
Suasana seketika terasa hening, bahkan suara air mengalir tak lagi di indahkan oleh wanita yang saat ini sedang terpaku menatap sebuah benda pipih kecil yang saat ini sedang berada di tangannya. Rasa tidak percaya masih menguasai pikirannya, rasanya seperti mimpi. Tanpa ia sadari, bulir air mata mulai membasahi pipinya.
Cukup lama Rabiah terdiam, hingga suara ketukan pintu dari luar berhasil membuyarkan lamunannya. Dan refleks ia menghapus air matanya.
Tok tok tok
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ameer dari luar kamar mandi yang merasa sedikit khawatir. Bukan tanpa alasan, Rabiah sudah lebih 10 menit berada di sana tanpa terdengar suara gemericik air lagi.
Ceklek
Rabiah keluar dari kamar mandi dengan mata yang sedikit sembab, tentu saja itu menambah kekhawatiran Ameer.
"Kamu kenapa sayang? Apa ada yang sakit?" cecar Ameer sambil memeriksa seluruh tubuh Rabiah bagaikan security.
Tanpa menjawab pertanyaan sang suami, Rabiah langsung meletakkan benda kecil tadi di tangan Ameer.
"Apa ini sayang? Bentuknya seperti alat tes covid, apa kamu sakit?" Ameer semakin terlihat bingung.
Melihat raut wajah suaminya yang terlihat lucu karena khawatir dan bingung, Rabiah malah tertawa pelan.
"Kenapa kamu tertawa sayang? Aku serius loh."
"Kakak lucu seperti itu, sini Biah jelaskan." Rabiah mengambil benda itu dari tangan Ameer.
"Ini namanya test pack, alat tes kehamilan," terang Rabiah.
"Kamu tes kehamilan sayang? Bagaimana hasilnya?"
"Kakak lihat garis ini? Kalau dua berarti positif."
"Oh kalau dua positif, eh ini kan dua sayang? Berarti..." Ameer tidak lagi melanjutkan kata-katanya, ia menatap Rabiah dengan tatapan meminta kejelasan.
Rabiah mengangguk sambil tersenyum dengan menampilkan deretan gigi putihnya, membuat mata Ameer tampak berbinar dan sedikit berembun.
"Alhamdillah yaa Allah," ucapnya kemudian memeluk Rabiah lalu berputar, membuat Rabiah terkekeh penuh haru melihat reaksi sang suami.
"Terima kasih sayang, aku mencintaimu," ucapnya setelah berhenti berputar lalu mengecup kening Rabiah dengan begitu lembut.
"Padahal dulu Biah kira kalau Biah ini kurang subur, tapi semua itu langsung terbantahkan hari ini," ucap Rabiah dengan mata yang kembali berembun namun dengan senyum kebahagiaan.
"Saat itu Allah sedang menguji kesabaranmu sayang, sekaligus ingin memperlihatkan bahwa akan ada hikmah terindah setelah ujian berlalu," ucap Ameer sambil menghapus air mata Rabiah yang perlahan mengalir di pipinya.
__ADS_1
Kadang seseorang merasa berkecil hati atau bahkan menganggap Allah tidak adil hanya karena sebuah masalah, padahal Allah sesungguhnya sedang memberi kebaikan dari masalah itu, namun kita belum menyadarinya. Saat semuanya telah berlalu, barulah kita menyadari bahwa dibalik masalah dan ujian itu Allah telah mempersiapkan hikmah yang luar biasa di belakangnya.
🌷🌷🌷
Hari demi hari berlalu hingga tidak terasa kini kandungan Rabiah sudah berusia 8 bulan lebih tepatnya 35 minggu. Di usia ini, ketidaknyamanan seringkali di rasakan oleh Rabiah, apalagi menurut hasil USG Rabiah mengandung bayi kembar yang memungkinkan bayi bisa lahir lebih awal, hal itu membuat Ameer harus selalu siaga. Sehingga ia pun memutuskan untuk mengerjakan semua pekerjaannya dari rumah.
Seperti pagi ini, Ameer sedang sibuk memantau restorannya yang berada di Singapura dan yang berada di Indonesia melalui laptopnya sambil duduk di sofa. Sementara itu, Rabiah sedang terlelap di pangkuan Ameer dalam posisi menyamping.
Saat sedang tenang, tiba-tiba Rabiah meringis.
"Aduh." Rabiah memegang perutnya sambil bangkit untuk duduk.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Ameer sambil menutup laptopnya lalu beralih memegang perut sang istri.
"Perut Biah sakit sekali kak."
"Apa? Kita ke dokter yah." Ameer membantu Rabiah berdiri dari sofa dan
Blush
Rabiah merasa ada air yang mengalir turun di kakinya. "Astaghfirullah, kak air ketubanku pecah."
"Ummi, abi, ketuban Biah sudah pecah," ucap Ameer yang melihat kedua mertuanya itu sedang duduk bersantai di depan rumah.
"Astaghfirullah, cepat bawa ke rumah sakit," ucap Yusuf langsung ikut berlari menuju mobil Ameer.
"Ameer, bagaimana dengan perlengkapan ibu dan bayi?" tanya Yasmin sambil membantu Rabiah masuk ke dalam mobil.
