
Point of View Rabiah
Aku pernah mendengar orang tua berkata, jangan remehkan cinta yang sudah pernah di kubur dalam-dalam, bisa saja suatu saat cinta itu justru tumbuh menjadi cinta yang lebih besar dari sebelumnya.
Jika benar demikian faktanya, maka aku tidak akan meremehkan cinta itu, aku sadar akan kedudukanku saat ini, menghindar adalah pilihan terbaik untukku daripada harus menanggung beratnya dosa akibat jatuh ke lubang cinta yang tidak seharusnya.
🌷🌷🌷
Malam ini Rabiah hanya menikmati dinginnya angin yang menerpa wajahnya seorang diri. Sejak kedatangannya di rumah orang tuanya, Rabiah memilih untuk menyendiri di kamar, lebih tepatnya menyendiri sambil menikmati udara yang sejuk di balkon kamar dan turut mendengar suara orang ramai di bawah sana.
Bukannya tidak ingin berbaur dengan keluarga yang lain, hanya saja, menjaga mata dan hati adalah prioritasnya saat ini.
Di waktu yang sama, para pria, Yusuf, Wildan, Ameer, Jhony, Rahul dan Rayhan sedang menikmati jagung bakar sambil menonton sepak bola andalan mereka di ruang keluarga.
Sementara para wanita, Yasmin, Anna dan Ameerah sedang sibuk membuat jagung bakar lagi jika saja jagung bakar di ruang keluarga itu habis.
"Yas, Rabiah kenapa pulang sendiri kesini? Memangnya suaminya kemana?" tanya Anna yang memang belum mengetahui masalah rumah tangga Rabiah.
"Hmm, Ann, sebenarnya aku tidak ingin membeberkan masalah rumah tangga Rabiah, tapi sejujurnya aku tidak tahan merahasiakan ini darimu," jawab Yasmin.
"Apa maksudmu? Rahasia apa?" tanya Anna bingung.
"Sebenarnya, ..... " Yasmin mulai menceritakan masalah rumah tangga yang di hadapi Rabiah dengan cara berbisik agar Ameerah tidak mendengarnya, Anna yang mendengarnya begitu terkejut.
"Astaghfirullah, kasihan Rabiah, sangat di sayangkan sekali. Dia masih sangat muda tapi harus menghadapi masalah seperti ini," lirih Anna, "kamu tahu Yas? Padahal dulu aku sangat ingin menjodohkan Ameer dan Rabiah loh, sayangnya mereka tidak berjodoh," lanjut Anna sambil membalikkan jagung di hadapannya.
"Hah? Kenapa kamu nggak pernah bilang?" cicit Yasmin.
"Dulu aku belum berani mengatakan itu karena Rabiah masih 18 tahun, mana ku tahu jika ternyata Rabiah sudah di bolehkan menikah di usia itu," ujar Anna, " oh iya, Biah mana? Kenapa nggak gabung kesini?" tanya Anna.
"Iya aunty, kak Biahnya mana? Aku kangen pengen curhat sama dia," timpal Ameerah.
"Katanya tadi dia lagi capek banget, maklum jadwal kuliahnya lagi padat," elak Yasmin, padahal ia tahu bahwa saat ini Rabiah pasti sedang menghindar dari Ameer.
Di ruang keluarga.
"Eh, Ameer, kamu benaran mau nitip aku disini?" tanya Jhony sedikit berbisik.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Kamu nggak mau?" tanya Ameer.
"Nggak sih, cuma rasanya canggung aja tinggal di rumah orang yang baru aku kenal seorang diri," cicit Jhony.
"Baiklah, kamu boleh menginap di rumahku, tapi jangan pernah mengusik adikku, kalau sampai itu terjadi, aku akan langsung mengirimmu kembali ke Singapura," ancam Ameer.
"Astaga sebegitu tidak percayanya kamu kepadaku? Sampai hati kau," cicit Jhony.
"Stop, kamu jangan mendramatisir keadaan, aku bukannya tidak mempercayaimu, aku hanya waspada," ujar Ameer.
Jhony hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar mendengar perkataan Ameer.
Tidak terasa, Ameer dan keluarga akhirnya pulang ke rumah mereka. Kini Ameer maupun Jhony sudah berada di kamar untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah sangat lelah.
"Hei Jhon, tidurlah di tempat tidur, aku akan tidur di sini," ujar Ameer sambil menghamparkan kasur lipatnya di samping tempat tidur.
"Wah, kamu sangat baik dan perhatian, aku terharu," celoteh Jhony.
"Aku bukannya perhatian, aku hanya memuliakan tamu, tidur lah cepat," kilah Ameer, namun baru saja Ameer selesai berbicara, dengkuran dari Jhony yang menggelegar mulai menghiasi kamar itu.
"Astaga, aku baru tahu, Jhony saat tidur akan membuat instrumennya sendiri, mana suaranya gede bangat lagi, yassalaam," ucap Ameer sambil menepuk jidatnya.
"Astaghfirullah, sadar Meer sadaar, dia itu bini orang," lirihnya sambil mengusap dadanya yang berdebar.
