Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
MENIKAHI BIAH?


__ADS_3

Hari kini semakin gelap, hamparan bintang yang berkelap-kelip turut menerangi malam itu. Namun tidak mampu menerangi hati seorang pria yang telah kehilangan asa.


Niat hati ingin mengajak wanita terkasih rujuk, namun justru penolakan yang ia terima, jika sudah seperti ini, menyesal pun sudah tidak berguna lagi. Datang membawa harapan, pulang membawa penyesalan, itulah yang di rasakan Kamil saat ini.


Kamil membawa mobilnya melaju begitu cepat membelah jalanan yang masih tampak ramai akan kendaraan. Rasa sesak di dadanya begitu menyiksa hingga membuat Kamil memutuskan untuk menepikan sejenak mobilnya.


Bagaikan kantong yang sudah terisi full dengan air, mata Kamil terasa berat dan panas, kini ia menangis sejadi-jadinya di dalam mobil, melepaskan semua rasa yang sejak tadi menyiksa dirinya. Marah, menyesal, kecewa, sedih semua berkumpul jadi satu.


Menangislah jika itu dapat mengurangi beban yang bersarang di hati. Tak peduli pria ataupun wanita, anak-anak atau orang dewasa, sebab sejatinya manusia di ciptakan memiliki perasaan yang perlu di salurkan agar tidak menyiksa batin pada akhirnya.


Setelah merasa cukup tenang, Kamil mengeluarkan sebuah amlop yang tadi sempat ia simpan di dalam jasnya, surat dari pengadilan agama yang berisi persetujuan cerai. Perlahan ia menarik napas dan membuangnya, tangannya kemudian bergerak mengambil pulpen, ia tak memiliki pilihan lagi selain membubuhkan tanda tangannya pada surat itu.


Kini Kamil kembali melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah, dimana Rani telah menunggunya.


"Kamu sudah pulang mas," sambut Rani dengan senyuman terbaik seperti biasa meski Kamil tidak terlalu menanggapinya. Rani jelas tahu, perubahan sikap Kamil yang tidak pernah lagi tersenyum itu bermula semenjak ia menceraikan Rabiah, bagaimana pun usahanya menghibur sang suami, semua itu seolah tidak berefek pada Kamil.


Dulu saat masih bersama Rabiah, meski ia tidak selalu bersama Kamil, namun Kamil masih bisa tersenyum dan tertawa bersamanya. Tapi, setelah berpisah dari Rabiah, kini ia bisa selalu bersama Kamil namun tidak dengan senyum dan canda tawanya. Itu membuat Rani merindukan sosok Kamil yang dulu.


🌷🌷🌷


Tidak terasa satu bulan telah berlalu. Hari ini merupakan sidang perceraian terakhir Rabiah dan Kamil setelah sebelumnya melalui tahap sidang mediasi. Dan hakim telah memutuskan bahwa pada hari ini, Rabiah dan Kamil telah resmi bercerai dan bukan lagi pasangan suamu istri.


Rasa lega dan bahagia tak mampu di tutupi oleh orang tua Rabiah, yah bagi mereka ini adalah jalan yang terbaik daripada Rabiah harus hidup sebagai istri kedua yang selalu serba salah.


Rabiah dan kedua orang tuanya kini hendak kembali ke mobil, namun di tengah jalan, ada seseorang yang menarik tangan Rabiah tanpa sepengetahuan Yusuf dan Yasmin.


"Siapa kamu? Tolong lepaskan aku," ucap Rabiah membuat langkah wanita di depannya terhenti dan langsung berbalik ke arahnya.


"Mbak Rani?" ucap Rabiah saat melihat sosok wanita berambut pirang yang begitu cantik dengan perut buncit di hadapannya.


"Rabiah, apa tidak ada cara lain agar kamu bisa rujuk dengan mas Kamil? Dia benar-benar tersiksa jauh dari kamu Biah,"


"Kenapa mbak tiba-tiba minta Biah rujuk? Bukankah melihat Biah dan mas Kamil bercerai adalah keinginan mbak sendiri?" ucap Rabiah setelah di beritahu oleh Rahul bahwa Bella adalah adik Rani.


"Tapi Biah, semenjak pisah dari kamu, mas Kamil tidak pernah lagi tersenyum, dan dia banyak diam,"


"Bagaimana pun keadaan mas Kamil sekarang itu menjadi urusan mbak, dan bukan urusan Biah, Biah yakin mas Kamil pasti akan membaik seiring berjalannya waktu," tukas Rabiah tegas.


"Tapi Biah,"


"Maaf mbak, Biah harus pergi sekarang," ucap Rabiah lalu pergi meninggalkan Rani yang terlihat sedikit frutrasi.

__ADS_1


🌷🌷🌷


Malam harinya, untuk membuat Rabiah tetap tersenyum, Yusuf berinisiatif untuk mengadakan acara makan ikan bakar bersama. Tak lupa ia mengundang sahabat karib mereka yaitu Wildan dan Anna untuk ikut bergabung bersama mereka di halaman belakang rumah, dimana di sana sudah di sediakan meja panjang dan kursi untuk tempat mereka makan bersama.


"Assalamu 'alaikum, keluarga WA3 datang dengan membawa percikan kebahagiaan untuk kalian," ujar Wildan sambil merentangkan kedua tangannya saat tiba di halaman belakang bersama Anna dan kedua anaknya.


