
Mark menggenggam tangan Charlotte sambil menatapnya dengan senyuman bahagia.
" Kenapa kau mau datang ke tempat ini?" tanya Mark. Keduanya sedang berjalan menyusuri jalanan menuju makam tubuh Charlotte, di mana Mark menempatkan tubuh kekasihnya.
"Aku ingin melihat di mana tubuhku berada, " ucap Charlotte sambil menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.
"Itu menyakitkan Van, sangat menyiksa, hanya tempat ini yang membuatku kuat karena tubuhmu ada di sana," ucap Mark.
Charlotte memeluk erat lengan pria itu, rasa sakit yang dirasakan oleh Mark juga dia rasakan. ketidakadilan dan rasa takut yang membuatnya hancur perlahan-lahan dia balaskan pada pelaku yang menyiksa hidupnya.
Mereka berdua berjalan menyusuri TPU itu, hingga tiba di sebuah makam dengan pohon tinggi di dekatnya, Mark memilihkan tempat yang teduh untuk kekasihnya.
"Aku sering melihatmu di sini, setiap malam pasti selalu berbaring di sini sendirian bahkan sampai terlelap," ucap Charlotte sambil menatap nisan dengan namanya yang terukir di sana.
" Kau melihatku!? kenapa tidak kau temui aku!?" tanya Mark heran.
Gadis itu menatap kekasihnya," Bagaiman bisa kak? kau bahkan tidak mengenaliku, aku takut kau malah menjauh dan aku tidak bisa melihatmu lagi jika di pertemuan pertama aku mengatakan kalau aku ini Van, itu akan sangat aneh,x jelas Charlotte.
"Benar juga sih, tapi aku tidak peduli, sekarang kau sudah kembali, aku tidak butuh yang lain lagi!!" ucap Mark sambil memeluk Charlotte dengan erat.
Keduanya berdiri menatap nisan itu. Mark sampai detik ini masih sama seperti dulu, sangat mencintai Charlotte, perempuan yang berhasil membuatnya mengubah pikiran jeleknya tentang keluarga.
"Kak Mark, apa yang haru kita lakukan pada Max?" tanya gadis itu.
" Ada apa?"
" Aku ingin membantunya mencari informasi tentang masa lalunya, dia hanya hidup berdasarkan ingatan Hyun jin pemilik tubuh itu. Dia bahkan tidak mengingat siapa dirinya yang sebenarnya," ucap Charlotte sambil menatap Mark dengan serius.
"Bisa kau gambarkan bagaimana wajah Max yang sebenarnya? dengan itu kita bisa mencarinya lebih mudah," ucap Mark.
Charlotte mengeluarkan ponselnya," aku sudah membuat beberapa lukisan wajahnya yang asli, lihatlah ini," ucap gadis itu sambil menunjukkan lukisan yang digambar sendiri oleh gadis itu.
Pria berambut blonde, wajah yang tampan dengan senyuman manis. Tanda lahir tepat di bawah matanya. Mark menatap wajah asli Max yang Charlotte lihat saat pria itu masih dalam bentuk roh.
__ADS_1
"Orang ini??" Mark mengernyitkan keningnya.
"Apa kakak mengenalnya?" tanya Charlotte.
Mark menatap gambar itu untuk waktu yang lama. Sekilas ingatan lama di masa lalu membuatnya teringat akan seseorang yang pernah dia jumpai di masa lalu.
"Shhh... aku tidak yakin Van, ikut aku ke tempat gym, sepertinya aku pernah melihatnya di sana, kita tanyakan pada pelatih Park!' ucap pria itu.
" Pernah melihatnya di sana? Max? "
Keduanya berangkat menuju tempat latihan bela diri di mana mere berlatih di masa sekarang bahkan di masa lalu pun masih di tempat itu.
Sementara itu, di depan rumah dukun terkenal di kota itu, Max sedang berdiri sambil menatap rumah itu dari gedung besar di depan rumah dukun Min yang terkenal sakti.
Dia bersedekap dada menatap rumah itu sambil memicingkan matanya. Aura yang sangat aneh selalu keluar dari rumah itu. Jelas sekali hawanya buruk dan tidak bagus untuk manusia normal.
