Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
PERMINTAAN NIANA


__ADS_3

Pagi yang cerah menyambut kahadiran Rabiah bersama Khadijah dan Rahul di kampus. Sebelum memarkir mobil, Rabiah dan Khadijah akan turun lebih dulu mengingat jarak fakultasnya dan parkiran tidak dekat.


"Kak, aku turun duluan yah," ucap Khadijah lalu mencium punggung tangan Rahul yang tidak lain adalah pria yang sudah lebih satu bulan menjadi suaminya.


"Iya, belajar yang rajin yah sayang," jawab Rahul lalu mengecup kening Khadijah, setelah itu Rahul melepaskan kecupannya sejenak untuk menatap manik mata indah sang istri, sejenak mereka saling bertatapan penuh cinta. Rahul mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri, entah apa yang hendak mereka lakukan.


"Ekheem, uhuk uhuk uuhuuuuuk, ya ampun mataku ternoda," sindir Rabiah yang rupanya sejak tadi masih berada di kursi belakang. Tak ingin merusak momen romantis kakak dan sahabatnya, ia pun memutuskan untuk turun lebih dulu.


"Huufth, apaan sih mereka, memangnya aku nggak kelihatan apa," gerutu Rabiah sambil menendang pelan kerikil kecil yang ada di sekitarnya.


"Semoga pernikahan kalian tetap harmonis, dan tetap langgeng tentunya," ucapnya lagi sambil menunggu Khadijah, entah apa yang dilakukan di dalam mobil bersama suaminya hingga belum turun sampai sekarang.


Beberapa saat kemudian, Khadijah keluar dari mobil dengan rona wajah merah, sementara Rahul kembali melajukan mobilnya menuju area parkir.


"Masya Allah.. Apa yang sudah dilakukan kakakku sampai wajahmu memerah seperti kepiting rebus begini?" tanya Rabiah sambil memegang kedua pipi Khadijah.


Mendengar pertanyaan Rabiah, bukannya menjawab Khadijah justru semakin salah tingkah.


"Apaan sih Biah, yuk ke kelas, pagi ini kan kelasnya pak Aswad." Khadijah menarik tangan Rabiah untuk mengalihkan pembicaraan.


Mereka kini berjalan bersama menuju kelas mereka yang letaknya tidak jauh dari kantin kali ini.


Rupanya ada tiga pasang mata yang memperhatikan Rabiah dan Khadijah dari kantin. Yah, mereka tidak lain adalah si botak, si gondrong, dan si rambut normal. Mereka sedang menikmati bakso favorit mereka sebagai menu sarapan mereka pagi ini


"Ya Allah, sungguh indah ciptaanMu," ucap si gondrong dengan mata yang tidak berkedip melihat sosok Rabiah.


"Sudahlah gon, lu udah di tolak, lupakan dia," celetuk si botak.


"Nggak ada istilah melupakan dan menyerah, selama janur kuning belum melengkung, maka gua akan selalu memujanya," jawab si gondrong dengan nada puitisnya.


"Dasar jomblo," ucap si rambut normal.


"Yaelaaa.. Lu kalau mau ngomong ngaca dulu men, lu sendiri jomblo karatan sejak orok, malah ngatain orang jomblo," sanggah si botak.


"Iya nih, mending lu sama si Khadijah aja, dia juga cantik, tapi nggak kalah cantik sama Rabiah dong," imbuh si gondrong sambil terkekeh.

__ADS_1


"Memangnya Khadijah mau?" cicit si rambut normal sedikit salah tingkah karena sebenarnya dia memang menyukai Khadijah.


"Kamu nanyeak, kamu na..emmmmppp.." ucapan si botak seketika terputus saat si rambut normal memasukkan sebuah bakso tenes utuh ke dalam mulutnya.


"Ngomong kayak gitu lagi, gua masukin bakso sekalian sama gerobaknya ke dalam mulut lu," ancam si rambut normal, ia kesal dengan gaya bicara yang sedang viral itu namun lebay menurutnya.


Si botak kini menatap tajam ke arah si rambut normal sambil mengunyah bakso yang ukurannya cukup besar itu dengan susah payah.


"Napa lihatin gua kayak gitu?" sinis si rambut normal.


"Lu mau tahu nggak, gua punya berita teraktual kali ini," ujar si botak setelah berhasil menelan baksonya.


"Apaan?" tanya si rambut normal.


"Khadijah itu sudah nikah sama anak jurusan arsitek yang terkenal paling tampan," ucap si botak dengan mode ibu-ibu lambe.


"A-apa?" tanya si rambut normal sangat terkejut.


"Puahahahahah, sepertinya nasib kita akan sama," gelak si gondrong sambil memukul pelan pundak sahabatnya itu yang kini tampak pucat.


Di Singapura


Ameer tampak begitu fokus mengetik thesisnya di perpustakaan. Saking terlalu fokus, ia tidak menyadari kehadiran Niana di sampingnya.


Yah, Niana, gadis cantik yang kini memutuskan untuk memakai jilbab, rupanya tidak ingin menyerah untuk menarik perhatian Ameer, meskipun awalnya ia merasa malu terhadap Ameer, tapi lama-kelamaan sikapnya kembali seperti biasa.


"Serius amat Meer," ucap Niana.


Namun Ameer tidak menyadari kehadiran Niana. Ia masih saja tetap fokus mengetik, sesekali ia melihat buku yang ada di sampingnya kemudian kembali mengetik.


"Ameer," ulangnya, namun masih belum di respon oleh Ameer.


Merasa gemas sendiri melihat Ameer yang tidak menggubrisnya karena fokus, akhirnya Niana memutuskan untuk memegang tangan dan pundak Ameer secara bersamaan sembari memanggil namanya. "Ameer!" panggilnya lagi.


Dan hal itu berhasil membuat Ameer terlonjak kaget, dan refleks menarik tangannya yang di pegang Niana hingga ia hampir terjungkal ke belakang.

__ADS_1


"Maaf Ameer, aku tidak bermaksud mengagetkanmu," ucap Niana yang merasa tidak enak kepada Ameer.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Ameer seketika berdiri seraya mengerutkan alisnya.


"Aku hanya ingin mengajakmu berdiskusi mengenai hasil wawancara ayahmu kemarin, aku sudah memanggilmu dari tadi tapi kamu terlalu fokus hingga tak mendengarku " jawab Niana cepat.


Ameer tak menjawab, ia hendak duduk kembali di tempatnya, namun kali ini Ameer sedikit menggeser kursinya untuk memberi jarak dengan Niana agar tidak terlalu dekat dengan wanita itu.


Melihat sikap Ameer, Niana hanya bisa membuang napas kasar.


"Apa kamu begitu tidak menyukaiku sampai kamu tidak ingin berdekatan denganku, Ameer?" tanya Niana dengan suara pelan.


"Maaf, aku bukannya tidak menyukaimu, aku hanya menjaga jarak denganmu, apalagi kamu baru saja menyentuhku, dan itu membuatku tidak nyaman," jawab Ameer tanpa menoleh ke arah Niana.


Di antara semua wanita, mungkin Rabiah yang pernah berada dengan jarak yang cukup dekat dengan Ameer, itupun hanya pada saat dalam keadaan terpaksa Ameer berboncengan motor dengan Rabiah beberapa tahun yang lalu. Selebihnya mereka selalu berada dalam jarak yang aman saat berbicara, entah Ameer ataupun Rabiah yang berusaha menjaga jarak satu sama lain.


Dan satu yang pasti, Ameer tidak pernah menyentuh wanita kecuali ibu dan adiknya. Baginya, tidak menyentuh wanita yang bukan mahram selain karena memang anjuran agama, juga salah satu bentuk penghargaannya terhadap wanita. Begitulah yang di ajarkan oleh ibu dan ayahnya sejak kecil.


"Apakah dalam agama kita, saling bersentuhan seperti itu saja di larang?" tanya Niana.


"Tentu saja, agama mengatur bagaimana interaksi pria dan wanita yang bukan mahram. Selain untuk menghindari fitnah, juga menjadi salah satu cara menghargai dan menjaga wanita."


"Wanita itu ibarat perhiasan, perhiasan yang sangat berharga. Saking berharganya, kamu tidak bisa menyentuhnya kecuali jika kamu telah membelinya bahkan jika kamu telah membelinya kamu tetap harus menjaganya dengan baik agar tidak rusak atau lecet. Sama halnya wanita, seorang pria tidak boleh bersentuhan dengan wanita yang bukan mahramnya, kecuali jika ia telah sah menikahinya sehingga wanita itu halal di sentuh olehnya."


"Mahram? Apa itu?" tanya Niana bingung.


"Mahram adalah perempuan atau laki-laki yang masih termasuk keluarga dekat, sehingga mereka tidak boleh menikah. Misalnya yang menjadi mahram kamu adalah ayah, saudara laki-laki, paman atau saudara ayah dan ibu, anak, dan sebagainya yang masih memiliki hubungan darah denganmu," jelas Ameer.


"Oh gitu, maafkan aku karena tidak mengetahuinya, sehingga tadi aku menyentuhmu," ucap Niana.


"Tidak apa-apa, anggap saja itu ketidak sengajaan," ujar Ameer.


"Tapi Ameer... Bagaimana jika aku memintamu untuk menjadikanku orang yang halal kamu sentuh, apa kamu bersedia?"


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2