
Keesokan harinya, Rabiah dan Kamil pamit untuk berangkat bulan madu pagi itu. Tak lupa Rabiah juga menghubungi kedua orang tuanya untuk pamit.
Dan kini, Rabiah dan Kamil sedang berada di atas pesawat. Sudah beberapa jam berlalu semenjak pesawat lepas landas, namun Rabiah sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Sesekali Rabiah menoleh ke arah jendela, dan ampak langit yang masih tampak cerah.
"Kamu nggak tidur Biah?" tanya Kamil yang baru saja terbangun dari tidurnya, namun mendapati istrinya tidak tidur.
"Nggak mas, Biah nggak bisa tidur," cicit Biah menoleh ke arah sang suami.
Kamil tersenyum, ia lalu menyenderkan kepala Rabiah di pundaknya, lalu menggenggam tangan kiri Rabiah, "tidur lah Biah, perjalanan kita masih panjang," kata Kamil sambil mengusap kepala Rabiah yang tertutup jilbab dengan tangan kanannya.
Mendapat perlakuan manis dari sang suami, tentu membuat hati Rabiah menghangat. "Terima kasih mas," ucapnya kemudian.
Kamil mengernyitkan alisnya mendengar ucapan terima kasih dari istrinya, "terima kasih untuk apa Biah?" tanya Kamil.
"Terima kasih karena mas sudah baik dan perhatian sama Biah," jawab Rabiah jujur.
Kamil kembali mengulum senyum, "Ya udah sepantasnya mas seperti itu kan, mas kan suami kamu," ujar Kamil sembari mencium punggung tangan kiri Rabiah, membuat Rabiah kembali tersipu dengan senyuman tipis di wajahnya.
Setelah menempuh perjalanan lebih 16 jam, Rabiah dan Kamil akhirnya sampai di Paris pada sore hari, mengingat perbedaan waktu yang lebih lembat 5 jam dari Jakarta. Kini mereka telah berada di salah satu hotel mewah yang berada di Paris. Kamil mengambil presidential suite room, ia ingin memanjakan Rabiah selama bulan madu ini.
"Biah, kalau kamu mau mandi dulu silahkan," ucap Kamil mempersilahkan Rabiah mandi lebih dulu.
"Iya mas," ujar Rabiah lalu membuka kopernya untuk mengambil baju ganti, namun ia mengernyitkan alis saat membuka kopernya, pasalnya isi di dalam koper itu sedikit berubah, ada dua paper bag, paper bag pertama berisi beberapa baju tipis dan menerawang dengan aneka warna, dan paper bag kedua berisi gamis Rabiah, semua piyama tidur yang telah ia siapkan sebelumnya hilang entah kemana.
Di tengah kebingungannya, Rabiah kembali di buat resah saat ia mendapat sebuah surat di dalam paper bag pertama, 'Rabiah, tolong pakai baju ini untuk malam ini dan malam-malam seterusnya, bukan kah menurut kepada mertua dan menyenangkan hati suami adalah suatu ibadah.' Kata-kata dalam surat ini jelas bukan kata pemaksaan, namun menolaknya sama saja seperti menjadi pembangkang secara tidak langsung, dan itu cukup membuat Rabiah merasa dilema.
"Aduh gimana ini?" lirih Rabiah bingung sendiri sambil mengambil salah satu baju di dalam paper bag pertama lalu mengamatinya, ini pertama kalinya ia melihat baju tipis seperti ini.
__ADS_1
"Kenapa Biah?" tanya Kamil yang mendengar suara lirih Rabiah.
"Eh, nggak kok mas, oh iya, kalau mas mau mandi, mas boleh kok mandi duluan, Biah masih mau merapikan baju-baju Biah," ujar Rabiah sambil memasukkan kembali baju yang sempat ia pegang tadi ke dalam paper bag pertama.
Kamil pun setuju dan memutuskan untuk mandi lebih dulu sesuai pinta sang istri. Sementara Rabiah membongkar isi dari paper bag pertama hingga keluarlah semua baju-baju tipis aneka warna itu.
"Ya ampun, yang mana yang harus aku pakai? niat bener mama ngerjain Biah," monolog Rabiah dalam hati sambil mengangkat satu per satu baju tersebut.
Setelah menimbang cukup lama, kini pilihan Rabiah jatuh pada sebuah baju tipis yang berwarna hitam, tidak terlalu menerawang dan paling panjang di antara baju yang lain meski panjangnya masih di atas lutut Rabiah.
Ceklek
Mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, buru-buru Biah memasukkan semua baju yang sempat ia hambur tadi langsung ke dalam koper, lalu menyembunyikan baju yang telah ia pilih ke dalam jilbabnya.
"Biah, silahkan kamu mandi," ujar Kamil membuat Rabiah kaget lalu berdiri dan berbalik ke arah Kamil.
Degh
"Tutup mata nggak yah? Tapi kan sudah halal," batinnya saat hati dan pikirannya beradu, membuatnya kini tampak seperti robot yang tidak mampu bergerak, bahkan untuk berkedip sekalipun.
Melihat istrinya yang tidak berkedip dengan mulut yang terbuka sedikit, Kamil merasa semakin gemas. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin menjahili istri kecilnya itu.
Dengan langkah pelan, Kamil mendekati Rabiah, semakin dekat sehingga membuat Rabiah tiba-tiba tersadar dari pertengkaran batinnya sambil menggeleng kecil.
"Kamu kenapa Biah?" tanya Kamil semakin gemas sambil mendekat ke arah Rabiah, membuat Rabiah harus mundur salah tingkah.
"Nggak, nggak kenapa-kenapa kok mas," jawab Rabiah dengan wajah yang semakin merah bak kepiting rebus.
__ADS_1
"Beneran nggak papa?" Kamil semakin mendekat.
"Bene..-," perkataan Rabiah teropotong saat menyadari tubuhnya telah bersandar di dinding kamar.
Kamil semakin tersenyum lebar melihat raut wajah Rabiah yang terlihat salah tingkah bercampur panik.
Kamil semakin mendekat, bahkan kini jarak mereka tinggal beberapa centimeter saja. Kamil lantas membungkuk sedikit untuk menyamakan tingginya dengan Rabiah, perlahan ia semakin mendekatkan wajahnya pada Rabiah.
Bagaimana keadaan Rabiah? jangan tanya, bahkan nafaspun ia tahan kali ini. "Bi..Biah mau mandi dulu mas," ucapnya lalu berlari ke kamar mandi dengan kecepatan tinggi.
Melihat sang istri yang berlari terbirit-birit membuat Kamil tertawa pelan, "Ya ampun menggemaskan sekali sih dia," ucap Kamil di sela-sela tawanya.
Sementara Rabiah saat ini masih terdiam dibalik pintu kamar mandi, tangannya memegang dadanya yang berdegup kencang.
"Tenang Biah, tenang, rileks rileks," ucapnya pelan sambil menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan.
🌷🌷🌷
Malam hari di kediaman Abdulah-Maryam
Abdullah sejak tadi merasa bingung melihat sang istri yang sejak tadi senyum-senyum sendiri.
"Kamu kenapa, ma? dari tadi senyum-senyum sendiri?" tanya Abdullah bingung.
"Mama lagi menjalankan sebuah misi, pa. Semoga dengan misi ini, kita bisa segera punya cucu," jawab Maryam yang masih mempertahankan senyumnya.
Abdullah mengerutkan keningnya, "misi apa itu ma?"
__ADS_1
"Rahasia pa," jawab Maryam terkekeh geli membayangkan ekspresi wajah Rabiah saat melihat surat di dalam kopernya.
-Bersambung-