Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
PENJELASAN YANG TERTUNDA


__ADS_3

Kamil terduduk di sofa sembari menyelonjorkan kaki dan mengusap perutnya yang kini terasa begah dan tidak nyaman akibat terlalu kenyang. Suasana yang tadinya terasa mencekam kini terasa lega setelah kepulangan Rabiah.


"Aduh perutku," lirih Kamil.


"Enak yah, makan bareng istri kedua, makan dua porsi lagi," sindir Rani yang masuk ke dalam ruangan dan mendapati Kamil yang sedang dalam posisi santai, "udah gitu, pake acara mengabaikan istri pertama lagi," lanjutnya menghampiri Kamil sambil bersedekap tangan lengkap dengan muka kesalnya.


"Rani?" ucap Kamil lalu menurunkan kakinya, "kamu sudah makan?" tanya Kamil.


"Udah kok tadi sama bang Jono di kantin, seru loh makan berdua," ucapnya dengan nada ketus.


"Maaf, maafkan aku, aku tidak bisa berkata jujur dalam keadaan seperti tadi, suasana hati Rabiah sedang tidak baik, aku takut dia tidak akan menerima kenyataan jika aku mengatakannya saat itu," terang Kamil sambil berdiri dan menggenggam kedua tangan Rani.


"Terus mau sampai kapan kamu rahasiakan ini?" tanya Rani masih dengan mode ngambeknya.


"Insya Allah pulang nanti aku akan berkata jujur,"


"Janji?"


"Iya aku janji, aku juga merasa bersalah jika terus-terusan seperti ini."


🌷🌷🌷


Sementara di tempat lain, Rabiah yang baru tiba di rumah hanya diam tak bersemangat. Bahkan TV yang saat ini sedang menyala di hadapannya tak lagi ia pedulikan. Berbagai prasangka buruk seolah sedang beterbangan di dalam pikirannya.


"Hufh, berpikir positif, berpikir positif, berpikir positif," ucapnya sambil memukul pelan kedua telinganya agar pikiran buruknya hilang.


Sambil menunggu Kamil pulang, Rabiah memutuskan untuk beristirahat sejenak di sofa, berharap dengan tidur, hati dan pikirannya bisa lebih tenang.


Waktu bergulir begitu cepat, Rabiah terbangun saat ia merasa ada yang mengusap lembut kepalanya. Perlahan Rabiah membuka matanya, samar-samar ia melihat seorang pria sedang duduk di hadapannya sambil mengusap lembut rambut hitammya. Untuk menormalkan penglihatannya yang baru bangun, Rabiah berkedip beberapa kali, hingga wajah tampan suaminya terpampang jelas di hadapannya.


"Mas, kok pulangnya cepat?" tanya Rabiah setelah ia bangkit dari tidurnya lalu mencium punggung tangan Kamil.


"Mas pulang sesuai jadwal kok, ini udah jam 5 sayang," jawab Kamil lembut.


"Ya ampun, maaf mas, berarti Biah kebablasan tidurnya," cicit Rabiah merasa bersalah karena tidak menyambut kedatangan sang suami seperti biasa.


"Nggak papa sayang, aku ngerti kamu pasti lelah setelah memasak dan mengantar makanan langsung ke kantor," ucap Kamil lalu duduk tepat di samping Rabiah.


"Mas, mau minum kopi kan, Biah buatin dulu yah," ucap Biah lalu beranjak dari duduknya, namun tangannya langsung di tahan oleh Kamil.


"Nggak usah Biah, kamu duduk disini saja, mas juga mau ngomong sesuatu sama kamu," ujar Kamil dengan wajah serius.

__ADS_1


Kali ini entah kenapa jantung Rabiah tiba-tiba berdegup kencang. Kini ia kembali duduk di tempatnya semula.


Dengan lembut, Kamil menggenggam tangan Rabiah, lalu mengecupnya. "Biah, kamu tahu, meski pernikahan kita terjadi karena permintaan kedua orang tua kita, tapi entah kenapa mas begitu mudah jatuh cinta sama kamu, mas benar-benar sangat menyayangi kamu saat ini," perkataan Kamil berhasil membuat wajah putih Rabiah kini tampak bersemu merah. Tidak bisa ia pungkiri, ia sangat bahagia mendapat ungkapan cinta dari sang suami, ungkapan cinta kedua yang ia terima setelah kedua orang tuanya.


"Terima kasih mas, Biah senang dengarnya,"


"Apa saat ini kamu sudah mencintai mas sebagai suamimu?"


Rabiah terdiam sejenak, "iya mas, Biah saat ini sudah mencintai mas juga,"


Kamil tersenyum mendengar jawaban Rabiah, "terima kasih sayang karena sudah mencintai mas, mas sangat bersyukur atas semua yang telah Allah berikan pada mas, termasuk istri sholehah seperti kamu," ucap Kamil, membuat Rabiah tersipu malu.


"Tapi Rabiah, ada yang harus mas katakan sama kamu, sebenarnya..-" penjelasan Kamil tertunda saat ponsel Kamil berdering.


Kamil mengambil ponselnya dan hendak mematikannya, namun ia urungkan saat melihat siapa yang menelfonnya saat ini.


"Mama?" gumam Kamil lalu segara menjawabnya.


