
Tidak terasa, jam kuliah Rabiah akhirnya selesai sore ini. Seperti biasa, Rabiah akan berjalan ke depan gerbang bersama Khadijah.
"Khadijah, besok kan tanggal merah, yuk kita pergi jalan-jalan," ajak Rabiah sambil berjalan bersama Khadijah melewati koridor fakultas.
"Maaf Biah, sepertinya aku nggak bisa,"
"Loh, kenapa? Kamu sibuk yah?"
"Sebenarnya besok aku ada pertemuan keluarga dengan calon suamiku,"
"Apa? Kamu udah mau nikah?" Rabiah cukup terkejut mendengar kabar pernikahan Khadijah, sejujurnya ada rasa kecewa dalam hatinya, karena ia sangat menginginkan Khadijah menikah dengan Rahul.
"Sebenarnya belum calon suami sih, cuma pria ini adalah orang yang sudah di jodohkan denganku sejak kecil, nah kebetulan omanya sudah sangat menginginkan cucu, makanya dia menyuruh pria ini untuk segera menikah," jelas Khadijah.
"Oh gitu, by the way, semoga prosesnya berjalan lancar yah," ucap Rabiah.
"Iya, aamiiin," jawab Khadijah tersenyum namun tampak jelas senyum itu seperti di paksakan.
Tak ingin terlalu mencampuri urusan sahabatnya, apalagi sampai menyangkut masalah pernikahan, karena ia sendiri sudah gagal di pernikahannya yang lalu. Rabiah akhirnya memilih diam, berharap semoga sahabatnya itu bahagia bersama suaminya kelak.
Tidak terasa, kini mereka telah tiba di depan gerbang kampus, dimana mobil Rahul telah menunggunya.
Setelah saling pamit dan salam, Rabiah pun masuk ke dalam mobil bersama Rahul.
Selama perjalanan, Rahul tampak asik bersenandung ria, sesekali ia bersiul menikmati hembusan angin yang masuk melalui jendela mobil. Terlihat jelas wajah kakak kembarnya itu sangat bahagia.
"Bahagia bener kak, ada apa nih?" tanya Rabiah sambil mencolek tangan Rahul.
"Biah, aku bahagia sekali, sepertinya aku bisa nikah muda deh," ucapnya tanpa menghilangkan senyuman di wajah tampannya.
"Oh yah? Memangnya kenapa? Udah ada calon yah? Siapa? Orang mana?" cecar Rabiah memberondong Rahul pertanyaan karena penasaran.
"Bukan gitu Biah, tapi aku baru saja di kontrak bekerja di salah satu perusahaan besar, CEOnya sangat tertarik dengan beberapa desain rumah yang pernah aku buat," jawab Rahul.
"Wah selamat yah kak, alhamdulillah," ucapnya ikut merasa bahagia, "apa kak Rahul udah punya calon istri?" tanya Rabiah.
"Belum sih, nanti baru di cari," jawab Rahul sambil nyengir bodoh.
"Padahal Biah ingin sekali kak Rahul nikah sama Khadijah," cicit Rabiah, tanpa ia sadari senyuman tipis terukir di wajah Rahul saat mendengar nama Khadijah.
"Tapi sayang, Khadijah udah mau nikah,"
Ciiiiiiit
Rahul seketika menghentikan mobilnya. "Kamu bilang apa tadi?" tanya Rahul ingin memastikan
"Khadijah udah mau nikah, nikahnya sama pria yang udah di jodohkan dengannya sejak kecil," jelas Rabiah.
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, wajah Rahul seketika terlihat pucat, senyum yang tadi terukir kini lenyap seketika.
"Kenapa kak?" tanya Rabiah saat menyadari wajah Rahul tampak lesu seketika.
"Nggak, nggak ada apa-apa," jawab Rahul lalu kembali melajukan mobilnya
Kini suasana di dalam mobil itu hening, jika tadi Rahul bersenandung ria, kini ia justru lebih banyak diam. Rabiah yang sejak tadi memperhatikan Rahul mulai menaruh curiga akan sesuatu.
__ADS_1
Tidak terasa, mereka telah sampai di rumah mereka. Rahul dan Rabiah turun bersama dari mobil. Namun lagi-lagi Rahul hanya berjalan masuk ke dalam rumah tanpa berbicara apapun.
"Aku yakin sekali kalau tadi aku tidak salah bicara, jadi kemungkinan yang membuat sikap kak Rahul berubah bagaikan wanita PMS adalah berita pernikahan Khadijah," lirih Rabiah lalu menutup mulutnya seolah tidak percaya dengan kesimpulan yang baru saja ia buat sendiri.
Waktu makan malam kini telah tiba, Yasmin, Yusuf, Rabiah dan Rayhan sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama.
"Rahul mana yah? Tumben belum turun juga," tanya Yasmin.
"Biar Biah yang panggilin ummi," usul Rabiah lalu segera beranjak dan naik ke lantai dua menuju kamar Rahul.
Tok tok tok
"Kak Rahul, makan dulu yuk, abi dan ummi sudah nungguin tuh," ucap Rabiah.
"Iya, bentar aku nyusul," ujar Rahul dari dalam kamar.
"Okelah," jawab Rabiah langsung berjalan turun lebih dulu dan bergabung kembali di meja makan.
"Rahul mana sayang?" tanya Yusuf.
"Katanya bentar lagi turun abi," jawab Rabiah.
