
Malam yang dingin kini telah tiba, pernikahan Rabiah dan Ameer yang hanya di laksanakan di rumah Yusuf pun akhirnya selesai. Rabiah dan Ameer pun kini telah selesai membersihkan tubuh mereka dan berganti pakaian.
Semua keluarga besar pun kini berkumpul di rumah besar itu, mulai dari nenek sampai cucu. Mereka tengah mengadakan makan malam bersama yang begitu hangat.
Karena jumlah mereka yang cukup banyak, kakek Syawal mengusulkan untuk makan bersama dengan cara lesehan di ruang keluarga dengan membentuk lingkaran. Sungguh malam itu, kehangatan sebuah keluarga besar sangat terasa.
Rabiah pun sangat menikmati makan malam kali ini, sesekali ia ikut tertawa saat mereka saling bersenda gurau dan tertawa bersama. Meski pada akhirnya, lelah tetap saja menghampirinya.
"Ummi, abi, Biah lelah sekali, Biah izin ke kamar duluan yah," ucap Rabiah pelan.
"Iya sayang, istirahatlah," jawab Yasmin lalu memberikan kode kepada Ameer yang duduk di sampingnya untuk menemani Rabiah.
Ameer yang mengerti maksud dari ibu mertuanya itu langsung ikut beranjak dan berjalan menyusul di samping Rabiah.
Mereka berjalan bersama dengan santai, "Biah, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ameer lembut sambil menoleh ke arah Rabiah.
Rabiah menoleh sejenak ke arah pria di sampingnya, kemudian tersenyum malu-malu saat mata mereka saling bertemu.
"Cuma lelah aja kak," jawabnya.
Ameer mengangguk namun matanya seolah tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok wanita di sampingnya yang tampak begitu cantik.
Tangan Ameer perlahan meraih tangan Rabiah lalu menautkan jari-jemarinya dan menggenggamnya erat.
Keduanya kembali saling menatap namun sesaat kemudian keduanya saling tersipu malu.
Kini mereka tiba di kamar, Ameer menuntun Rabiah untuk duduk di samping tempat tidur.
"Istirahat lah, kamu pasti sangat lelah," ucap Ameer lalu memgangkat kaki Rabiah naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya, tak lupa ia menyelimuti sang istri hingga selimut itu menutupi setengah tubuhnya.
"Terima kasih kak," ucap Rabiah.
Ameer kini masuk ke dalam kamar mandi, sejenak Rabiah mendengar suara gemericik air dari dalam sana. Jantungnya berdegup kencang saat ini. Entah kenapa ia merasa begitu gugup. Padahal jelas-jelas malam pertama bukanlah hal yang baru bagi Rabiah.
Ceklek
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Ameer keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut yang sedikit basah karena air wudhu. Namun, sebelum Ameer melihat Rabiah, Rabiah telah lebih dulu menutup matanya, tentu saja hanya pura-pura.
__ADS_1
Rabiah kembali membuka matanya perlahan, di lihatnya pria itu hendak melaksanakan sholat sunnah. Sebelumnya Ameer telah menyelesaikan sholat Isya secara berjamaah bersama keluarga besarnya tadi.
Hati Rabiah terasa sangat sejuk melihat pria itu sholat dengan sangat khusyuk. Seketika ingatannya kembali berputar saat Rahil mengatakan bahwa Ameer sudah mulai menyukainya saat ia masih kecil, tepatnya saat Ameer masih SMP.
Tanpa ia sadari senyuman kembali menghiasi wajahnya saat ini.
"Belum tidur Biah? Tanya Ameer yang baru saja menyelesaikan sholatnya seketika membuat lamunan Rabiah buyar.
"I-ini juga baru mau tidur kak," jawabnya dengan wajah yang memerah bak kepiting rebus.
Melihat wajah Rabiah yang merona merah, Ameer tersenyum lalu ikut naik ke atas tempat tidur. Perlahan ia ikut membaringkan tubuhnya tepat di samping Rabiah menghadap langit-langit kamar. Keduanya tampak diam membeku. Bohong jika jantung Kamil dan Rabiah saat ini baik-baik saja. Sebab yang terdengar oleh mereka saat ini adalah suara degupan jantung mereka masing-masing, bahkan suara bising dari lantai satu tempat keluarganya berkumpul pun tak mampu menutupi suara degupan jantung mereka.
"Biah," panggil Ameer lembut.
"Iya kak?" sahut Rabiah.
"Terima kasih sudah menerima kakak menjadi suami kamu, kamu tahu, ini adalah impian kakak sejak dulu," tutur Ameer masih memandang langit-langit.
