Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
MASA IDDAH


__ADS_3

Matahari tampak semakin tinggi, tak lantas membuat Rabiah beranjak dari tempatnya. Di kursi taman ini, ia begitu menikmati hembusan udara yang begitu sejuk dan menenangkan.


Sejenak ia memejamkan matanya untuk lebih menikmati suasana di taman pagi itu, namun ingatannya pada pesan Ameer beberapa waktu lalu tak juga pergi meski hanya sebentar. Yah, sampai saat ini Rabiah belum membalas pesan Ameer, bukannya tidak mau, hanya saja ia merasa belum pantas untuk saling berkirim pesan apalagi sampai bertemu secara khusus dengan pria lain sampai masa iddahnya berakhir.


Ada rasa penasaran yang mengusik pikirannya, membuatnya bertanya-tanya akan tujuan Ameer yang sesungguhnya, hingga rasa tidak enak hati karena tidak membalas pesan Ameer.


**A**pa yang ingin kak Ameer bicarakan? Kenapa harus bertemu? Kenapa tidak lewat pesan saja di sampaikan?


Namun, sekali lagi ia berusaha menekan perasaannya saat ini. Baginya, masa iddah adalah masa yang sangat rawan, sebab dari masa itu akan di pastikan mengenai kekosongan rahimnya. Jadi, selama masa iddah ya belum berakhir, Rabiah sudah membulatkan tekad untuk tidak dekat dengan pria manapun agar terhindar dari fitnah maupun salah paham di kemudian hari.


Masih hanyut dalam sekelebat pikirannya mengenai pesan Ameer, ponsel Rabiah kembali berbunyi tanda adanya pesan masuk.


Unknown


Assalamu 'alaikum dek Rabiah, ini nomor ponsel kakak, Putra. Oh iya, kata Rahil tadi kamu ada di kampus ini, kamu di bagian mana? Boleh kakak kesitu, ada yang ingin kakak bicarakan sama kamu, mumpung jam mengajar kakak sudah selesai.


Rabiah membuang napasnya kasar sambil memijit pelipisnya. Entah kenapa kehadiran Putra yang begitu tiba-tiba dalam hidupnya membuatnya sedikit terusik dan tidak nyaman. Padahal jika di lihat, Putra adalah pria dewasa yang tampan, kulitnya putih, tubuhnya tinggi dan berkarisma, namun itu tidak membuat Rabiah lantas menyukainya.


Bukan kah hati yang dulu sakit akan semakin hati-hati dalam menentukan kemana kelak hatinya akan berlabuh kembali?


Sama halnya dengan pesan Ameer, pesan dari Putra pun tidak ia balas dengan alasan yang sama tentunya.


Merasa tak ingin bertemu dengan Putra nantinya secara tidak sengaja, Rabiah akhirnya memutuskan untuk pulang lebih dulu dengan menggunakan taksi online, tak lupa ia mengirimkan pesan kepada Rahil.


Menghindar lebih baik daripada nanti tidak sengaja bertemu dengannya dan akhirnya tidak enak untuk menghindar.


🌷🌷🌷


Di Jakarta


Seorang pria sedang duduk termenung di sebuah restoran. Ponselnya yang sejak tadi berada di genggamannya hanya bisa ia bolak-balik sambil menanti balasan pesan yang sudah ia nantikan balasannya selama 30 menit.


Minuman yang tadi ia pesan bahkan sudah habis sejak tadi, namun ia masih betah berlama-lama di tempat itu.


"Apa mungkin karena masih masa iddah jadi Biah tidak membalasnya?" gumamnya bermonolog.

__ADS_1


"Siapa yang masih masa iddah?" tanya Wildan yang tiba-tiba datang menghampiri.


"Eh, ayah, teman Ameer tadi cerita, katanya wanita yang selama ini dia cintai baru saja cerai dari suaminya, nah dia mengirimkan pesan kepada wanita itu untuk berbicara tapi sama sekali tidak di respon, apa karena masih masa iddah?" tanya Ameer yang menjadikan teman sebagai pelakunya.


Ameer sebenarnya ingin jujur, namun mengingat status Rabiah saat ini, membuatnya mengurungkan niat itu terlebih dahulu, biarlah hanya dia yang tahu untuk saat ini sampai semuanya jelas, begitu pikirnya.


"Oh, ya sebaiknya memang seperti itu demi mencegah fitnah, jadi tanya ke temanmu itu untuk bersabar sampai masa iddahnya berakhir, syukur kalau nggak rujuk, kalau wanitanya rujuk yah tinggal katakan 'good bye my dream," jawab Wildan sambil terkekeh, sementara Ameer justru menegang mendengar perkataan terakhir ayahnya.


