tidak dia sangka dia malah jadi cenayang yang menyelamatkan nyawa temannya dari bahaya roh jahat.
“ Sial, roh dari sungai Han adalah roh penuh dendam, jangan jangan salah satu dari roh itu adalah roh milik Charlotte,” ucap Bianca sambil menatap mereka dengan wajah ketakutan.
“ ka... kau jangan mengada ada, tidak mungkin dia bisa balas dendam!! sudahlah,” ucap kath.
Mereka semua terdiam membisu. Yang baru saja terjadi sangat di luar dugaan mereka. Tetapi tidak jauh dari dugaan Max yang sedang duduk di dalam ruangan Charlotte sambil menatap ponselnya yang terhubung dengan kamera CCTV yang dia sembunyikan di kamar inap lee Won woo.
“ berhasil,” ucap pria itu sambil tersenyum sinis.
“ apa kau berhasil melakukannya?” tanya Charlotte yang jelas tahu rencana licik Max untuk membuat Lee Won Woo menderita ketakutan dan menjatuhkan mental teman teman mereka.
“ tentu saja, Grace sangat membantu,” ucap Max.
__ADS_1
Di saat yang sama, roh gadis korban pelecehan yang dilakukan oleh Lee Won Woo muncul di tempat itu setelah Charlotte membuka segelnya.
“ aku bagus kan?” Grace muncul dan menatap mereka di sana sambil tersenyum. Grace menyamar menjadi roh hantu air berwujud pembunuh berantai untuk mengelabuhi Bianca.
Charlotte dan Max membalasnya dnegan senyuman. Asher yang duduk di sana diam saja tanpa menanggapi percakapan mereka meskipun dia bisa melihat sosok Grace yang berdiri di dekat kursinya.
“ kau berhasil melakukannya, apa kau baik baik saja?” tanay Max.
Grace mengangguk sambil mengusap perutnya,” setidaknya kami bisa membalas perbuatan bejatnya, dengan begini aku yakin dia akan segera menyesal dan menyadari perbuatan jahatnya,” ucap Grace.
“ aku dan anakku sudah bisa pergi dengan tenang,” ucap Grace.
“ Belum bisa!” tiba tiba Asher memotong pembicaraan mereka. Dia tahu apa yang dilakukan Lee Won woo pada gadis itu, dan dia tidak terima dengan semua perbuatan Lee Won woo di masa lalu pada Grace.
“ ka... kau bisa melihatnya?” Charlotte, Max bahkan Grace terkejut bukan main saat mendengar ucapan Asher yang mengejutkan. Siapa sangka pria itu juga bisa melihat roh yang tak kasat mata.
“ eh... itu... emmm memang benar aku bisa melihat hantu,” jawabnya.
“ kenapa tidak bilang dari tadi, kami takut kau berpikir kami ini gila dan aneh,” ucap Max.
Asher hanya mengangkat bahunya,” Aku sudah melihat yang lebih parah dari ini,” ucap Asher.
“ jangan lupakan aku,” Mark masuk ke dalam ruangan itu sambil tersenyum lalu menyapa Grace.
“ hai nona, kerja bagus tadi,”ucap mark sambil tersenyum.
“ Mark.. ka.. kau..
“ ya, aku bisa melihat mereka semua, semua yang berbentuk roh termasuk buntalan kecil yang terus menempel di bahu ku ini,” ucap Mark sambil menunjuk anak kecil yang duduk anteng di atas bahunya, wajahnya pucat, dan kepalanya berdarah. Di pakaiannya tampak bekas ban mobil, bocah kecil yang mati tertabrak mobil di depan rumah sakit itu malah hinggap di atas bahu Mark.
“ jadi kalian berdua bisa melihat mereka?” tanya Charlotte yang dibalas dengan anggukan oleh kedua orang itu seraya menatap para roh yang berkumpul di ruangan perawatan Charlotte, ada yang duduk di atas pintu, ada yang di bawah meja, ada yang bermain air di toilet dan sebagainya.
“ apa ada yang salah dengan itu?” tanya Mark.
“ Ti... tidak...”
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen