
"Assalamu 'alaikum, apa kabar Rabiah, Rayhan," ucap Kamil begitu ramah menyapa Rabiah dan Rayhan, namun berbeda dengan Ameer, pria itu justru menatap Ameer yang berada di samping Rahyan dengan tatapan tajam.
"Wa'alaikum salam," jawab Rabiah singkat dengan wajah datar.
"Bagaimana kabarmu Biah? Udah lama kita nggak ketemu," tanya Kamil.
"Alhamdulillah baik mas," jawabnya.
"Biah, tadi aku sempat kaget, aku pikir tadi kamu jalan dengan suami dan anakmu," ujar Rani sambil memandang ke arah Rayhan dan Ameer.
"Nggak sayang, ini Rayhan, adik Biah, dan ini... " Kamil terlihat bingung saat mengarahkan tangannya pada Ameer.
"Ameer, calon suami Biah," ucap Ameer melanjutkan perkataan Kamil.
"Ow, calon suami yah? Perasaan dari tahun lalu sampai sekarang masih calon suami aja," sindir Kamil dengan senyuman mengejek yang ia arahkan kepada Ameer.
"Memamgnya kenapa? Tidak masalah kan?"
"Tidak sih, hanya saja kau terdengar sangat percaya diri dengan selalu mengakui dirimu calon suami Rabiah."
"Aku memang calon suami Rabiah, insya Allah minggu depan kami menikah." Seketika senyuman di wajah Kamil memudar saat Ameer menyebut waktu pernikahannya bersama mantan istrinya itu.
Kamil menggeleng kecil lalu menatap Rabiah yang sejak tadi hanya diam, "apa betul kalian akan menikah minggu depan?" tanyanya.
"Iya mas, insya Allah kami akan menikah minggu depan," jawab Rabiah.
Degh
Entah kenapa, ada rasa panas dalam hati Kamil serta rasa tidak rela jika Rabiah menikah lagi, karena itu artinya ia akan kehilangan kesempatan untuk memiliki Rabiah kembali seperti harapannya selama ini.
"Baguslah, dengan begitu mas Kamil bisa tidur dengan nyenyak tanpa memikirkan kamu lagi," ucap Rani datar.
"Huss, kamu ngomong apa sih," sela Kamil merasa tidak nyaman.
"Jika sudah tidak ada yang ingin di bicarakan, kami permisi dulu," ucap Rabiah hendak berbalik, namun
__ADS_1
"Selamat atas pernikahan kalian nantinya, semoga kamu segera hamil agar suami kamu tidak berpaling," ucap Rani dengan nada sarkas. Hal itu berhasil membuat langkah Rabiah terhenti dan langsung berbalik ke arah Rani untuk membalas perkataan Rani yang seolah telah merusak kepercayaan dirinya sebagai wanita, namun ia urungkan saat Ameer lebih dulu berbicara.
"Sayangnya aku bukan tipe suami seperti itu, ada anak alhamdulillah, belum di beri anak juga alhamdulillah, kenapa? Karena rezeki dan kebahagiaan sebuah rumah tangga tidak bergantung pada sesuatu yang masih menjadi rahasia Allah, menciptakan kebahagiaan sendiri dengan menerima semua pemberian Allah dan bersyukur adalah sebuah pengikat keharmonisan rumah tangga yang paling ampuh," terang Ameer membalas sindiran Rani sebelumnya.
"Kamu berbicara seperti itu karena kamu belum merasakannya, lihat saja nanti," cetus Rani.
"Mbak ini berbicara seolah mengetahui masa depan kami, tidak usah mengeluarkan energi mbak untuk menerawang masa depan kami, lebih baik mbak mempersiapkan diri menjadi pendidik yang baik untuk anak mbak agar kelak ia bisa hidup lebih baik tanpa menyakiti hati orang lain," balas Rabiah lalu pergi meninggalkan Rani yang dia seribu bahasa, sementara Kamil sejak tadi merasa geram dengan sikap Rani yang seenaknya menyindir.
"Gimana? Udah puas ngomong kayak gitu kepada Rabiah? Sekarang aku tanya, keuntungan apa yang kamu dapatkan setelah mengatakan itu?" tanya Kamil yang kini tinggal berdua bersama Rani dan bayinya.
Bukannya menjawab, Rani malah tertunduk lesu.
"Aku tidak habis pikir, wanita secerdas kamu bisa berbicara serendah itu kepada sesama wanita," ucap Kamil lalu pergi lebih dulu meninggalkan Rani.
"Ma-maaf mas, mas tunggu," seru Rani sembari berjalan cepat menyusul Kamil yang sudah lebih dulu berjalan di depannya.
🌷🌷🌷
Sementara itu, Rabiah tengah berjalan bersama Rayhan dan Ameer, namun tatapannya begitu sendu, meskipun tadi ia telah berhasil membungkam Rani, namun jauh di dalam lubuk hatinya menyimpan rasa khawatir jika ia benar-benar sulit hamil seperti saat ia masih bersama Kamil dulu.
