Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
DIA CALON ISTRIKU


__ADS_3

Sebuah mobil melaju membelah padatnya jalanan di siang hari yang terik. Rahul dan Rahil yang barusan bertemu kini bagaikan sekelompok ibu-ibu lambe yang datang dengan membawa berita teraktual. Sejak bertemu di bandara hingga berada di mobil saat ini, mereka tidak henti-hentinya bercerita.


Beda dengan saudara kembar wanita mereka yang sejak tadi lebih banyak diam, entah apa yang dipikirkannya. Namun sebagai sahabat, Khadijah yang duduk di samping Rabiah saat ini bisa merasakan bahwa ada yang tidak beres dari sahabatnya itu.


"Biah, kamu kenapa?"


Rabiah yang sejak tadi menatap kosong ke arah luar jendela akhirnya menoleh ke arah Khadijah.


"Aku juga nggak tahu, hatiku kayak nggak nyaman,"


"Kok bisa? Memangnya sejak kapan?"


"Entahlah, aku bingung."


Rabiah tidak bisa memungkiri bahwa hatinya mulai merasa tidak nyaman setelah melihat seorang wanita menghampiri Ameer di bandara. Berbagai pertanyaan seputar wanita itu hingga hubungan di antara Ameer dan wanita itu seolah berputar-putar di dalam pikirannya. Hanya saja, akalnya menolak semua perasaan itu, ia berdalih bahwa perasaannya kepada Ameer sudah tidak ada sebab ia sudah pernah menikah dan mencintai Kamil sebelumnya.


Peraduan antara hati dan akal Rabiah pada akhirnya membuatnya merasa gelisah tidak menentu.


"Kita singgah makan di restorannya paman Wildan yah, aku laper," usul Rahul.


"Oke bro, kebetulan aku merindukan makanan di sana," ujar Rahil.


"Khadijah, kita singgah makan yah, kamu mau kan?" tanya Rahul dengan lembut.


"Boleh kak," jawab Khadijah tersenyum malu.


"Udah nikah kok masih panggil nama, paggil ayang kek, darling kek, honey kek," celetuk Rahil.


"Huss, yang jomblo diam, nanti kalau udah beristri baru kamu yang praktekkan," seloroh Rahul, membuat Rahil mendengus.


Tidak terasa, mobil mereka kini telah sampai di restoran X. Mereka berjalan bersama, memasuki restoran itu.


"Assalamu 'alaikum," sapa Ameer yang kebetulan berpapasan dengan Rahul dan Rahil saat baru saja selesai berbicara dengan ayahnya mengenai maksud kedatangan Niana.


"Wa'alaikum salam, eh bang Ameer ada disini juga," ucap Rahil.


"Iya, kebetulan aku lagi penelitian disini, oh iya kalian mau makan siang kan? Nah, sekalian aja kita makan bareng di sana, aku yang traktir," ujar Ameer sambil menunjuk sebuah meja panjang yang berada di sudut ruangan dekat jendela, dan disana sudah duduk Jhony dan Niana.


"Wih, makasih banyak kak, dengan senang hati," ucap Rahul.

__ADS_1


Mereka kini menghampiri meja itu, sementara Rabiah yang sejak tadi diam kini kembali melihat wanita yang tadi berada di bandara bersama Ameer. Dan ia menyadari bahwa saat ini ada pria lain yang menemani wanita itu selain Ameer.


"Ternyata kak Ameer tidak berduaan dengan kakak wanita ini," batin Rabiah merasa lega.


Sambil menunggu makanan istimewa pesanan Ameer datang, mereka berbincang-bincang satu sama lain.


"Jhon, tukeran dulu yuk," ujar Niana kepada Jhony yang duduk di samping Ameer.


"Memangnya kenapa?"


"Aku ingin berbicara sebentar dengan Ameer,"


"Oh ya sudah." Jhony kini beranjak dari duduknya dan bertukar tempat dengan Niana.


Niana kini duduk tepat disamping Ameer, sambil mengeluarkan selembar kertas.


"Ameer, ..........." Niana mulai menanyakan pertimbangan Ameer mengenai beberapa contoh pertanyaan yang akan ia ajukan nanti ke Wildan selaku pemilik restoran.


Ameer cukup merasa risih karena jaraknya yang cukup dekat dengan Niana, namun ia tetap harus menjelaskan dan memberikan masukannya kepada Niana, meski saat berbicara, Ameer tidak pernah melihat ke arah Niana.


Rabiah tentu melihat pemandangan yang berada tepat di hadapannya, entah kenapa hatinya terasa panas dan tidak nyaman.


Sementara Ameer yang sejak tadi menunduk seketika mengangkat wajahnya melihat raut wajah Rabiah yang sedikit kusut.


