Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
PERTEMUAN PERTAMA


__ADS_3

Di Singapura


Jhony tampak mengernyitkan alisnya saat melihat Ameer sibuk memotret tangannya sendiri dengan smartphone nya. Malam ini mereka berdua sedang berada di sebuah cafe. Jhony yang sedang galau akibat pertengkarannya dengan sang kekasih, membuatnya mencari ketenangan bersama sang sahabat.


"Ngapain bro? Lagi endorse jam tangan yah?" tanya Jhony.


"Nggak," jawab Ameer singkat karena masih sibuk dengan urusan yang sama sejak tadi.


"Mau pamer urat tangan yah?" tanya Jhony kembali.


"Nggak," jawab Ameer lagi.


"Jadi, yang kamu lakukan saat ini apa?" tanya Jhony kesal karena selalu di beri jawaban singkat oleh Ameer.


"Barusan adikku memintaku mengunggah foto di media sosial pribadiku, katanya media sosialku udah kayak milik mayat, nggak pernah ada feed baru, katanya posting apa saja yang penting itu tentang aku," terang Ameer.


"Iya, lalu kenapa malah tangan? Kenapa bukan wajahmu yang di foto?" tanya Jhony heran.


"Aku nggak suka berfoto yang menampakkan wajahku, daripada kaki yang aku foto, mending tangan kan," jelas Ameer, membuat Jhony hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Up to you, aku nggak mau banyak pikiran," ujar Jhony.


"Kamu kenapa bro?" tanya Ameer setelah ia berhasil bengunggah foto tangan yang menurutnya paling apik.


"Aku lagi bertengkar nih, masa hanya karena beda warna sedikit saja, Valen langsung marah," gerutu Jhony.


"Maksud kamu gimana?" tanya Ameer bingung.


"Gini, tadi si Valen pesan baju kaos warna hijau lime ke aku, pesannya banyak lagi, katanya mau di pake sama teman-teman gengnya gitu, terus aku belikanlah dia baju kaos warna hijau, eh dia malah marah, katanya baju yang aku beli itu hijau pine bukan hijau lime, ya ampun, pusing sekali, padahalkan udah benar warna hijau," tutur Jhony sembari memijit pelipisnya.


"Ya memang salah kamu lah, dia kan pesan hijau lime, ingat lime, bukan pine," celetuk Ameer.


"Ya mana ku tahu, ku pikir semua hijau itu sama," sungut Jhony.

__ADS_1


"Kayaknya warna di mata pria dan wanita memang beda yah, kalau pria menyebut kata hijau, maka yang ada di dalam pikiran mereka itu kayak gini



tapi kalau wanita yang menyebut kata hijau, maka yang muncul dalam pikiran mereka itu kayak gini." Ameer memperlihatkan warna itu kepada Jhony.



"Nah, betul itu, pusing kepalaku," timpal Jhony.


"Itulah wanita Jhon, penuh warna, jika kamu arahkan pada tempat yang baik, maka dia akan mewarnai hidupmu, namun jika kamu arahkan pada tempat yang buruk, maka jangan salahkan jika hidupmu gelap, membosankan, dan tidak berwarna," tukas Ameer dan di setujui oleh Jhony.


🌷🌷🌷


Di Indonesia


Hari ini, Rabiah pulang lebih awal karena dosennya sedang berhalangan. Jadwal kuliah yang seharusnya berakhir pukul 2 siang, kini berakhir lebih cepat. Bahkan Rabiah sudah pulang ke rumah tepat sebelum jam 12 siang.


Rabiah akhirnya memutuskan untuk mulai memasak makanan kesukaan Kamil, kemudian ia masukkan ke dalam kotak makanan dan di masukkan ke dalam tas.


Rabiah mulai berangkat ke perusahaan, meskipun ini pertama kali bagi Rabiah akan menginjakkan kakinya ke perusahaan sang suami, namun tidak sulit bagi Rabiah untuk menemukan lokasi perusahaan Kamil sebab jaraknya yang tidak jauh, di tambah semua supir taksi mengetahui tempat yang memang sangat terkenal itu.


