
Sudah dua hari Rabiah nginap di hotel bersama Kamil. Siang ini setelah makan siang, mereka harus kembali ke rumah untuk mempersiapkan kepergian mereka untuk bulan madu besok.
“Biah, hari ini kita ke rumah mama dulu yah, setelah bulan madu baru kita tinggal di rumah kita,” ujar Kamil kepada Rabiah yang sedang duduk disampingnya di dalam mobil.
“Iya Mas, gimana baiknya, aku ngikut mas aja,” jawab Rabiah sembari menoleh ke arah Kamil yang juga sedang melihatnya.
“Bagus, nurut banget sih istri kecilku ini.” Kamil mengusap kepala Rabiah dengan lembut. Sementara Rabiah tersipu malu mendengar Kamil menyebutnya ‘istri kecilku’.
Suasana kembali hening di dalam mobil, jika Rabiah sejak tadi hanya diam dengan pikirannya sendiri, Kamil justru sedang sibuk memikirkan pembahasan apa yang harus ia bicarakan agar suasana tidak hening dan canggung seperti saat ini.
“Emm, Biah, umur kamu kan masih 18 tahun, kok kamu mau aja nikah di usia yang masih terbilang sangat muda itu?” tanya Kamil membuka pembicaraan.
Rabiah lalu menoleh ke arah Kamil, “salah yah kalau aku nikah di usia 18 tahun mas?” tanya Rabiah polos.
“Yaa nggak sih, Cuma kan kebanyakan anak perempuan seusia kamu lebih banyak yang memilih mengejar mimpi mereka dulu baru nikah, tapi kamu memilih nikah,”.
“Takdir perempuan itu beda-beda mas, mimpi dan rencana ke depannya boleh saja sama, namun yang namanya takdir itu tidak ada yang bisa menerkanya. Jika aku memilih nikah saat ini, bukan berarti aku mengesampingkan mimpiku. Begitupun sebaliknya, jika ada yang memilih kuliah saat ini, bukan berarti mereka mengesampingkan ibadah, mungkin memang jodohnya belum datang. Namanya juga manusia, hanya bisa berencana, sisanya Allah yang tentukan, kita hanya perlu tawakkal dan berpikir positif kepada Allah, yakin bahwa dibalik apa yang terjadi pasti ada hikmah di belakangnya," terang Rabiah panjang lebar.
Sementara Kamil yang mendengarnya ikut mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Rabiah. Ada rasa kagum yang hinggap dihatinya tatkala mendengar jawaban Rabiah yang memperlihatkan sisi kedewasaannya.
Meski Kamil tahu, pernikahan ini terjadi karena keinginan kedua orang tua, namun Rabiah dapat menerimanya dengan lapang dan bijak. Sangat jauh dari anggapan awal yang muncul di benaknya saat pertama kali mengetahui bahwa gadis yang akan ia nikahi masih berusia 18 tahun, usia yang masih labil, manja dan tentu sangat merepotkan.
Tak lama kemudian, setelah menempuh perjalanan selama 35 menit, Rabiah dan Kamil akhirnya tiba di kediaman Abdullah dan Maryam.
Sejak memasuki gerbang, Rabiah sudah dapat melihat kedua mertuanya sedang menunggu kedatangan mereka di depan rumah.
“Assalamu ‘alaikum mama, papa,” ucap Kamil dan Rabiah bersamaan setelah keluar dari mobil lalu mencium tangan Abdullah dan Maryam secara bergantian.
__ADS_1
“Wa’alaikum salam nak,” jawab Abdullah dan Maryam bersamaan pula.
“Masya Allah menantu mama, kemarilah,” Maryam memeluk Rabiah lalu membimbingnya masuk ke dalam rumah dengan begitu antusias.
“Gimana kesehatan papa?” tanya Kamil sambil berjalan bersama ayahnya masuk ke dalam rumah.
“Alhamdulillah, melihatmu membawa Rabiah sebagai istri ke rumah ini, sudah seperti obat untuk papa, papa sangat senang.” Meskipun agak pucat, namun senyum bahagia tak bisa ditutupi dari wajah Abdullah.