Rupanya sikap Rabiah saat ini tak luput dari pandangan Ameer, dan ia jelas tahu penyebab calon istrinya itu terlihat sedih dan gelisah.
"Rayhan, bagaimana kalau kita ke gamezone, kamu mau kan?" usul Ameer. Ia mengurungkan niatnya untuk langsung ke butik, sebab ia ingin berbicara dulu dengan Rabiah agar perasaannya bisa jauh lebih baik, tidak mungkin juga ia berbicara saat ada Rayhan yang mendengarkan.
"Benarkah? Asiiik," pekik Rayhan begitu girang.
Setelah Ameer membelikan sejumlah koin untuk Rayhan, kini ia mengajak Rabiah untuk duduk di tempat duduk yang tersedia di tempat itu.
Sejenak mereka terdiam dalam pemikiran mereka masing-masing.
"Biah, kamu tahu, semua wanita itu istimewa yah," ucap Ameer membuka percakapan dengan Rabiah yang sejak tadi hanya diam.
Rabiah menoleh ke arah Ameer yang duduk sekitar empat jengkal di sampingnya.
"Maksud kakak?"
__ADS_1
"Saat anak-anak, mereka membuka pintu surga untuk ayahnya, saat menjadi istri, mereka menggenapkan separuh agama suaminya, dan saat menjadi ibu, surga berada di telapak kakinya," tutur Ameer sambil menunduk.
Sejenak senyuman tipis tersungging di wajah cantik Rabiah, ia lalu menoleh kembali ke arah depan lalu membuang napas pelan. Perkataan Ameer cukup membuat hatinya merasa teduh.
"Jangan hanya terpatok pada kalimat terakhir, menjadi ibu memang keinginan semua istri, tapi semua itu kembali kepada Allah. Ingat, hanya karena satu keistimewaan belum terwujud, bukan berarti wanita itu tidak istimewa karena masih ada dua alasan yang membuatnya selalu istimewa," lanjut Ameer.
"Jadi, jangan berkecil hati, Allah tidak akan menimpakan suatu ujian kepada hambaNya kecuali Dia telah menyiapkan hikmah di belakangnya." Ameer mengakhiri perkataannya sambil menoleh ke arah Rabiah yang juga saat ini kembali menoleh ke arahnya.
Sejenak pandangan mereka saling beradu, namun di detik berikutnya Ameer menundukkan wajahnya.
"Astaghfirullah, maaf Biah," cicit Ameer.
Rabiah juga ikut tersenyum malu karena ketahuan menatap calon suaminya itu. Mereka kambali saling diam karena salah tingkah.
"Terima kasih kak, perkataan kakak sederhana tapi bisa menyejukkan hati Biah," ucapnya kemudian. Ameer yang mendengarnya ikut menarik bibirnya merasa senang karena kini usahanya untuk mengusir kegelisahan Rabiah berhasil.
🌷🌷🌷
Tidak terasa, kini Rabiah, Ameer dan Rayhan telah tiba di sebuah butik yang telah di rekomendasikan Yasmin sebelumnya.
Beberapa model gaun pernikahan kini di perlihatkan kepada Rabiah. Hingga akhirnya pilihan Rabiah jatuh pada sebuah gaun sederhana berwarna biru muda namun tampak elegan dengan butiran permata yang menghiasi gaun tersebut.
Meskipun acara pernikahannya nanti hanya di hadiri oleh tetangga dan kerabat saja, namun Rabiah tetap ingin terlihat cantik di hadapan suaminya.
Rabiah kini di arahkan ke sebuah ruang ganti untuk mencoba gaun itu, sementara Ameer yang telah menyelesaikan fitting bajunya kini memutuskan duduk santai di samping Rayhan sambil menunggu Rabiah.
Tak lama setelah itu, Rabiah keluar dari ruang ganti untuk melihat pantulan dirinya di hadapan cermin. Namun, ia tidak menyadari bahwa saat ini ada dua pasang mata yang melihatnya dari ruang tunggu dengan penuh kekaguman.
Yah, siapa lagi kalau bukan Ameer dan Rayhan.
"Masya Allah, kak Biah cantik sekali," gumam Rayhan.
"Iya, cantik," ujar Ameer menimpali, sontak membuat Rayhan menoleh ke arah Ameer dan secara bersamaan Ameer juga menoleh ke arah Rayhan, sesaat mata mereka saling bertemu, membuat Ameer tiba-tiba salah tingkah karena ketahuan oleh Rayhan sedang memandangi kakaknya.
"Ekhem ekhem, astaghfirullah," ucap Ameer refleks saat berusaha menetralkan salah tingkahnya.
__ADS_1
Rabiah yang mendengar suara Ameer seketika tersadar dan langsung berlari masuk ke dalam ruang ganti karena merasa malu.
-Bersambung-