
Siang hari di kediaman Wildan
Anna dan Ameer sedang makan siang berdua, sementara Wildan masih di restoran dan Ameerah masih berada di sekolahnya.
“Kamu kenapa Ameer?” tanya Anna yang sejak tadi memperhatikan putranya itu melamun di meja makan.
Sudah hampir satu bulan Ameer hanya berdiam diri di rumah saja, ia enggan kemana-mana meski kadang teman-temannya datang untuk mengajaknya touring dengan motor besarnya seperti hobinya dulu.
Selain itu, Anna merasa sikap Ameer yang dulunya hangat dan ramah, tiba-tiba saja berubah menjadi dingin dan cuek, terutama saat berhadapan dengan wanita selain keluarganya, sungguh sangat jauh berbeda dengan Ameer yang dulu. Dan semua perubahan sikap Ameer itu ditangkap oleh Anna sebagai ibunya sejak ia kembali dari rumah Yasmin 2 minggu yang lalu.
“Nggak papa Ibu, Ameer hanya lelah saja,” jawab Ameer seadanya sambil tersenyum paksa.
Anna kembali terdiam, keningnya berkerut, ia benar-benar merasa ada yang salah dengan putranya itu. “Awal kembali dari Singapura, Ameer masih baik-baik saja. Tapi setelah kembali dari rumah Yasmin, sikapnya mulai berubah. Ada apa sebenarnya?” batin Anna dengan berbagai pertanyaan di dalam benaknya.
“Oh iya bu, besok Ameer akan kembali ke Singapura, masa cuti Ameer sudah habis soalnya," ujar Ameer membuyarkan lamunan Anna.
“Oh iya, baikah sayang, apa barang-barang kamu sudah siap?” tanya Anna kemudian.
“Sudah semua bu,” jawab Ameer.
"Baiklah, habiskan makan siangmu, sayang, setelah itu istirahatlah agar besok tubuhmu fit saat kembali ke Singapura," ujar Anna dan di angguki oleh Ameer.
🌷🌷🌷
Keesokan harinya, Anna, Wildan dan Ameerah telah berada di bandara untuk mengantar kepergian Ameer kembali ke Singapura. Niat hati kembali ke tanah air untuk melamar gadis yang ia cintai dan kembali ke Singapura berdua dengannya, namun takdir berkata lain, rencananya gagal dan kini ia harus kembali pulang ke perantauan seorang diri.
“Ayah, Ibu, Ameer berangkat dulu yah, semoga Allah selalu menjaga ayah dan ibu," pamit Ameer sembari memeluk Anna dan Wildan bergantian dengan penuh cinta.
“Iya nak, ingat jaga diri baik-baik disana yah,” pesan Wildan.
__ADS_1
“Ameer jaga kesehatanmu disana sayang, jika kamu membutuhkan teman cerita, ceritalah pada ibu nak, jangan memendamnya sendiri yah,” pesan Anna dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Iya ayah, ibu, insya Allah,” jawab Ameer lalu melirik adiknya yang kini mulai beranjak remaja.
“Adikku, kemarilah,” ujar Ameer sambil merentangkan kedua tangannya.
Ameerah yang sejak tadi menahan air matanya kini tangisannya pecah sembari menghambur memeluk kakaknya. “Kakak cepat pulang yah, Meerah kesepian kalau kakak nggak ada,” ucapnya sambil menangis sesegukan di dalam pelukan Ameer.
“Iya iya dek, udah nangisnya nanti cantiknya hilang loh,” canda Ameer membuat Ameerah benar-benar menghentikan tangisannya.
“Astaga anak ini benar-benar langsung berhenti nangis, takut hilang yah kecantikannya,?” goda Ameer sambil mengusap kepala sang adik.
“Namanya juga wanita kak,” jawab asal Ameerah membuat Ameer tekekeh gemas sementara Anna dan Wildan hanya bisa geleng kepala.
