
Malam yang tenang di kediaman Yusuf dan Yasmin, namun tidak dengan Rabiah, semenjak kembali dari fitting baju pangantin beberapa hari yang lalu, jantungnya terasa selalu berdebar jika mengingat calon suaminya itu.
Apalagi malam ini, malam terakhirnya memegang status janda muda, dan besok ia akan resmi menjadi istri seorang Ameer Baihaqi Wildan.
Perlahan ia menarik napas dalam dan menghembuskannya, ia sungguh menikmati udara dingin di balkon kamarnya saat ini, senyuman indah senantiasa tersungging, entah bagaimana perasaan Rabiah saat ini, yang jelas ia merasa semua ini seperti mimpi.
Perjalanannya sejak pertama kali jatuh cinta kepada pria itu hingga sampai pada tahap ini sungguh tidaklah mudah. Tawa hingga tangis menjadi kesatuan yang tak bisa ia lupakan.
Inilah mimpi Rabiah yang sebenarnya, dan semua ini tidak akan terjadi tanpa campur tangan Allah tentunya.
Tok tok tok
"Biah, boleh aku masuk?" tanya Rahil dari luar kamarnya. Tentu saja Rahil pulang karena besok adalah hari spesial untuk saudara kembarnya itu.
Rabiah dengan cepat berjalan masuk kamar dan membuka pintu.
"Rahil, masuklah." Ia mempersilahkan Rahil masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa?" tanya Rabiah sedikit heran, sebab tidak biasanya saudara kembarnya yang dingin dan kaku itu mengajaknya bercerita serius seperti saat ini.
"Aku hanya mau bilang, semoga pernikahanmu kali ini menjadi pernikahan terbaikmu dan berlangsung selamanya hingga kalian di pertemukan kembali kelak di Surga Allah."
"Aamiiin, insya Allah."
"Oh iya apa kamu tahu?" Rahil menatap serius ke arah Rabiah.
"Tidak tahu," jawab Rabiah polos.
"ck, belum bicara Biah," decak Rahil sedikit gemas.
"Hahahah, iya, kenapa?" gelak Rabiah sebelum akhirnya ia fokus kembali menatap Rahil.
"Kamu tahu, sejak kapan kak Ameer menyukaimu?" tanya Rahil lagi.
"Mungkin sejak sebelum aku nikah," jawab Rabiah asal karena sejujurnya ia pun tidak tahu pasti kapan Ameer mulai menyukainya.
"Salah."
"Terus sejak kapan?"
"Sepertinya sejak kak Ameer masih SMP."
"A-apa? Dari mana kamu tahu?"
__ADS_1
"Aku pernah membuka buku tulis kak Ameer saat bermain di rumahnya, dan di sana tertulus banyak sekali namamu," jelas Rahil.
Rabiah seketika terdiam, ia tak mampu berkata-kata lagi, sudah selama itu Ameer mencintainya, tapi tak pernah sekalipun ia tampakkan pada Rabiah, "apa alasannya?" begitu pikirnya.
"Kenapa kamu tidak pernah bilang Rahil, jika kamu bilang, setidaknya aku punya alasan untuk menolak lamaran mas Kamil waktu itu,"
"Yaa kan kamu nggak pernah tanya, lagipula mungkin ini sudah menjadi takdirmu, yang tidak lain untuk menguatkanmu, ambil hikmahnya, dan tidak usah berandai-andai," jawab Rahil.
Tak lama setelah itu, Rahil akhirnya keluar dari kamar Rabiah, meninggalkan Rabiah yang kini duduk termenung sendiri.
🌷🌷🌷
Keesokan harinya, Rabiah kini sudah tampil cantik di kamarnya. Perlahan ia menatap pantulan dirinya di depan cermin, ia tidak percaya bahwa ini adalah kali keduanya memakai gaun pernikahan.
Tubuh nya yang kini di balut oleh gaun biru muda dengan riasan natural, membuat dirinya tampak sangat cantik pagi itu. Bibirnya tersenyum dan matanya tampak berkaca-kaca, namun bukan karena sedih, kali ini ia benar-benar terharu dengan pernikahannya.
"Sayang, ayo turun, calon suami idaman kamu sudah menunggu tuh," goda Yasmin yang datang untuk menjemput putrinya.
"Ih, ummi jangan gitu dong, Biah malu," ujar Rabiah dengan wajah yang kini memerah bagaikan kepiting rebus, sementara jantungnya kali ini bagaikan gendang yang bertalu-talu tiada henti dan tiada lelah.
🌷🌷🌷
"Bang, mau minum?" tanya Rahil yang sejak tadi melihat Ameer tampak begitu gugup.
"Boleh," jawab Ameer singkat. Rahil beranjak dari duduknya dan pergi sejenak, tak lama setelah itu ia datang kembali dengan mambawa segelas air.
"Kak, tenanglah dan bergembiralah karena kali ini kak Ameer duduk disini bukan sebagai saksi pernikahan tetapi sebagai calon mempelai pria." Rahul mengusap punggung Ameer agar lebih tenang.
"Iya, tapi kenapa rasanya begitu gugup yah," gumam Ameer.
"Hahah wajar sih, tapi segugup apapun, jangan sampai salah mengucapkan kalimat ijab qabulnya yah kak, bisa bahaya itu," ujar Rahul mewanti-wanti.
