
Apa dia gadis yang kamu maksud dalam mimpimu kemarin nak? Jika memang benar, segera lamar dia," ucap Anna tegas dan di angguki oleh Wildan dan Ameerah.
"Eh, bukan bu.. bukan dia yang ada di dalam mimpi Ameer, lagi pula dia hanya teman Ameer. Insya Allah jika sudah waktunya, Ameer akan memberitahukan siapa wanita yang berada di dalam mimpi Ameer.
"Baiklah, segera kabari kami yah sayang, ibu tidak sabar ingin melihatmu menikah," ujar Anna lalu mengembalikan ponsel Ameer.
"Iya bu, insya Allah."
🌷🌷🌷
Waktu kian berlalu begitu cepat, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, hingga tidak terasa dua bulan sudah Rabiah menghabiskan hari-harinya di Makassar, mengobati luka dan menenangkan pikiran yang cukup membuatnya terpuruk selama beberapa minggu di dalam kamarnya.
Cukup banyak perubahan yang dirasakan Rabiah, ia tidak lagi terlalu memikirkan Kamil seperti saat awal-awal cerai. Memang benar kata orang, terlalu membebani pikiran dengan cinta yang menyakitkan hanya akan membuat hati semakin terluka dan pikiran menjadi kacau. Sebaliknya, terlalu berusaha melupakan juga hanya akan menambah daya ingat akan cinta yang menyakitkan itu.
Jadi jangan heran jika seseorang yang berusaha melupakan justru akan mendapatkan hasil yang sebaliknya. Cukup jalani semuanya dengan hati yang lapang, yakinkan pada hati bahwa semua akan berubah seiring berjalannya waktu.
Selama dua bulan di Makassar, Rahil selalu membawa Rabiah jalan-jalan, entah itu ke tempat wisata, atau hanya sekedar makan angin di kota Makassar.
Lalu bagaimana dengan Putra, tentu saja pria dewasa itu selalu berusaha mendekatinya, bahkan ia sampai nekat datang ke rumah kakek neneknya hanya untuk mengambil hati keluarga Rabiah, meski pada dasarnya ia belum berani mengungkapkan ketertarikannya pada Rabiah saat itu dengan alasan terlalu cepat.
Seperti saat ini, Putra datang kembali ke rumah kakek Syawal, namun bukan untuk mengambil hati keluarga lagi, melainkan ingin bertemu dengan Rabiah secara khusus.
"Biah, ada yang ingin bertemu sama kamu nak," ucap nenek Hafsyah sambil mengetuk pintu kamar Rabiah, kamar yang dulunya merupakan kamar Yasminbyang tidak lain adalah umminya.
"Siapa nek?" tanya Rabiah setelah membuka pintu kamarnya.
"Putra nak, dia ingin bicara secara empat mata denganmu," jawab nenek Hafsah.
Rabiah membuang napas kasar, ia benar-benar tidak menyangka jika pria itu benar-benar gigih mendekatinya, Rabiah bukan lah anak kecil, dan ia sudah memiliki cukup pengalaman untuk mendeteksi ketertarikan pria seperti Putra yang selalu mendekatinya dengan berbagai alasan, meski Putra sendiri belum mengatakannya secara gamblang.
Rabiah memang tidak pernah mengatakan statusnya yang sebenarnya, begitu pun Rahil. Bagi mereka, selama orang yang datang kepadanya bukan untuk menikahinya atau mengungkapkan perasaannya, maka status Rabiah tidak perlu di umbar.
Setelah memakai gamis dan jilbabnya, Rabiah berjalan ke arah ruang tamu, dimana Putra sedang duduk menantinya sambil menyeruput secangkir teh yang telah dihidangkan sebelumnya oleh nenek Hafsah.
"Kak Putra, ada apa kak?" tanya Rabiah sembari mendaratkan bokongnya di sofa yang berhadapan dengan Putra.
"Rabiah, begini,.." ucap Putra sedikit gugup, kakinya sejak tadi tidak berhenti bergoyang. Meski ini bukan pertama kalinya ia berbicara serius dengan wanita, namun entah kenapa, di hadapan Rabiah, dirinya menjadi begitu gugup bagaikan remaja yang baru pertama kali merasakan kasmaran.
"Begini,.." lagi-lagi ucapannya terputus karena begitu gugup.
Sementara Rabiah masih menunggu apa yang akan di katakan Putra sambil menunduk, sesekali ia melihat Putra yang tampak begitu kaku saat ini.-4Å•
"Begini Rabiah, sebenarnya kedatangan saya kemari ingin melamar kamu menjadi istri saya, karena jujur sejak awal kita bertemu, saya sudah jatuh hati sama kamu dek, saya yakin kamu tipe wanita yang menjaga diri dan tidak menjalin hubungan asmara diluar ikatan pernikahan, jadi alih-alih mengajakmu pacaran, saya ingin langsung mengajak kamu menikah," tutur Putra dengan begitu tulus.
Rabiah sejenak menahan napas saat mendengar kejujuran dan niat baik Putra, ia benar-benar bimbang dengan pengakuan Putra hari ini.
