Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
SIAPA WANITA ITU?


__ADS_3

Pagi itu, Bella kembali ke kelasnya dengan pikiran kalut, langkah gontainya membawanya sampai ke depan kelas dimana beberapa temannya sudah menunggunya untuk mendengar kabar bahagia dari Bella usai bertemu dengan pria tampan yang tidak lain adalah Rahul.


"Gimana? Kalian jadian?" tanya salah satu temannya dengan begitu antusias.


Namun, bukannya menjawab Bella justru menerobos masuk di antara temannya yang menutupi pintu kelas demi menunggunya. Wajah antusias mereka seketika berubah menjadi wajah bingung.


"Bell, kamu kenapa? Apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya salah satu temannya yang datang menghampiri Bella di mejanya di ikuti teman yang lain sambil mengerumuninya.


"Nggak ada, kami hanya kenalan biasa," bohongnya, padahal mengetahui nama pria yang tadi berbicara dengannya saja ia tidak tahu.


"Wah, aku iri deh, by the way, namanya siapa? Dia dari jurusan mana?" tanya mereka lagi.


"Ish, kepo banget sih, kalian bisa diam nggak sih, kepalaku lagi pusing nih," dumel Bella, membuat teman-temannya yang tadi mengerumuninya langsung bubar dengan wajah kesal.


"Aahh," pekik Bella kemudian lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Ia kembali teringat dengan perkataan terakhir Rahul kepadanya.


"Aku beri kamu waktu satu jam dari sekarang untuk menghapus berita sampahmu itu dan membuat pernyataan klarifikasi sekaligus permintaan maaf kepada Rabiah. Jika lewat dari satu jam dan kamu belum melakukannya, maka siap-siap saja ke kantor polisi usai kuliahmu hari ini berakhir."


🌷🌷🌷


Siang itu usai melaksanakan sholat dzuhur, Rabiah dan Khadijah memutuskan untuk makan siang di kantin. Jika kemarin para mahasiswa yang melihatnya akan menatapnya dengan tatapan merendahkan, kali ini ia merasa semuanya kembali seperti biasa.


Saat mereka duduk-duduk sambil menunggu pesanan makanan mereka tiba, tiba-tiba datang si gondrong cs menghampirinya.


"Hai Rabiah, Khadijah, boleh gabung nggak?" tanya si gondrong.


"Maaf kak, sebaiknya kakak makan di meja yang lain, aku udah nikah, takutnya nanti ada yang salah paham dan kembali menyebarkan berita yang tidak-tidak tentangku," tolak Rabiah secara halus.


"Memangnya kamu belum tahu yah? Berita itu udah di hapus, terus si penyebar beritanya juga udah buat klarifikasi dan permintaan maaf tertulis di web grup mahasiswa," ujar si rambut normal.


"Benarkah?" tanya Khadijah lalu mengambil ponselnya.


"Tapi aku masih penasaran, apa betul kamu is..mmmmppp," ucap si botak yang terpotong saat si gondrong langsung menutup mulutnya dengan tangan.


"Maaf yah Rabiah, kalau gitu kami pergi dulu mencari tempat duduk lain," pamit si gondrong lalu menyeret si botak dengan tangan yang masih menutup rapat mulut si botak.


"Apaan sih lu gon, main nutup mulut gua segala, tangan lu bau tahu," gerutu si botak saat mereka telah duduk agak berjauhan dari Rabiah dan Khadijah.


"Lu itu kalau mau ngomong lihat situasi dulu, masa iya lu mau memastikan kebenaran berita itu, padahal jelas-jelas berita itu hoax," desis si gondrong.

__ADS_1


"Tau nih Ipin, kalaupun beritanya benar, kita nggak ada urusan untuk kepoin dia, ingat lu itu bukan emak berdaster yang keponya sampai ke akar-akar," timpal si rambut normal.


"Iya-iya, emang gua selalu salah," jawab si botak lesu.


Sementara itu, Khadijah yang penasaran dengan perkataan si gondrong langsung memeriksa web tersebut.


"Alhamdulillah, benar Biah, berita itu sudah di hapus, terus dia juga udah minta maaf sama kamu," ujar Khadijah girang.


"Alhamdulillah, kira-kira siapa yah orang ini?" lirih Rabiah sambil membaca isi dari klarifikasi dan permintaan maaf tersebut.


"Entahlah, tapi aneh yah, hanya berselang satu hari orang ini langsung menghapus beritanya dan membuat klarifikasi, apa jangan-jangan ada yang mengancamnya?" selidik Khadijah.


"Kalau memang ada yang mengancamnya, maka aku akan berterima kasih pada orang itu jika saja aku bertemu dengannya." ujar Rabiah.


🌷🌷🌷


"Jhon, kamu kenapa?" tanya Ameer saat melihat Jhony meringkuk di tempat tidur dengan wajah pucat sambil memegangi perutnya.