"Iya juga yah, kemungkinan rujuk masih ada, harusnya aku tidak buru-buru mengirimkan pesan kepada Rabiah," batin Ameer. Ia berkali-berkali merutuki sikapnya yang tidak sabaran, yah bukan tanpa sebab, ia hanya mengambil pelajaran dari pengalamannya saat itu yang kalah cepat dengan Kamil.


"Kenapa tegang begitu, santai saja wahai anak muda, kan bukan dirimu yang berada di posisi itu," celetuk Wildan seketika menyadarkan Ameer dari lamunannya yang tidak-tidak.


"Eh iya ayah, Ameer santai saja kok," kilah Ameer.


"Oke, kita langsung ke intinya, jadi kamu akan mengambil cuti selama 6 bulan ke depan?" tanya Wildan.


"Bukan cuti ayah, Ameer ini sedang melakukan penelitian. Jadi rencana Ameer, sambil meneliti sambil belajar menjalankan bisnis restoran ayah," ucap Ameer meluruskan sangkaan ayahnya.


"Oh, ibarat sambil masak sambil icip-icip, giliran nanti masakannya udah selesai, perut pun sudah kenyang, iya kan? Hahaha," gelak Wildan menggelegar memenuhi restoran itu.


"Ya nggak apa-apa kan, tertawalah sebelum tertawa itu berbayar," tandas Wildan membuat Ameer hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Kamu belum makan siang kan? Biar ayah pesankan menu spesial di restoran ini, tolong kamu hubungi ibu dan adikmu agar meraka sekalian makan siang disini bersama kita," titah Wildan lalu memanggil pegawainya untuk memesan makanan.


"Baik ayah," jawab Ameer lalu segera menghubungi Anna dan Ameerah.


Hanya dalam 15 menit, Anna dan Ameerah telah tiba di restoran, kebetulan rumah mereka tidak terlalu jauh dengan restorannya.


"Wah, asik, makan-makan enak nih kita," ucap Ameerah antusias saat mendapati mejanya telah penuh dengan berbagai hidangan istimewa.


"Oh, jadi selama ini yang kamu makan di rumah itu nggak enak yah?" tanya Anna sambil memicingkan mata.


"Eh, maksud Ameerah, karena kita udah keseringan makan makanan enak buatan ibu di rumah, jadi kita beralih dulu ke makanan lain, gitu," ucap Ameerah tersenyum kaku.


"Makanan lain gimana? Makanan yang nggak terlalu enak, gitu maksud kamu?" kali ini giliran Wildan yang memicingkan mata, sementara Ameer hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi adiknya yang sedang tersudut oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Allahu akbar," lirih Ameerah sembari menepuk jidatnya, seketika Wildan dan Anna terkekeh geli melihat putri bungsunya yang seperti tidak memiliki pilihan lagi selain bersabar.


Tring


Suara pesan masuk di ponsel Ameer seketika membuat Ameer bergerak cepat meraih ponselnya, membuat tiga pasang mata yang saat ini berada di dekatnya menaruh curiga.


Sementara Ameer yang mengira itu adalah balasan pesan dari Rabiah langsung membuang napas lesu saat melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya.


Jhony


Bro, kamu tahu nggak siapa gadis ini?



^^^Me^^^


^^^Ya mana ku tahu, wajahnya nggak kelihatan.^^^


Jhony


Pasti kamu nggak percaya, dia Niana, tadi aku lagi jalan sama Valen, eh kami ketemu dia dengan penampilan barunya. Gila, tambah cantik dia bro.


^^^Me^^^


^^^Alhamdulillah kalau dia berubah menjadi lebih baik.^^^


Jhony


Apa kamu masih menutup hatimu dari dia, semua orang kan tahu kalau dia suka sama kamu.


Ameer hendak mengirim balasan kepada Jhony namun Ameerah yang sejak tadi memperhatikan ponsel Ammer dengan cepat mengambil ponsel Ameer dari tangannya.


"Ibu, ayah, lihat nih ada foto cewek di ponsel kak Ameer, kata kak Jhony namanya Niana, dia suka sama kak Ameer," ujar Ameerah lalu memberikan ponsel Ameer kepada Anna dan Wildan yang duduk bersampingan.


"Apa dia gadis yang kamu maksud dalam mimpimu kemarin nak? Jika memang benar, segera lamar dia," ucap Anna tegas dan di angguki oleh Wildan dan Ameerah.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2