Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
TIGA SAUDARA KEMBAR


__ADS_3

"Ameer? apa kamu masih disana nak?" ulang Anna setelah beberapa kali Ameer tidak meresponnya.


"Iya ibu, Ameer masih disini, hmm maaf ibu, Ameer belum siap nikah dalam waktu dekat ini, jadi Ameer belum ingin melakukan ta'arruf dengan wanita manapun," jawab Ameer akhirnya setelah beberapa saat berpikir.


"Kamu yakin nak?"


"Iya ibu, lagipula usia Ameer baru 22 tahun, Ameer masih mau menjelajahi dunia," ujar Ameer sedikit bercanda dan itu berhasil membuat ibunya terkekeh di seberang telfon.


"Baiklah sayang, ya sudah kalau gitu, nanti ibu sampaikan mengenai ini kepada teman ibu."


"Iya bu."


Tak berselang lama, panggilan mereka pun berakhir.


Ameer kembali terdiam lesu. "Benar, usiaku masih muda, aku belum tertarik untuk menjalin hubungan dulu, suatu saat jika sudah waktunya insya Allah hatiku pasti akan siap untuk menerima kehadiran wanita dalam hatiku," monolog Ameer meyakinkan dirinya sendiri dengan senyuman yang terukir paksa di wajah tampannya.


🌷🌷🌷


Di Paris


"Biah, maaf yah, rencana kita untuk bulan madu selama 2 minggu harus batal, mas tiba-tiba punya pertemuan penting yang tidak bisa di tunda," ujar Kamil sambil menggenggam tangan istrinya dengan lembut.


"Iya, nggak papa mas, ini aja Biah udah senang kok di ajak jalan-jalan sama mas selama beberapa hari ini, yang penting kualitasnya mas," jawab Biah, membuat rasa bersalah Kamil berganti dengan rasa legah.


"Oh iya, berhubung kita pulangnya lebih awal, sebelum kita tinggal di rumah kita, gimana kalau kita tinggal di rumah abi dan ummi selama beberapa hari?" tawar Kamil.


Wajah Rabiah seketika berbinar, "beneran mas? Alhamdulillah.. Terima kasih mas," ucap Rabiah penuh semangat dan refleks memeluk suaminya.


Kamil yang terkesiap mendapat pelukan mendadak dari sang istri langsung tersenyum dan membalas pelukan istrinya dengan erat. Kamil sadar, bahwa sampai saat ini Rabiah masih sedikit canggung dan malu kepadanya, itu sebabnya Rabiah tidak berani memeluknya kecuali Kamil yang memeluk duluan. Namun, kali ini Kamil dibuat bahagia karena justru Rabiah lah yang memeluknya lebih dulu.


🌷🌷🌷


Rahul dan Rahil sedang menunggu kedatangan pasangan halal itu di bandara. Sebenarnya yang akan menjemput Rabiah dan Kamil sore ini adalah pak Ical, namun setelah mendengar kalau Rabiah dan Kamil akan tinggal di rumah beberapa hari, mereka sangat antusias untuk menjemputnya.


Selama mereka menunggu di depan pintu kedatangan, banyak para gadis bahkan wanita dewasa di tempat itu yang menaruh kagum pada 2 pria muda yang saat ini sedang berdiri sambil menyenderkan tubuhnya pada sebuah tiang.


Bagaimana tidak, dua pria kembar berusia 18 tahun itu memiliki wajah yang begitu tampan. Perpaduan dari wajah tampan abi Yusuf yang blasteran Arab, di tambah kecantikan khas Sulawesi Selatan dari ummi Yasmin membuat wajah mereka begitu indah di pandang mata, belum lagi kulit mereka yang putih mengikuti kedua orang tuanya, membuat mereka semakin bersih bersinar seperti iklan sabun sunnylaik.

__ADS_1


"Rahul, Rahil? kenapa kalian ada disini?" suara seorang gadis menyapa keduanya membuat kedua pria muda itu menoleh ke sumber suara.


"Zahra?" lirih keduanya bersamaan saat melihat seorang gadis cantik dengan balutan hijab modis yang tidak lain adalah teman kelas sekaligus tetangga mereka.


"Kami lagi menunggu saudara kami," jawab Rahil singkat dengan wajah dinginnya.


"Rabiah yah?" tanya Zahra dan kedua saudara kembar itu mengangguk kompak tanpa ekspresi.


"Ooo," Zahra membulatkan bibirnya.


Ketiganya kembali diam, membuat Zahra geleng-geleng kepala, "kalian berdua itu dingin dan kaku sekali yah, padahal kita udah 3 tahun di kelas yang sama loh, mana kita tetanggan lagi, ya ampun." Zahra hanya bisa menepuk jidatnya.


"Yaa mau gimana lagi, udah dari pohonnya," jawab Rahul datar.


"Pohon? maksudnya?" Zahra mengerutkan keningnya merasa bingung.


"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," tambah Rahil dan Rahul mengangguk.


"Oh, maksud kalian, orang tua kalian juga seperti itu ya?" tanya Zahra memastikan dan kedua manusia kembar itu kembali mengangguk tanpa ekspresi.


