
Matahari mulai meninggi, para mahasiswa mulai beristirahat, termasuk Rabiah. Setelah menunaikan sholat dzuhur, ia memilih duduk menyendiri di taman, kali ini Khadijah tidak bersamanya atas permintaan Rabiah sendiri.
"Apa keputusanku pagi tadi sudah benar? kenapa setelah membuat keputusan itu hatiku semakin merasa tidak tenang dan dadaku terasa sesak?" batinnya dengan mata yang berkaca-kaca menatap kosong ke taman bunga yang begitu terawat indah.
Meski terlihat tegar di luar, Rabiah benar-benar sangat rapuh saat ini, ia ingin marah, tapi marah kepada siapa? Mas Kamil? Pria yang sudah membohonginya tapi juga telah menumbuhkan rasa cinta di hatinya, atau mbak Rani? Wanita yang sudah bersandiwara di hadapannya tapi juga telah berbesar hati menerima kehadirannya.
"Apa salahku?" lirihnya lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, punggungnya kembali bergetar. Air mata yang sejak tadi pagi ia tahan saat memberikan keputusan kepada Kamil serasa tumpah ruah detik itu juga. Begitulah Rabiah, sesedih dan sesakit apapun hatinya, ia akan berusaha mengontrol tangisannya di hadapan orang agar tidak berlebihan, ia tak ingin terlihat cengeng dan rapuh meski keadaan sebenarnya sangat berkebalikan, sebab ia hanya manusia biasa, wanita dengan hati yang lembut.
Tidak terasa, jam kuliah pun kembali di mulai, semua mahasiswa kembali masuk ke dalam kelas untuk menerima materi kuliah dari ibu Murni, dosen yang terkenal galak, tapi juga bijak.
Rabiah duduk di samping Khadijah tanpa bersuara sedikitpun, sementara Khadijah yang melihat sahabatnya bersedih hanya bisa diam dan memberikan semangat melalui usapan di punggung tangannya.
Kurang lebih 90 menit Ibu Murni memberikan materi kuliah. Seperti biasa, sebelum mengakhiri kuliahnya, beliau akan memberikan nasehat ataupun kata bijak kepada mahasiswanya.
"Kalian lihat ini? Apa ini?" tanya Ibu Murni sambil memegang dua benda yang sama di tangan kanan dan kirinya.
"Korek gas bu," jawab mahasiswa serempak.
"Betul, sekarang perhatikan! Ibu akan memasukkan korek gas yang satu ini ke dalam sebuah wadah yang bernama kehidupan, lalu ibu akan menyiramnya dengan air satu gelas yang melambangkan masalah di dalam keluarga, seperti masalah antara orang tua atau masalah antara suami dan istri, kemudian ibu menyiramnya lagi dengan air satu gelas yang melambangkan masalah di lingkungan, seperti masalah dari temanmu, masalah dari orang lain yang memandangmu sebelah mata, kemudian ibu menyiramnya lagi dengan air hingga wadah ini full yang melambangkan masalah lain seperti masalah pekerjaan ataupun masalah kuliah. Kalian lihat, meskipun korek gas tadi ibu siram dengan air berkali-kali, tapi korek gas ini tetap mampu naik ke permukaan. Sama halnya seperti manusia yang di terpa banyak masalah, meskipun pada akhirnya kamu berhasil naik ke permukaan atau berhasil melewati masalah itu, tapi coba lihat, dampak dari masalah tadi, korek api ini tidak mampu menyala kembali saat di tekan, kenapa? Karena seperti manusia, masalah yang berat sering kali membuat mental dan semangat seseorang meredup. Lalu bagaimana caranya agar korek ini bisa kembali menyala?" tanya ibu Murni.
Semua mahasiswa terdiam sambil menyimak.
Melihat tidak ada satupun mahasiswa yang menjawab, ibu Murni kembali melanjutkan, "lihatlah ini! Ketika ibu mendekatkan korek lain dengan korek yang tadi tidak mampu menyala kemudian memencet korek ini bersamaan, maka korek yang tadi tidak bisa menyala kini kembali menyala bersama dengan korek yang berada di sebelahnya. Bahkan apinya bisa lebih besar. Ini perumpamaan sahabat atau keluarga yang selalu ada di sampingnya dan memberikan dukungan, bahkan mental dan semangat yang sempat meredup sekalipun dapat pulih kembali berkat semangat dan kasih sayang orang terdekat. Ingat, saat kamu sedang terpuruk, jangan pernah menganggap dirimu sendiri, sebab sesungguhnya masih banyak orang yang sayang dan peduli padamu," terang ibu Murni membuat semua mahasiswa langsung bertepuk tangan setuju dengan nasehat dosennya itu.