Kini Yusuf dan penghulu telah duduk di depan Ameer, sementar Rabiah juga sedang berjalan ke arahnya.
Ameer yang begitu gugup, jangankan melihat Rabiah, mengangkat wajahnya saja rasanya ia tidak sanggup.
Setelah melalui beberapa rangkaian acara pembuka, tibalah saatnya Ameer akan mengucapkan kalimat sakral yang akan mengubah statusnya dan status Rabiah saat itu juga.
Sambil menjabat tangan Ameer, Yusuf mulai mengucapkan kalimat ijab qabul, "Ananda Ameer Baihaqi Wildan bin Wildan, saya nikahkan engkau dengan putri saya, Rabiah Al-Hafizhah Yusuf binti Yusuf dengan mas kawin sebentuk cincin emas tunai karena Allah." Ucap Yusuf sambil menghentakkan tangan Ameer agar langsung menyambungnya.
"Saya terima nikahnya Yusuf binti Rabiah..
"Eeeh salah," sela Yusuf sambil mencengkram kuat tangan Ameer agar menghentikan kata-katanya.
__ADS_1
Senua orang di ruangan itu seketika menahan tawa atas apa yang dikatakan Ameer baru saja, tak terkecuali Rabiah yang duduk di belakang Ameer.
"Hei, apa sekarang ayah Rabiah juga ingin kau nikahi?" goda Wildan yang duduk di samping Ameer membuat Ameer hanya bisa menunduk menahan malu.
"Tenanglah Ameer, kali ini jangan salah lagi, bisa-bisa kau gagal lagi menikahi Biah jika salah menyebut nama," ucap Yusuf yang juga ingin menggoda Ameer.
"Ulang lagi abi, insya Allah Ameer tidak akan salah," ucap Ameer yang kini terlihat sangat serius, mungkin karena takut gagal lagi menikahi Rabiah kali ini.
"Baiklah, saya akan ulang, Bismillah... Ananda Ameer Baihaqi Wildan bin Wildan, saya nikahkan engkau dengan putri saya, Rabiah Al-Hafizhah Yusuf binti Yusuf dengan mas kawin sebentuk cincin emas tunai karena Allaaah."
"Saya terima nikahnya, Rabiah Al-Hafizhah Yusuf binti Yusuf dengan mas kawin sebentuk cincin emas tunai karena Allah," sambung Ameer cepat dalam satu tarikan nafas.
"Sah"
"Sah"
"Alhamdulillah," ucap Ameer sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dimana air mata mulai membasahi karena begitu bahagia dan terharu.
Dan begitupun Rabiah yang kini air matanya menetes karena rasa haru dan syukur atas kuasa Allah yang kini mempertemukannya dengan pria yang sangat ia cintai sejak dulu.
"Majulah ke hadapan Ameer, sayang, c!um tangannya," bisik Yasmin sambil mengarahkan Rabiah.
Kini kedua pengantin baru itu duduk berhadapan, keduanya saling menunduk malu dengan jantung yang berdegup kencang tentunya.
Perlahan Ameer mengulurkan tangannya untuk memasangkan cincin di jari manis Rabiah begitupun sebaliknya, kemudian menyalami tangan mungil itu, Rabiah pun mulai menc!um tangan Ameer begitu lembut, terasa darah Ameer maupun Rabiah berdesir tatkala untuk pertama kalinya mereka saling bersentuhan.
Kini giliran Ameer yang akan mengecup kening Rabiah. Perlahan ia mendekatkan wajahnya, semakin dekat hingga akhirnya bibir Ameer mendarat sempurna di kening wanita yang kini telah sah menjadi istrinya, cukup lama ia mengecupnya dengan lembut, matanya terpejam menikmati dan menyalurkan cinta dan rindu yang selama ini ia pendam. Rabiah pun melakukan hal yang sama, ia begitu menikmati kecupan hangat dari pria yang kini berstatus suaminya, bahkan ia dapat mendengar dengan jelas degupan jantung Ameer yang sangat kuat, membuat senyuman indah muncul di wajah cantiknya.
Di tengah kebahagiaan Ameer, Rabiah dan keluarganya, rupanya ada seseorang yang hatinya justru terluka melihat pernikahan itu. Dengan kacamata hitam, pria itu tersenyum kecut melihat raut wajah bahagia dari mantan istrinya.
Yah, pria itu adalah Kamil. Ia datang bersama kedua orang tuanya yang memang di undang. Abdullah dan Maryam, meskipun hubungan anak mereka sudah tidak baik, tapi Yasmin tidak ingin putus silaturrahmi dengan temannya.
"Putus sudah harapanku, maafkan mas Biah, mas sudah membuatmu kecewa dan menangis selama bersama mas, mas sangat menyesal telah melukaimu. Semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu kali ini," lirih Kamil lalu pergi diam-diam meninggalkan tempat itu.
-Bersambung-
Assalamu 'alaikum kakak readers.
Tidak terasa kisah Rabiah dan Ameer sudah masuk di episode ke 60, semoga kakak-kakak suka dengan cerita yang di buat oleh author remahan ini 😅.
Mohon dukungannya yah kakak-kakak dengan like, komen, vote, dan favorite/subscirbe.
Semoga author bisa selalu membuat karya yang bermanfaat. Aamiiin.
__ADS_1
Salam hangat dari author
UQies