Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
PERASAAN AMEER


__ADS_3

Ameer masih termangu tidak percaya dengan fakta yang baru saja ia dengar.


"Sejak kapan Rabiah dan orang tuanya mengetahui ini semua?" tanya Ameer kemudian, ia yakin, Yusuf maupun Yasmin tidak akan mau menikahkan putrinya dengan pria yang sudah beristri.


"Baru beberapa hari yang lalu mereka mengetahuinya," jawab Kamil.


"Tega sekali kau membohongi mereka," tandas Ameer yang mulai sedikit emosi.


"Aku tidak bermaksud membohongi mereka, aku hanya terpaksa diam karena beberapa alasan," kilah Kamil, "maaf, aku tidak bisa lama-lama, aku harus pergi sekarang," ucap Kamil lalu pergi meninggalkan Ameer yang masih diam mematung di tempatnya.


Sejenak Ameer menunduk, jantungnya bergemuruh menahan emosi yang seakan ingin meledak, tangannya kini mengepal kuat hingga menampakkan urat-urat di lengan bawahnya.


"Tidak ku sangka, orang yang mendahuluiku menikahi Rabiah adalah pria yang sudah beristri,"


"maafkan aku Rabiah," lirihnya.


Hatinya terasa begitu sakit saat ini, namun di saat yang sama ia juga merasa bersalah , entah karena apa, Ameer pun bingung dengan perasaannya saat ini.


Di sisi lain, Jhony masih setia menunggu gilirannya sambil sesekali menahan rasa sakit di perutnya. Namun, saat ia tidak sengaja menoleh, ia terkejut melihat Ameer yang kini tampak begitu lesu sedang berjalan ke arahnya. Sangat berbeda dengan Ameer yang ia lihat beberapa menit sebelumnya, seolah semangatnya hilang dalam sekejap.


"Ada apa denganmu?" tanya Jhony penasaran saat Ameer sudah berada di dekatnya.


"Tidak, aku hanya merasa lelah," bohong Ameer sambil mendudukkan bokongnya di kursi tepat di samping Jhony.


Setelah beberaba jam berlalu, kini Ameer dan Jhony pulang ke rumah. Wajah lesu tampak jelas di wajah keduanya. Jika Jhony merasa lesu karena diagnosa dokter yang seperti dugaannya, berbeda dengan Ameer, ia justru tampak lesu karena perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya.


"Kenapa dengan kalian berdua? apa kata dokter mengenai keluhan Jhony?" tanya Anna saat mereka berdua telah masuk ke dalam rumah.


"Kata dokter, Jhony mengalami gejala usus buntu, tapi belum parah, jadi tidak perlu rawat inap ataupun operasi, cukup minum obat saja," jawab Ameer.


"Kasihan, sebaiknya kamu istirahat dulu Jhon, nanti ibu akan buatkan makanan khusus untuk mu," ujar Anna, membuat Jhony mengangguk lalu berjalan lebih dulu masuk ke dalam kamar Ameer.


"Lalu, ada apa denganmu Ameer?" tanya Anna lagi karena melihat wajah putranya yang begitu lesu.


"Bu, Ameer ingin bicara sebentar," lirih Ameer sambil menarik lembut tangan Anna berjalan menuju ke ruang keluarga dimana hanya ada mereka berdua di sana.


"Ada apa sayang? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Anna lembut sambil duduk di sofa yang berada di ruang keluarga bersama Ameer.


"Apa ibu tahu mengenai kabar rumah tangga Rabiah?" tanya Ameer, membuat Anna seketika tertegun.


"Kabar rumah tangga bagaimana yang kamu maksud nak?" tanya Anna ingin memastikan.


Ameer menghembuskan nafasnya, "kabar kalau suami Rabiah ternyata sudah memiliki istri sebelum menikahi Rabiah," jawab Ameer.


"Darimana kamu tahu itu?" tanya Anna lirih.


