
Malam yang gelap, tak terlihat bintang dan bulan, semuanya tertutup oleh awan yang berkumpul menutupi langit malam. Sepertinya hujan akan segera turun malam ini, mengantar dingin sampai menusuk batin.
Di kediaman Abdullah. Rabiah, Kamil dan Rani kini duduk bersama di hadapan Abdullah dan Maryam. Tak ada satupun yang berani mengangkat wajahnya untuk menatap mata dua orang yang kini menjadi orang tua mereka.
"Sekarang, jelaskan kepada kami apa yang terjadi!" perintah Abdullah dengan nada tegas.
Kamil mulai membuka suara, ia mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi tanpa ada yang ditutupi. Abdullah yang mendengarkan hanya bisa memijit pangkal hidungnya sambil menutup mata, ada rasa geram di dalam hatinya kepada Kamil karena tidak jujur sejak awal sehingga membuat kedua menantunya menanggung rasa sakit. Sakit karena di madu, dan sakit karena dibohongi.
"Rabiah, apakah orang tuamu sudah tahu perkara ini?" tanya Maryam yang berteman baik dengan Yasmin. Jujur ia merasa malu karena telah membanggakan anaknya di hadapan Yasmin sebagai 'bujang ting ting' waktu itu, namun kenyataannya berbeda.
"Iya ma," jawab Rabiah.
"Bagaimana tanggapannya?" tanya Abdullah cepat.
"Mereka kecewa, tapi mereka menyerahkan keputusan akhir kepada Biah," jawab Rabiah.
"Rani, apa orang tuamu tahu kalau kamu di madu sama Kamil?" tanya Maryam.
"Iya ma, mereka juga sudah tahu," jawab Rani.
"Bagaimana tanggapan mereka?" tanya Maryam.
"Mereka menyerahkan semuanya kepada Rani," jawab Rani.
Abdullah menghembuskan nafasnya kasar, "jika memang seperti itu, jalani rumah tangga kalian dengan baik, dan kamu Kamil, perlakukan istrimu dengan baik dan adil, ayah paling tidak suka ada yang namanya perceraian, di dalam keluarga kita, dari dulu sampai sekarang tidak ada yang namanya kata perceraian, dan kamu jangan pernah merusak itu semua," tegas Abdullah.
"Iya ayah, Kamil akan berusahà keras agar tidak ada kata perceraian dalam rumah tangga Kami," jawab Kamil.
Setelah pembicaraan itu, Kamil, Rabiah dan Rani kini pulang bersama dalam satu mobil, jika tadi Rabiah yang duduk di depan bersama Kamil, kini Rabiah mempersilahkan Rani untuk duduk di depan bersama Kamil.
Selama di perjalanan, tidak ada satupun yang berbicara, semuanya diam dengan pikiran mereka masing-masing.
"Mas, malam ini kamu bermalam di rumah kan?" tanya Rani memecah kesunyian di dalam mobil itu.
"Iya," jawab Kamil singkat.
"Biah, nggak papa kan kalau kamu sendiri malam ini? Kan kemarin mas Kamil sama kamu, apalagi aku lagi mau program hamil, jadi harus sering-sering bareng suami," celoteh Rani dengan santai.
__ADS_1
Rabiah yang mendengar perkataan Rani merasa jantungnya berdegup kencang, ia benar-benar tidak tenang membayangkan dirinya yang kini harus rela berbagi suami dengan wanita selain dirinya, hatinya begitu sakit tiap kali mengingatnya. Tapi bagaimana bisa mbak Rani terlihat biasa saja, seolah berbagi suami bukanlah hal yang sulit baginya, begitu pikirnya.
"Iya mbak," jawab Rabiah kemudian setelah berusaha menahan gejolak hati yang tidak sejalan dengan apa yang ia katakan.
Setelah mengantar Rabiah ke rumah, Kamil dan Rani langsung pergi meninggalkannya sendiri. Rabiah terus saja melihat mobil Kamil hingga hilang di hadapan matanya.
Rabiah beberapa kali menarik napas lalu menghembuskannya untuk menenangkan hatinya, "insya Allah aku akan terbiasa," lirihnya berusaha bersikap positif lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya yang sepi.
🌷🌷🌷
Hari kini berganti lagi, meninggalkan masa lalu dan menjemput masa depan. Seperti biasa, Rabiah akan pergi ke kampus untuk menunaikan kewajibannya sebagai mahasiswa.
Bersama Khadijah, Rabiah berjalan menyusuri koridor kampus, namun ada yang aneh menurutnya. Pagi ini, semua mahasiswa yang berada di dekatnya memandang Rabiah dengan tatapan merendahkan sambil berbisik dengan teman-teman mereka.
