Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
MAIN KUCING-KUCINGAN


__ADS_3

Langit senja terlihat begitu memukau, di tambah pemandangan burung bangau yang terbang secara berkelompok membuat suasana sore itu semakin indah. Namun, keindahan itu tidak begitu dinikmati oleh pasangan kekasih halal itu, karena mereka sendiri sedang larut dalam pemikiran dan kekhawatiran masing-masing.


"Jika suatu hari nanti kamu menemukan kekuranganku atau bahkan aku melakukan kesalahan, apakah kamu akan memaafkanku?" Kamil mengulangi pertanyaannya, namun Rabiah masih bergeming.


"Biah?" ulang Kamil.


"Eh, iya mas. Kalau aku, selama itu tidak berhubungan dengan pengkhianatan dan kekerasan, insya Allah Biah akan berusaha memaafkan.


Kamil terdiam, ia lalu menunduk memandangi kedua kakinya yang berpijak di atas tanah. "Apakah yang ku lakukan ini pengkhianatan atau sebaliknya?" batin Kamil.


Setelah menikmati suasana senja yang indah, Rabiah dan Kamil kini bertolak ke rumah mereka. Mengingat besok aktivitas mereka akan kembali seperti biasa.


Suasana di dalam mobil begitu hening, Kamil maupun Rabiah sama-sama diam membisu bagaikan orang yang tidak saling mengenal, keduanya masih memikirkan permbicaraan mereka sore tadi. Jika boleh jujur, ada rasa bersalah yang selama ini menjadi beban di hati maupun pikiran Kamil, namun ia tidak berani mengatakannya sebab ia sudah jatuh cinta pada Rabiah dan ia tidak ingin melukainya dan yang paling ia takutkan, Rabiah akan meninggalkannya jika ia tahu kondisinya yang sebenarnya.


Sementara Rabiah, entah kenapa semenjak mendengar pertanyaan Kamil sore tadi, ia merasa seperti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Kamil. Tapi apa? Tentu Rabiah tidak akan bertanya akan hal itu, ia lebih memilih diam, sampai Kamil sendiri yang menjelaskannya lebih dulu kepadanya.


Bukannya ingin bersikap masa bodoh, namun Rabiah belum yakin dengan kekhawatirannya sendiri, ia takut itu hanya akan menjadi pemikiran negatif yang tidak terbukti dan justru akan memancing pertengkaran rumah tangga pada akhirnya.


🌷🌷🌷


Hari kini berganti, aktivitas seperti biasa akan kembali bermula. Setelah Kamil dan Rabiah siap, mereka menikmati sarapan bersama.


"Biah, hari ini kuliah kamu sampai jam berapa?" tanya Kamil di tengah makannya.


"Hmm, sepertinya agak sore mas, soalnya Rabiah ada praktikum," jawab Rabiah.


"Baiklah, nanti kabari mas saja yah, insya Allah mas akan jemput," tukas Kamil.


"Siap mas," balas Rabiah dengan mengangkat tangannya memberi hormat. Kamil yang melihatnya merasa gemas dan mengusap lembut kepala Rabiah yang tertutup oleh pasmina berwarna coklat.


Setelah mereka sarapan, Kamil mulai mengantar sang istri ke kampusnya seperti biasa, lalu Kamil akan terus ke perusahaannya.


"Biah.." panggil Khadijah yang sedang berada tidak jauh dari gerbang kampus.


"Khadijah," balas Rabiah sambil melambaikan tangannya ke arah Khadijah.


"Kok nggak bareng suami kamu lagi sih Biah?" tanya Khadijah yang masih belum mengetahui siapa suami Rabiah yang sebenarnya. Mereka berbincang sambil berjalan ke arah fakultas mereka.

__ADS_1


"Hah? Aku bareng suamiku kok? Itu tadi mobilnya baru aja pergi," jawab Rabiah sambil menunjuk jalan yang tadi di lalui mobil suaminya.


"Loh, memangnya suami kamu nggak ada jadwal kuliah hari ini yah?" tanya Khadijah bingung, membuat Rabiah mengernyitkan alisnya ikut merasa bingung.


"Kuliah?" tanya Rabiah dan khadijah mengangguk. "Suamiku itu kerja, dia udah nggak kuliah," lanjutnya menjelaskan.


"Terus kenapa aku sering melihatnya di kampus bareng kamu? Gandengan tangan lagi," tanya Khadijah lagi, kali ini Rabiah mulai mengerti kesalahpahaman Khadijah.


"Maksud kamu kak Rahul?" tanya Rabiah, dan lagi-lagi Khadijah mengangguk yakin, seketika membuat Rabiah tertawa.


"Ya ampun Khadijah, kita sudah bersama lebih 6 bulan, dan selama itu kamu mengira kak Rahul adalah suamiku?" tanya Rabiah masih sambil tertawa kecil


"iya, salah yah? Habisnya kalian romantis banget, kemana-mana selalu gandengan, bikin kaum jomblo seperti aku ini menjerit dalam hati tahu nggak," jawab Khadijah membuat Rabiah kembali terkekeh.


