
Di ruang keluarga kediaman Yusuf dan Yasmin. Masih dalam suasana hening, tiba-tiba..
Ctaaak
"Awww, sakit ayah?" ringis Ameer sambil mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Wildan.
"Ngomong kok seenak jidat, sabar napa sih!" dumel Wildan.
"Iya kan seperti kata pepatah, lebih cepat lebih baik," cicit Ameer.
"Iya, tapi nikah juga butuh persiapan bocah, mau langsung nikah-nikah aja, ini tuh nikah beneran, bukan nikah-nikahan, jadi harus di daftar dulu di KUA," tandas Wildan.
"He eleeeh, sok nyeramahin anaknya, dulu kamu kan juga gitu, datang untuk melamar Anna, eh ujung-ujungnya langsung minta nikah," celetuk Yusuf.
"Iya betul sayang, buah kan jatuh tidak jauh dari pohonnya," timpal Yasmin.
"Itu beda yah, aku memang langsung minta nikah karena memang semua persyaratan nikah udah aku penuhin, udah daftar juga di KUA," kilah Wildan tak ingin kalah.
"Yaa tapi kan sama aja, ayah dan anak sama-sama nggak mau nunggu besok," seloroh Yusuf, membuat tawa mereka pecah.
"Eh, memangnya kamu nggak ingat Yus, kamu juga waktu habis lamar Yasmin langsung minta nikah siri kan, kamu lebih parah, untungnya ummi Ulfa dan abi Hasan melarang," ujar Wildan, lagi-lagi mereka semua tertawa, tak terkecuali Ameer dan Rabiah yang baru mengetahui fakta kedua orang tua mereka.
"Hus, sudah sudah, nggak usah berdebat kalau pada dasarnya kalian berdua sama saja," sela Yasmin.
Tawa mereka pun terhenti seketika.
"Oke, sekarang kita akan bahas waktu pernikahan anak kita, dari Ameer minta malam ini, tapi maaf yah, bukannya kami tidak setuju, ini sudah malam, pak penghulunya mungkin sudah tidur, dan lagi jika tidak ada alasan mendesak sebaiknya kalian nikah setelah daftar di KUA, biar langsung clear nggak ada lagi urusan di belakang," jelas Yusuf.
"Betul, lagian kalau kalian nikah malam ini juga, di khawatirkan orang-orang akan berpikiran aneh-aneh karena terkesan mendadak," imbuh Wildan.
"Iya ayah, Ameer ikut kalian saja bagaimana baiknya," ucap Ameer kemudian.
"Oke, kalau kamu udah nggak sabar, bagaimana kalau minggu depan saja?" usul Wildan.
"Emang bisa semua persiapan dan pendaftaran rampung hanya dalam satu minggu?" tanya Yasmin.
"Bisa lah, kamu nggak lihat, aku nikah sama Anna hanya melalui proses persiapan kurang dari satu minggu," ucap Wildan dengan begitu percaya diri.
"Ish, apaan sih bang, udah deh bahas masa lalunya, malu tahu sama anak-anak," sela Anna yang sejak tadi diam.
"Eh, heheh oke sayang, maaf yah," sahut Wildan sambil merangkul wanita yang telah menjadi istrinya selama kurang lebih 25 tahun.
__ADS_1
"Oke, berarti acara nikah Rabiah dan Ameer di laksanakan satu minggu ke depan," ujar Yusuf dan di setujui oleh semua orang.
"Abi, acaranya sederhana saja, Biah agak malu dengan status Biah," cicit Rabiah kemudian, membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam sejenak.
"Kamu nggak perlu malu sayang, tapi terserah kamu saja asal kamu merasa nyaman," ucap Yusuf.
Setelah melalui pembicaraan yang tidak sebentar, akhirnya di peroleh kesepakatan bersama mengenai waktu dan konsep pernikahan Ameer dan Rabiah nantinya.
🌷🌷🌷
Pagi yang begitu cerah, secerah senyuman wanita yang saat ini tengah merasa sangat bahagia setelah semalam ia resmi di lamar oleh pria yang menjadi cinta pertamanya.
"Cieee yang lagi bahagia," goda Khadijah yang mendapati Rabiah tengah senyum sendiri di dapur sambil membantu asisten rumah tangganya memasak.
Hari ini adalah hari minggu, seperti biasa Rabiah akan ikut membantu di dapur jika ia sedang libur, begitupun Khadijah yang ikut membantu Rabiah.
"Eh apaan sih," ucap Rabiah dengan wajah yang merona merah seperti tomat yang sedang di pegangnya saat ini.
"Ya ampun, sampai merah gitu yah wajah kamu." Khadijah mencolek pipi Rabiah dan terkekeh geli.
"Huss, bumil diam deh," ucap Rabiah yang tak ingin di goda sama ibu hamil yang makin hari terlihat makin cantik itu.