Merasa tak melakukan kesalahan, Rabiah berusaha menepis tatapan aneh itu dan terus berjalan bersama Khadijah sampai mereka tiba di dalam kelas mereka. Rabiah pikir, dengan memasuki kelas, ia akan terhindar dari tatapan aneh mahasiswa lain, namun ia salah, bahkan teman sekelasnya pun menatapnya dengan tatapan aneh.
"Khadijah, mereka kenapa sih? Kenapa mereka melihatku seperti itu?" bisik Rabiah.
"Nggak tahu juga tuh, aku juga heran," jawab Khadijah sambil membuka ponselnya. Sesaat kemudian mata Khadijah membelalak, "Astaghfirullah," gumamnya.
"Ada apa Khadijah?" tanya Rabiah.
Rabiah perlahan membaca berita itu yang judulnya Pelakor berkedok istri kedua lengkap dengan fotonya di mall saat memergoki Kamil jalan bersama Rani, dan wajahnya terlihat sangat jelas di sana.
"Astaghfirullah," ucap Rabiah sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tanpa ia sadari air mata mulai memburamkan pandangannya.
"Ada yang tahu siapa yang membuat berita sampah ini?" tanya Khadijah dengan suara yang mulai meninggi.
"Kita nggak tahu, pagi-pagi sekali berita ini sudah masuk di grup," jawab salah satu teman kelasnya.
"Biah, sebaiknya kamu klarifikasi berita ini, agar kami bisa tahu apa berita ini benar atau tidak," ujar teman kelas yang lain.
"Kok kalian gitu sih sama Biah, memangnya kalian nggak percaya sama Rabiah?" tanya Khadijah sedikit kesal.
"Bukannya kami nggak percaya, kami hanya butuh kejelasan saja kok, bener nggak temen-temen?" semua teman kelas Rabiah mengangguk setuju.
"Tapi ka..-" ucapan Khadijah terpotong saat Rabiah memegang pundaknya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menjelaskan secara detail karena ini menyangkut masalah rumah tanggaku, satu yang kalian harus tahu, aku memang istri kedua tapi aku bukan pelakor. Ku harap kalian bisa lebih bijak saat mendapat berita provokatif seperti ini. Jangan menilai sesuatu hanya dari satu sisi, karena masih ada sisi lain yang kalian tidak ketahui," terang Rabiah, membuat semua teman kelasnya terdiam.
"Lalu bagaimana kamu akan menangani masalah berita ini Biah? semua mahasiswa di kampus ini sudah tahu," tanya salah satu temannya.
"Biarkan saja mereka, mulutku hanya satu, aku jelaskan bagaimanapun belum tentu mereka percaya, kata Ali bin Abi Thalib
'Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu'," jelas Rabiah.
"Yang penting kalian sudah tahu dan tidak menghakimi Rabiah, itu sudah cukup," ujar Khadijah menimpali.
"Baiklah, kami mengerti, maaf karena kami sempat berpikiran buruk sama kamu, Biah," terang salah satu temannya.
"Iya nggak papa," balas Rabiah tersenyum.
🌷🌷🌷
Sore hari di bandara, dua orang pria tampan keluar melalui pintu kedatangan bandara.
"Welcome to Indonesia Jhon," ujar Ameer.
"Thanks bro, sudah mengajakku ke negaramu," jawab Jhony. "Sekarang kita akan kemana?" lanjutnya bertanya.
"Kita ke rumahku dulu, aku akan memperkenalkanmu pada kedua orang tuaku," jawab Ameer sambil menahan taksi.
Kini mereka menaiki taksi menuju ke kediaman Wildan dan Anna. Ameer ingin memberikan kejutan kepada kedua orang tuanya yang tidak mengetahui perihal kepulangannya kali ini.
"Maaf nak, sepertinya di depan sana lagi ada demo, kita lewat jalan depan Universitas B saja yah," usul pria paruh baya yang menjadi supir taksi.
"Iya pak, terserah bapak saja bagaimana baiknya," jawab Ameer sambil melihat sekeliling.
Taksi pun berbalik arah menuju ke jalan depan Universitas B. Karena jalan sebelah yang tertutup, makan jalan di depan Universitas B sedikit padat oleh kendaraan, sehingga membuat laju taksi yang di kendarai Kamil sedikit melambat.
Jhony maupun Kamil tidak mempermasalahkan itu karena mereka sendiri sedang menikmati pemandangan di sekitar jalan yang ramai akan mahasiswa yang lalu-lalang di depan kampus.
Beberapa detik kemudian, jantung Ameer berdegup kuat saat ia melihat sosok wanita yang dulu selalu ia doakan di sepertiga malamnya.
"Rabiah," batinnya sambil melihat ke arah Rabiah yang sedang duduk bersama Khadijah di depan gerbang kampus.
__ADS_1
-Bersambung-