"Kak, maafkan Biah, Biah tidak bisa menerima ajakan baik kakak," cicit Rabiah menunduk.
"Apa alasannya dek?"
"Hmm, begini kak, Biah merasa tidak pantas, Biah bukan lagi gadis seperti yang kakak kira, Biah ini seorang janda,"
"Apa? Janda?" lalu Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya sejak awal dek?"
"Maaf kak, bukannya Biah tidak ingin jujur sama kakak, Biah hanya tidak ingin mengumbarnya jika Biah rasa itu tidak penting."
Putra terdiam sejenak, jujur ia edikit kecewa dengan status Rabiah, namun hati kecilnya tidak ingin mempermasalahkan itu.
"Jika saya mengatakan bahwa saya tetap menerima status kamu, apa kamu mau menerima lamaran saya?" tanya Putra kemudian.
Rabiah tertunduk, ia sangat merasa tidak enak pada Putra saat ini, sejenak ia berpikir agar ia bisa memberikan jawaban yang tidak menyakiti hati pria itu.
"Maaf kak, semoga kakak di pertemukan dengan gadis lain yang lebih baik," jawab Rabiah kemudian.
__ADS_1
Putra seketika terdiam, ia jelas paham apa maksud dari jawaban Rabiah. Ia menghela napas dalam lalu membuangnya.
"Apa saya tidak punya kesempatan dek?" tanya Putra lagi.
Rabiah hanya menunduk lesu, "maafkan Biah kak," jawabnya.
"Baiklah, kakak akan berusaha mengerti keadaan kamu, semoga kamu selalu bahagia," ucap Putra berusaha berlapang dada meski kini dadanya terasa sesak karena penolakan Rabiah, gadis yang sangat ia sukai sejak 2 bulan lalu.
"Kalau begitu, kakak pamit dulu, assalamu 'alaikum," ucapnya lalu pergi.
Rabiah ikut berdiri mengantar kepergian Putra. Dari belakang, nenek Hafsah menghampiri Rabiah yang kini berdiri di ambang pintu menyaksikan mobil Putra semakin menjauh.
"Sebentar lagi masa iddahmu berakhir, apa kamu tidak memiliki niat untuk membuka hati lagi nak?" tanya nenek Hafsah mengusap lembut pundak cucunya itu.
"Biah belum berfikiran kesana nenek."
"Lalu, apa rencanamu sekarang?"
"Biah akan kembali ke Jakarta, kata Abi, Biah harus segera mempersiapkan diri untuk mengikuti persidangan perceraian Biah."
"Kapan kamu akan kembali nak?"
"Insya Allah besok, nek."
🌷🌷🌷
Keesokan harinya di perusahaan, tepat pukul 5 sore itu, Kamil sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Namun, dering ponselnya membuat kamil menghentikan sejenak aktivitasnya. Ia menatap layar ponselnya yang kini memperlihatkan nama si penelepon, alisnya mengernyit saat melihat nama seseorang yang ia tugaskan untuk memantau rumah Yusuf.
"Bagamana hasil pentauanmu?"
"..."
"Apa? Rabiah sudah kembali?"
"..."
Setelah mengakhiri panggilannya, Kamil bergegas mengambil jasnya dan hendak pergi, namun perhatiannya tertuju pada sebuah amplop yang berada di atas mejanya.
Di ambilnya amplop itu lalu di baca siapa pengirimnya. "Pengadilan agama?" ucapnya setelah membacanya. Merasa penasaran dengan isinya, Kamil akhirnya membuka amplop itu, dan betapa terkejutnya ia saat melihat apa isi dari amplop itu.
Dengan sedikit emosi, Kamil langsung membawa surat itu ikut bersamanya menuju rumah Yusuf.
Tidak terasa, mobil yang ia bawa kini sampai di halaman rumah Yusuf. Dengan langkah cepat Kamil membawa tubuhnya ke depan pintu rumah Yusuf yang sedikit terbuka.
Tok tok tok
"Assalamu 'alaikum," ucapnya saat yang membuka pintunya kali ini adalah Rahul.
"Wa'alaikum salam, ada apa mas kemari?" tanya Rahul ketus.
"Aku ingin bicara dengan Rabiah,"
"Maaf, Rabiah tidak ada,"
"Tolong, jangan membohongiku, aku tahu Rabiah ada di dalam, beri aku kesempatan untuk berbicara dengannya," pinta Kamil dengan wajah memelas.
"Siapa yang datang Rahul?" Yusuf datang dari belakang Rahul.
"Abi, Kamil mohon beri Kamil kesempatan untuk bertemu dengan Rabiah, setidaknya Kamil ingin meminta maaf kepada Rabiah,"
Yusuf terdiam sejenak saat mendengar permintaan Kamil. Ia benar-benar kecewa dengan pria yang pernah menjadi menantunya itu, namun jika memang Kamil datang dengan niat tulus ingin minta maaf, sepertinya dia masih bisa menerimanya.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama karena putriku lelah," ujarnya kemudian berjalan masuk.
__ADS_1
"Terima kasih banyak abi," ucap Kamil lalu mengikuti Yusuf dan melewati Rahul yang masih berdiri di tempatnya dengan wajah kesal.
