
Langit berwarna biru melambangkan kesetiaan, awan berwarna putih melambangkan kesucian.
Pesawat kini terbang melewati awan, mengantar Rabiah mencari ketenangan. Sudah satu jam pesawat Rabiah lepas landas meninggalkan Jakarta menuju Makassar.
Perceraian yang di alaminya benar-benar telah melukainya, membuat harapannya untuk membangun rumah tangga yang indah hancur, dan membuat pikirannya kacau.
Menjauh dari Kamil tentu adalah pilihan terbaik saat ini, melihat wajahnya saja ia enggan, rasa kecewanya pada Kamil seolah membuat hatinya mengeras.
"Permisi dek, kalau boleh tahu, sekarang sudah pukul berapa yah?" tanya seorang pria yang duduk tepat di samping Rabiah membuyarkan lamunannya.
Rabiah hendak mengambil ponselnya untuk melihat jam, namun pandangannya tertuju pada arloji yang dikenakan pria itu dengan kening yang mengerut.
"Arloji saya tadi jatuh saat habis wudhu dan rusak," jawab pria itu seolah ia mengerti arti tatapan Rabiah.
"Oh," ucap Rabiah membulatkan bibirnya sambil melihat jam di ponselnya.
"Jam 12 kak," ucapnya lagi.
"Oh iya, terima kasih dek." Pria itu tersenyum ke arah Rabiah namun senyum menawannya tak di lihat sama sekali oleh Rabiah yang hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Oh iya, adek juga orang Makassar yah?" tanya pria itu kembali mengajak Rabiah berbicara.
"Saya orang Jakarta kak, tapi nenek saya di Makassar," jawab Rabiah.
"Kirain, oh iya kenalkan, nama saya Andi Putra biasa di panggil Putra ," ujar pria itu sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Rabiah melirik sekilas tangan pria itu, lalu menangkupkan kedua tangan di depan dadanya, "Rabiah," jawabnya.
"Eh, maaf," ucap pria itu sambil menarik tangannya kembali.
"Apa adek ssorang mahasiswa?" tanya pria bernama Putra itu.
"Iya kak," jawab Rabiah.
"Oh udah semester berapa?" tanya Putra lagi.
"Semester 2 kak," jawab Rabiah yang mulai malas meladeni pria itu, ia saat ini benar-benar ingin menenangkan diri.
"Oh.." jawab Putra ber Oh ria.
"Maaf kak, saya mau izin istirahat dulu," ujar Rabiah lalu menutup matanya.
"Baiklah dek, istirahatlah, nanti saya akan membangunkan adek jika sudah sampai di Makassar.
Sesaat setelah Rabiah terpejam, Putra justru memandanginya cukup lama dengan penuh kekaguman.
"Masya Allah cantik sekali adik ini," batin Putra mengagumi Rabiah yang sedang tidur di sampingnya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, jaga mata Put," monolognya dalam hati.
Tak terasa, kini pesawat telah mendarat di bandara Sultan Hasanuddin Makassar.
"Dek, kita sudah sampai," ujar Putra membangunkan Rabiah.
"Eh iya kak, terima kasih," ucap Rabiah, lalu bersiap-siap untuk turun.
Setelah mengambil kopernya, Rabiah kini berjalan keluar Bandara, tempat dimana Rahil telah menunggunya. Namun, tanpa ia sadari rupanya sejak tadi Putra berjalan di belakangnya secara kebetulan.
Di depan pintu keluar, Rabiah sudah dapat melihat saudara kembarnya itu melambaikan tangan kepadanya, Rabiah sejenak tersenyum melihat Rahil yang terlihat semakin tampan, dengan cepat ia berjalan menghampiri Rahil.
"Rahil..." Panggil Rabiah lalu menghambur memeluk Rahil, "aku rindu sekali sama kamu," lanjutnya melepas pelukannya.
"Tentu saja, aku juga rindu sama saudara perempuanku satu-satunya ini," jawab Rahil, sejenak mereka tertawa bersama.
"Pak Putra," ucap Rahil, membuat Rabiah berbalik mengikuti Rahil yang berjalan ke arah pria yang tidak asing baginya, lalu mencium punggung tangannya.
"Kak Putra?" batin Rabiah heran.
"Hai Rabiah, kita ketemu lagi," sapa Putra sambil mengangkat tangan kanannya.
"Bapak mengenal saudara saya?" tanya Rahil kepada Putra.
"Iya, tadi kami duduk bersampingan di pesawat," jelas Putra.
"Ah sembarangan aja kamu," tandas Putra memukul pelan pundak Rahil sambil mengulum senyum.
"Oh iya, pak Putra di jemput sama siapa? Kalau belum ada yang jemput, bagaimana kalau sama kami saja, kebetulan saya membawa mobil paman saya," ujar Rahil membuat Rabiah melotot kepadanya.
