Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
SAAT SI KEMBAR BERAKSI


__ADS_3

Pagi itu, Rabiah baru saja keluar dari minimarket setelah membeli beberapa masker. Kakinya melangkah dengan pasti ke arah mobil Kamil, namun seketika terhenti tatkala ia mendengar suara seseorang memanggilnya.


"Kak Biah," panggil seorang gadis berseragam SMA Refleks Rabiah menoleh ke arah sumber suara.


"Ameerah, kak Ameer," lirihnya sambil menatap Ameerah dan Ameer bergantian.


"Kak Biah, mau ke kampus yah?" tanya Ameerah dengan senyuman khas yang memperlihatkan lesung pipinya.


"Iya, kamu mau singgah beli sesuatu yah?" tanya Rabiah menahan rasa gugupnya karena ia merasa sejak tadi di tatap oleh Ameer.


"Iya kak, mau beli pulpen dulu," jawab Ameerah. "Kak, sore nanti kita nonton yuk, udah lama kan kita nggak jalan bareng," ajaknya dengan wajah memelas.


"Eh, tapi, anu.." ucapan Rabiah langsung terpotong,


"Ayolah kak, nanti Kak Ameer yang traktir, suami kakak kan sibuk," ucap Ameerah polos membuat Rabiah maupun Ameer seketika membulatkan matanya.


"Ekhem, Ameerah, ya nggak bisa kayak gitu, wanita yang sudah menikah itu tidak boleh keluar dengan orang uang bukan mahramnya, dan tentu saja harus dengan izin suami," sela Ameer.


"Kan Ameerah mahramnya kak Rabiah, jadi apa salahnya?" kilah Ameerah.


"Iya, tapi kakak bukan, kalau Biah tetap pergi bersama kamu dan kakak, kemungkinan bisa memicu timbulnya fitnah," terang Ameer.


"Iya, Ameerah, apa yang di katakan kak Ameer benar, kalau kamu memang mau sekali, kita nonton dirumah abi dan umi saja berdua, kak Ameer nggak usah ikut, iya kan kak?" tanya Rabiah kepada Ameer.


"I-iya, lebih baik begitu," jawab Ameer sedikit terbata-bata karena jantungnya yang seolah tidak bisa bekerja sama dengannya saat ini.


"Hmm, baiklah kalau begitu," jawab Ameerah pasrah.


"Oh iya, Biah duluan yah, suami Biah udah nungguin dari tadi," ujar Biah lalu pergi setelah Ameerah mengangguk paham.


Rabiah akhirnya masuk ke dalam mobil.


"Siapa mereka?" tanya Kamil sedikit ketus karena kesal dengan tatapan Ameer kepada istrinya tadi.


"Oh dia Ameerah dan Ameer..."


"Aku tidak menanyakan nama mereka, mereka itu siapanya kamu?" tanya Kamil penuh selidik.


Rabiah mengerutkan alisnya bingung, "Oh dia anak dari sahabat abi dan ummi, kami sudah sering bersama sejak kecil jadi sudah seperti saudara," terang Rabiah.


"Berarti dia bukan mahram kamu," cetus Kamil.


"Iya, memang bukan, memangnya kenapa mas?" tanya Rabiah.

__ADS_1


"Tidak, sebaiknya kamu jangan dekat-dekat dengan pria itu, aku tidak suka," jawab Kamil masih dengan nada ketus.


"Iya mas," jawab Rabiah lirih.


Kamil mulai melajukan kembali mobilnya menuju kampus Rabiah. Suasana kembali hening.


"Sampai jam berapa kuliah kamu hari ini?" tanya Kamil memecah keheningan yang berlangsung sebentar.


"Jam 3 sore mas," jawab Rabiah.


"Nanti kamu pulang sendiri dulu yah, soalnya mas ada meeting jam segitu, oh iya tolong nanti kamu beresin kamar yang berada di samping kamar kita, pulang kerja nanti mas akan membawa Rani," ujar Kamil, membuat Rabiah terkejut.


"Mas, tapi Rabiah belum memutuskan setuju atau tidak tinggal seatap dengan mbak Rani," protes Rabiah.


"Tapi mas sudah memutuskan, mas nggak tega tinggalin kamu sendiri lagi malam ini dan mas juga nggak tega biarin Rani tinggal sendiri selama hamil muda," tegas Kamil.


"Tapi mas..-"


"Tolong kamu bekerja sama dengan mas, jangan membantah yah, ini demi kebaikan kalian berdua."


"Dan satu lagi, nanti mama dan papa akan datang ke rumah kita untuk makan malam bersama, kamu nggak perlu masak, karena mama sendiri yang akan membawakan kita makanan," lanjut Kamil, membuat Rabiah kini bagaikan patung, lidahnya kelu tak mampu lagi berbicara. Bukannya berdamai, lagi-lagi ia harus kecewa dengan sikap Kamil pagi ini.


Kini Rabiah tiba di kampus, dengan langkah gontai ia berjalan menuju kelasnya. Perasaannya pagi ini benar-benar kacau, ia ingin protes namun percuma, Kamil kini menjelma menjadi suami yang keras dan tak ingin di bantah sama sekali, yah begitulah penilaian Rabiah saat ini terhadap Kamil.