Rabiah berhenti di depan perusahaan dan berjalan masuk menuju tempat resepsionis.


"Permisi mbak, ruangan pak Kamil dimana yah?" tanya Rabiah.


"Maaf, adik ada keperluan apa dengan pak Kamil, apa sudah buat janji?" tanya wanita yang berada di bagian resepsionis itu setelah melihat Rabiah yang masih tampak seperti mahasiswa.


"Saya istrinya mbak, apa istri juga harus membuat janji jika ingin bertemu dengan suaminya?" jawab Rabiah, membuat wanita itu terkejut.


"Jadi adik eh maksud saya nona ini istrinya pak Kamil yah?" Rabiah mengangguk mantap, "ya ampun, maaf yah, kami tidak tahu kalau istri pak Kamil masih sangat muda seperti nona," lanjut wanita itu.


"Nggak papa mba, jadi ruangannya dimana?" tanya Rabiah lagi.

__ADS_1


"Oh iya, ruangan pak Kamil ada di lantai 8, nona bisa langsung ke sana saja,"


Setelah mengucapkan terima kasih, Rabiah langsung pergi menuju ruangan Kamil. Dan kini ia telah berada tepat di depan ruangannya. Suasana di sekitar ruangan Kamil tampak sepi, mungkin karena bertepatan dengan jam makan siang, begitu pikirnya.


Tok tok tok


"Assalamu 'alaikum," ucap Rabiah sambil membuka pintu ruangan Kamil. Namun, matanya seketika terpaku pada seorang wanita berambut pirang yang saat itu sedang berdiri di dekat sofa tempat Kamil duduk.


"Rabiah, kok kamu datang nggak bilang-bilang sayang?" tanya Kamil sedikit gelagapan. Ia benar-benar tidak menyangka kalau siang ini akan menjadi pertemuan pertama kedua istrinya itu.


Rabiah tidak menjawab, ia masuk ke dalam dan langsung mengamati makanan yang telah berada di meja dan tampak berjumlah dua porsi.


"Aku kesini mau bawakan mas makanan, tapi sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat," jawabnya datar sambil melirik ke arah wanita yang ternyata adalah Rani.


"Nggak kok sayang, kamu salah paham, aku memang baru mau makan, aku sengaja memesan dua porsi karena aku sangat lapar, dan ini sekretarisku, dia yang membelikan makanan tadi, aku nggak tahu kalau kamu akan datang membawakan makanan," kilah Kamil panjang lebar, membuat Rani tersenyum kecut.


Rabiah tersenyum miring, "Oh gitu, ya udah, sekalian aku makan makanan yang ini aja, kalau mas masih lapar, mas makan makanan yang aku bawa," jawab Rabiah sambil menunjuk makanan yang berada di dekat Rani.


"Itu ide bagus sayang, aku juga rindu sama masakan kamu," ujar Kamil tersenyum ke arah Rabiah, namun Rabiah bukan anak kecil, ia jelas tahu bahwa senyuman itu bukanlah senyum tulus, melainkan senyuman yang dibuat agar terlihat tulus.


"Kamu boleh keluar," perintah Kamil kepada Rani, membuat Rani terpaksa keluar dengan muka masam.


Rabiah dan Kamil pun mulai makan siang bersama, hingga makanan yang di beli Kamil habis. Namun, Rabiah dengan sengaja kembali menyajikan makanan yang ia bawa di hadapan Kamil.


"Nah, dihabiskan yah mas, kan katanya tadi sangat lapar," ucap Rabiah sambil tersenyum polos.


"I-iya sayang, mas memang saat ini sangat lapar," tutur Kamil lalu mulai menyendokkan kembali makanan yang telah di sediakan Rabiah untuknya.


🌷🌷🌷


Rani yang sudah sangat lapar, akhirnya memutuskan pergi ke kantin perusahaan untuk makan siang. Ia benar-benar tidak menyangka Kamil masih tidak ingin mengakui statusnya di hadapan Rabiah, bahkan Kamil rela mengusirnya demi membuat hati madunya itu merasa nyaman sementara Kamil sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaannya saat itu.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2