Zahra yang mulai merasa garing bersama dua manusia kaku dan dingin itu akhirnya memilih pamit dan pergi segera, jika ia terus berlama-lama disana, mungkin ia hanya akan menjadi patung manekin bersama 2 pria itu, ada tapi saling diam.


Tak lama setelah itu, Rabiah dan Kamil muncul dari pintu kedatangan.


"Nah, itu dia yang sejak tadi kita tunggu," seru Rahul sambil melambaikan tangan pada Rabiah dan saudara ipar mereka.


Rabiah yang merasa begitu bahagia karena bisa bertemu lagi dengan saudara kembarnya itu langsung berlari dan memeluk keduanya sekaligus. Sementara Kamil hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah 3 saudara kembar itu. Bagaikan anak kecil yang bertemu teman lama, mereka bertiga berpelukan sambil berputar-putar dan tertawa bahagia. Dua pria yang tadinya dingin dan kaku itu kini berubah 180 derajat setelah bertemu dengan Rabiah.


"Aduh aku rindu banget sama kalian berdua," ucap Rabiah sambil mencubit pipi Rahul dan Rahil dengan gemas,"


"Udah udah Biah, sakit tau," keluh Rahil sambil memegangi pipi kanannya yang sudah kemerahan.


"Hehe sorry," cicit Rabiah


Mereka pun akhirnya pulang ke rumah, dengan Rahul yang mengemudikan mobil dan Rahil di sampingnya. Sementara di belakang Rabiah bersama Kamil.


"Rahul, Rahil, kalian lanjut kuliah dimana?" tanya Kamil memecah keheningan di dalam mobil.

__ADS_1


"Kalau Rahul kuliah disini mas, di universitas B tempat Ummi dulu," jawab Rahul.


"Kalau Rahil kuliah di Makassar, mas," jawab Rahil.


"Padahal dulu sok sok bilang mau kuliah di luar negeri, eeh ujung-ujungnya malah kuliah di luar provinsi," celoteh Rahul.


"Huss, namanya juga rezeki, semua rahasia Allah," kilah Rahil.


"Kalau kamu Biah? mau kuliah dimana?" Kamil menoleh ke arah istrinya yang sejak tadi hanya fokus mendengarkan.


"Apa Biah boleh kuliah, mas?" tanya Rabiah sedikit ragu.


"Tentu saja, kamu harus mengejar mimpimu," ujar Kamil sambil tersenyum ke arah Rabiah.


"Masya Allah, alhamdulillah.. terima kasih mas, Biah mau kuliah di sini saja mas, biar Biah tidak jauh dari mas Kamil," ucap Rabiah tersenyum sambil menunduk malu. Membuat Kamil merasa gemas dan mengusap lembut kepala Rabiah yang tertutup jilbab.


"Ekhem.. Hati-hati bersikap Biah, jangan manja-manja dulu sama mas Kamil, ingat, kami berdua disini jomblo dan masih di bawah umur loh," celetuk Rahul, membuat Rabiah dan Kamil salah tingkah.


"Memangnya kami ngapain? Ya ampun... Sensitif amat sih jadi jomblo," seloroh Rabiah membuat Kamil menahan tawanya sambil geleng-geleng kepala.


Tak terasa, kini mobil mereka telah sampai di halaman rumah Yusuf dan Yasmin. Tampak seorang wanita yang sudah berusia 42 tahun namun masih tetap cantik sedang berdiri di depan pintu rumah menunggu mereka bersama sang suami yang juga masih tetap tampan di usia yang sudah menginjak 52 tahun.


"Assalamu 'alaikum.. Abi.. Ummi..." Rabiah menghambur ke pelukan Yusuf dan Yasmin secara bergantian, melepas rasa rindu yang tersimpan rapi di dalam hatinya selama beberapa hari ini.


"Wah.. Yang habis bulan madu wajahnya makin berbinar aja, bukan begitu abi?" goda Yasmin.


"Betul sayang, makin berbinar dan makin cantik tentunya," timpal Yusuf menggoda putri kesayangannya itu.


"Abi dan Ummi jangan gitu dong, Biah malu nih," jawab Rabiah dengan wajah yang kini merah merona, membuat mereka terkekeh. Bagi mereka, menggoda Rabiah memiliki dampak positif tersendiri di rumah itu yang bisa membuat suasana rumah itu lebih berwarna.


🌷🌷🌷


Di tempat lain


Seorang gadis tengah tertunduk lesu setelah mendengar kabar penolakan Ameer. Yah, gadis itu adalah Shafiyah. Sebenarnya, bukan orang tua Shafiyah yang menyukai Ameer, melainkan Shafiyah yang sangat menyukai Ameer, bahkan sejak Ameer masih berstatus kakak kelasnya di SMA.


"Yang sabar nak, mungkin Ameer masih ingin fokus dengan kuliah magisternya. Nanti setelah selesai, mama akan berbicara kembali dengan ibunya, gimana?" bujuk wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu dari Shafiyah sekaligus teman kuliah Anna.

__ADS_1


"Benar ya mah, Fiyah sangat mencintai kak Ameer, dan Fiyah ingin memilikinya."


-Bersambung-


__ADS_2