Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
FILM BERTEMA PENGKHIANATAN


__ADS_3

Malam semakin larut, suara bising kendaraan kian berkurang, menyisakan alunan paduan suara dari beberapa hewan nokturnal, bagai instrumen pengantar tidur yang begitu menenangkan.


Sayangnya, Rabiah tidak merasakan sama sekali ketenangan malam itu. Sekelebat bayangan Kamil yang selama ini membohonginya kian mengganggu pikirannya. Entah apa yang di sembunyikan Kamil darinya, Rabiah tak mampu menerkanya. Air mata yang sejak tadi membasahi pipinya perlahan mulai mengering, menyisakan mata sembab yang mulai terpejam tanpa ia sadari.


Malam kini berganti pagi, suara kicauan burung kian menghiasi suasana yang begitu cerah namun tak secerah wajah Rabiah pagi ini yang hilang semangat.


Hari ini adalah akhir pekan, seperti biasa, jika Kamil mengatakan lembur di malam akhir pekan, maka Rabiah sudah bisa menebak bahwa Kamil akan pulang tengah hari nanti.


Tak ingin tinggal dalam kebimbangan dan pikiran buruk yang terus menghantuinya, Rabiah memutuskan untuk jalan-jalan bersama Khadijah kemanapun itu, asal hatinya bisa lebih tenang.


Setelah meminta izin kepada Kamil, Rabiah pun pergi ke rumah Khadijah untuk menjemputnya dengan menggunakan taksi. Yah, meski sedang di landa rasa curiga yang begitu besar, Rabiah tetap berusaha bersikap biasa-biasa saja kepada Kamil, ia ingin melihat, sampai kapan Kamil akan terus membohonginya.


"Rabiah," sapa Khadijah sambil berjalan keluar dari rumahnya, "kita mau kemana nih?" tanya Khadijah kemudian setelah masuk ke dalam taksi bersama Rabiah.


"Terserah kamu aja, yang jelas bisa bikin hati happy," jawab Rabiah, membuat Khadijah paham akan kondisi hati sahabatnya saat ini.


"Baiklah, kalau gitu bagaimana kalau kita pergi nonton? Kebetulan saat ini lagi ada film baru yang lagi tayang di bioskop," usul Khadijah.


"Boleh," ucap Rabiah setuju.


Merekapun akhirnya pergi ke sebuah mall tempat bioskop itu berada. Sambil berjalan beriringan, mereka mulai antri untuk membeli tiket. Namun, dari jauh, Rabiah tiba-tiba merasa seperti melihat sosok suaminya sedang berjalan masuk lebih dulu ke dalam studio bioskop itu.


"Kamu kenapa Biah?" tanya Khadijah yang bingung melihat Rabiah yang sedang gelisah sambil menatap ke arah ruangan itu.


"Nggak kenapa-kenapa kok, udah selesai beli tiketnya?" tanya Rabiah.


"Udah, yuk," jawab Khadijah lalu menarik tangan Rabiah berjalan ke arah studio yang sama dengan tempat yang dimasuki oleh pria tadi.


Entah kenapa jantung Rabiah berdegup kencang saat memasuki ruangan itu, padahal film yang akan mereka tonton bukanlah film horor atau sejenisnya.


Kini mereka duduk di kursi bagian belakang, Rabiah tampak masih menyisir seluruh isi bioskop itu, ia ingin memastikan apakah benar pria yang tadi ia lihat adalah suaminya atau bukan.


Karena ruangan yang mulai gelap, Rabiah memutuskan untuk berhenti mencari, "mungkin aku yang terlalu berpikiran negatif," batinnya menenangkan diri. Namun, baru saja ia berbicara seperti itu dalam hatinya, tiba-tiba ia mendengar suara yang sangat ia kenali sedang berbicara dengan seseorang, pandangannya mencari sumber suara itu dan benar saja, pemilik suara itu berada tepat di depan kursinya. Dari bentuk kepala, model rambut dan bentuk tubuh, Rabiah bisa memastikan bahwa pria yang saat ini berada di depannya adalah suaminya meski ia hanya melihatnya dari belakang.


"Mas, minumanku habis, minta minuman kamu dong," ucap wanita di samping Kamil dengan suara pelan namun terdengar manja, sesekali ia menoleh ke arah Kamil, membuat Rabiah dapat melihat wajahnya dengan jelas.

__ADS_1


"Bukankah dia sekretaris mas Kamil? Ada hubungan apa dia dengan mas Kamil?" batin Rabiah dengan jantung yang mulai berdebar hebat.


"Ini untuk kamu, minumlah," ucap Kamil sambil memberikan minumannya kepada wanita itu.


"Makasih sayang," jawab wanita itu lalu menyenderkan kepalanya di pundak Kamil.


Degh


Hati Rabiah seketika terasa dihantam oleh ribuan jarum yang menusuk dan meyakitkan.


"Apa ini? Benarkah yang ku saksikan saat ini? Kenapa mas Kamil tega mengkhianatiku?" batinnya dengan air mata yang kini menggenang di pelupuk matanya namun dengan cepat ia hapus agar tak terlihat oleh Khadijah.