"Semua perlengkapannya udah Amwer simpan di bagasi beberapa hari yang lalu, ummi," jawabnya sambil melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan, Rabiah terus meringis, sementara sang ibu yang menemaninya duduk di jok kedua membantunya mengusap punggung hingga panggul Rabiah, agar ia bisa lebih nyaman.
Tidak terasa, kini mereka telah tiba di rumah sakit A, rumah sakit tempat Yusuf bekerja sekaligus milik opa Hasan. Setelah Rabiah memohon doa dari kedua orang tuanya, Rabiah langsung di bawa ke ruang persalinan di ikuti oleh Ameer, sementara Yusuf dan Yasmin menunggu di luar ruangan.
"Ya Allah mudahkan persalinan putriku, dan sehatkan mereka, Aamiiin," batin Yasmin berdoa.
Di ruang persalinan, bidan sedang memeriksa keadaan Rabiah termasuk pembukaan Rabiah.
"Bismillah sayang, semoga Allah mudahkan persalinan kamu, kamu dan anak kita sehat, aku akan selalu bersama kamu, aku mencintamu sayang," ucap Ameer di telinga Rabiah lalu mengecup keningnya dengan lembut.
Sesuai instruksi bidan, Rabiah pun mulai berjuang antara hidup dan matinya untuk melahirkan anak kembarnya. Wajahnya yang putih kini berubah merah dengan peluh yang membasahi wajah dan lehernya. Ameer yang melihat perjuangan sang istri hanya bisa berdoa dan tanpa sadar ia pun menangis tanpa melepaskan tangan sang istri yang kadang mencengkramnya sangat erat, bahkan kukunya berhasil menusuk tangan pria itu, namun itu sama sekali tidak membuat Ameer melepaskan tangannya. Lantunan ayat suci Al-Qur'an senantiasa terucap di bibirnya.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu, terdengar suara tangisan bayi pertama meggema di dalam ruangan itu. Air mata bahagia kini menyambut kehadiran bayi yang ternyata berjenis kelamin laki-laki. Namun, baru beberapa menit berlalu, Rabiah kembali merasakan sakit, dan ia pun kembali berjuang untuk melahirkan bayinya yang kedua.
Tenaganya yang mulai berkurang, membuat Rabiah sedikit kesulitan. "Kak, Biah nggak kuat," ucapnya dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
"Sayang, insya Allah kamu kuat, mungkin anak kita saat ini sedang berjuang untuk lahir, dia juga sedang berusaha untuk bisa segera bertemu dengan umminya yang sangat hebat ini," bisk Ameer menyemangati sang istri.
Rabiah pun kembali berusaha dengan sisa tenaga yang ia miliki. Hingga akhirnya suara tangisan bayi yang kedua kembali menggema di ruangan itu.
"Alhamdulillah.. selamat sayang, anak kita dua-duanya adalah laki-laki. Terima kasih atas perjuangan kamu, kamu wanita yang hebat dan kami mencintaimu," ucap Ameer sembari mengecup seluruh wajah Rabiah dengan penuh kasih sayang.
Setelah melalui serangkaian penanganan, kini Rabiah telah di pindahkan ke ruang rawat, sementara bayi kembarnya untuk sementara di masukkan ke dalam inkubator.
Semua keluarga kini telah berada di ruang rawat Rabiah yang cukup luas itu, termasuk Yasmin san Yusuf, Anna dan Wildan, Rahul dan Khadijah, Rayhan dan Rahil yang kebetulan telah menyelesaikan pendidikannya di Makassar baru-baru ini.
Yasmin, Anna dan Khadijah yang sedang menggendong baby Asiah tampak sedang duduk di dekat Rabiah yang masih terlihat lemah. Sementara Yusuf dan Wildan sedang melihat kedua cucu mereka.
Di luar kamar bayi
"Yus, aku tidak menyangka bisa berbesanan denganmu, lihatlah cucu kita sangat tampan, sangat mirip denganku," ucap Wildan dengan begitu percaya diri yang saat ini sedang melihat kedua cucunya di luar ruangan yang dibatasi oleh kaca.
"Kamu salah Wil, cucu kita itu memang sangat tampan, tapi itu karena mereka memiliki darah keturunanku," sanggah Yusuf.
"Astaga kau ini, sudah tua juga masih saja ingin berdebat," seloroh Wildan, dan sesaat kemudian mereka tertawa bahagia.
Di kamar rawat Rabiah
"Nah kan, apa ku bilang, pasti kak Ameer lebih cengeng dariku saat Rabiah melahirkan," ejek Rahul saat melihat mata Ameer yang begitu sembab.
"Memangnya ada apa di dalam? kenapa bang Ameer menangis?" tanya Rahil bingung.
"Oh ya ampun saudara kembarku, sabarlah dulu, kami tidak bisa menjawabnya sekarang, tapi suatu saat nanti kamu pasti akan mengerti," jawab Rahul membuat Rahil tampak semakin bingung.
"Oh iya, mana bayi kembarnya kak?" tanya Rayhan.
"Mereka di kamar bayi, untuk saat ini mereka harus berasa di dalam inkubator karena BB nya kurang dari 2,5 kg," jawab Ameer.
"Apa mereka telah memiliki nama?" tanya Rahil.
"Yah, namanya Ubaid Al-Hazar dan Uwais Al-Hasan," jawan Ameer sambil tersenyum bahagia.
-Bersambung-
__ADS_1