"Biah, ada yang ingin bicara denganmu sayang," ucap Yusuf lembut kepada Rabiah yang kini sedang asik bercerita dengan Yasmin di ruang keluarga.
"Iya abi, siapa?" tanya Rabiah dengan senyum yang mengembang.
"Kamil nak," jawabnya.
Degh
Senyuman di wajah Rabiah seketika pudar saat mendengar nama itu.
"Dia menunggumu di ruang tamu nak," ujar Yusuf lagi saat melihat Rabiah hanya bergeming di tempatnya.
"Biah tidak ingin bertemu dengannya abi," tutur Rabiah kemudian.
"Sebentar saja sayang, dia hanya ingin minta maaf," tukas Yusuf.
Rabiah memandangi wajah ayahnya yang mengagguk kepadanya, ia lalu beralih memandangi wajah ibunya yang juga tengah mengangguk sambil tersenyum kepadanya.
"Selesaikan masalahmu ini dengan baik-baik sayang," ucap Yasmin sambil mengelus kepala Rabiah yang masih terbungkus jilbab karena baru saja tiba dari Makassar.
"Baiklah," jawab Rabiah lalu beranjak menuju ruang tamu dimana Kamil sedang menunggunya.
"Biah," ucap Kamil saat melihat Rabiah datang dan duduk di hadapannya.
"Ada apa mas kesini?" tanya Rabiah dengan muka datar.
"Biah, sebelumnya mas ingin minta maaf karena sudah menuduh kamu yang tidak-tidak, mas saat itu terlalu panik jadi tidak bisa berpikir jernih,"
Biah perlahan menarik napas lalu membuangnya. "Iya mas, Biah ngerti, Biah udah maafin mas."
"Benarkah kamu udah maafin mas? Jadi apa kita masih bisa kembali bersama Biah?" tanya Kamil dengan raut wajah bahagia.
Mendengar perkataan Kamil, Rabiah langsung menatap wajah Kamil yang tampak jelas sedang tersenyum penuh harap kepadanya.
Sejenak Rabiah ikut tersenyum menatap pria yang pernah mengisi hidupnya dengan cinta itu. Mata yang dulu begitu teduh kini terlihat menghitam di kantung matanya, mungkin beberapa hari ini ia sulit tidur dengan baik. Tubuh yang dulu kekar dan terlihat cerah, kini tampak sedikit kurus dan tidak terawat, entah apa yang terjadi padanya hingga ia tidak lagi mempedulikan penampilannya seperti dulu saat mereka masih bahagia bersama.
"Maaf, Biah tidak bisa," jawabnya kemudian, raut wajah kecewa seketika terlihat di wajah Kamil.
"Kenapa Biah? Kamu tahu, sejak mas menceraikanmu, tidur mas tidak pernah nyenyak karena setiap memejamkan mata, mas akan langsung teringat wajah kamu. Jadwal makan mas juga tidak teratur, mas benar-benar menyesal Biah, hidup mas benar-benar berubah semenjak pisah dari kamu," terang Kamil dengam suara bergetar.
"Kenapa bisa begitu? Mbak Rani kan ada,"
"Dia memang ada di hadapan mas, tapi mas hanya memikirkan kamu,"
"Cukup mas, jangan lagi memperlakukan wanita semau mas, mas akan merasa kehilangan jika dia sudah pergi," cetus Rabiah.
"Tapi Biah..-"
"Mas, dulu kita menikah karena perintah orang tua, tapi Biah berusaha mencintai mas sepenuh hati Biah karena bagi Biah pernikahan itu adalah ikatan sakral dan juga ibadah, jadi menjalani dengan cinta tentu akan menjaga rumah tangga kita tetap utuh. Dulu, Biah berharap pernikahan Biah berlangsung sekali seumur hidup, namun semuanya langsung terpatahkan saat kata talak meluncur dari mulut mas," ujar Rabiah berusaha tegar meski suaranya kini terdengar sedikit bergetar.
Kamil hanya tertunduk sambil menyimak apa yang dikatakan Rabiah.
"Sekarang, Biah ingin menjalani kehidupan Biah yang baru, sekali talak terucap, Biah tidak ingin lagi kembali, karena Biah tidak ingin jatuh kembali di lubang yang sama," lanjutnya.
"Biah, tolong beri mas kesempatan untuk memperbaiki semuanya,"
"Mas, bukankah dulu Biah telah memberikan kesempatan kepada mas saat Biah ingin minta cerai? saat itu mas berjanji ingin berlaku adil. Tapi buktinya, adil itu hanya angan-angan Biah saja, sebab mas memperlakukan Biah dan mbak Rani berbeda hanya karena Biah belum hamil."
Kamil kembali terdiam, ia membenarkan semua yang dikatakan Rabiah saat ini. Tanpa ia sadari, air matanya menetes membasahi pipi saat memorinya kembali berputar ke belakang, mengingat bagaimana perlakuannya yang selalu menomor duakan Rabiah bahkan seolah ia tidak memikirkan bagaimana perasaan Rabiah saat itu.
-Bersambung-
__ADS_1