Rabiah sejenak menoleh ke arah suaminya, kemudian ikut memandang langit-langit.
"Iya kak, Biah yang harusnya berterima kasih karena kakak mau menerima Biah yang seperti ini," jawabnya.
"Kak, Biah boleh nanya?" Rabiah menoleh ke arah Ameer.
"Nanya apa?" tanya Ameer sambil memiringkan tubuhnya ke arah Rabiah yang jaraknya masih sekitar dua jengkal.
"Sejak kapan kakak mencintai Biah?"
Ameer sejenak tersenyum, "sejak pertama kali kakak mulai mengenal cinta," jawabnya ambigu.
"Maksud kakak?"
"Biah, kamu tahu, mungkin dulu kakak terlalu cepat mengenal yang namanya cinta, bahkan saat kakak masih SMP, lucu juga kalau mengingat masa itu, tapi kakak bersyukur karena cinta itu jatuh kepada kamu,"
"Sejak SMP?"
"Iya, kamu adalah cinta pertama kakak setelah ibu, kamu gadis pertama yang membuat jantung kakak berdebar hebat saat itu, bahkan hingga saat ini."
__ADS_1
"Kenapa kakak tidak pernah bilang?" Rabiah ikut memiringkan tubuhnya ke arah Ameer.
Ameer tersenyum manis, "Biah, kakak hanya ingin menjaga hubungan kita agar selalu berada dalam batas aman, selagi belum halal, kakak tidak ingin mengungkapkan kata cinta karena setan akan selalu mencari celah untuk menggoda manusia bahkan jika celah itu hanya setitik," terang Ameer.
"Saat melamar kamu, kakak berusaha keras untuk tidak mengatakan kata cinta meski saat itu kakak ingin sekali mengatakannya," lanjutnya sambil menatap manik mata indah sang istri.
Rabiah masih diam menyimak.
"Dan karena sekarang kita sudah halal, kakak tidak akan ragu lagi untuk mengatakan itu."
"Aku mencintai kamu Biah, sangat cinta, dari dulu, saat ini, hingga di kehidupan kita selanjutnya, insya Allah."
Mata Rabiah kini tampak berkaca-kaca. Di raihnya tangan Ameer, kemudian ia mengecup tangan suaminya itu dengan lembut.
"Apa kakak tahu? Kakak adalah cinta pertama Biah," ucapnya setelah melepas kecupannya di tangan Ameer.
"Benarkah?" Ameer cukup terkejut dengan ungkapan Rabiah.
Rabiah tersenyum sambil mengangguk pelan. "Tapi rupanya Allah telah mengatur skenario cinta untuk Biah, dan menyiapkan hikmah cinta yang Biah tidak sangka-sangka, Allah memang Maha Baik," ucapnya dengan air mata yang mulai mengalir menuruni hidungnya.
Ameer mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata sang istri dengan begitu lembut.
"Biah, apa boleh kakak memelukmu?" tanya Ameer yang merasa seolah ada magnet di tubuh Rabiah yang sejak tadi menariknya.
Rabiah mengangguk pelan, lengkap dengan senyuman tipis di wajahnya.
Mendapat lampu hijau, Ameer kini mendekatkan tubuhnya ke arah Rabiah dan mengikis jarak di antara mereka, Ameer mengangkat kepala Rabiah pelan lalu memasukkan tangan kanannya di bawah kepala Rabiah untuk di jadikan bantal oleh Rabiah lalu menekuk tangan itu hingga kepala Rabiah kini menempel di dada bidangnya. Sementara tangan kirinya merangkul pinggang Rabiah.
Tak ada lagi jarak di antara mereka, keduanya kini saling merasakan kehangatan di antara mereka saat tangan Rabiah juga membalas pelukan Ameer.
"Jangan bosan mendengar ungkapan cintaku Biah, karena saat bersamamu, lidahku selalu ingin mengungkapkan kata cinta untukmu,"
"Aku mencintaimu Biah, sangat mencintaimu," ucap Ameer lagi lalu mengecup lembut kening Rabiah.
"Biah juga mencintai kakak, sangat mencintai kakak," jawab Rabiah sambil mendongak menatap wajah tampan sang suami.
Kedua netra mereka kembali saling bersirobok, lalu keduanya tersenyum. Ameer kemudian merapatkan keningnya dengan kening Rabiah sambil berbisik.
__ADS_1
"Biah, izinkan kakak malam ini menyatukan cinta kita yang sempat tertunda selama beberapa tahun, bersama meraih ridho Allah dan membangun mahligai cinta di jalan Allah."
-Bersambung-