Kini Rabiah telah berada di hadapan cermin di dalam toilet, ia menatap lekat wajahnya yang terpampang jelas di dalam cermin.


"Ada apa denganku? Kenapa perasaanku tidak nyaman seperti ini? Bukankah kemarin aku sudah melepas perasaanku padanya? Lalu kenapa sekarang perasaan itu seperti muncul kembali?" batin Rabiah bertanya pada dirinya sendiri.


Cukup lama ia diam di depan cermin sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Perlahan Rabiah melepaskan kedua tangan yang menutupi wajahnya lalu menarik napas, dan menghembuskannya perlahan, "tenanglah Biah, tenang," gumamnya sambil meraih tas kecilnya dan langsung keluar dari toilet.


"Biah," panggil seorang pria dari belakang, membuat Rabiah langsung menoleh.


"Mas Kamil," lirihnya terkejut.


"Biah, bagaimana kabarmu?" tanya Kamil sambil berjalan mendekati Rabiah.


"Baik, ada apa mas?" tanya Rabiah tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Apa mas harus membuat alasan dulu saat ingin bertemu denganmu?" tanya Kamil.


"Iya, karena kita sudah tidak memiliki urusan apa-apa lagi," jawab Rabiah.


"Tapi Biah, mas sangat merindukan kamu, sudah lama mas ingin bertemu denganmu tapi begitu sulit, dan akhirnya secara kebetulan kita bertemu disini."


Rabiah bergeming sejenak, "jika tidak ada yang begitu penting aku mau kembali," ucap Rabiah lalu hendak melangkah namun terhenti saat Kamil memegang pergelangan tangannya.


"Mas lepaskan aku, kita bukan mahram lagi," tegas Rabiah hendak menarik tangannya namun cengkaraman tangan Kamil begitu kuat.


"Tidak Biah, walau bagaimanapun mas tetap masih berhak atas kamu, jadi jangan tinggalkan mas dulu, mas ingin bicara sama kamu,"


"Apa lagi yang ingin mas bicarakan?" tanya Rabiah masih berusaha melepas tangannya dari Kamil.


"Biah tenanglah dulu, mas hanya ingin menikahimu lagi, kita sama-sama memulai dari 0, mas janji akan memperlakukanmu dengan adil dan penuh kasih sayang,"


Rabiah sejenak tersenyum getir, "Maaf mas, Biah nggak bisa, Biah udah punya jalan hidup sendiri, Biah harap mas hidup bahagia bersama mbak Rani," ucap Biah hendak kembali menarik tangannya, namun Kamil benar-benar tidak ingin melepaskan tangan Rabiah.


"Tolong mas, lepasin tangan Biah," pinta Rabiah. Rasa takut jika Kamil nekat melakukan sesuatu yang berbahaya seketika menyeruak masuk ke dalam pikirannya.


"Lepaskan tangan Rabiah," tegas seorang pria yang kini berjalan menghampiri Kamil dan Rabiah.


"Kak Ameer," lirih Rabiah.


"Kamu lagi, siapa kamu selalu ikut mencampuri urusanku dan Rabiah?" desis Kamil yang kesal dengan kedatangan Ameer.


"Namaku Ameer, aku berhak mencampuri urusan Biah karena dia calon istriku," tegas Ameer dengan tatapan tajamnya ke arah Kamil lalu melepaskan tangan Kamil yang masih mencengkram tangan Rabiah.


Mata Rabiah seketika membola mendengar jawaban Ameer yang kini memposisikan tubuhnya di depan Rabiah untuk menghalangi Kamil jika ingin menyakiti Rabiah.


"Apa?" tidak mungkin, Rabiah itu masih mencintaiku, tidak mungkin dia menikah dalam waktu dekat ini." sanggah Kamil penuh percaya diri.


"Itu dulu saat Biah masih menjadi istrimu, sekarang kalian sudah pisah. Jangan menganggap remeh perasaan seseorang yang dulu mencintaimu, perasaan seseorang bisa saja berubah arah hanya dalam waktu singkat. Jangankan besok, detik ini saja jika Allah berkehendak maka perasaan itu bisa langsung berubah atau hilang tak berbekas."


Kamil kini bergeming sambil merenungi perkataan Ameer.


"Satu hal lagi, hargai kehadiran istrimu saat ini dengan tidak lagi mengejar wanita lain, karena kamu bisa lebih merasakan sakit dan penyesalan mendalam jika dia yang saat ini masih bertahan di sisimu tiba-tiba memutuskan untuk pergi meninggalkanmu."


Setelah mengatakan itu, Ameer langsung pergi sambil menarik tas Rabiah agar Rabiah ikut bersamanya meninggalkan Kamil yang masih diam mematung di tempatnya.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2