Sampai pukul 00.00, Ameer masih belum bisa memejamkan matanya, pasalnya tiap kali ia memejamkan matanya, wajah Rabiah akan muncul dalam benaknya, dan tentu itu sangat tidak baik untuknya.
"Apa sebaiknya aku sholat istikharah saja kali yah, minta petunjuk Allah mengenai apa yang harus ku lakukan untuk melupakan Rabiah," monolog Ameer lalu beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Hingga akhirnya sholat istikharah pun berhasil ia tunaikan malam itu, berharap ia mendapat jawaban agar ia bisa segera melupakan wanita yang masih setia bertahta di hatinya, tidak peduli seberapa keras usahanya untuk melupakan wanita itu.
Perlahan, Ameer mulai tertidur. Tidur yang begitu nyenyak hingga instrumen yang Jhony ciptakan malam itu kini menjadi instrumen tidur yang menenangkan baginya.
🌷🌷🌷
Pagi pun mulai menyambut dengan begitu cerah, membawa semangat ke hati para pemuda-pemudi untuk dapat kembali mengejar mimpinya.
Rabiah dan Rahul kini tiba di kampus bersama, berjalan melewati halaman yang sama namun berpisah di ujung jalan karena perbedaan jurusan.
__ADS_1
Rahul sejenak berbalik menatap Rabiah yang kini semakin menjauh, lalu pergi ke sebuah tempat sepi untuk bertemu dengan temannya dari jurusan IT.
"Bagaimana? Apa kamu telah menemukan dalang dari penyebar berita sampah itu?" tanya Rahul dengan suara pelan.
"Iya, aku telah menemukannya, dan aku telah menelusuri semua tentang orang ini. Namanya Bella, dia adalah mahasiswa jurusan Biologi yang berada di fakultas yang sama dengan adikmu. Dia berasal dari sebuah desa dan dia tinggal di sebuah kos-kosan, jika ku telusuri keluarganya, dia memiliki seorang kakak perempuan, dan kedua orang tuanya tinggal di desa, nama ayahnya Handoko dan nama ibunya Ratih," papar teman Rahul panjang lebar sambil memperlihatkan foto gadis yang bernama Bella bersama keluarga besarnya.
"Baiklah, terima kasih banyak atas bantuanmu bro," ucap Rahul, lalu segera pergi ke fakultas adiknya untuk mencari gadis yang bernama Bella itu.
Kini ia berdiri di depan sebuah kelas yang ia duga akan menjadi tempat kuliah Bella pagi ini. Semua mata para gadis memandang kagum ke arah Rahul, pasalnya, baru kali ini Rahul yang memang merupakan mahasiswa teknik arsitektur menginjakkan kakinya di Fakultas Sains.
"Halo, kamu Bella kan?" tanya Rahul saat ia melihat Bella benar-benar hendak masuk ke dalam kelas itu.
"I-iya, ada apa?" tanya Bella sedikit salah tingkah karena di datangi oleh pria tampan pagi-pagi sekali.
"Ciee Bella," goda teman-temannya yang melihat Rahul tersenyum ke arah Bella.
"Aku ingin bicara berdua sama kamu, apa boleh?" tanya Rahul.
"Bolehin aja Bell, kali aja dia mau nembak kamu," bisik teman Bella yang berada di sampingnya.
"Oh, boleh, kamu mau bicara dimana?" tanya Bella sedikit percaya diri.
"Ikuti aku," ujar Rahul lalu pergi dan di ikuti Bella yang berjalan di sampingnya.
"Ya ampun, mimpi apa Bella semalam yah guys, pagi-pagi gini udah di tingguin sama cowok yang gantengnya paripurna gitu," celetuk salah satu teman Bella.
"Iya, ganteng banget cowok itu, tapi nggak heran sih, Bella kan juga cantik, jadi cocoklah mereka," timpal temannya yang lain.
Sementara itu, Rahul masih saja berjalan ke sebuah lorong yang sepi.
"Kita bicara disini saja," ujar Rahul lalu berbalik menghadap ke arah Bella.
"Baiklah, katakan apa yang ingin kamu bicarakan," ucap Bella sedikit tersenyum salah tingkah.
"Aku tidak akan basa-basi, aku ingin kamu segera menghapus berita mengenai Rabiah dan membuat permintaan maaf atas berita hoax yang telah kamu sebarkan di grup kampus kemarin," seru Rahul dengan wajah serius, membuat senyum di wajah Bella seketika sirna tak berbekas.
"A-apa maksudmu? Aku tidak melakukannya," elak Bella sedikit gugup.
__ADS_1
"Kamu jangan mengelak, aku tahu itu semua ulah kamu kan, aku punya bukti jika kamu yang melakukannya, aku bisa saja menuntutmu atas dasar pelanggaran ITE karena telah mengambil dan menyebarkan foto tanpa izin, dan menyebarkan berita hoax, dan satu lagi, aku juga bisa menuntutmu atas pencemaran nama baik," tegas Rahul, membuat tubuh Bella seketika bergetar, apalagi saat melihat sorot mata Rahul yang penuh akan kemarahan.
-Bersambung-