Film pun bermula, suara tawa penonton sesekali terdengar di ruangan itu. Benar, film yang dimaksud Khadijah adalah sebuah film komedi. Rabiah tahu, Khadijah sengaja memilih film komedi tersebut karena ingin menghibur Rabiah. Namun alih-alih merasa terhibur, Rabiah justru semakin tenggelam dalam luka karena film bertema pengkhianatan yang ia lihat di hadapannya saat ini.


Hingga tak terasa, film pun berakhir, Rabiah mengikuti Kamil dan sekretarisnya yang dengan manjanya merangkul tangan Kamil. Mereka berjalan lebih dulu keluar ruangan.


"Khadijah, kamu tunggu aku disini yah, aku mau ke toilet dulu," ucap Rabiah dan Khadijah mengagguk.


Rabiah kini terus mengikuti kemana pasangan romantis itu berjalan, hingga mereka tiba di tempat yang lumayan sepi.


"Bi-biah," ucapnya lalu dengan cepat melepas rangkulan tangan Rani dan itu berhasil membuat Rani merasa kesal.


"Ngapain disini mas? Lagi lembur yah?" sindir Rabiah berusaha tenang.


"Eh, itu itu, anu," Kamil kelabakan sendiri, ia tidak tahu harus menjawab apa, lidahnya seperti kaku, apalagi saat menatap sorot mata Rabiah yang memperlihatkan kekecewaan.


"Jawab aja dengan jujur mas, kamu ada hubungan apa dengan sekretaris kamu ini?" tanya Rabiah sambil menoleh ke arah Rani.


"A-aku dan dia..-" ucapan Kamil tiba-tiba dipotong oleh Rani.


"Perkenalkan, namaku Rani, aku sekretaris sekaligus ISTRI mas Kamil," ucap Rani cepat dengan menekan kata istri.


"Apa? Istri? Benar begitu mas?" tanya Rabiah dan Kamil mengangguk pelan, membuat Rabiah tersenyum getir, "jadi ini alasan kamu selalu mengatakan lembur, ingin berbagi waktu dengan istri kedua kamu, iya kan? tega kamu, padahal pernikahan kita belum cukup satu tahun loh mas," lanjutnya dengan suara yang mulai bergetar.


"Eh, kamu jangan sembarangan, aku bukan istri kedua yah, aku ini ISTRI PERTAMA, yang istri kedua itu kamu," sela Rani menekan kata istri pertama.

__ADS_1


"Apa?" kaki Rabiah seketika terasa lemas, jantungnya berdegup kencang, hatinya terasa di iris sembilu tajam. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah seketika.


"Rabiah, maafkan mas, mas bukannya ingin membohongimu, mas hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk mengatakan ini," ujar Kamil memegang tangan Rabiah dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Bukankah sebelum menikah adalah waktu yang sangat tepat untuk jujur? Kenapa mas tidak mengatakannya sejak awal?" tanya Rabiah lirih dengan air matanya yang seolah tak ingin berhenti mengalir.


"Maafkan mas, mas punya alasan waktu itu sehingga tidak bisa jujur sama kamu, kita pulang sekarang yah, biar mas jelaskan semuanya di rumah," ajak Kamil menarik tangan Rabiah, namun Rabiah langsung menepisnya.


"Bawa istri mas, aku bisa pulang sendiri," ucap Rabiah lalu pergi meninggalkan Kamil yang sedang di landa rasa bersalah.


"Sekarang bagaimana? Rabiah sudah memergoki kita, dan aku bahkan hampir di cap sebagai pelakor," ujar Rani namun Kamil sama sekali tidak menanggapinya. Kamil malah pergi lebih dulu meninggalkan Rani tanpa berkata apapun.


"Mas, tunggu," panggil Rani lalu mengejar Kamil yang sudah berada jauh di depannya.


Setelah mengantar Rani pulang, Kamil kini sampai di rumahnya dan Rabiah. Namun, ia tidak menemukan Rabiah di rumah itu. Kamil mencoba menghubunginya, namun ponsel Rabiah malah tidak aktif. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk menunggunya lebih lama lagi.


Kini waktu telah menunjukkan pukul 9 malam, namun Rabiah masih belum pulang ke rumah.


"Kamu dimana Biah, maafkan mas, tolong pulanglah ke rumah, kita bicara baik-baik?" monolog Kamil yang mulai khawatir dengan istrinya itu.


🌷🌷🌷


Di kediaman Yusuf dan Yasmin.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Yusuf yang sejak tadi memperhatikan wajah Yasmin seperti sedang gelisah.


"Nggak tahu sayang, perasaanku tiba-tiba nggak enak, aku tiba-tiba kepikiran sama Rabiah," jawab Yasmin.


"Tenanglah, mungkin kamu hanya merindukannya, coba hubungi dia, mungkin dia belum tidur," usul Yusuf.


Yasmin mengangguk, kemudian mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Rabiah. Setelah menunggu beberapa saat, "Sayang, teleponnya nggak aktif," ucap Yasmin lesu.


"Tenanglah, mungkin Rabiah sudah tidur," ujar Yusuf sambil mengusap punggung Yasmin dengan lembut.


"Sayang, besok sore, kita ke rumahnya yah, aku kangen sama Biah," ucap Yasmin dan di setujui oleh Yusuf.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2