__ADS_1
Namun, berbeda dengan Rabiah, ia justru semakin menunduk dengan mata yang mulai kembali berkaca-kaca, ia merasa apa yang di katakan ibu Murni kali ini sesuai dengan keadaannya. Beberapa detik kemudian, sebuah tangan hangat menggenggam tangannya, membuat Rabiah menoleh ke arah pemilik tangan yang tidak lain adalah Khadijah.
"Kamu jangan terpuruk sendiri Biah, aku akan selalu bersamamu, kamu tidak sendiri," lirih Khadijah sambil tersenyum, membuat senyuman perlahan terukir di wajah cantik Rabiah.
"Terima kasih," ucap Rabiah tanpa mengalihkan tatapannya dari sang sahabat.
🌷🌷🌷
Di kantor Kamil.
Siang itu, suasana kantor tampak sedikit heboh dengan cerita-cerita para pegawai setelah Kamil mengumumkan status rumah tangganya yang memiliki dua istri, dimana istri pertama adalah Rani yang tidak lain adalah sekretarisnya sendiri, dan istri kedua adalah Rabiah, gadis belia yang beberapa waktu lalu pernah datang di kantor itu. Ia tidak menjelaskan bagaimana kronologinya untuk menghindari salah paham yang dapat menyudutkan Rani.
Berbagai spekulasi-spekulasi pun mulai menyebar dari mulut ke mulut, namun tidak melalui media sosial, sebab Kamil sendiri telah menegaskan agar berita ini tidak boleh sampai di berita ataupun media sosial lain, hal ini ia lakukan untuk menjaga Rabiah dari pandangan buruk orang di kampus ataupun di lingkungan rumahnya.
Kesalahan Kamil kali ini adalah, ia melupakan kemampuan manusia yang mampu berbagi informasi dalam waktu singkat melebihi kecepatan media sosial. Sehingga mau tidak mau, berita itu langsung sampai di telinga Maryam, ibu Kamil.
Dret dret dret
Suara ponsel Kamil berbunyi beberapa kali saat Kamil sedang memimpin sebuah rapat. Karena tak ingin mengganggu konsentrasinya, Kamil memutuskan untuk mematikan sejenak ponselnya tanpa melihat siapa yang menelfonnya saat ini.
Setelah menyelesaikan meeting yang memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit, Kamil keluar dari ruang meeting diikuti oleh Rani, sekretarisnya. Semua pegawai memandang ke arah pasangan suami istri yang lewat di hadapan mereka dengan berbagai macam pemikiran.
"Andai dari dulu ku tahu bahwa pak Kamil adalah tipe pria yang suka mendua, tentu aku tidak akan mengidolakannya," lirih seorang pegawai wanita kepada temannya yang saat ini sedang membentuk perkumpulan kecil para lambe turah kantoran.
__ADS_1
"Ho'o, padahal dulu aku menganggap pak Kamil itu sempurna seperti namanya, tapi kini dia sendiri yang mematahkan anggapanku itu," timpal pegawai wanita lain.
"Mungkin, kata sempurna itu untuk sempurna dengan dua istri," celetuk pegawai lain dan di angguki oleh yang lainnya.
"Ekhem, kalau kalian sedang kekurangan pekerjaan, noh, di bagian OG masih membutuhkan karyawan, kalian bisa membantu mereka," sela pak Ridwan yang merupakan manager di divisi mereka, membuat perkumpulan pegawai wanita itu langsung bubar tanpa jejak.
Sementara Kamil yang telah berada di ruangannya bersama Rani mulai memeriksa ponselnya. Seketika matanya membola saat melihat pesan yang dikirim oleh Maryam kepadanya.
Mama
"Datanglah malam ini ke rumah, mama dan papa menunggu penjelasan lebih detail. Dan jangan lupa untuk membawa KEDUA ISTRIMU 😡🤬😈👊
Kamil bergidik melihat emot yang dikirim ibunya, itu artinya ibu maupun ayahnya sedang dalam keadaan marah besar kepada Kamil saat ini.
"Astaga, ya ampun," gumam Kamil sambil menjambak rambutnya frustrasi.
"Ada apa mas?" tanya Rani yang heran melihat tingkah suami sekaligus bosnya itu.
"Nanti malam bersiaplah, aku akan membawamu ke rumah orang tuaku, ingat, pakai pakaian yang sopan, mereka benci wanita yang memakai pakaian seksi," ujar Kamil, membuat Rani mengangguk paham lengkap dengan senyum bahagianya.
Setelah hampir satu tahun menikah, akhirnya Rani akan di perkenalkan kepada kedua orang tua suaminya itu.
-Bersambung-
__ADS_1