"Jadi ibu sudah tahu?" selidik Ameer.

__ADS_1


"Iya, ibu juga baru tahu kemarin malam, auntymu yang menceritakannya," jawab Anna. "Darimana kamu tahu?"


"Barusan Ameer melihat suami Rabiah ke rumah sakit bersama istri pertamanya, sepertinya istrinya itu sedang hamil," jawab Ameer.


"Apa? Istrinya hamil?" tanya Anna, dan Ameer mengangguk.


"Bu, kenapa aunty dan paman membiarkan Rabiah menjalani rumah tangga bersama pria yang sudah membohonginya itu?" tanya Ameer kemudian.


Anna menghembuskan nafasnya kasar, "itu yang sempat ibu tanyakan juga kepada auntymu, tapi katanya ini keputusan Rabiah, apalagi Kamil tidak ingin menceraikannya," jawab Anna, "kita doakan saja yang terbaik untuk Rabiah dan keluarganya," lanjutnya, namun Ameer hanya diam sambil menunduk.


🌷🌷🌷


Sore itu, jadwal kuliah Rabiah selesai lebih cepat, sehingga ia sudah pulang ke rumah setelah ashar.


"Rumah ini sepi sekali, kalau ada anak, pasti rumah ini akan terasa ramai," monolognya lalu mendudukkan bokongnya di sofa, "apa rencana Allah sebenarnya? Kenapa kamu belum juga hadir dalam perutku?" lanjutnya sambil mengusap perutnya yang masih rata.


Tak lama setelah itu, terdengar suara mobil yang berhenti di halaman rumahnya. Rabiah segera bangkit lalu berlari membuka pintu, karena ia yakin kali ini Kamil akan bermalam di rumah bersamanya.


"Assalamu 'alaikum istriku," ucap Kamil dengan senyuman lebar saat mendapati Rabiah sedang menunggunya di pintu.


"Wa'alaikum salam," jawabnya singkat lalu mencium punggung tangan Kamil.


"Bagaimana kabarmu sayang? Maaf yah mas baru bisa pulang sekarang, Rani sejak kemarin kurang enak badan soalnya," terang Kamil sambil berjalan menuju ke kamar mereka, membuat Rabiah yang saat ini berjalan di sampingnya tersenyum kecut.


Sejujurnya, semenjak mengetahui fakta itu, Rabiah merasa tidak senyaman dulu saat berada di sisi Kamil di tambah saat Kamil menyebut nama istri pertamanya, hatinya terasa memanas. Rabiah hanya wanita biasa, mendengar suaminya menyebut nama wanita lain di hadapannya tentu membuat perasaannya tidak nyaman, meskipun ia berusaha keras melapangkan hatinya.


Kamil kini membuka baju kerjanya, sementara Rabiah pergi ke kamar mandi untùk menyiapkan air hangat agar suaminya itu bisa mandi dengan nyaman.


"Mas, mandi dulu yah biar seger, Biah udah siapkan air hangat," ucapnya setelah keluar dari kamar mandi.


"Masya Allah, istri sholehahku, terima kasih yah sayang," ucap Kamil lalu mengecup kening Rabiah sejenak lalu pergi ke kamar mandi.


Sementara itu, Rabiah juga langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Saat sedang asik memasak, Rabiah tiba-tiba merasa ada yang memeluk pinggangnya dari belakang, dan iya tahu itu pasti adalah Kamil, terbukti dari aroma sabun yang tercium dari belakangnya.


"Kamu sedang masak apa sayang?" tanya Kamil lembut sambil meletakkan dagunya di pundak Rabiah.


"Biah lagi masak makanan kesukaan mas, sekarang mas duduk yah, biar Biah selesaikan ini," pinta Rabiah, namun Kamil menggelengkan kepalanya.


"Mas ingin tetap seperti ini, mas sangat merindukan kamu," ucap Kamil dengan nada sedikit manja.