Sudah 1 minggu sejak Abdullah dibolehkan untuk pulang ke rumah. Sebenarnya, pernikahan ini adalah ide sang Ayah yang sangat menginginkan menantu dari putra sulungnya itu, mengingat usianya yang tidak muda lagi, dan ia khawatir jika suatu saat Allah memanggilnya sementara ia belum melihat Kamil menikah. Hanya saja, Kamil selalu nampak sibuk dengan bisnisnya akhir-akhir ini sehingga tidak ada waktu baginya untuk berbicara empat mata dengannya.
Namun, 2 bulan lalu penyakit jantung Abdullah tiba-tiba kambuh sehingga ia harus di rawat di rumah sakit. Dan saat itulah dia memanfaatkan momen itu untuk meminta Kamil agar segera menikah.
Meski awalnya menolak dengan berbagai alasan, namun melalui bujukan ayah dan ibunya, akhirnya Kamil menerimanya walau saat itu wajah Kamil terlihat begitu berat dan seperti memiliki beban.
"Nah, ini kamar Kamil sayang, kamu suka?" ujar Maryam sembari mendudukkan Rabiah di pinggir tempat tidur king size yang berada di kamar bernuansa putih dan sangat rapi.
Rabiah melihat sekelilingnya sambil mengangguk, "Iya ma, Rabiah suka," jawabnya sambil tersenyum.
"Masya Allah, alhamdulillah jika seperti itu ma, Rabiah senang dengarnya," terang Rabiah.
"Sekarang, kamu istirahat dulu disini, mama mau keluar, kalau butuh apa-apa, kamu bisa sampaikan ke Kamil, bisa juga langsung temui mama di bawah," kata Maryam mengelus kepala Rabiah yang tertutup jilbab lalu keluar dari kamar mereka.
Tak lama kemudian, Kamil masuk ke dalam kamar. Dengan membawa koper milik Rabiah.
"Gimana Biah, kamu suka dengar kamar ini? Kamarnya polos-polos saja, maklum kamar laki," ujar Kamil sedikit tertawa memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.
"Bagus kok mas, Biah suka," jawab Biah ikut tersenyum.
"Oh iya, kamu mau bulan madu dimana?" tanya Kamil seraya duduk di samping Rabiah.
"Loh, bukannya sudah mas tentukan yah? Besok kan sudah mau pergi," tanya Rabiah heran.
__ADS_1
"Iya? Memang jadwalnya sudah mas tentukan, tapi tempatnya belum, tunggu kesepakatan dari kamu,"
"Kalau dari Biah, semua yang mas pilih Biah ngikut aja, Biah nggak tahu mana yang bagus soalnya,"
Kamil tersenyum lalu meraih tangan Rabiah, "ya udah, kalau gitu kita ke Paris aja, gimana?"
"Boleh mas, Biah setuju,"
"Oke deh, kalau gitu kamu istirahat dulu yah, nanti sore kita mulai beres-beresnya." Ujar Kamil lalu menidurkan Rabiah di tempat tidur.
"Makasih mas," ucap Rabiah.
🌷🌷🌷
Sore hari, Rabiah mendengar sayup-sayup suara pria sedang berbicara. Perlahan ia membuka matanya lalu menelisik ke seluruh sudut ruangan mencari sosok suaminya.
Pandangannya lalu tertuju pada balkon kamar yang pintunya sedikit tertutup. Rabiah bangkit dan hendak menuju ke tempat Kamil saat ini, namun ia urungkan saat menyadari ternyata Kamil sedang berbicara dengan seseorang di telfon.
"Iya, kamu nggak apa-apa kan disitu sendiri? Setelah semua urusanku selesai, aku akan sering mengunjungi kamu,"
(...)
"baiklah, assalamu 'alaikum."
Menyadari Kamil telah selesai dengan telfonnya, Rabiah dengan cepat kembali ke tempat tidurnya lalu memejamkan mata seperti tadi.
Kamil masuk ke dalam kamar, dan mendapati Rabiah masih tertidur, ia pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu baru membangunkan istrinya untuk sholat ashar.
"Siapa yang di telfon mas Kamil yah? Apa mungkin Khai?" batin Rabiah penuh tanda tanya.
-Bersambung-
__ADS_1