"Wa'alaikum salam, apaan WA3?" tanya Yusuf.


"Wildan, Anna, Ameer dan Ameerah dong," jelas Wildan.


"Gaya banget, udah tua juga," gumam Yusuf.


"Hei bro, apa kau baru saja mengataiku tua?"


"Stooop, okey, sekarang waktunya kita makan bersama bukan menonton perdebatan kalian," sela Yasmin menengahi kedua pria yang hampir selalu berdebat saat bertemu.


"Yas, bagaimana tadi sidangnya?" tanya Anna penasaran.


"Alhamdulillah, sidangnya berjalan lancar, Rabiah sudah resmi bercerai saat ini," jawab Yasmin.


"Alhamdulillah, itu lebih baik untuk Rabiah dari pada menjalani rumah tangga yang hanya menyakitinya," ujar Anna sangat bersyukur, begitupun Ameer yang sejak tadi mengucapakan alhamdulillah dalam hatinya. Hatinya terasa begitu lega karena kini ia memiliki kesempatan untuk menikahi Rabiah, wanita yang sangat ia cintai sejak dulu sampai sekarang.


"Ngomong, ngomong Rabiah, Rahul dan Rayhan dimana?" tanya Anna lagi.


Ameer yang sejak tadi diam ikut menoleh ke arah mereka yang kini sudah berada di sampingnya.


Rabiah yang sejak tadi menunduk sama, sekali tidak menyadari kehadiran Ameer. Ia mengira Ameer telah kembali ke Singapura untuk kuliah.


Semua orang kini sudah berkumpul untuk memulai acara bakar-bakar ikan kesukaan Rabiah. Rabiah yang melihat Yasmin tampak sibuk dengan tempat pembakaran akhirnya menghampiri sang ibu.


"Ummi, biar Biah yang bakar ikannya, ummi duduk saja di sana," ujar Rabiah sambil mengambil alih tempat Yasmin.


"Memangnya nggak apa-apa? Mau di temenin nggak?" tanya Yasmin.


"Nggak perlu ummi, Biah bisa sendiri kok."


"Baiklah sayang, kalau butuh bantuan, panggil ummi yah?" ujar Yasmin dan di jawab anggukan oleh Rabiah.


Yasmin lalu pergi ke meja untuk ikut bergabung bersama yang lainnya. Yusuf yang kebetulan duduk berhadapan dengan Ameer tidak sengaja melihat Ameer mencuri pandang ke arah Rabiah.


Senyuman tipis seketika terukir di wajah Yusuf. "Ameer coba kamu cek di sana, apa sudah ada ikan yang matang," ucapnya.

__ADS_1


Meski sedikit bingung, Ameer menuruti perkataan uncle nya itu, tak lupa ia membawa piring sebagai tempat untuk ikan yang telah matang. Dengan langkah berat dan jantung yang berdegup kencang, Ameer memberanikan diri untuk mendekat ke arah Rabiah.


"Biah," ucapnya menahan rasa gugup yang menjalar di sekujur tubuhnya.


"Eh kak Ameer masih di Jakarta ternyata, Biah kira kakak sudah kembali ke Singapura," ujar Rabiah berusaha terlihat santai meski nyatanya tidak.


"Kakak sedang penelitian disini, oh iya apa sudah ada ikan yang matang?"


"Belum kak, tapi bentar lagi kok, di tunggu yah," jawab Rabiah sedikit tersenyum.?


Hening sejenak di antara Ameer dan Rabiah.


"Biah,"


"Kak Ameer," ucap mereka bersamaan.


"Kamu bicara duluan dek," ujar Ameer cepat.


"Emm begini, sebelumnya Biah mau minta maaf karena sudah mengabaikan pesan kakak waktu itu, Biah punya alasan sendiri kenapa tidak membalasnya," lirih Rabiah.


"Nggak apa-apa, kakak ngerti kok," tukas Ameer dengan suara pelan agar keluarganya tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Kalau boleh tahu, apa yang ingin kakak bicarakan dengan Rabiah saat itu?" tanya Rabiah penasaran.


"Hmm, begini Biah, sebenarnya kakak tidak yakin apa waktunya sudah tepat untuk kakak menyampaikan ini sama kamu, tapi sepertinya itu lebih baik dari pada kakak terlambat lagi."


"Apa itu kak, maksud kakak terlambat apa?"


"Jika kamu merasa apa yang kakak bicarakan ini membuat kamu tidak nyaman, tolong langsung hentikan yah." Rabiah mengangguk menyetujui perkataan Ameer.


"Dulu kakak pernah ingin melamar kamu, tapi Qadarullah, kakak kalah cepat sama mas Kamil." Ameer sejenak menghentikan perkataannya untuk melihat bagaimana respon Rabiah.


"Selama ini kakak berusaha keras melupakan kamu, tapi semuanya sia-sia. Namun saat kakak mendengar kabar perceraian kamu, entah kenapa kakak merasa ada titik terang yang datang menghampiri kakak, tapi bukan berarti kakak senang dengan perceraian kamu, kamu pasti paham maksud kakak kan?" Rabiah mengangguk dengan nafas tercekat mendengar penuturan Ameer.


"Oleh karena itu, kakak ingin kembali menyampaikan niat baik kakak sebelum ada yang mendahului kakak lagi," lanjut Ameer sedikit tersenyum malu.


"Biah, kakak ingin menikahi kamu."


Degh


"Menikahi Biah?"

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2