"Halo, assalamu 'alaikum, ma," ucap Kamil kepada Maryam di seberang telfon.


"..."


"Apa? Papa sakit apa ma?" tanya Kamil dengan raut wajah khawatir.


"..."


"..."


"Iya ma, wa'alaikum salam," ucapnya lalu mematikan telfonnya.


"Ada apa dengan papa, mas?" tanya Rabiah ikut khawatir.


"Penyakit maag papa kambuh sayang, kita kesana lihat papa yah?" ajak Kamil.


"Tentu saja, ayo kita kesana sekarang, mas."


🌷🌷🌷


Di kediaman Abdullah


Kamil dan Rabiah kini telah berada di kamar dan melihat kondisi Abdullah yang saat ini sedang terbaring lemas setelah beberapa kali muntah.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi papa, ma?" tanya Kamil.


"Udah sedikit baikan, cuma masih agak lemah," jawab Maryam sambil memijit tangan suaminya.


"Memangnya tadi papa makan apa? Kok bisa tiba-tiba kambuh?" tanya Kamil.


"Tadi ada tetangga yang datang bawakan songkolo begadang, dan papa kamu suka sekali, katanya enak," ujar Maryam, membuat Kamil mengernyitkan alisnya.


"Songkolo begadang? Itu nama pekerjaan yah?" tanya Kamil polos membuat Rabiah sedikit menahan tawanya.


"Bukan mas, songkolo begadang itu nama makanan yang di pakai di Makassar, yang nama lainnya ketan serundeng, ketan yang di makan bersama serundeng kelapa, itu memang enak loh, mas," jelas Rabiah.


"Nah, betul itu, duh mama keseringan bareng ummi kamu nih, jadi makanan pun mama sebutnya pake bahasa asal ummi kamu," timpal Maryam terkekeh dan Rabiah ikut tersenyum.


"Terus apa lagi yang papa makan setelah itu, ma?" tanya Kamil lagi.


"Setelah itu, papa minum jus jeruk, katanya enak siang-siang makan songkolo begadang terus minum jus jeruk, mama sih awalnya ragu buat kasi jus jeruk ke papa karena dia belum makan siang sebelumnya, tapi papa kamu ngotot, katanya makan siangnya di ganti sama songkolo begadang aja," papar Maryam.


Kamil langsung tepuk jidat setelah mendengar penjelasan mamanya.


"Pantas saja kambuh, ketan itu mengandung gas dan juga bisa merangsang asam lambung, apalagi bagi orang yang memiliki riwayat penyakit maag seperti papa, kalau di makan sedikit aja mungkin nggak akan menyebabkan maag, tapi kalau di makan dalam jumlah banyak itu yang bahaya, apalagi setelah makan ketan malah minum jus jeruk yang jelas-jelas mengandung asam, tentu semakin memperbesar peluang kambuhnya penyakit maag papa," terang Kamil panjang lebar.


"Iya, mama sudah jelaskan tadi, papamu aja yang keras kepala, untung tadi dokter cepat datang dan langsung memberi obat melalui suntikan, jadi efeknya lebih cepat terasa," timpal Maryam.


"Iya ma, alhamdulillah karena kondisi papa sekarang sudah baikan," ucap Rabiah.


Setelah melihat kondisi Abdullah, Kamil dan Rabiah kini duduk di ruang keluarga bersama Maryam sambil bercerita.


"Oh iya, kamu udah ada isi atau belum, sayang?" tanya Maryam tiba-tiba membuat Rabiah seketika terdiam sejenak.


"Be-belum ma," jawab Rabiah singkat.


"Kamu nggak ada rencana menunda kehamilan kan? Mengingat saat ini kamu masih kuliah," selidik Maryam.


"Nggak kok ma," jawab Rabiah.


"Nggak ma, dari awal nikah sampai sekarang, kami nggak pernah punya rencana untuk menunda kehamilan Rabiah, mungkin memang belum waktunya," jawab Kamil yang khawatir jika Rabiah merasa tidak nyaman dengan pertanyaan mamanya itu.


"Ya kan mama cuma tanya aja, soalnya anak teman mama yang udah 5 tahun nikah sampai sekarang istrinya belum hamil, karena pas awal nikah, istrinya langsung menggunakan alat kontrasepsi untuk menunda kehamilan," terang Maryam.


"Iya ma, mama tenang saja, kami tidak akan menunda kehamilan apalagi sampai menggunakan alat kontrasepsi, tapi mama juga sebaiknya tidak mendesak kami, karena bagaimanapun anak itu rezeki dari Allah, kalau di kasi alhamdulillah, kalau belum berarti Allah masih ingin kita sebagai calon orang tuanya untuk berbenah diri menjadi lebih baik lagi agar bisa menjadi teladan untuk anak-anak kami kelak," tutur Kamil.

__ADS_1


"Iya iya, mama tahu kok, kamu itu yah kalau ngomong udah kayak lebih tahu aja, begini-begini kan mama yang ngajarin kamu ngomong," cetus Maryam, membuat Kamil hanya bisa nyengir bodoh.


"Maaf ma, bukan maksud Kamil ngajarin mama, Kamil hanya ingetin mama," cicit Kamil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


__ADS_2