Kini, Ameer sudah berada di dalam pesawat, sepanjang perjalanan, ia hanya diam dengan wajahnya yang sendu, sesekali ia akan melihat ke arah luar jendela untuk melepaskan kesedihannya.
"Jodoh tidak akan kemana, jodoh tidak akan tertukar, aku percaya akan takdirMu ya Allah, Engkaulah Sang Penguasa Cinta, jika takdir cintaku bersama Rabiah memang sudah berakhir sampai disini, maka hapuslah perasaan cinta ini."
🌷🌷🌷
Di tempat lain, Yasmin sedang duduk merenung di taman belakang rumahnya. Sesekali ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Semenjak Rabiah mengatakan perasaannya terhadap Ameer menjelang pernikahan, hati Yasmin sering kali merasa gelisah.
Dari jauh, Yusuf yang dapat melihat kegundahan istrinya hanya dari wajahnya akhirnya menghampiri Yasmin. “Kamu kenapa sayang? aku perhatikan semenjak pernikahan Rabiah kamu sering melamun,”
Yasmin kembali menghembuskan nafasnya kasar lalu menatap sang suami.
“Kak, apakah keputusan kita menikahkan Yasmin sudah tepat?” tanya Yasmin.
Yusuf mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan sang istri, “kenapa bertanya seperti itu sayang?”
__ADS_1
“Entahlah sayang, tiba-tiba saja aku merasa telah salah dalam mengambil keputusan, Rabiah masih sangat muda, dia juga pasti ingin mengejar kebahagiaannya sendiri,” terang Yasmin dengan wajah sendu.
“Tunggu deh tunggu deh, perasaan kemarin kamu yang paling semangat menikahkan Rabiah dengan Kamil, kenapa sekarang kamu malah ragu?” tanya Yusuf heran.
“Karena... “ Yasmin kembali menutup mulutnya, ia merasa ragu untuk menceritakan yang sebenarnya kepada Yusuf.
“Hmm? Karena apa sayang?” tanya Yusuf penasaran.
“Karena ternyata..” Yasmin melirik ke arah Yusuf yang masih sabar menanti jawabannya, “ternyata Rabiah sudah mencintai pria lain sebelum menikah, kak” lanjut Yasmin lirih.
“Apa? Siapa? Kenapa Biah tidak mengatakannya sejak awal?” cecar Yusuf sangat terkejut.
“Dia Ameer, kak. Biah hanya merasa mungkin cintanya bertepuk sebelah tangan sehingga Biah menerima lamaran Kamil waktu itu,” jawab Yasmin.
“Astaghfirullah putriku, kenapa dia tidak bicara dari awal, jika aku tahu, aku bisa membicarakannya dengan Wildan.” Yusuf menepuk jidatnya merasa kasihan dengan putri kesayangannya itu.
“Sudahlah kak, tidak ada gunanya sekarang mempermasalahkan ini, Biah sekarang sudah sah menjadi istri Kamil, kita doakan saja, semoga putri kita bahagia dengan pernikahannya, kak,” tukas Yasmin lalu merangkul lengan Yusuf dan menyenderkan kepalanya di pundak sang suami.
“Iya sayang, kamu benar, semoga keputusan Rabiah menikah dengan Kamil adalah keputusan yang benar,” timpal Yusuf sembari mengusap kepala Yasmin yang tertutup jilbab dengan lembut.
"Ummi.. Abii..," teriak Rayhan dari dalam rumah mencari kedua orang tuanya.
"Astaghfirullah.." ucap Yasmin terkejut dan refleks melepas rangkulannya dari Yusuf.
"Itu anak, udah berapa kali dibilangin kalau manggil orang tua jangan teriak-teriak," dumel Yusuf sambil geleng-geleng kepala.
"Anakmu kak," ujar Yasmin terkekeh, apalagi saat melihat ekspresi suaminya yang sangat lucu kalau lagi kesal.
-Bersambung-
__ADS_1