Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
MAHASISWA LEMBUR?


__ADS_3

Malam yang gelap perlahan bergeser seiring naiknya sang pusat tata surya. Menjadi tanda berakhirnya sebuah mimpi dan menjadi awal perwujudan mimpi yang sesungguhnya. Berbeda dengan kemarin pagi yang mendung dengan tetesan air menghujani kota, pagi ini langit terlihat biru cerah, dengan beberapa awan di sekitarnya, membuat suasana hati yang gelisah perlahan mereda.


"Mas Kamil lagi ngapain yah? apa dia udah sarapan?" monolog Rabiah sambil mengunyah makanan yang telah ia siapkan sendiri pagi ini. Baru beberapa detik setelah ia berbicara sendiri, ponselnya tiba-tiba berdering.


Senyuman indah refleks terukir di wajah cantiknya tatkala melihat nama kontak yang terpampang di ponselnya sebagai pemanggil.


"Assalamu 'alaikum mas," ucap Rabiah dengan wajah yang begitu ceria.


"Wa'alaikum salam, Biah, kamu ngapain sayang? udah sarapan?" tanya Kamil di seberang telfon.


"Ini Biah sementara sarapan mas, mas sendiri gimana?" tanya Rabiah kembali.


"Mas baru mau sarapan, oh iya kamu nggak papakan berangkat ke kampus sendiri dulu pagi ini, mas belum bisa kemana-mana soalnya," ujar Kamil.


"Iya mas, nggak papa, nanti Biah naik taksi online aja," jawab Rabiah.


Setelah berbincang sebentar dengan sang suami, akhirnya panggilan mereka pun berakhir.


🌷🌷🌷


Di kampus


Khadijah tampak sedang berjalan santai menuju gerbang kampus yang sudah berada di depan matanya. Rumahnya yang tidak terlalu jauh dari kampus membuatnya kadang memilih untuk berjalan kaki saat pergi ke kampus, sekalian berolahraga tentu lebih baik bukan? Begitu pikirnya.


Saat dirinya berada tepat di depan gerbang, sebuah taksi online berhenti di sampingnya. Tampak gadis yang sangat ia kenali turun dari mobil itu dengan wajah yang ceria.


"Biah?" gumamnya sembari menghampiri Rabiah yang kini juga sedang memberikan senyum kepadanya.


"Assalamu 'alaikim Khadijah," sapa Rabiah.


Hari ini penampilan Rabiah dengan balutan pasmina syar'i berwarna biru muda membuatnya tampak cerah secerah pagi ini, sementara Khadijah menggunakan jilbab segiempat berwarna navy, sederhana namun santun.


"Wa'alaikum salam.. Tumben nggak bareng suami kamu?" tanya Khadijah sambil berjalan beriringan dengan Rabiah menuju gedung Fakultasnya.


"Oh, iya nih, suamiku lagi lembur semalaman, jadi nggak bisa antar aku," jawab Rabiah.


"Lembur?" alis Khadijah sedikit mengerut. "Maksudnya lagi banyak tugas semalaman yah?" lanjutnya.


"Iya lembur banyak kerjaan yang harus diselesaikan malam itu juga, memangnya kenapa?" tanya Rabiah.

__ADS_1


"Eh nggak kok, cuma tanya aja," jawab Khadijah nyengir. Entah pikiran Khadijah yang nggak nyambung dengan istilah lembur untuk mahasiswa atau bahasa Rabiah yang ketinggian dan membuatnya bingung, begitu pikir Khadijah.


Saat mereka berjalan menyusuri koridor fakultasnya, beberapa mahasiswa pria jurusan Kimia semester 7 yang sedang nongkrong menangkap dua sosok wanita cantik itu.


"Hey bro bro, lihat deh 2 cewek itu, cantik yah," ujar seorang pria berambut gondrong yang dikuncir seperti wanita.


"Wih bener, mata lu ternyata masih tajam yah buat lihat yang bening-bening," timpal temannya yang merupakan kerabat upin ipin yang suka dengan kepala botak.


"Yaa jelas lah, kira-kira di antara 2 cewek itu, ada nggak yah yang mau jadi pacar gua?" tanya si gondrong.


"Sembarangan aja lu ngomong, lihat deh, sepertinya mereka nggak sembarangan pacaran, apalagi sama cowok modelan kayak lu," sela temannya lagi yang model rambutnya sedikit lebih normal dari dua temannya itu, membuat si gondrong mendengus.


"Aah apaan sih lu, bukannya dukung gua, lu malah jatuhin gua," dumel si gondrong.


"Yaa sorry bro, habisnya selera lu tinggi amat. Memangnya diantara dua cewek itu, lu demennya sama yang mana?" tanya si rambut normal.