Beberapa saat kemudian, Rahul benar-benar turun dengan baju kaos dan celana selutut seperti biasanya.
Makan malam bersama pun berlangsung dengan tenang, kali ini Rahul benar-benar tidak banyak bicara, ia hanya bersuara saat di tanya. Bahkan setelah makan malam pun, Rahul langsung kembali ke kamarnya.
"Rahul kenapa yah? Tumben tidak banyak bicara," gumam Yasmin.
"Nggak tahu juga ummi, padahal tadi kak Rahul bahagia banget, tapi tiba-tiba jadi pendiam kayak gitu," ujar Rabiah.
"Memangnya dia merajuk karena apa?" tanya Yusuf ikut penasaran.
"Entahlah abi," jawab Rabiah, ia belum ingin mengumbar hipotesisnya sebelum hipotesisnya itu terbukti benar.
Di saat semua orang sedang asik berbincang dan menonton, Rabiah memutuskan untuk kembali ke kamar Rahul.
Tok tok tok
"Kak Rahul, Biah boleh nggak bicara sebentar dengan kakak," tanya Rabiah pelan setelah mengetuk pintu.
Ceklek
"Ada apa Biah?" tanya Rahul.
"Biah boleh masuk nggak?"
"Masuklah."
Rabiah akhirnya masuk dan duduk di sofa dekat jendela.
"Kamu mau bicara apa Biah?" tanya Rahul ikut duduk di samping Rabiah.
"Kak Rahul kenapa sebenarnya? Perasaan tadi happy banget, kenapa sekarang seperti orang yang sedang bermuram durja?"
Rahul menghela napas sebentar, "nggak kenapa-kenapa kok, aku hanya lelah," jawabnya tanpa mau melihat Rabiah yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Kakak, kita ini kembar, apa yang kakak rasakan saat ini juga bisa Biah rasakan, aplagi saat kakak menjawab tanpa melihat ke arah Biah, Biah tahu kakak sedang berbohong,"
Rahul seketika menatap wajah Rabiah.
"Ada apa kak? Apa ini karena Khadijah?" cetus Rabiah, membuat Rahul langsung kembali memalingkan wajahnya.
Rabiah perlahan membuang napas, "dugaan Biah benar kan?" tanya Rabiah namun Rahul hanya menunduk sembari memainkan jemarinya.
"Yang sabar kak, jika memang kalian berjodoh, Allah pasti akan tunjukkan jalan untuk kakak, tapi kalau bukan jodoh, Allah pasti akan ganti dengan yang lebih baik," terang Rabiah.
Rahul lagi-lagi membuang napas kasar, "sepertinya nasibku akan seperti kak Ameer."
"Kak Ameer?"
"Iya, menjadi saksi pernikahan orang terkasih tanpa bisa berbuat apa-apa, layu sebelum mekar," jawabnya sembari tersenyum getir.
"Kakak tahu tentang kak Ameer?"
"Tentu saja, aku berada di sampingnya saat prosesi aqad nikahmu, dan dia adalah salah satu saksi nikah di pernikahanmu, saat itu matanya jelas menampakkan kesedihan yang mendalam bahkan aku melihatnya menghapus air matanya usai mengucapkan kata sah," jelas Rahul.
Rabiah terdiam sejenak, namun ia segera menggelengkan kepalanya cepat karena tak ingin larut kembali dalam kegelisahan yang menghampirinya seperti kemarin.
"Eh kok malah bahas kak Ameer, bahas kak Rahul dulu dong," ucap Rabiah kemudian.
"Memangnya apa yang mau di bahas tentang aku? udah selesai kan? pasrah aja, aku juga nggak mungkin mau merusak hubungan orang hanya karena perasaan, itu namanya egois," tutur Rahul.
"Wah, kakak memang keren," ucap Rabiah sambil mengacungkan ibu jarinya ke arah Rahul.
"Iya lah, Rahul gitu loh."
"Nah, gitu dong ceria, itu baru kak Rahul yang Biah kenal."
Mereka berdua kemudian tertawa bersama seakan mereka tak memiliki beban dalam pikiran mereka.
🌷🌷🌷
Di Singapura
Niana sedang berbicara sebentar dengan seorang dosen di ruang dosen. Tak lama setelah itu, ia keluar dengan alis yang mengerut dan wajah bingung.
"Hai Niana, ada apa? Kenapa wajahmu kusut begitu?" tanya Jhony yang kebetulan bertemu karena ia juga ingin masuk ke dalam ruang dosen.
"Aku bingung, aku di saranakan mewawancarai pengusaha restoran, tapi aku tidak tahu restoran mana yang bagus," ujar Niana.
"Restoran?" Jhony berpikir sejenak.
"Ahha! Aku punya saran, Ameer, ayahnya adalah pengusaha restoran yang sangat terkenal, cabangnya udah banyak, tapi dia di Indonesia," lanjutnya.
"Benarkah? Hmm, bolehlah, yang penting ada yang temani aku kesana, sekalian jalan-jalan ke Indonesia," ucap Niana sambil menatap Jhony dengan tatapan penuh arti.
Kali ini Jhony yang mengernyitkan alisnya melihat tatapan Niana, sejenak ia berpikir.
"Iya iya, nanti aku temani," tukas Jhony yang mengerti arti tatapan Niana.
"Oke Good, besok kita berangkat."
__ADS_1
-Bersambung-