Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
HARI PERTAMA MENJADI SUAMI ISTRI


__ADS_3

Rabiah terduduk di sebuah ranjang empuk yang ada di sebuah hotel mewah. Hari ini tubuhnya benar-benar lelah. Bagaimana tidak, setelah aqad, ia lanjutkan menjadi ratu sehari dalam acara resepsi yang diadakan disebuah hotel mewah yang ia tempati saat ini.


Suara gemericik air yang terdengar di dalam kamar mandi membuatnya sesekali melirik ke arah kamar mandi dengan perasaan yang bercampur aduk. Ada rasa takut, cemas, malu dan sedih yang terbungkus rapi di dalam hatinya.


Hari ini, di usianya yang ke 18 tahun, Rabiah telah resmi menyandang gelar istri dari seorang pria bernama Muhammad Kamil Abdullah. Rabiah tidak bisa membohongi dirinya. Kamil memang sangatlah tampan, tubuhnya tinggi dan tegap, membuat Kamil terlihat sangat menawan, di tambah kulit putih bersihnya, rahang tegasnya, hidung mancung dan mata indahnya, membuat siapapun yang melihatnya akan langsung jatuh cinta.


Namun tidak dengan Rabiah, hatinya yang telah lebih dulu telah di isi oleh Ameer tidak membuatnya langsung terpesona oleh Kamil. Meski begitu, Rabiah telah bertekad untuk mengubur cinta pertamanya itu dan membuka hati untuk suaminya saat ini.


Ceklek, suara pintu kamar mandi dibuka, keluarlah sosok pria berusia 27 tahun yang kini menjadi suami dari seorang gadis belia bernama Rabiah Al-Hafizhah.


Rasa gugup kian menjalar ke seluruh tubuh Rabiah tatkala Kamil datang menghampiri. Aroma sabun dari suaminya sangat menenangkan. Rambutnya yang masih sedikit basah membuat Kamil terlihat semakin tampan. Meski begitu, Rabiah sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya untuk melihat sosok suami yang ada di hadapannya kali ini.


Perlahan, Kamil duduk tepat di samping Rabiah, “apa kamu gugup?” suara lembut Kamil membuat Rabiah refleks mengangkat wajahnya dan menoleh ke samping menatap sang suami, namun hanya beberapa detik Rabiah kembali menundukkan kepalanya sembari mengangguk lemah.


Kamil yang melihat tingkah malu-malu sang istri ikut tersenyum. “Tidak apa-apa, ini hari pertama kita menjadi suami istri, setelah ini kita akan sama-sama belajar banyak hal, termasuk belajar saling mencintai, jadi aku tidak akan memaksamu untuk memberikan hakku saat ini, aku akan menunggu sampai kamu siap.”


Perasaan lega muncul di hati Rabiah, namun ia juga sedikit terkejut saat mengetahui bahwa ternyata Kamil juga belum mencintainya, tapi tidak heran, sebab memang setelah lamaran, ini pertemuan mereka yang kedua.


Keduanya terdiam beberapa saat, mereka larut dalam kecanggungan yang membuat mereka tidak tahu harus berkata apa, dan berbuat apa.


“Emm.. Apa aku boleh memegang tanganmu?” tanya Kamil memecah keheningan di antara keduanya.

__ADS_1


Dengan wajah yang mulai merona, Rabiah menganggukkan kepalanya pelan. Melihat respon sang istri yang telah memberi izin, Kamil kembali tersenyum. Ia lalu meraih kedua tangan istrinya dengan lembut lalu menempelkannya di bibirnya. Cukup lama ia mengecup tangan Rabiah sambil memejamkan mata. Sementara Rabiah tidak berani menatap lama Kamil, ia hanya bisa mencuri-curi pandang pada suaminya itu sesekali.


“Tidurlah, aku tahu kamu pasti sangat lelah setelah melalui rangkaian acara kita seharian penuh,” ujar Kamil setelah melepas kecupannya lalu naik ke atas tempat tidur dan mengarahkan Rabiah untuk ikut tidur disampingnya.


Kamil sedikit mengerutkan keningnya saat melihat Rabiah hendak tidur dengan menggunakan jilbab, "apa kamu akan tidur dengan jilbabmu di hadapan suamimu, Biah?" tanya Kamil, membuat Biah diam mematung, tak tahu harus berkata apa.


Sungguh karakter Rabiah kali ini sangat mirip dengan Yusuf yang sangat kaku jika berhadapan dengan lawan jenis selain keluarga. Namun bedanya, jika Yusuf tidak begitu kaku dengan istrinya, Rabiah justru sangat kaku dengan suaminya.


Tidak mendapat respon dari Rabiah, Kamil melanjutkan perkataannya, “kamu sudah sah menjadi istriku, maka kamu boleh melepas jilbabmu di hadapanku,” tukas Kamil sebelum membaringkan tubuhnya.


"I-iya mas," jawab Rabiah singkat. 


Meski ada rasa malu bercampur rasa takut, Rabiah perlahan melepaskan jilbab yang sejak tadi ia kenakan, bahkan ia melepas ikatan rambutnya sebagaimana kebiasaannya sebelum tidur saat belum menikah.


Merekapun melewati malam pertama mereka sebagai pengantin baru tanpa melakukan hal-hal apapun yang istimewa seperti pasangan pengantin baru yang lain.


🌷🌷🌷


Di pagi hari, Rabiah baru saja menyelesaikan mandi paginya, namun saat keluar, ia tidak mendapati suaminya di kamar.


Sambil menunggu sang suami, Rabiah merapikan kamarnya. Setelah rapi, barulah ia memakai riasan tipis yang baru ia pelajari tutorialnya beberapa hari yang lalu sebelum menikah, tak lupa ia membaca doa:

__ADS_1


اللَّهُمَّ كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقِي فَحَسِّنْ خُلُقِي


(Alloohumma kamaa hassanta kholqii fahassin khuluqi)


Artinya: "Ya Allah, sebagaimana Engkau baguskan tubuhku, maka baguskanlah akhlakku."


Setelah selesai dengan semua urusannya, Rabiah kembali melihat jam yang ada di ponselnya, pukul 8 pagi, namun belum ada tanda-tanda kedatangan Kamil.


“Kemana perginya mas Kamil yah?” monolog Rabiah sambil duduk di tempat tidur.


🌷🌷🌷


 


Di tempat lain


“Kamu tunggu di rumah saja yah, mungkin selama satu bulan ini, aku akan full bersama Rabiah, apalagi aku dan Rabiah akan melakukan bulan madu dalam waktu dekat ini,” ujar Kamil yang sedang berbicara dengan seseorang di seberang telfon.


(...)


 

__ADS_1


“Baiklah, kalau gitu aku mau kembali ke kamar dulu, mungkin Rabiah sudah menungguku untuk sarapan, kamu jangan lupa sarapan yah, assalamu ‘alaikum.” Kamil lalu mematikan telfonnya dan kembali ke kamarnya.


-Bersambung-


__ADS_2