"Nggak tahu Meer, perutku sakit sekali, kamu bisa nggak temani aku ke dokter? Aku khawatir usus buntuku kambuh," lirih Jhony.


"Memangnya kamu punya riwayat usus buntu?" tanya Ameer.


"Iya, dulu saat masih remaja, aku pernah mengalami gejala serupa, sakit di bagian perut kanan bawah, kata dokter waktu itu aku mengalami gejala usus buntu, tapi syukur karena penyakit itu sembuh tanpa melalui operasi," jawab Jhony.


"Loh, Jhony kenapa?" tanya Anna yang melihat Ameer memapah tubuh Jhony hendak keluar rumah.


"Jhony sakit bu, Ameer akan menemaninya ke rumah sakit dulu," jawab Ameer.


"Oh baiklah, kabari ibu nanti gimana hasilnya yah. Pak Asep ada di luar, kamu minta tolong aja ke dia untuk mengantarmu pakai mobil," ujar Anna.


"Baik bu, kami pergi dulu," pamit Ameer.


Ameer dan Jhony akhirnya pergi ke rumah sakit dengan di antar oleh pak Asep, supir pribadi Anna yang bertugas mengantar jemput Ameerah sekolah.


Setelah menempuh perjalanan 15 menit, mereka akhirnya tiba di sebuah rumah sakit. Sambil menunggu nomor antrian mereka di panggil, Ameer dan Jhony duduk di kursi tunggu terlebih dahulu.


Beberapa saat kemudian, netra Ameer menangkap sosok yang tidak asing di matanya sedang berjalan bersama seorang wanita ke ruang poly obgyn yang tempatnya tidak jauh dari tempat Ameer menunggu. Matanya seketika membelalak saat ia menyadari siapa pria itu.


"Bukankah pria itu suami Rabiah? Lalu siapa wanita itu? Kenapa wanita itu merangkul tangan suami Rabiah dengan begitu mesra?" batin Ameer yang kini dipenuhi oleh deretan pertanyaan seputar suami Rabiah itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Meer? Siapa yang kamu lihat disana?" tanya Jhony saat melihat tatapan serius Ameer tertuju pada ruang pemeriksaan yang bertuliskan poly obgyn.


"Tidak, bukan apa-apa," ujar Ameer tanpa mengalihkan pandangannya dari sebuah ruangan dimana Kamil masuk bersama seorang wanita.


Beberapa menit kemudian, "Jhon, kamu bisa kan menunggu sebentar disini, kalau nomormu dipanggil, kamu tinggal masuk saja, aku ada urusan mendadak sebentar," ucap Ameer saat melihat Kamil keluar dari ruangan itu dengan seorang wanita yang wajahnya kini tampak berseri-seri.


"Baik, aku mengerti," jawab Jhony sembari menganggukkan kepalanya.


Ameer langsung beranjak dari duduknya, perlahan ia mengikuti Kamil dari belakang. Alis Ameer semakin mengerut saat ia melihat Kamil merangkul pinggang wanita di sampingnya sambil mengelus perut wanita itu.


"Yang jelas, wanita ini bukan adiknya apalagi temannya, siapa wanita ini? Jika benar suami Rabiah ini selingkuh, maka aku tidak akan membiarkannya," batin Ameer masih dengan deretan pertanyaan yang membuat jantungnya berdebar-debar.


Tidak terasa, Ameer terus mengikuti Kamil sampai ke luar rumah sakit.


"Permisi," ucap Ameer dari belakang, membuat Kamil dan Rani berbalik.


"Iya? Ada apa?" tanya Kamil, ia memang tidak begitu mengingat wajah Ameer yang dulu menjadi saksi di pernikahannya bersama Rabiah.


"Kamu Kamil kan?" tanya Ameer.


"Iya benar," jawab Kamil.


"Bisa kita bicara empat mata sebentar?" tanya Ameer lagi.


"Kamu siapa?" Kamil balik bertanya sambil mengernyitkan alisnya.


"Saya Ameer, kerabat Rabiah," jawab Ameer, membuat Kamil tertegun sejenak, lalu menyetujui permintaan Ameer.


Kini mereka berada di sebuah tempat sepi, hanya berdua, sementara Rani menunggu di mobil.


"Katakan, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Kamil tanpa basa-basi.


"Siapa wanita itu? Jangan bilang kalau kamu selingkuh di belakang Rabiah," selidik Ameer.


"Maaf, aku tidak serendah itu, sepertinya Rabiah maupun kedua orang tuanya masih merahasiakan keadaan rumah tangga Rabiah," jawab Kamil.


"Apa maksudmu?" Ameer mengernyitkan alisnya.


"Wanita tadi adalah istriku, lebih tepatnya istri pertamaku, dan Rabiah adalah istri keduaku," jawab Kamil, seketika membuat mata Ameer membola.

__ADS_1


"Apa?" Jantung Ameer kembali berdegup kencang kala mengatahui fakta itu.


-Bersambung-


__ADS_2