"Kayaknya yang biru muda deh, lihat aja wajahnya, cerah banget secerah hati gua saat melihatnya," celoteh si rambut gondrong dengan mata yang tak lepas memandangi Rabiah.


"Terima kasih, wajah kamu juga cerah kok," suara seorang wanita dari belakang membuat ketiga pria itu sontak saling bertatapan dengan wajah heran dan takut. Perlahan mereka menoleh ke belakang dengan hati yang mulai resah, seketika raut wajah ketiga pria itu berubah tegang saat mendapati wanita dewasa yang juga menggunakan jilbab biru muda lengkap dengan kacamata dan tubuh yang sedikit gempal berada di hadapannya.


"Eh ibu Murni, tahu aja kalau kami lagi memuji ibu," ucap si botak mulai tersenyum kikuk.


"Ini masih sementara di urus kok bu, jangan marah-marah yah bu, nanti wajah ibu yang semurni nama ibu bisa kusut oleh kerutan loh," celetuk si gondrong membuat dosen wanita itu menatapnya dengan tajam.


"Kamu menghina ibu yah, sekarang pergi dari sini dan urus cepat nilai kalian, jika tidak, jangan harap kalian bisa lulus tahun ini," ancam dosen itu dan membuat ketiga pria itu langsung pamit dan berlari pergi seperti sedang dikejar setan penagih utang.


🌷🌷🌷


Di Singapura


"Ameer, sore ini kegiatanmu apa?" tanya Jhony seraya duduk di samping Ameer yang sedang membaca buku di dalam kelas.


"Nggak ada, memangnya kenapa?" tanya Ameer sembari menoleh ke arah Jhony, pria bule dengan rambut pirang yang kini menjadi teman dekatnya.


"Begini, sore ini aku ada double date bareng sapupuku, kamu mau ikut nggak?"


Mendengar perkataan Jhony, Ameer langsung kembali melihat bukunya, "maaf, aku nggak bisa," jawab Ameer singkat.


"Ayolah Ameer, sepupuku memintaku membawa teman, teman dekatku disini kan cuma kamu, please,"

__ADS_1


"Sorry Jhon, aku nggak bisa,"


"Ameer ayolah, kali ini aja, kita juga nggak ngapa-ngapain, cuma duduk bersama sambil minum kopi, sekali-kali berbaurlah bersama yang lain, agar kamu tidak terkesan seperti orang yang tidak pandai bergaul."


Ameer tampak memikirkan perkataan Jhony, benar, semenjak kembali dari Indonesia, Ameer lebih pendiam dan lebih suka menyendiri. Itu membuatnya terlihat seperti orang yang tidak pandai bergaul.


"Baiklah, tapi kali ini saja, aku tidak ingin ada yang macam-macam," jawab Ameer akhirnya.


"Siap, serahkan semuanya padaku, aku jamin semua akan aman dan terkendali," ujar Jhony percaya diri.


Sore hari


"Jhon, apa kamu yakin teman kamu itu pasti datang?" tanya Grace sepupu Jhony.


"Iya aku yakin, tunggu saja, dia pasti datang," jawab Jhony percaya diri.


Saat ini, Jhony dan kekasihnya bersama Grace sedang duduk bersama di sebuah Cafe. Seperti janjinya, sore ini mereka akan melakukan double date bersama Ameer.


Tak lama setelah itu, Ameer masuk ke dalam Cafe sambil menyisir seluruh ruangan untuk mencari sosok temannya yang tak lain adalah Jhony.


"Nah itu dia orangnya," ucap Jhony sambil melambaikan tangannya pada Ameer. Ameer yang melihatnya langsung berjalan menghampirinya.


"Wow, teman kamu tampan sekali, seleraku bangat," bisik Grace kepada Jhony.


"Tentu saja," ujar Jhony tersenyum puas karena sepupunya benar-benar menyukai teman yang ia bawa kali ini.


"Hello Ameer, kemarilah duduk di sampingku," panggil Jhony dan membuka kursi disampingnya untuk Ameer.


"Terima kasih Jhon," ucap Ameer melihat ke arah Jhony.


"Oh iya, kenalkan ini sepupuku Grace, dan ini kekasihku Valen," ujar Jhony dengan tangan yang mengarah ke Grace dan Valen bergantian.


"Grace," ucap Grace sambil mengulurkan tangannya ke arah Ameer.


"Ameer," ucap Ameer sambil menangkupkan kedua tangannya, membuat wajah Grace kini tersenyum kecut sembari menarik kembali tangannya."


Jhony yang melihat sikap Ameer dan ekspresi sepupunya langsung teringat bahwa memang sejak dulu Ameer akan seperti itu jika ada wanita yang mengajaknya bersalaman. Jangankan bersalaman, bersentuhan sedikit saja Ameer akan berusaha menghindar.


"Astaga, aku lupa akan hal itu," batin Jhony sembari menepuk jidatnya.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2