"Kenapa Park Yura mengarahkan ku untuk datang ke tempat ini dan menyusun batu pembangkit jiwa di sini? apa dia ingin menguasai rumah ini? dia pasti ingin membangkitkan jiwanya!" batin Max.
Pria itu menatap rumah itu, jika benar yang diucapkan oleh Park Yura, maka dia bisa menggunakan metode itu untuk rencananya yang lain.
Max menumpuk batu hingga mengerucut di sisi rumah itu, setiap hari tak terlupa sekalipun. Dia ingin melihat apa yang akan terjadi jika 100 hari yang dimaksud oleh Park Yura itu sudah terjadi.
Kejadian di kampus beberapa hari lalu, serta Yura yang menyamar menjadi Kath membuat Max semakin penasaran dengan apa tujuan perempuan itu melakukan semua ini.
Dia hanya menatap tempat itu sejenak, sebelum kepalanya tiba-tiba terasa sangat sakit.
" Arkhhh!!!! si...sialan, lagi lagi!!!!" Max terduduk lemas sambil mencengkram kepalanya.
Dia tiba-tiba pening, ini sudah yang ke sekian kalinya sejak dia melihat ingatan nya yang pertama, bukan ingatan Hyun Jin, tetapi ingatannya yang sebenarnya!
Max melihat dirinya berdiri di pilar jembatan besar, suasana sangat gelap, tak ada cahaya, dia memegang ponsel sambil merekam sesuatu, tetapi dia tidak bisa melihat apa pun.
Samar samar suara tawa dia dengar, entah apa yang terjadi selanjutnya, sebelum melihat lebih jelas pria itu malah kesakitan bukan main.
__ADS_1
Max mencengkram kepalanya, sakitnya sangat menyiksa, dia duduk bersandar pada dinding, menarik nafas dalam-dalam dan menatap ke arah langit.
" Sialan, kenapa aku belum ingat, kenapa aku tak ingat sama sekali!!!" batin pria itu sambil memukul kepalanya sendiri.
Suara suara aneh, suara aliran air, suara tangisan, dan suara mengerikan yang membuat Max sekian sesak di dadanya.
Dia mendengar suara teriakan dan tangisan seorang perempuan, merintih kesakitan dengan suara mendesis, tetapi dia tidak bisa lihat, tidak tahu apa yang telah terjadi.
Pria itu Meringkuk, memeluk dirinya sendiri dan memukul kepalanya.
"Sialan, aku harus pergi dari sini, jika begini terus aku bisa mati!!!" umpat pria itu.
Max berdiri, dengan langkah kaki yang tertatih-tatih dia berjalan keluar dari gedung itu. Rasa sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi, dia masuk ke dalam mobil dan membuka kotak obat dengan terburu-buru.
Dia menenggak pil itu begitu saja, tak tahan dengan sakit kepalanya yang begitu menyiksa.
Di saat yang sama, kedua netranya menangkap sosok nyonya Min dan Bianca yang keluar dari rumah ketika mobil ambulance tiba di tempat itu tanpa mengeluarkan suara sirene. Mereka berlari terburu-buru ke luar dari rumah itu dengan wajah pucat pasi menyambut kedatangan petugas medis.
Bianca dan Ibunya terlihat sangat panik. Mereka membuka rumah dengan cepat sambil berjalan terburu-buru. Max menatap mereka, cepat cepat dia ambil ponselnya dan merekam kejadian itu.
di saat yang sama petugas medis membawa tempat pembaringan pasien keluar dari dalam rumah itu. Tampak mereka membawa tubuh seseorang di sana. Jelas terlihat kalau postur tubuh itu adalah tubuh laki laki.
Tangan pasien itu terukur ke luar, wajahnya hampir terlihat tetapi nyonya Min dengan cepat menutupinya dengan kain.
Tubuh itu langsung dibawa ke dalam mobil dan dilarikan ke tempat pengobatan di mana ambulance itu beroperasi.
Tetapi anehnya, mobil ambulance itu tidak menyalakan sirene padahal jelas Sepertinya pasien itu darurat melihat tangan dan pakaiannya nyang berlumuran darah.
" Arkhh apa itu!? apa yang mereka lakukan!??" batin Max yang sakit kepalanya tak kunjung hilang.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 🤗