"Memangnya tidak apa-apa?" tanya Putra basa-basi sambil melirik Rabiah yang sejak tadi hanya menunduk.
"Yah nggak apa-apa pak, suatu kehormatan bisa mengantar bapak pulang," jawab Rahil tersenyum.
Rabiah yang sejak tadi diam merutuki ketidak pekaan Rahil dalam hati. Berbeda dengan Rahul, Rahil memang sedikit tidak peka, kaku pada wanita selain Rabiah dan Yasmin, serta sedikit polos.
Mereka pun akhirnya pulang bersama, Rabiah memilih duduk di belakang sambil menyenderkan kepalanya dan menutup mata karena merasa lelah. Sementara Rahil dan Putra yang duduk di sampingnya sejak tadi asik bercerita, jika dilihat, pria yang berusia sekitar 29 tahun itu sangat akrab dengan Rahil, hal itu terbukti dari cara mereka yang asik bercerita tanpa adanya kecanggungan satu sama lain.
"Mumpung ini sudah siang, gimana kalau kita makan siang dulu? Saya traktir," ujar Putra.
"Wah asik, Biah, bagaimana?" tanya Rahil.
"Maaf, jika kalian ingin makan siang, sebaiknya antar saya pulang dulu, saya benar-benar lelah," jawab Rabiah dalam keadaan menutup mata.
🌷🌷🌷
Sementara di kediaman Wildan-Anna
__ADS_1
Ameer tampak sedang duduk di halaman belakang rumah sambil merenung seorang diri. Jika boleh jujur, ada rasa senang saat mengetahui Rabiah telah bercerai. Entah kenapa dia merasa seperti itu padahal ia tahu, saat ini Rabiah pasti sedang patah hati.
"Astaghfirullah, astaghfirullah," ucap Ameer sambil mengusap dadanya.
"Oke, aku senang bukan karena Rabiah cerai tapi Aku merasa senang saat Rabiah telah terlepas dari suami yang sudah membohonginya," gumamnya menepis pikiran buruk terhadap dirinya sendiri.
Ameer teringat akan mimpinya beberapa waktu lalu yang muncul setelah dirinya melakukan sholat istikharah.
"Apa benar, ini adalah jalan pembuka atas mimpiku kala itu?" batin Ameer.
*Flashback on*
Tepat setelah Ameer melakukan sholat istikharah, ia tertidur dan mulai bermimpi.
Dimana dalam mimpi itu, ia melihat Rabiah berada di tengah bukit, dimana di sisi kiri Rabiah ada Kamil yang berdiri tepat di pinggir jurang sambil memanggilnya, sementara dia sendiri sedang berdiri di jalan turun dari bukit.
Di situ, Rabiah terlihat sangat bingung ingin bergerak kemana, hingga akhirnya Ameer tersadar dari tidurnya saat adzan subuh mulai berkumandang.
*Flashback off*
"Jika memang mimpi itu adalah sebuah petunjuk dari Allah, maka aku harus segera melamar Rabiah."
"Eh, tapi Rabiah kan masih dalam masa iddah,"
"Apa aku harus menunggunya disini sampai masa iddah Rabiah habis, atau aku kembali ke Singapura untuk melanjutkan kuliahku?"
"Eh, tapi gimana kalau lagi-lagi aku di tinggal nikah?"
Batin Ameer dengan berbagai macam pertanyaan yang membuatnya kadang merasa tenang namun juga merasa gelisah di waktu yamg sama.
"Hayooo.. Lagi mikirin apa nih anak ibu? Kok melamun?" tanya Anna mengagetkan Ameer.
"Eh, ibu, nggak mikirin apa-apa kok," kilah Ameer.
"Ish, kamu ini, kayak orang baru saja dalam hidup ibu, ingat, kita sudah hidup bersama sejak kamu lahir, jadi ibu tahu persis bagaimana kamu saat lagi gelisah mikirin sesuatu," celoteh Anna.
Ameer hanya bisa nyengir bodoh saat kebohongannya selalu terdeteksi dengan mudah oleh sang ibu.
"Hmm, apa ibu sudah tahu kalau Rabiah udah cerai dari suaminya?" tanya Ameer memastikan.
"Apa? Kapan? Bagaimana bisa?" cecar Anna memberondong Ameer dengan pertanyaan.
"Ameer juga nggak tahu, bu, yang Ameer tahu saat ini Rabiah sedang liburan ke Makassar.
"Duh, kasihan sekali Rabiah, semoga di Makassar nanti Rabiah bertemu dengan pria yang menyayanginya dengan tulus," ucap Anna, seketika membuat Ameer terbatuk karena tersedak oleh salivanya sendiri.
-Bersambung-
__ADS_1