Mau tidak mau, Rabiah harus menyelesaikan masakannya dalam keadaan Kamil yang setia menempel di belakangnya bagaikan tuyul.


Setelah menyelesaikan makan malam bersama yang begitu hikmat, Rabiah dengan cekatan membereskan piring kotor yang berada di meja dan meletakkannya di wastafel untuk segera di cuci, namun lagi-lagi


ia merasa Kamil kembali menempelinya dengan tangan yang melingkar di perut Rabiah.

__ADS_1


"Ada apa mas?" tanya Rabiah.


"Kita ke kamar yuk, mas kangen," bisik Kamil tepat di telinga Rabiah, membuat bulu tengkuk Rabiah meremang.


Melihat ekspresi Rabiah yang menahan geli, Kamil mengulum senyum lalu menarik tangan Rabiah dengan lembut. Tanpa ada penolakan, Rabiah mengikuti kemana Kamil membawanya.


Setelah melalui malam yang begitu hangat dan indah, Rabiah terbaring di dalam pelukan sang suami yang kini menutup mata.


Namun, baru beberapa menit mata mereka terpejam, suara dering ponsel mengagetkan keduanya.


Sambil memicingkan mata, Kamil meraih ponselnya yang berada di atas nakas masih dalam keadaan berbaring dengan satu tangannya menjadi bantal untuk Rabiah.


"Halo, assalamu 'alaikum, ada apa Ran?" sapa Kamil kepada Rani yang saat ini sedang meneleponnya.


"..."


"Apa? Harus malam ini yah?" tanya Kamil sembari menarik lengannya dari bawah kepala Rabiah lalu duduk, membuat Rabiah terbangun.


"..."


"Baiklah, aku akan kesitu sekarang," jawab Kamil lalu beranjak dari tempat tidur.


"Mau kemana mas?" tanya Rabiah yang kini juga ikut duduk sambil memperbaiki selimut yang menutupi tubuhnya.


"Mas akan ke rumah Rani malam ini, dia membutuhkan mas," ucap Kamil sembari memakai pakaian lengan panjang dan celana panjang.


"Tapi kenapa mas? malam ini kan giliran Biah sama mas," protes Biah.


"Iya, tapi malam ini Rani membutuhkan mas, tolong mengerti yah," bujuk Kamil sambil mengambil jaketnya dari dalam lemari.


"Tapi, Biah juga membutuhkan mas," kilah Rabiah dengan suara yang mulai bergetar.


"Iya, tapi saat ini Rani lebih membutuhkan mas," jawab Kamil hendak berjalan keluar namun langkahnya terhenti saat Rabiah memanggil namanya untuk pertama kalinya.


"Mas Kamil!" panggil Rabiah dengan suara sedikit meninggi dan bergetar. "Bukan kah mas sudah berjanji untuk berlaku adil? Biah nggak menutut di perlakukan lebih, Biah hanya ingin di perlakukan adil, sudah dua malam mas tidak bersama Rabiah, dan malam ini juga mas akan pergi?" lanjutnya dengan mata yang mulai di penuhi air mata.


"Justru karena mas berusaha berlaku adil, makanya mas meprioritaskan Rani, Biah," jawab Kamil masih berdiri di tempatnya sambil menoleh ke arah Rabiah, Kamil mulai sedikit terpancing emosi karena Rabiah yang selalu menahannya padahal ia sedang buru-buru.


"Memprioritaskan mba Rani? Mas, adil itu jika mas memprioritaskan Mba Rani dan Rabiah sama besarnya, bukan seperti ini,"


"Iya, tapi menurut mas, ini adalah cara yang paling adil, karena saat ini Rani tengah hamil dan kamu tidak," tegas Kamil yang mulai emosi.


Degh


Rabiah seketika terdiam, sementara Kamil langsung pergi tanpa berkata apapun meninggalkan Rabiah malam itu juga dengan perasaan yang hancur.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2