"Sayang, kamu disini rupanya," ucap Rahul yang baru saja tiba di dapur setelah lelah berolah raga.
"Tahu aja, makasih sayang." Rahul duduk di kursi sambil meminum air itu hingga tandas.
"Biah, gimana hasil diskusi semalam? Maaf aku nggak ikut gabung, soalnya aku lelah banget kemarin," ujar Rahul.
"Nggak papa kak, santai aja, semuanya juga sudah aman kok," jawab Rabiah.
"Alhamdulillah, akhirnya kalian akan bersatu juga," ucap Rahul dengan penuh syukur.
"Kak Biaaaaah," teriak anak kecil dari ruang keluarga, namun suaranya sangat jelas terdengar sampai di dapur.
"Astaghfirullah, itu anak kumat lagi mode toa masjidnya," gumam Rahul seraya bangkit ingin menghampiri adik bungsunya itu, namun tangannya di cekal oleh Khadijah.
"Biarkan aja kak, namanya juga anak-anak," tutur Khadijah lembut.
"Tapi kebiasaan tahu," ucap Rahul.
"Udah kak, biar Biah aja yang langsung kesana," ucap Rabiah setelah menyelesaikan masakannya.
__ADS_1
"Kenapa dek?" tanya Rabiah setelah tiba di ruang keluarga tempat dimana Rayhan sedang menonton.
"Itu kak, ummi tadi cariin, katanya ada kak Ameer di depan," jawab Rayhan dengan suara yang lebih santai kali ini.
"Kak Ameer?" batin Rabiah, lalu pergi ke kamarnya untuk memakai jilbab terlebih dahulu dan bergegas pergi ke depan rumah, dimana disana sudah ada Yusuf dan Yasmin yang sedang asik bercengkrama dengan Ameer sambil duduk santai di kursi teras rumah.
"Ummi cari Biah?" tanya Biah setelah sampai di teras rumah.
"Iya nak, ini Ameer mau ngajak kamu buat fitting baju pengantin sekalian cari cincin yang pas untuk kamu," tetang Yasmin.
"Cuma berdua?" tanya Rabiah sedikit terkejut.
"Nggak, nanti kalian di temani Rayhan, ummi dan abi ada acara pagi ini jadi belum bisa temenin kalian, maaf yah," ucap Yasmin.
"Iya, ibu dan ayah juga ada acara bersama jadi nggak bisa ikut," imbuh Ameer.
"Oh ya udah, kalau gitu Biah siap-siap dulu," ucap Rabiah.
"Sarapan dulu nak, Ameer ayo kita sarapan sama-sama," ajak Yasmin dan mereka pun masuk ke rumah untuk sarapan bersama.
Satu jam kemudian, kini Rabiah, Ameer dan Rayhan telah tiba di sebuah mall tempat mereka akan membeli cincin nikah.
Rabiah berjalan sambil memegang tangan Rayhan sementara Ameer berjalan di samping Rayhan bagaikan keluarga yang harmonis meski kedua orang itu kadang masih terlihat canggung.
Kini mereka tiba di sebuah toko perhiasan untuk memilih cincin yang cocok untuk Rabiah maupun Ameer.
"Kamu suka yang mana?" tanya Ameer lembut kepada Rabiah.
"Hmm, Biah suka yang ini kak." Rabiah menunjuk sebuah cincin yang tampak sederhana namun elegan dengan dua berlian di atasnya seolah menggambarkan dua cinta yang telah menyatu.
"Gimana?" Rabiah meminta pendapat Ameer.
"Bagus, kakak suka." Ameer mengangguk setuju. Sejujurnya ia ingin mengungkap makna cincin itu dengan maksud menggoda Rabiah namun ia urungkan mengingat ada anak kecil di antara mereka.
Tanpa menunggu lama, mereka akhirnya selesai memilih cincin couple untuk Rabiah dan Ameer. Setelah membayar, Ameer pun mengajak Rabiah dan Rayhan untuk pergi menuju sebuah butik terkenal.
Namun saat di tengah jalan, seorang pria memanggil Rabiah, membuat langkah mereka terhenti dan menoleh ke arah sumber suara.
"Mas Kamil, mbak Rani?" ucap Rabiah, tatkala melihat seorang pria dan wanita yang sedang menggendong bayi yang kira-kira berusia 5 bulan.
"Assalamu 'alaikum, apa kabar Rabiah, Rayhan," ucap Kamil begitu ramah menyapa Rabiah dan Rayhan, namun berbeda dengan Ameer, pria itu justru menatap Ameer yang berada di samping Rahyan dengan tatapan tajam.
__ADS_1
-Bersambung-
Untuk yang penasaran dengan kisah orang tua Ameer dan Rabiah, author udah ceritakan di novel pertama author yang berjudul "Kisah cinta Dua Mutiara".