Karena pikirannya yang kacau, membuat Rabiah tidak sengaja menabrak seorang gadis hingga buku yang di bawa gadis itu terjatuh dan berserakan di lantai.


"Kamu Rabiah kan?" tanya gadis itu yang ternyata adalah Bella.


"Iya, kamu mengenalku?" tanya Rabiah berusaha ramah.


"Ya iyalah, siapa yang tidak mengenal pelakor seperti kamu, udah pelakor, punya selingkuhan lagi," sarkas Bella membuat Rabiah mendelik.


"Maaf, kamu siapa? Jangan sembarangan asal tuduh, itu fitnah namanya," ucap Rabiah tak terima.


"Aku nggak fitnah kok, aku melihatmu langsung saat itu di mall, bagaimana kamu berbicara dengan suami dan istri pertamanya," jawab Bella santai.


"Ohh, jadi kamu yang telah menyebarkan berita itu, pantas saja isinya sangat tidak berbobot, rupanya orang yang menyebarkan berita itu adalah orang seperti kamu, pandai berspekulasi sendiri dan minim etika," desis Rabiah, kali ini giliran Bella yang melotot ke arahnya.


"Berani sekali kamu mengatakan aku minim etika, yang minim etika itu kamu, udah punya suami hasil jadi pelakor, dan sekarang malah selingkuh dengan mahasiswa di kampus ini," sungut Bella.


"Selingkuh?" ulang Rabiah dengan alis yang hampir menyatu.


"Biah," panggil Rahul, membuat Rabiah menoleh ke arahnya. "Ini makanan untuk kamu," lanjut Rahul saat sudah berada tepat di samping Rabiah sambil meletakkan sekotak makanan di tangan Rabiah.

__ADS_1


"Wah, kebetulan sekali, pasangan selingkuhan nya udah datang," ujar Bella dengan tatapan merendahkan.


"Pasangan selingkuhan?" lirih Rabiah dan Rahul bersamaan, seketika mereka saling bertatapan sejenak lalu tersenyum penuh arti.


"Makasih atas makanannya yah sayang," ucap Rabiah dengan manja lalu merangkul pinggang Rahul.


"Iya sayang, sama-sama," jawab Rahul lalu mengecup kening Rabiah.


Bella membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya.


"Dasar tidak tahu malu kalian," sarkas Bella yang mulai emosi.


"Kenapa? Mau buat berita lagi? Silahkan, jangan lupa tambahkan nama kami, Rabiah dan Rahul adalah pasangan selingkuh," ujar Rabiah sambil menahan senyum.


"Atau kamu mau foto kami untuk jadi bukti di beritamu? Silahkan foto kami sekarang," timpal Rahul lalu merangkul pundak Rabiah.


Merasa di tantang, Bella mengeluarkan ponselnya lalu memotret Rahul dan Rabiah yang saling merangkul saat ini.


"Aku anggap kali ini kalian memberikan izin kepadaku untuk menyebarkan berita tentang kalian," ucap Bella sambil tersenyum licik sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Rabiah dan Rahul yang sejak tadi menahan tawanya.


"Tos dulu kak," ucap Rabiah lalu mengangkat tangannya dan di sambut oleh Rahul dengan tawanya.


Rabiah dan Rahul kini berjalan bersama, "berani sekali dia memfitnah kamu," lirih Rahul.


"Biarkan saja, dia belum tahu bagaimana rasanya saat si kembar beraksi," ucap Rabiah lalu menatap Rahul yang juga menatapnya. Sesaat kemudian mereka kembali tertawa puas.


🌷🌷🌷


Di tempat lain, Ameer baru saja tiba di rumah setelah mengantar Ameerah ke sekolah.


"Nak Ameer?" ucap seorang wanita paruh baya saat Ameer masuk ke dalam rumah.


Langkah kaki Ameer terhenti saat mendengar namanya di sebut.


"Ameer, kemarilah sebentar sayang," ucap Anna sambil menepuk sofa disampingnya.


Ameer dengan patuh menuruti kata Anna lalu duduk tepat di samping ibunya.


"Nak, perkenalkan, ini ibu Syarifah dan pak Hamid, lalu yang di tengah ini namanya Shafiyah," ujar Anna memperkenalkan tamu yang saat ini berada di hadapannya.


"Masya Allah, ternyata kamu memang sangat tampan yah," ujar ibu Syarifah, membuat Ameer ikut tersenyum tipis.


"Oh iya nak, kedatangan kami kesini ingin memperkenalkan nak Ameer dengan putri bungsu kami ini, jika nak Ameer setuju, kami ingin menikahkan nak Ameer dengan Shafiyah," ujar pak Hamid, "kami tadi sudah berbicara dengan ibu Anna, katanya semua tergantung nak Ameer," lanjutnya.

__ADS_1


Ameer diam sejenak, lalu menoleh ke arah ibunya yang hanya memberikan senyuman tipis kepadanya saat ini. Jujur, ia benar-benar terkejut dengan keadaannya saat ini, dimana ia tiba-tiba ingin di nikahkan dengan seorang gadis yang bahkan tidak ia kenali.


-Bersambung-


__ADS_2