"Ya jelas salah Khadijah, kak Rahul itu saudara kembar aku, dan suamiku itu namanya Kamil, dia bukan lagi mahasiswa S1, umurnya aja udah 27 tahun," gelak Rabiah.


"Astaghfirullah, pantas aja aku lihat wajah kalian begitu mirip, tapi karena kemiripan kalian juga sampai aku beranggapan kalian suami istri, kan ada istilah muka-muka jodoh alias wajah yang mirip karena jodoh," cetus Khadijah sambil nyengir bodoh.


"Siapa yang udah nikah?" tanya si gondrong yang tiba-tiba muncul bersama gengnya bagaikan jailangkung di hadapan Rabiah maupun Khadijah.


"Anu kak, Rabiah, Rabiah udah nikah," jawab Khadijah, "kami permisi dulu kak." Khadijah lalu buru-buru pergi bersama Rabiah meninggalkan geng pria itu.


"Bagaikan di sambar petir di siang bolong, cubit aku guys, aku pasti mimpi," cetus si gondrong sambil memegang dadanya.


Tanpa memberikan aba-aba, si botak langsung mencubit kedua pipi itu dengan keras hingga membuat si gondrong memekik kesakitan.


"Ah, tega banget lu Ipin. Lu tahu nggak, disini udah sakit, eeh lu malah nambah nyakitin pipi gua kayak tadi," gerutu si gondrong sambil menunjuk dadanya lalu menunjuk pipinya.


"Laah, kan tadi lu yang minta buat cubit pipi lu? Ini kayaknya rambut lu udah kelewatan gondrong, makanya ingatan lu udah ngilang sebagian, emang lu nggak kasian apa sama pala lu itu, udah berat mengingat pelajaran, malah lu tambah dengan berat rambut lu," seloroh si botak, membuat si gondrong mendengus.


"Ehh udah-udah, daripada lu ribut berdua, mending kita kerjain tugas yang tadi ibu Murni berikan," sela si rambut normal.


"Hei men, lu nggak lihat kondisi gua yang patah hati ini? kalau gua maksain kerja tugas dari ibu Murni, yang ada nanti gua bikin puisi patah hati buat beliau," kilah si gondrong.


"Ah alasan aja lu, ayo! Atau lu mau rambut gondrong lu itu gua botakin!" ancam si rambut normal.


"Asataga, ancaman lu ngeri amat sih," gerutu si gondrong lalu berjalan duluan dan diikuti oleh 2 temannya.

__ADS_1


🌷🌷🌷


Siang hari di perusahaan


Kamil sedang berbaring di kamar pribadinya karena kepalanya yang terasa sedikit pusing.


Ceklek


"Tolong ketuk pintu dulu sebelum ma..-" ucapan Kamil terpotong saat ia melihat siapa yang masuk.


"Rani? Ada apa? Cepat keluar, nanti ada pegawai yang melihat kita," seru Kamil.


"Aku udah kunci pintunya, lagian nggak akan ada yang kesini, ini kan jam makan siang," ujar Rani lalu naik di atas tempat tidur dan meletakkan kepalanya di atas dada Kamil.


"Apa yang kamu lakukan? Jangan seperti ini Rani, kita di kantor."


"Habisnya kamu jarang banget kunjungi aku akhir-akhir ini. Bahkan sejak 4 bulan terakhir, kamu hanya bermalam di rumah 4 kali sebulan, itu kan nggak adil banget mas," gerutu Rani dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Kamil terdiam sejenak, tangannya perlahan mengusap rambut pirang Rani dengan lembut. "Maafkan aku, aku akan berusaha untuk lebih sering mengunjungimu," lanjutnya.


"Kenapa kamu nggak jujur aja sih sama Rabiah dan kedua orang tuamu itu, aku lelah loh main kucing-kucingan kayak gini terus, nanti yang ada aku malah di sangka pelakor lagi," dumel Rani.


"Jujur?" Kamil mengulangi kata itu.


"Iya jujur mas, jujur kepada mereka kalau aku ini juga istri sah kamu."


-Bersambung-


Untuk kakak-kakak readers, dengan tulus author ingin mohon maaf. Karena beberapa pertimbangan, author harus mengganti judul novel ini dari CINTA DALAM DIAM menjadi HIMAH CINTA: Kala Cinta Mengobati Luka.


Tapi kakak tenang saja, isi dari novel ini tidak ada yang berubah. Jadi kakak boleh melanjutkan membaca tanpa harus mengulangi dari awal.


Mohon dukungannya yah dengan cara meninggalkan jejak like dan komen, plus klik tanda love di beranda bawah novel untuk favorit. Dukungan dari kakak-kakak readers sangat berarti untuk author.


Terima kasih 😃


Salam hangat dari author

__ADS_1


UQies


__ADS_2